April 7, 2012
rike jokanan

10 comments

MENGERUK LUMPUR, MENGERUK UANG

MENGERUK LUMPUR, MENGERUK UANG

(sekelumit kulit industri pertambangan)

Timah menjadi primadona sejak dulu hingga sekarang sebagai komponen alat elektronik yang kian hari kian digemari – atau tepatnya dibutuhkan – oleh manusia di belahan bumi manapun. Walhasil pengusaha timah bertambah banyak dalam berbagai skala. Idealnya para penambang timah tradisional (artisanal miner) seharunya menjadi pihak yang diuntungkan dalam hal ini tetapi pada kenyataannya para penambang itu tetap menjadi rakyat miskin karena lumpur mengandung bijih timah yang mereka jual kepada pengepul atau kepada pabrik pengolah bijih timah memberikan harga yang sangat murah dengan berbagai alasan.

Ada beberapa alasan yang bisa jadi benar bisa jadi tidak diungkapkan kebenarannya alias direkayasa supaya pembeli lumpur itu bisa membelinya dengan harga murah.

1. Assay (persentase kandungan timah) rendah

2. Lumpur masih mengandung banyak air

3. Harga timah sedang turun di pasaran

4. Dll

Saya sangat bersyukur karena telah diberi kesempatan mengunjungi salah satu tin smelter (pabrik pengolah bijih timah atau timah mentah) terbesar di dunia.

DRC – Democratic Republic of Congo – (Republik Demokrasi Kongo, Bahasa Indonesia) adalah salah satu area tambang timah terkaya di dunia; kandungan timahnya besar dan harga timahnya miring. Saya sendiri nggak tahu berapa sekilonya, soalnya katanya sih… Cuma ya percaya aja soalnya infonya dari orang yang tepercaya.

Para penambang tradisi
onal seperti juga di Indonesia menjual lumpurnya kepada pengepul atau kepada pabrik yang terdekat dengan lokasi tambang mereka atau rumah mereka. Kasus di DRC adalah sebagian penambang tradisional menjual kepada sementara pihak dalam keadaan di bawah tekanan dalam hal ini tekanan kekuatan senjata. Rakyat kecil bisa apa? Digertak pakai bedil dan diancam keluarganya dihabisi pasti sudah menciut nyali dan udelnya….

Parahnya ada praktik kejam yang dilakukan oleh kekuatan bersenjata dengan cara mempekerjakan penambang secara paksa tanpa dibayar untuk menggali lumpur bertimah yang dijual kepada pembeli oleh kekuatan bersenjata tersebut. Uangnya? Ya buat membiayai gerakan mereka. Duh….!

Bisa kita bayangkan alangkah sengsaranya hidup teman-teman kita di tambang daerah konflik sana. Sudah capek, nggak dapat duit pula. Bayaran yang hanya berupa “dapat melanjutkan hidup susah bersama keluarga dalam kondisi minim” berubah menjadi semacam kemewahan dan membuat teman-teman kita ini “berlomba-lomba” menambang di bawah tekanan senjata.

Bergelimang dengan tanah dalam kondisi sangat teraniaya sungguh membuat manusia-manusia itu makin kuat emosinya. Tak terbayangkan jika kemarahan mereka ungkapkan dalam kekerasan. Jangan salahkan, jangan salahkan… Maklumi saja peerjalanan jiwa mereka.

Eh, eh apa dong yang bsia kita lakukan untuk membantu mereka? Jawabnya adalah” please jangan beli timah dari daerah konflik. Please jangan beli alat-alat elektronik murah yang bahan timah di dalamnya kemungkinan didapat dari daerah konflik dengan harga murah. Mengirimkan energy doa untuk mereka yang teraniaya supaya mereka segera terbebas dari tekanan apapun dalam hidup mereka.

Kesannya saya ngebelain merk-merk dagang gede? Iya juga sih soalnya mereka adalah pihak yang sadar akan hal-hal “kecil” dalam supply chain (rantai penyedia, Bahasa Inggris) walau kesannya reseh.

Ok, Sudara… Inilah sekelumit tentang kenyataan industri pertambangan. Eh, eh bicara tentang mineral dunia, apa kabar emas di Freeport dan tembaga di New Mont?

Cluster Asri – 7 April 2012 – 11:54 pagi

Gambar dipinjam dari http://money.cnn.com/2009/03/27/news/international/congo.fortune/

10 thoughts on “MENGERUK LUMPUR, MENGERUK UANG

  1. Kapan ke kongo? Hehe oleh2 manah? :p aduh miris ya 😦

    Like

  2. musimbunga said: Kapan ke kongo? Hehe oleh2 manah? :p aduh miris ya 😦

    berharap suatu saat kesana… kemarin cuma sempat lihat hasil tambangnya di sebuah tin-smelter… so sad….

    Like

  3. ohtrie said: Tak kira lumpure asubakri iki jee…http://id.berita.yahoo.com/negara-menanggung-ganti-rugi-lapindo-234504159.html

    iyo, kuwi lumpure Bakrie ki jane hasil tambang opo hasil opo to?

    Like

  4. rikejokanan said: iyo, kuwi lumpure Bakrie ki jane hasil tambang opo hasil opo to?

    hasil keteledoran

    Like

  5. rikejokanan said: iyo, kuwi lumpure Bakrie ki jane hasil tambang opo hasil opo to?

    ngeruk soyo jeru, soyo jeru, soyo jerubar rejekine enthek tinggal klatak dadi daerah ‘mati’

    Like

  6. martoart said: hasil keteledoran

    tapi di-klaim sebagai bencana alam…

    Like

  7. rembulanku said: ngeruk soyo jeru, soyo jeru, soyo jerubar rejekine enthek tinggal klatak dadi daerah ‘mati’

    wis mulai entek lho, Lil… di Bangka ada sebuah tin-smelter yang ijinnya cuma bisa samapai 2013…

    Like

  8. rikejokanan said: tapi di-klaim sebagai bencana alam…

    Bakrie ah bencana alam itu sendiri

    Like

  9. martoart said: Bakrie ah bencana alam itu sendiri

    waks…. sak keluarga bikin orang se-Indonesia repot…

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: