Negara Cilik Bikin Mrekitik

NEGARA CILIK BIKIN MREKITIK

(desahan dari Temasek)

Begitu mendengar kabar penugasan ke Temasek untuk yang pertama kali yang muncul tentu suka cita karena pasti ada pengalaman berharga yang akan saya tangguk. Kehidupan di negeri kecil mungil diujung Semenanjung Malaka ini (walau tak pernah menjadi magnet kuat bagiku) menjadi salah satu tujuan pergiku suatu saat nanti. Tetapi ada juga rasa “ealaaaah” begitu acara booking hotel dimulai. Nilai uang yang di negeri lain bisa menyewa kamar yang “layak” hanya bisa membeli kamar standard di red district wilayah Geylang. Belum lagi pemberitahuan “breakfast not included”.

Bagaimanapun rasa syukur harus kupanjatkan kepada Alam Raya yang telah berbaik hati menggratiskan wisata saya sembari kerja (atau kerja sembari wisata). Tak henti aku memuja kemalangan dan keberuntunganku yang tak didapatkan oleh orang lain saat ini.

Tanggal 25 Juli 2011 saya terbang bersama Air Asia menyeberangi langit menuju Changi. Sampai daratan itu masih pagi sekitar pukul 9:57. dengan taksi Comfort saya menuju Hotel 81 Princess di 21 Lorong 12 Geylang. Di kamar 615 twin bed saya diinapkan. Karena masih sangat awal maka saya yakin masih bisa berkunjung ke beberapa tempat. Pertama yang saya cari adalah brosur. Berbagai brosur yang dipajang di lobi hotel saya comotin lalu saya bacain secara menggila. Dan pilihan jatuh pada brosur yang menawarkan “naik kereta tanpa tut tut tut”.

MRT Singapura ternyata lebih baik daripada yang Malaysia punya. Penumpangnya juga lebih beradab, mereka tak mau mendesak-desak penumpang lain yang sedang kejepit ketek orang seperti di KL. Jika kereta penuh maka mereka tak akan naik (mungkin kecuali diburu waktu).

Saya juga membeli ez-link card: kartu abunemen MRT yang berlaku hingga 5 tahun jadi kalau nanti saya ditugaskan lagi kemari, saya bisa naik kereta pakai ez link tanpa harus repot-repot beli lagi.

Kemanapun Anda pergi, jangan takut kesasar karena Singapura ini kecil Saudara-Saudara. Kecil banget hingga saya pernah nyasar dari Esplanade hingga ke City Hall karena “keenakan” jalan kaki di bawah tanah. Tahu-tahu lho kok udah diarahakan ke City Hall ha ha ha…

Makanan?

Mau halal, mau haram ada semua. Di ujung Lorong 7 Geylang ada sebuah resto Thai Muslim yang ternyata pedagangnya orang India. Makanan yang disediakan nggak masuk lambung saya: curry… Restoran Chinese food pating blader (berserakan, Bahasa Jawa) menggantung bebek-bebek berlapis angkak merah. Tak seperti di Thailand, hidung dan kuping celeng tak terlihat mencolok.

Makanan disini mahal, Saudara. Kalau mau murah makan saja roti prata tanpa isi. Otomatis badan bisa kurus dengan sendirinya. Tapi saya nggak tega membeli roti yang bikinnya dicemek-cemek tangan Tuan Takur yang hitam ha ha ha… Sekali makan yang layak terjang sediakanlah sekitar Rp. 70.000 plus minum. Jadi kalau Anda makan tiga kali ya kalikan saja. Dijamin sangu dari kantor habis sebelum sampai rumah ha ha ha…

Ada satu lagi, telekomunikasi. Internet lancar walau di hotel murah sekalipun; hanya saja satu kamar satu username/password jadi kalau mau nge-Net kami berdua mesti bergantian. Jadi kalau mau ngempi atau fesbukan dan check email kantor kami mesti bagi waktu sebelum menikmati kebersamaan dengan berbincang tentang kampung halaman masing-masing dan pekerjaan. Tapi jangan harap handphone bawaan dari luar Singapura bisa dipakai sesuai fungsinya. Handphone saya hanya bisa SMS dan nelpon dengan memakai “M1” GSM SIM card. Padahal dua hari pertama saya sempat pakai Star Hub teman yang dipinjamkan pada saya. Yah sudahlah memang nasib orang miskin dolan-dolan di negeri kaya. Jadi tak ubahnya Kabayan saba kota (Kabayan berkunjung ke kota, Bahasa Sunda).

Hari ini tanggal 27 Juli 2011 saya mengarah ke daerah Loyang dekat Changi, ke sebuah pabrik percetakan yang prestasinya ngedap-edapi (mengagumkan, Bahasa Jawa). Naik taksi pastinya. Kan mahal? Ya, untuk apa kartu kredit kantor kalau tak digunakan untuk memudahkan urusan kerja. Mumpung kerja sambil wisata, mari kita gunakan fasilitas ini dengan baik. Bukankah demikian?

Ok, Saudara… Semoga perjalanan saya berkah. Penuh dengan kebahagiaan dan hikmah. Amin. Eit… Maaf kali ini tak ada buah tangan. Harga menjadi pertimbangan utama. Daripada dibelikan oleh-oleh mending saya pakai jalan-jalan kan… J

27 Juli 2011 – 1:00 siang tepat setelah makan siang yang tak mengenyangkan

26 responses

  1. bambangpriantono said: Wis tangeh Mbak..Oleh-olehe endi tekan Sing-Apur?

    lhaaah… btw, oleh-oleh Sing ngapur ora enek… cumak titipan bookmark dari teman goodreads dan gantungan kunci teman ngoceh… lhuuuuarang, Dik… wis ra kuat angkatane ha ha ha… foto ae yo…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi Islami (AMPLI)

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Dinamisasi Otak dan Hati dengan berbagi informasi, ilmu dan pengetahuan

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

My First Orchid

LEARNING TO CARE FOR YOUR FIRST ORCHID

DBR Foundation Blog

Coming together to solve global problems

Lukecats

About cats and man

A Charmed Yogi

Inspiration to live your yoga from a passionate yogi & yoga teacher

Tatikprice's Blog

Life's experiences of a thirtysomething girl living in the far east of London

%d bloggers like this: