June 11, 2008
rike jokanan

no comments

NGGAK KAYA NGGAK PATHEKEN?

NGGAK KAYA NGGAK PATHEKEN?

Masih terngiang ungkapan Pak Harto, mantan presiden kedua Republik Indonesia, pada saat orang-orang menyinggung tentang tantangan terhadap beliau untuk tidak menjadi presiden lagi: “nggak presiden ra patheken”. Barangkali bagi adik-adik usia 20 than kebawah hal ini bukan sebuah hal yang istimewa namun bagi kami yang lahir di era 70an akan merasa ungkapan ini sebagai arogansi dan ironi.

Saya tidak ingin membahas Pak Harto dan penyakit pathek (sampar, bahasa Jawa) karena saya bukan politikus atau dokter yang kapabel untuk itu. Saya hanya akan menganalogikan ungkapan tersebut dengan ungkapan “nggak kaya nggak patheken” atau nggak kaya nggak masalah.

Saya bukan orang yang kaya dan bukan pula orang yang bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan namun jujur saya pernah membayangkan seandainya saya menjadi orang yang punya banyak uang dan atau fasilitas. Jujur sekarang ini saya termasuk orang yang hidup penuh semangat karena harus melunasi tagihan-tagihan J

Konsep kaya sangat beragam. Mulai dari kaya harta sampai kaya hati. Kalau diberi range bisa saja seperti menjejerkan beragam gradasi warna dari hitam hingga putih. Saya sendiri kurang suka kalau harus mendefinisikan sesuatu karena otak saya sudah lelah memahami definisi yang kadang justru membuat hidup saya jadi beku dan pucat.

Kalau kaya adalah masalah harta, siapa orang terkaya di dunia ini? Saya yakin mereka adalah orang-orang yang namanya pernah di-tally oleh majalah Forbes. Kalau masih masuk majalah Kuncung masih jauh jarak tempuhnya dari jabatan Rang Kayo.

Pernah suatu masa saya suka sekali pura-pura jadi orang kaya, jalan-jalan menghabiskan uang, belanja barang-barang yang tidak saya butuhkan. Saya beli barang-barang yang menurut saya tiada guna. Saya makan dan minum walaupun saya tidak haus atau lapar. Saya minum cairan yang tidak harus saya suka yang penting harganya mahal. Saya pesan makanan tidak enak yang penting bandrolnya paling heboh. Lalu saya juga nonton film walaupun tidak ada yang memenuhi selera saya. Saya juga ikut-ikutan main bowling yang sejatinya bukan olahraga favorit saya hanya supaya dibilang keren. Saya juga membeli tas ber-merk walaupun tas saya di rumah masih utuh, merk-nya pun belum terlepas… J

Saya berlagak kaya untuk membuktikan apakah saya benar-benar pantas menjadi orang kaya baik sekarang maupun nantinya. Istilah yang saya pakai adalah belajar kaya. Biar kalau nanti kaya beneran saya tidak norce (norak).

Setelah sampai rumah saya kalkulasi semua yang saya belanjakan termasuk ongkos taxi yang saya suruh lewat tol walaupun sesungguhnya akan lebih murah dan cepat jika tidak lewat tol. Latihan kaya… jumlahnya belum mencapai 3 juta tapi ternyata sudah cukup membuat saya kaya. Ah, ternyata saya masih penasaran tentang latihan kaya ini. Mungkin bulan depan harus lebih fantastis.

Bulan depannya saya melakukan hal yang sama. Ternyata total nilai yang saya dapatkan lebih kecil dan saya tidak puas. Bulan selanjutnya tidak lebih besar. Dan akhirnya saya menyerah latihan karena ternyata tabungan saya mulai menipis. Tunggakan kartu kredit saya juga melonjak. Aduh bagaimana ini nasib latihan kaya saya?

Secara tidak sengaja saya membaca sebuah buku tentang orang-orang yang (pasti) super kaya. Mereka adalah para pemilik perusahaan kelas mammoth. Mereka adalah bos-bos yang uangnya (pasti) akan membuat saya mendelik sewot saking banyaknya. Mereka adalah orang-orang yang tidak ribut membayar tagihan kartu kredit karena ada orang yang menguruskan itu untuknya.

Kemudian saya menemukan bahwa ternyata ada salah satu dar
i mereka berkebangsaan Jepang dan menempati rumah kayu dan kertas. Apa yang dia lakukan bukanlah membelanjakan uangnya seperti orang kalap. Dia lebih sering merenung atau berbincang dengan sang istri di rumahnya yang sederhana. Tidak ada kesenangan yang lebih dia sukai selain melatih hobinya menulis kaligrafi.

Saya tidak sempat lagi melanjutkan membaca karena teman saya serta merta menyodorkan sebuah buku lainnya yang menceritakan tentang seorang karyawan Bill Gate yang lebih rela keluar dari pekerjaannya untuk merintis pendirian perpustakaan-perpustakaan di daerah-daerah terpencil di Asia.

Sungguh tak dapat dipercaya. Orang kaya malah mengundurkan diri dari jabatan Rang Kayo. Sedangkan saya yang seharusnya menikmati hidup dengan cara sederhana malah belagu menghambur-hamburkan uang yang serinya pun masih bisa dihapal. Saya merenung lagi apakah perlu saya berlatih kaya dengan cara bergaya seperti orang kaya. Apakah memang jabatan Rang Kayo sebuah status urgent bagi saya? Apakah kalau tidak kaya saya akan patheken?

Saya mengaca. Di cermin saya melihat wajah kusam lagi bodoh, wajah kuyu lagi picik, wajah miskin lagi konyol.

Saya segera membereskan bon-bon pembelian yang saya kumpulkan untuk menghitung pengeluaran saya bulan ini. Saya buang semua ke keranjang sampah lalu saya membuat daftar nama-nama orang yang pantas menerima barang belanjaan yang ternyata sungguh-sungguh tidak ada gunanya untuk saya.

Selama ini saya tidak latihan kaya tapi latihan gila.

June 11, 2008

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: