Imperfection (ranting)

I never expect a teacher to be perfect yet I never want a teacher (who claim her/himself) teacher to tak about what’s (s/he considers) not better than her/him. 

Yes, I’ve “ordained” that my primary teacher is one, that that I’ve listened to & read since I was a high schooler with big respect and trust because his life is well verified and he is consistent about what he’s fought for– those underprivileged in my beloved country. He’s been physically ill and unable to directly greet us. And that was probably one reason that I tried to find another teacher as there are bits and pieces that I might gain from a class with teacher rather than reading alone. Other than that I had one discussion group.

Yet I could not ordain this new teacher to be a primary. Not because he’s not intelligent or scientifically resourceful. He is very much; however, this honored person could not stop talking about other people that one thinks not better, not right, not exclusive, not right, not this, not that. I’ve been in every week and in every meeting there is always word to highlight how others outside are misled.

No, I can’t make this one a primary teacher. This one is as ordinary as others, as me– yet as he is very intelligent I still make this one source of bits and pieces.

No, I don’t hate this one. I just can’t accept fully because of the 60% quality that I can’t see in one. I don’t tell my friend by whom I was connected to this one. I appreciate her kindness and generosity for this connection; yet I’ve found her to be like this teacher: others outside are not right….

Life is so perfectly imperfect; and I’m a consistently imperfect student of life.

Thank you, dear Beloved for giving me extraordinary and ordinary teacher so I can see both perfection and imperfection in myself.

September was good. She showed me teacher who likes to underestimate others outside the class through humble words. She also sent me a friend who is so angelic that I felt uncomfortable to be near her.

Both look perfect in their own place. The teacher is regarded as very scientifically resourceful one– no deficiency of knowledge. The friend is regarded as an angelic one– no stain in her soul.

I’m a human being so I need a perfect teacher whose ethics is at least 50% of one’s quality; the other 50 is shared between knowledge and clear thinking. Because wisdom is not only what’s memorised by teacher but what’s becoming daily conduct as a role model.

I’m a human being so I need an imperfect friend whose flexibility is enough for us to laugh together. Because the rest is not about whether the gathering ia full of wise words or sacred knowledge, but how a friend is welcomed howsoever dirty and low the conduct is; otherwise we are not friends.

GURU SAYA 1

GURU SAYA – 1

Sepuluh tahun yang lalu saya mengikuti kuliah Sejarah Pemikiran Modern. Dosennya adalah seorang wanita Madura yang kritis dan adil. Kalau bicara tanpa tedeng aling-aling, seringkali bikin mahasiswanya jengkel karena tak ada artinya alias tidak logis. Saat diam, dia berpikir sehingga kami mengira beliau melamun. Suatu hari saya merasa sangat bosan; bukan dengan mata kuliah dan pengajarnya melainkan dengan teman-teman yang berulang kali menguap menahan kantuk, teman-teman lain yang ngerumpi (termasuk ngerumpi-in Bu Dosen) dan bosan dengan kebodohan saya sendiri. Saya pun mengacungkan tangan dan bertanya.

“Silakan,” kata Bu Dosen.

“Siapa sebenarnya yang bisa disebut sebagai guru kita, Bu?”

“Yang mengajarkan tentang makna hidup.”

“Orang tua kita?”

“Bisa.”

“Bagaimana kalau orang tua tidak bisa mengajari anaknya pelajaran hidup?”

“Berarti memang dia tidak bisa disebut guru bagi anak-anaknya.”

“Bagaimana kalau ternyata Ibu belajar tentang hidup justru kepada saya?”

“Maka Anda adalah guru saya.”

“Bagaimana kalau saya ternyata tidak belajar pada siapapun?”

Bu Dosen diam. Para mahasiswa mengomel lirih karena khawatir diskusi ini akan panjang lebar menghabiskan energi mereka. Saya merasa bersalah membuat teman saya terancam lemparan pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawabnya sendiri tapi dia lebih menginginkan para pendengarnya aktif bicara (dengan berpikir sebelummnya tentunya). Saya merasakan panas cubitan sahabat di kiri kanan saya sebagai tanda protes.

“Apa maksud Anda tidak belajar pada siapapun? Apakah Anda benar-benar tidak belajar? Atau Anda belajar namun tidak “diajari”?”

“Saya belajar tapi tidak dengan diajari.”

“Sesungguhnya metode belajar seperti itulah yang paling tepat untuk manusia. Anda ingat sebuah ajaran China yang pernah kita bahas. Aku melihat dan aku lupa. Aku mendengar dan aku lupa. Aku mengalami dan aku ingat.”

“Apakah bisa dibilang bahwa saya adalah guru bagi diri saya sendiri?”

“Apakah Anda ingin menyebutnya demikian?”

Saya bingung. Oh, Ibu Dosen, saya bertanya, jangan ditanya, batin saya pilu. Pertanyaan saya mulai menyiksa tidak hanya mahasiswa yang jumlahnya mencapai 70 orang tapi juga saya sendiri yang dirambati rasa sesal. Ruang tar ber-AC ini menjadi makin panas. Aku mendengar salah seorang merutuk “Dasar, sok pinter. Rasain sekarang bingung sendiri dihabisi Madura.”

“Tidak.’

“Jadi menurut Anda, adakah guru yang tidak kasat mata?”

Wadaw… Apa pula ini bah!

“Tidak mungkin Anda tidak belajar jika tidak ada guru. Guru tidak selalu manusia yang bisa kita berikan penghargaan karena tiap petatah-petitihnya atau tindak-tanduknya diterima sebagai makna oleh seseorang. Guru adalah fasilitator. Perantara.”

Bu Dosen diam sengaja memberi jeda bagi saya (mungkin juga bagi teman-teman) untuk merenung.

“Guru adalah perantara dari tersampaikannya makna kepada seseorang sehingga dia memahami sesuatu.

Jika Anda, Saudari Rike…”

Saya terperangah karena ternyata Bu Dosen ini tahu nama saya. Bagaimana bisa? Saya bukan mahasiswa brilian. Ah, saya tidak mau ge er, bisa saja dia mendengar secara tidak sengaja bahwa mahasiswa goblog ini bernama Rike Jokanan.

Jika Anda tidak merasa ada yang mengajari namun Anda belajar maka carilah perantara itu.”

Saya tidak ta
hu mengapa saya ingin menangis saat itu. Yang saya rasakan adalah suasana sentimentil tak beralasan. Jangan-jangan karena tahu Bu Dosen tahu nama saya ha ha ha…

Jika perantara itu tak bisa Anda definisikan, jangan khawatir. Pada saatnya Anda akan menemukan Guru tersebut. Teruslah belajar dengan metode Anda dan jangan takut untuk tersesat karena Anda memiliki guru. Jangan membayangkan perantara disini sebagai kabel yang menghantarkan listrik atau angin yang menghantarkan suara…”

Suara Bu Dosen Madura makin ringan mengipasi hati saya. Ketika bel tanda jam kuliah habis, suara sorak-sorai lega teman-teman terdengar dan dengan tenang seperti biasa Bu Dosen beruluk salam, saya duduk tertinggal masih berusaha mencari-cari makna kata-kata Bu Dosen. Saya melihat Bu Dosen tersenyum tipis pada saya sebelum meninggalkan ruangan. Teman-teman saya memaki-maki saya. Dan saya tidak juga memahami apa maksud Bu Dosen guru saya tersebut… Hingga 10 tahun kemudian.

Terima kasih Bu Dosen. Anda ternyata guru saya.

Dosen tersebut sekarang masih aktif mengajar di Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya. Pada saat itu beliau juga mengajar mata kuliah Kesustraan Indonesia dimana saya berkenalan dengan karya-karya Zawawi Imron.

June 29, 2008