MAY DAY 1

MAY DAY

(kepedulian kepada buruh)

May day, May day!

Waduh tanda bahaya tuh…

Sudara-sudara, sudah dengar belum akan ada aksi buruh besok tanggal 1 Mei 2012 dalam rangka memperingati Hari Buruh Sedunia yang dikenal juga dengan May Day*? Sepertinya akan ada aksi besar.

Buruh. Kata ini sudah saya kenal dari saya kecil. Dulu waktu saya masih sangat polos saya menyebut pembantu di rumah kami sebagai buruh. Lalu ibu dan bapakku menegurku mengingatkan bahwa Yu Yat, Yu Bit, Yu Jah, Kang Met bukan buruh, mereka adalah saudara yang membantu kami semua menyelesaikan pekerjaan di rumah supaya nggak ada namanya telat ke sekolah atau ke kantor dan rumah menjadi tidak sepi kalau bapak dan ibu sedang tidak di rumah.

UPAH MINIMUM & KEDAMAIAN

Buruh. Kata ini yang sekarang jadi urusan saya setiap hari. Tiap hari ke pabrik dan bicara dengan para pekerja pabrik (yang oleh sebagian dinobatkan sebagai buruh) membuat saya tahu bahwa hidup mereka jauh lebih buruk daripada Yu Marti, Lik Yadi, Yu Surip dan para buruh tani lainnya. Buruh tani yang saya kenal hidupnya cukup layak; mereka memang tidak punya ukuran upah minimum yang terukur di rekap gaji seperti buruh pabrik tapi penghasilan mereka cukup membuat mereka hidup layak di desa. Bisa saja dalam tiga bulan penghasilan mereka jika dirata-rata per bulan bisa lebih daripada upah minimum setempat. Plus, mereka masih punya kebun kecil yang penuh dengan tanaman yang bisa diolah dan ternak yang masih bisa dikonsumsi atau dijual hasilnya. Ketenanganlah yang membedakan buruh pabrik dengan buruh tani.

Terakhir saya berkomunikasi dengan pemilik pabrik yang mengatakan pada saya “upah minimum itu bisa ditawar, mbak Rike. Mbak Rike harusnya tidak membawa standar Amerika ketika mengobservasi pabrik saya bla bla bla…” Eh, ibu yang katanya lulusan Amerika, upah minimum ini aturan pemerintah Indonesia bukan aturan Amerika. Bete!

Oh tunggu… Upah minimum itu berlaku untuk lajang lho… Jadi kalau ada buruh pabrik yang dibayar upah minimum belum berarti keluarganya sejahtera, sudara.

Buruh. Mereka adalah pekerja yang punya tanggung jawab kerja tetapi tidak punya otoritas apa-apa di tempat kerja. Mereka hanya tahu kerja, kerja, kerja. Kalau ada yang ilmunya lebih sedikit maka pihak yang punya otoritas akan mengebiri ketahuan pekerja dengan berbagai cara, mulai dari memberikannya posisi supaya pengetahuannya mandul, mengeluarkannya atau mengancamnya. Itulah kehidupan buruh pabrik. Hanya sedikit pabrik yang tidak melakukan itu. Tidak heran para pekerja menginginkan perbaikan.

OUTSOURCING

Ini dia si jali-jali… Outsourcing – ada juga yang menyebutnya contractor – adalah badan usaha yang menyediakan tenaga kerja untuk badan usaha lain; pekerja bekerja di perusahaan pengguna jasa tapi status kontraknya adalah antara karyawan dengan outsourcing. Awalnya ada sebagai solusi terhadap sulitnya pengadaan tenaga kerja. Namun belakangan outsourcing disalahgunakan untuk memangkas biaya operasional perusahaan pengguna jasa. Perusahaan pengguna jasa tertentu membayar lumpsum* seluruh jam kerja seluruh pekerja lalu pihak putsourcing yang akan membayarkan gajinya pada karyawan. Jam kerja itu bisa saja bukan jam kerja aktual melainkan jam kerja yang disepakati antara kedua perusahaan. Walhasil, pekerja lah yang yang dirugikan karena bisa jadi jam kerja yang dibayarkan hanya sebagian saja. Banyak juga pekerja outsourcing yang dianaktirikan karena tidak ternaungi Jamsostek, pelayanan kesehatan dan fasilitas lain seperti cuti, THR, dll. Masihkah pemerintah belum paham kebutuhan rakyatnya?

Menurut peraturan perundangan Indonesia (bukan Amerika ya, bu…) perusahaan harus mempunyai skema untuk membedakan mana aktivitas utama bisnis dan mana aktivitas tambahan. Aktivitas utama bisnis adalah aktivitas atau proses produksi yang apabila tidak ada maka perusahaan itu tidak jalan, misalnya: kalau Anda punya pabrik pembekuan udang, proses deheading (potong kepala, sadiiiis), peeling (kupas) sampai packing adalah proses utama. Nah, outsourcing ini hanya boleh masuk ranah aktivitas tambahan alias yang sekali-sekali doang ada kerjaan.

PKWT

Apa ini? Perjanjian Kerja Waktu Tertentu alias karyawan kontrak. Menurut peraturan perundangan Indonesia (bukan Amerika ya, bu…) seluruh aktivitas yang sifatnya permanen (aktivitas utama bisnis) seharusnya dilakukan oelh karyawan yang dipekerjakan secara permanen juga alias karyawan tetap… PKWT alias karyawan kontrak itu hanya bisa dipekerjakan di bagian aktivitas tambahan itu. Kalau menurut perkiraan sin sekitar 90% pabrik membuat PKWT ini untuk hampir seluruh aktivitas utamanya. Tujuannya? Apalagi kalau bukan untuk mengantisipasi pengeluaran. Bayangkan kalau semua pekerja bersifat permanen; pengusaha harus menyediakan tunjangan untuk seluruh karyawan dan mereka menganggap itu pemborosan. Belum lagi bayar pesangon kalau ada yang dipecat, uang penghargaan kalau ada yang mengundurkan-diri. Intinya, semua dilakukan demi penghematan dimanapun bisa dilakukan alias menghalalkan segala cara asal duitnya nggak berkurang banyak.

SO WHAT GITU LOH?

Itulah yang sedang diperjuangkan para buruh itu. Penjelasanku di atas mungkin sangat sederhana dan terkesan nggak ilmiah tapi itulah inti dari permasalahan industri kita: hilangnya kesederhanaan dan intelektualitas. Semua dibikin rumit (bikin aturan sendiri) dan pembodohan dilakukan pada para buruh – demi uuuuuaaaaang….

Semoga para buruh melakukan ini dengan sepenuh ketulusan mereka dengan melibatkan seminim emosi yang mereka punya dan menghasilkan kesusksesan seperti yang emreka harapkan demi kesejahteraan industri tanpa harus merugikan pihak manapun. Pengusaha pasti akan harus membelanjakan uangnya lebih banyak (jika tuntutan buruh dipenuhi) namun saya yakin mereka tidak akan miskin karenanya. Pekerja juga harus bekerja sebaik mungkin karena memang mau nggak mau mereka hanya punya tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas dan otoritasnya hanya pada dirinya sendiri.

* untuk sejarah May Day, sudara bisa membaca artikel berikut namun ini bukan satu-satunya: http://flag.blackened.net/daver/anarchism/mayday.html

** lumpsum: perusahaan memberikan sekaligus dalam jumlah tertentu yang meliputi uang saku, transport, akomodasi atau unsur biaya lainnya, tanpa harus dimintakan pertanggungjawaban dan bukti atas penggunaannya (penjelasan ini dipinjam dari http://dir.groups.yahoo.com/group/forum-pajak/message/16550)

Rumah kecilku di bantaran kali Cisadane – 30 April 2012 – 1:53 siang

8 thoughts on “MAY DAY 1

  1. rembulanku said: wah, sesuk aku diperingatihari buruh, rak kroso wis 3 sasi mburuh ning Palembang 😀

    iyo, aku wis pirang-pirang taun dadi buruh kok nembe saiki rumongso benar-benar diplekotho oleh kumpeni to, Lil…mulakno ayo to ndang gawe usaha dhewe ben iso merdekaaaa!!!!

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s