September 5, 2011
rike jokanan

2 comments

KEHIDUPAN YANG SEMPURNA

KEHIDUPAN YANG SEMPURNA

Pernahkah Anda merasa hidup ini kurang sempurna? Atau kurang dalam beberapa hal? Jika ya, kita sama… Pernah suatu saat saya sangat menyesali kelahiran saya, marah atas keberadaan saya, kesal karena saya “ada” dan yang terbesar saya berharap saya tidak pernah ada.

Mungkin tak banyak orang yang merasa seperti saya tapi itulah yang pernah kami share bersama dengan beberapa teman dengan pengalaman yang sama. Kami merasa dunia ini tidak adil dalam beberapa hal; kami punya ketidaknyamanan dalam hal yang berbeda. Ada yang merasa pekerjaannya kurang memadai, ada yang merasa pasangannya tidak cukup memenuhi criteria (setelah beberapa lama bersama), ada yang anaknya tidak sesuai dengan harapan mereka, ada yang merasa kurang cantik, ada yang merasa kepandaiannya tidak cukup untuk memperbaiki keadaan, yang pasti itulah ketidakberuntungan kami.

Setelah beberapa saat lamanya tak berjumpa dan tak curhat, kami sepakat reuni. Dengan kondisi yang berbeda kami bertemu. Yang kurang cantik (karena dulu kulitnya tidak putih), sekarang jadi cantik. Yang dulu kurang kaya sekarang jutawan. Yang dulu anaknya tidak sesuai harapan, sekarang anaknya sudah ok-ok saja. Yang dulunya tak berguna walau pintar, sekarang sudah jadi orang penting. Saya sendiri, masih seperti yang dulu… (lagunya Dian Pisesa).

Layaknya wartawan, saya penasaran tuh mengenai perubahan yang mereka alami. Maka satu per satu deh saya wawancarai.

Si Cantik

“Eh, kok kamu sekarang kelihatan cantik banget sih? Emang ada perawatan khusus?”

“Enggak juga… Biasa saja. Cukup dengan merawatnya.”

Si Miskin

“Kelihatannya kamu makin makmur juga ya? Mobilnya udah ganti yang lebih perkasa dan mengkilap…”

“Itu mobil yang dulu, didempul sedikit jadi kelihatan lebih kinclong.”

Si Emak Malang

“Mana anak-anakmu yang suka ngancurin pot-pot anggrekku? Apa mereka masih diiket tiap jalan-jalan keluar rumah?”

“Masih saja, sekarang mereka juga ngancurin motor, radio, . Itu kembar memang nggak bisa diem…”

Si Jenius

“Naik pangkat nih rupanya? Memang kalau kamu cerdik-cendekia dimana-mana juga kepakai ya…”

“Naik pangkatnya masih lama… Ini lagi sibuk banget ngelarin project yang ditinggal teman yang nggak bertanggung-jawab.”

Tak ada satu pun kabar gembira. Semua masih berkubang dalam Lumpur yang sama. Teman-temanku masih sama “menderitanya” seperti beberapa tahun lalu. Tapi kenapa mereka sudah tak lagi punya jawaban yang “menyakitkan” telinga saya. Kesan yang saya tangkap adalah mereka makin dewasa, makin bisa meninggalkan kekacauan yang belum tahu kacau atau sesungguhnya tidak kacau sama sekali.

Saya nggak berani nanya lagi; saya nggak mau rendezvous kami gatot alias gagal total hanya karena pertanyaan “kok kamu sekarang dewasa banget sih?”

Maka saya hanya mengamati saja gerak-gerik mereka.

Si Cantik itu tidak menjadi semakin terang kulitnya, hanya wajahnya memang berseri-seri tak ada jeda.

Si Miskin juga tak tampak semakin kaya; mobilnya memang makin berkilau yang katanya karena dempulan dan cat baru. Tetapi yang pasti wajahnya tak lagi muram. Keluarga yang kami kenal sejak awal juga menjadi makin ramah, percaya diri dan terbuka tanpa menutupi apa yang tak mereka miliki. Kami semua bersikap apa adanya.

Si Emak Malang masih datang dengan anak-anak yang beberapa tahun lalu bersikap menyebalkan karena merusak pot-pot anggrekku karena berusaha mencabutinya dan menukar posisi dari satu pot ke pot yang lain, sekarang mereka juga masih sibuk tapi mereka tidak lagi mengganggu tanamanku. Mereka sekarang sibuk dengan rubik dan sudoku yang dibawanya dari rumah. Sesekali mereka memotong obrolan kami untuk menunjukkan hasil permaninan mereka.

Si Jenius, satu-satunya orang pintar diantara kami yang dulu sekali paling banyak mengeluh karena IQ yang tinggi tak bisa sama sekali membantu hidupnya sekarang menunjukkan perbedaan cara pandang terhadap hidup. Dia bilang hanya sikap yang bisa membuat segalanya lebih baik. Kepandaian tak bisa menolong menjadi lebih sukses. Kini dia menelateni pekerjaan yang pernah dia sangka membosankan karena mesti disuruh-suruh melulu. Sekarang pun dia disuruh-suruh tapi dengan keikhlasan dia bisa mengatasi kegusaran lantaran diperintah-perintah.

Reuni tahun ini berhawa berbeda. Tak ada sesi curhat untuk membahas ketaksempurnaan hidup. Tak ada lagi helaan nafas panjang dan mengurut dada demi menahan kekesalan dan munurunkan tensi darah yang hampir muncrat dari jantung.

Saya sangat ingin menanyai mereka satu per satu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Saya pengen belajar “menguasai diri” tapi saya tak ingin juga terlalu ngelamak (lancang, Bahasa Jawa Timuran) mencampuri urusan pribadi mereka walau mereka sahabat dekat saya.

Maka saya hanya menunggu dan melanjutkan obrolan kami tentang kue nastar yang muncul di tiap pertemuan kami.

“Ini nastara enak juga ya… tapi buatku ini kurang manis. Mungkin tahu depan kamu pesan nastar yang gulanya punya derajat kemanisan lebih tinggi, Ke…”

“Hahaha… Malah menurutku nastar ini terlalu manis karena lihat deh ini nastar kan isinya kismis-almond-sukade bukan selai nanas. Seandainya gulanya dikurangi maka rasa kismis dan sukadenya akan lebih menonjol. Kalau almond-nya sih memang sudah pas. Top banget ini kue Lebaran…”

“Menurutku sih nastar memang seharusnya diisi dengan selai nanas karena namanya NAStar. Kalau begini kan namanya jadi KISUMONtar karena isinya kismis, sukade dan almond.”

“Lebaran tahun depan deh gue suguhkan semua jenis kue sesuai pesanan masing-masing tamu….”

“Wow…! Kalau ada seribu tamu apa kamu akan sediakan 1000 rasa kue pada mereka?”

“Mana mungkin…?”

“Oh, mungkin saja… Tahu nggak kalian, bahwa rasa apapun akan tetap terasa sama kalau kau makan makanan itu sambil menutup penciuman kalian.’

“Yakin lu?”

“Yakin…! Ayo lu pade coba deh…”

***

“Ehhhh… iya….”

Ternyata jika kita makan tanpa mengaktifkan indera penciuman maka rasa makanan akan tak berasa dan itu adalah cara terbaik daripada menyediakan 1000 rasa pada 1000 tamu. Lebih mudah kan? Ha ha ha…

Kami tertawa-tawa…

Saya rasa itulah yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabat saya itu: tidak merasakan ketidakenakan yang sedang dialaminya. Semua mereka selesaikan tanpa menghayatinya. Mereka menjalaninya dengan penuh kesadaran bahwa ada rasa yang tak enak tapi mereka tak mau mempermasalahkan rasa yang tak diharapkan itu. Cukup dengan berusaha “menghabiskan hidangan” maka semua akan beres.

Mungkin ini nggak make sense (masuk akal, Bahasa Inggris) dan tidak relevan tapi apa daya aku tak sanggup menanyakan langsung pada mereka. Biarlah saya memperkirakan sendiri apa yang telah mereka lakukan. Aku hanya cukup yakin bahwa temanku baik-baik saja dengan ketaksempurna
an mereka sehingga yang kutahu hidup mereka telah sempurna
.

Temasek: Ubi Avenue 4 – 5 September 5, 2011 – 1:43 siang yang ngaco J

2 thoughts on “KEHIDUPAN YANG SEMPURNA

  1. Wah, nginep di sekitar Geylang lagi toch? Di daerah situ ada rumahnya putri pak Wapres Boediono lho.

    Like

  2. bundel said: Wah, nginep di sekitar Geylang lagi toch? Di daerah situ ada rumahnya putri pak Wapres Boediono lho.

    Bunda, kali ini di sekitar Bugis Juction… tapi tadi sempat nemanin teman makan duren di Geylang…

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: