April 29, 2012
rike jokanan

29 comments

MENANGIS SAMBIL TERTAWA

MENANGIS SAMBIL TERTAWA

Rasanya kok nggak ada energy untuk menuliskan perjalanan saya ke Dhaka tanggal 16 – 21 April 2012 lalu. Banyak sekali yang bisa saya bagi dengan sudara sekalian namun butuh waktu yang cukup untuk mengendapkan kekeruhan yang saya tangguk dari kunjungan ke sana dan perlu penjagaan jarak yang cukup sebelum tertuang apa yang perlu dipetik sebagai hikmah diantara sekian ribu peristiwa dalam hitungan hari itu.

Ada satu hal yang biasa tapi jadi membekas sebagai kenangan yang luar biasa bagi saya selama berkunjung ke negeri yang sebagian besar terhimpit oleh India dan oleh Myanmar di bagian tenggara. Bangladesh, sebuah negara yang tak saya sangka-sangka akan saya kunjungi. Mungkin sudah lebih dari 100 tenaga kerja Bangla yang pernah saya ajak berbincang tentang nasib yang membawa mereka ke negeri Malaysia namun tak sekalipun saya membayangkan bisa menginjakkan kaki saya di negeri kecil itu. Rasa haru ada walau tak saya wujudkan dalam setitik air matapun.

Negeri ini adalah tempat orang dengan daya survival tinggi. Apakah Anda kuat bertahan hidup dengan hanya USD30 per bulan? Mereka para buruh di Bangladesh bisa!!! Mungkin ada yang bertanya berapa harga sekilo telur disana? Sama dengan harga di Indonesia. Jadi bayangkan keluarga mereka akan memasukkan telur ke dalam daftar makanan mewah. Konon kalau mereka mau makan ikan maka mereka harus memancing sendiri. Kalau mereka mau makan ayam, mereka harus menunggu hingga ada kesempatan khusus semacam selamatan atau perayaan. Teman-teman saya mengatakan bahwa banyak sekali orang miskin papa di Bangladesh tapi ada juga orang kaya yang tak peduli dengan nasib saudara yang kemalangan.

Yah sudahlah tak kan habis kesedihan yang saya ingat dari kunjungan saya yang singkat tapi penuh makna itu.

Ada pengalaman menarik yang tak akan saya lupa.

Ketika sore telah menjelang maka empat teman saya: Nawrin, Fahrin, Faiz dan Barik berniat mengantar saya kembali ke hotel tempat saya nginep di daerah Gulshan. Saya sudah dinaikkan rickshaw berangkatnya; maka pulangnya mereka akan mengajak saya bertualang naik CNG – bajaj yeeeeeaaaahhhh!!!

Tak disangka mereka bilang bahwa CNG tak mudah didapat maka mau tak mau kita naik satu CNG berlima. Serius looooo?

Jadi pembagiannya adalah sebagai berikut: Barik di depan bersama pak supir.

Nawrin masuk dulu ke bangku belakang lalu saya, menyusul kemudian Fahrin dan terakhir Faiz.

Oh teman… kau tak akan bisa melakukannya di Jakarta karena supir bajaj belum-belum sudah menolaknya. Taxi pun tak mau jika harus mengangkut lima orang dengan perawakan bongsor ini (kecuali Fahrin kami semua L dan XL sizes). Nyatanya pak supir senang hati melakukannya bahkan dia mengobrol dengan Barik yang duduk bersamanya. Kami terbahak sepanjang jalan saling meledek pantat siapa yang paling makan tempat. Tak peduli lagi keringat siapa yang paling menyengat. Bisakah kalian bayangkan mengendara bajaj (yang punya pintu jeruji dan ditutup rapat) selama 30 menit dalam kondisi tersebut jika tidak bersama teman yang hatinya luas dan bening?

Oh, Bangladesh… How kind you are.

Aku masih ingat ucapan salah satu dari mereka. “Rike, we are poor but we are doing our best to serve our friend, you…”

Thank you, sambut saya dengan mata berkaca.

Duh, alangkah mulianya hati kalian. Jika kalian berkunjung ke Jakarta akan kujamu kalian dengan tulus hatiku. Doakan aku punya kendaraan yang cukup besar untuk emngangkut kalian semua tanpa harus dusel-duselan (berdesakan, Bahasa Jawa) seperti ayam mau diberangkatkan ke RPA ya….

Suatu saat nanti saya ‘kan berkunjung kesana lagi dalam kondisi saya yang lebih siap dan lebih bermanfaat.

Rumah kecilku di bantaran kali Cisadane – 29 April 2012 – 11:44 malam

Gambar CNJ (bajaj) dipinjam dari: http://jen2bangladesh.wordpress.com/

29 thoughts on “MENANGIS SAMBIL TERTAWA

  1. nek ngono kuwi betapa beruntungnya tinggal di Indonesia ya, yu…

    Like

  2. rengganiez said: nek ngono kuwi betapa beruntungnya tinggal di Indonesia ya, yu…

    pol, Mbak Niez… aku ki arep nulis kesengsaraane ki rak tega mangkane sing lucu-lucu wae….

    Like

  3. rikejokanan said: pol, Mbak Niez… aku ki arep nulis kesengsaraane ki rak tega mangkane sing lucu-lucu wae….

    tapi iso dinggo membandingkan yu…jal disana itu seperti apa kondisinya..

    Like

  4. rengganiez said: tapi iso dinggo membandingkan yu…jal disana itu seperti apa kondisinya..

    iki jajal tak list yo:1. taxi ki rupane koyo mobile mister bean kae2. hotel sing regane USD70 ki ming koyo penginapan murah banget AC-ne bocor3. mercy selama sehari aku cuma ngitung kurang dari 154. ning bandara ki duty free shop-nya dodolane ki jian terbatas; nek karo bandara Jogja wae isih kalah5. wonge kuru-kuru6. klambine ki rak tau disetriko paling7. wis dll pokoke mesakakeeeee banget…:-((

    Like

  5. rengganiez said: tapi iso dinggo membandingkan yu…jal disana itu seperti apa kondisinya..

    seruuuu.. 🙂

    Like

  6. rengganiez said: tapi iso dinggo membandingkan yu…jal disana itu seperti apa kondisinya..

    Nek nduwe sangu yo podho dolan numpak bajaj mrana, Mbak…

    Like

  7. rengganiez said: tapi iso dinggo membandingkan yu…jal disana itu seperti apa kondisinya..

    aku dulu diceritain temen yg liat liputan Bangladesh mbak, katanya jarang ada pengemis ya? Terus bank-nya juga ngasih pinjaman usaha pake modal kepercayaan?Dulu denger cerita itu jadi trenyuh-trenyuh kagum gimanaa gitu..

    Like

  8. rengganiez said: tapi iso dinggo membandingkan yu…jal disana itu seperti apa kondisinya..

    wah yen aku ning kono isa nangis terusora tega nyawang wong2emesake tenan luwih kere ketimbang indonesia sing kere

    Like

  9. rengganiez said: tapi iso dinggo membandingkan yu…jal disana itu seperti apa kondisinya..

    So sweeeettttt

    Like

  10. rengganiez said: tapi iso dinggo membandingkan yu…jal disana itu seperti apa kondisinya..

    Dengan pengalamanmu yang banyak di perjalanan itu, seharusnya kau sudah menghasilkan setidaknya satu buku.

    Like

  11. puritama said: aku dulu diceritain temen yg liat liputan Bangladesh mbak, katanya jarang ada pengemis ya? Terus bank-nya juga ngasih pinjaman usaha pake modal kepercayaan?Dulu denger cerita itu jadi trenyuh-trenyuh kagum gimanaa gitu..

    kalau yang tentang memberikan pinjaman dengan modal kepercayaan itu aku nggak tahu tapi ada sebuah craft shop namanya AROONG yang menampung kerajinan tangan hasil home industry dari perkampungan di Bangladesh; disitu dijualkan dengan harga pantas sehingga pengrajin yang miskin bisa mendapatkan hasil kerja yang lumayan untuk hidup. patut ditiru…pengemis sekarang banyak, Mbak… aku segan aja ambil fotonya. mereka datang dari perkampungan di luar Dhaka. awalnya datang untuk nyari kerja tapi nggak ada peluang mau pulang nggak ada duit ya jadinya ngemis. ada juga yang mengemis karena cacat dan tidak tahu mau ngapain untuk dapat duit….dawaneeee jawabanku ha ha ha…

    Like

  12. rembulanku said: wah yen aku ning kono isa nangis terusora tega nyawang wong2emesake tenan luwih kere ketimbang indonesia sing kere

    wis ra kober nangis, La… pokoke tak hayati wae… dikongkon mangan panganan ndalan tak pangan, dikongkon numpak rickshaw yo tak lakoni pokoke aku berlaku seperti mereka sebagai bentuk empatiku…. ning wonge apik-apik, ramah keramahen ha ha ha

    Like

  13. bambangpriantono said: So sweeeettttt

    so sweaty…. keringete asli “wangi” ha ha ha ha

    Like

  14. smallnote said: Dengan pengalamanmu yang banyak di perjalanan itu, seharusnya kau sudah menghasilkan setidaknya satu buku.

    mulai deeeeeeeeeeh….

    Like

  15. smallnote said: Dengan pengalamanmu yang banyak di perjalanan itu, seharusnya kau sudah menghasilkan setidaknya satu buku.

    jadi ingat teman2ku di Bangladesh juga…

    Like

  16. srisariningdiyah said: jadi ingat teman2ku di Bangladesh juga…

    orangnya ramah dan baik rak yoan, Mbak Ari?

    Like

  17. srisariningdiyah said: jadi ingat teman2ku di Bangladesh juga…

    iyaaa baik dan ramah2…

    Like

  18. srisariningdiyah said: iyaaa baik dan ramah2…

    tapi bukan rajin menjamah to hihihii

    Like

  19. srisariningdiyah said: iyaaa baik dan ramah2…

    hahaha kalo rajin menjamah langsung kena plakkkkkk

    Like

  20. srisariningdiyah said: hahaha kalo rajin menjamah langsung kena plakkkkkk

    mulakne aku kan wegah di-creambath soale jamahannya kapster salon ki nggawe sirahku ngeluuu hihihi

    Like

  21. srisariningdiyah said: hahaha kalo rajin menjamah langsung kena plakkkkkk

    bwehehehehhehe gak nyangka larinya ke kapster…aku jarang juga sih krimbat :))

    Like

  22. srisariningdiyah said: bwehehehehhehe gak nyangka larinya ke kapster…aku jarang juga sih krimbat :))

    mending kramat biasa wae, murah dan harum, free from others’ dirty hands wahahahahahaaa…

    Like

  23. srisariningdiyah said: bwehehehehhehe gak nyangka larinya ke kapster…aku jarang juga sih krimbat :))

    iya krimbat sendiri hahahahah

    Like

  24. srisariningdiyah said: iya krimbat sendiri hahahahah

    sip, Mbak Ari… biaya murah hasil memuaskan…

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s