July 5, 2008
rike jokanan

2 comments

GURU SAYA – 3

GURU SAYA – 3

Tulisan ini hanya cuplikan bebas dari sebuah diskusi informal di sebuah kelas yang diajar oleh seorang manusia yang lupa diri. Kurang menarik tapi bisa bermanfaat besar jika direnungkan dalam-dalam.

Masih bicara tentang guru. Kali ini saya tidak akan bicara tentang guru saya yang hebat-hebat itu. Saya akan bicara tentang diri saya sendiri. Saya juga seorang pengajar di sebuah institusi kebanggaan daerah saya. Bangga karena menjadi yang tertua. Bangga karena menjadi yang pertama. Bangga karena menjadi bukan apa-apa.

Saya dibayar untuk mengajari siswa-siswa saya mengerti bahasa asing sekaligus memahami karya sastra yang diproduksi oleh penutur asli bahasa asing tersebut dan atau karya sastra yang ditulis dalam atau diterjemahkan kedalam bahsa asing tersebut. Bersyukur saya dulu pernah kuliah di Fakultas Sastra jurusan Bahasa & Sastra Inggris dan saya mengambil sastra sebagai keahlian khusus saya walaupun pada akhirnya kebanggaan saya belajar sastra menjadi blunder bagi saya.

Ada sebuah paradigma yang pernah saya percaya hingga saat ini dan rasanya sudah kurang relevan lagi untuk saya pertahankan. Saya merasa bahwa siswa-siswa saya harus menghormati saya lebih daripada pihak manapun di lembaga ini. Saya ini pengajar. Saya in yang memberi mereka ilmu. Saya ini yang membuat mereka pinter dan ngerti. Saya ini YANG MEMBERI MEREKA NILAI. SAYA INI YANG MENENTUKAN LULUS TIDAKNYA MEREKA. SAYA ADALAH PENENTU MASA DEPAN MEREKA. Maka… Saya harus menunjukkan OTORITAS saya sebagai PENGAJAR termasuk didalamnya OTORITAS BERPIKIRRRRRRRR!!!

Saya

:

Hari ini kita diskusi saja. Banyak hal dalam sastra yang lebih pas diomongkan bersama daripada dipahami dengan komunikasi satu arah.

Siswa

:

Wah, padahal kami berharap Miss bisa menjelaskan sesuatu pada kita hari ini. Kami ada pertanyaan tentang sastra tapi sebenarnya bukan materi Miss. Ini materi pengajar lain.

Saya

:

Lho, lho, lho. Bagaimana mata ajaran orang lain ditanyakan pada saya? Nanti kalau salah saya yang kena lagi. Kita diskusikan saja topik kita sendiri.

Siswa

:

Miss, bagaimana kalau hari ini kita diskusi bebas saja. Apapaun tentang sastra.

Saya

:

Boleh, boleh…

Siswa

:

Menurut Miss apakah nilai sastra universal?

Saya

:

Bisa y, bisa tidak.

Siswa

:

Mengapa ada dua jawaban?

Saya

:

Karena selalu ada dualisme di dunia ini.

Siswa

:

Apakah dualisme ini mengarah pada suatu kesatuan atau memang dikotomi nilai yang tak pernah bisa ditunggalkan?

Saya

:

Dua. Selalu ada dua.

Siswa

:

Menurut saya tidak, Miss. Sastra bernilai uniersal dan mengarah pada satu nilai yang jelas dan harus bisa ditunggalkan.

Saya

:

Bagaimana penjelasan kalian bisa masuk akal?

Siswa

:

Bagaimana Miss membuat penjelasan Miss masuk akal juga?

Saya

:

Jelas, ada sastra yang menggiring seseorang terhadap terhadap nilai buruk. Ada juga karya yang menggiring seseorang pada nilai baik dan disinilah dua buah nilai yang bertentangan yang diusung oleh suatu karya sastra tidak dapat ditunggalkan. Kedua nilai yang bertentangan akan selamanya berseberangan.

Siswa

:

Berarti Miss menilai sesuatu dari nilai yang sangat rapuh. Pondasi berpikir Miss adalah keterserakan yang mengarahkan Miss sendiri kepada suatu pola berpikir yang berantakan. Dan pola pikir yang berantakan itu membuat Miss meyakini bahwa kejahatan adalah satu dan kebaikan adalah hal yang lain. Pernah Miss Rike berpikir bahwa ternyata sastra buruk dan sastra jelek berangkat dari sebuah paradigma berpikir yang satu?

Saya

:

Ya, saya memahami bahwa sastra adalah sebuah kristalisasi dari pengalaman batin manusia digurat dalam lontar kehidupan dan dicetak untuk populasi tertentu sebagai sebuah proses pencarian diri baik secara fisik maupun mental.

Siswa

:

Bukan hanya itu. Kalau memang seperti itu, Miss nantinya akan mengarahkan kepada sastranya orang jahat dan sastranya orang baik. Seberapa dalam Miss meyakini bahwa sastra memang berangkat dari rangkaian keindahan? Bahwa sastra adalah bentukan kekeruhan yang berevolusi menjadi kebeningan seperti batu tua bertransformasi menjadi berlian? Bahwa sastra yang jorok sekalipun adalah perwujudan syukur terhadap pengalaman hidup yang pantas dihargai baik secara materi maupun immateri?

(Saya bingung menghadapi siswa satu ini. Anaknya ndhak ngawaki tapi sangat kritis pada saat tertentu sampai-sampai kami beranggapan bahwa dia ini edan tahunan. Saya merenung sebentar tapi terinterupsi oleh ledakan komentar sang siswa tersebut)

Siswa

:

Miss, saya tidak mengerti kenapa Miss Rike bisa bingung begini. Padahal semua ide saya itu adalah ide yang saya hapal diluar kepala dan sangat saya terima sebagai sebuah cara berpikir yang bijaksana dan masuk akal tetapi penulisnya sendiri ternyata sekarang berubah pikiran…

(Saya makin bingung.)

Siswa

:

Miss, itu kan ada di artikel sastra Miss Rike tahun lalu??? Ah… Masa lupa sih??? Inilah yang saya suka dari Miss Rike. Sangat suka tantangan dan berusaha memahami sesuatu dari sudut pandang yang bervariasi. Salut, Miss!!!

Lama-lamat saya dengar seseorang melapor pada si gila berkata bahwa artikel itu memang pernah dia baca tapi dia lupa-lupa ingat. Siswa yang lain saling melempar tanya.

Saya tidak bangga dipuji si gila itu. Saya malu. Saya tertampar. Saya terkapar. Saya menyadari kesombongan intelektual saya. Saya berpikir tanpa berpikir. Sebelum bicara saya telah berpikir tapi sebelum proses berpikir itu saya lupa berpikir. Berpikir yang pertama adalah proses mengingat, mengingat apa yang telah saya pahami dan yakini sebelumnya. Berpikir kedua adalah merangkai metode untuk menyampaikan baru kemudian bicara.

Jika saya berpikir sebelum berpikir maka bicara saya akan konsisten karena saya ingat bahwa saya pernah berbicara begini begitu. Atau paling tidak saya ingat bahwa cara berpikir semacam ini adalah evolusi dari cara berpikir saya yang dahulu…

Duh… akal saya sudah tumpul karena “nafsu” berlogika yang saya kebut selama saya “berhadap-hadapan” dengan para penuntut ilmu ini. Saya hanya berdebat, berdebat dan berdebat tanpa memikirkan bahwa keinginan menang debat itu akhirnya membuat saya tidak konsisten dan tidak berpikir jernih. Saya bingung mau jawab apa. Masak saya bilang tidak ingat pernah menulisnya… Malu laaaaar… tapi saya juga tidak sudi berbohong.

Hanya bel yang menjerit keras saja yang menyelamatkan saya dari cengkeraman denawa (raksasa) rasa malu dan bersalah. Untuk mengubur rasa tak berharga yang mungkin sama sekali tak tercium oleh siswa-siswa saya itu saya segera menugaskan mereka untuk membaca paling tidak tiga cerpen yang ditulis oleh Guy de Maupasant dan membuat komparasi dan apresiasi singkatnya mulai dari tema, karakterisasi, plot, setting, simbol, ironi dan apapun yang menarik menurut nilai-nilai yang mereka yakini. Tugas ini memberatkan mereka walaupun mereka mengaku menikmatinya. Saya dan mereka tahu. Tapi, mereka tidak tahu betapa beratnya saya menanggung malu baru saja.

Sungguh saya pernah menjadi guru yang tak tahu diri. Sekarang saya menjadi lebih arif menilai diri saya dan orang-orang yang saya “ajar”.

Wahai para guru, marilah kita menjadi siswa. Jadilah guru bagi dirimu sendiri…

2 thoughts on “GURU SAYA – 3

  1. untung ada bel ya?ternyata guru bisa malu juga ya?

    Like

  2. atiggna said: untung ada bel ya?ternyata guru bisa malu juga ya?

    malahan cadangannya mesti lebih banyak he he he

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: