SI OTONG & SAYA YANG PELIT

SI OTONG DAN SAYA YANG PELIT

Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang hampir tidak pernah memberikan uang kepada pengemis, pengamen yang ada di bus atau jalan termasuk para ulama yang meminta sedekah untuk mendirikan bangunan tertentu. Saya beranggapan bahwa dengan memberi mereka uang maka saya telah membunuh keinginan mereka untuk “bekerja secara normal”. Saya tidak mau menjadi orang yang melestarikan budaya meminta uang di jalan dengan cara apapun. Saya yakin ada cara yang lebih baik untuk “membiayai” mereka. Sayang sekali pasal di UUD 45 yang menyangkut pemeliharaan fakir miskin tidak dijalankan dengan baik.

Saya rela dikutuk dan didoakan oleh mereka karena saya tidak mau menyisihkan gopekan saya untuk mereka yang telah capek-capek nyanyi atau mendongeng. Saya juga rela ditatap dengan pandangan tajam karena (mungkin) saya adalah sedikit orang yang dengan sangat mudah dihapal karena pelit terhadap mereka. Dan tetap saja saya menerapkan perhitungan saya demi tidak memberikan uang saya pada mereka.

Saya pernah menjumpai seorang anak lelaki berusia sekitar empat tahun. Dia ingusan, debuan, rambutnya pating klenyit (bau tengik, bahasa Jawa), bajunya dekil, matanya penuh kotoran. Si otong ini menumpang bus kami dengan mengantongi segepok amplop putih untuk dibagikan kepada kami semua.

Satu per satu dia geletakkan amplop itu di pangkuan para penumpang mulai dari kursi terdepan. Saya duduk di deretan keempat. Serta merta dengan senyuman saya tolak amplop kucel tersebut sambil menggeleng. Kebetulan saya duduk dengan seorang bapak yang (mungkin) punya prinsip berbeda dengan saya.

Bapak ini mendesis,”Terima aja kenapa sih?” tetapi saya tetap menggeleng dan tetap tersenyum.

Tiba-tiba si otong menangis tersedu-sedu di hadapan kami. Saya cuek saja. Kini saya sodorkan amplop itu kepadanya tanpa memandangnya. Si otong mengambil amplop itu dengan kasar dan menangis lebih keras. Saya tak berubah.

Lalu dia menangis sambil melanjutkan fase pertama pekerjaannya yaitu membagikan amplop. Sebentar lagi mungkin dia akan menyanyikan lagu nestapa yang mengisahkan hidupnya yang malang sebagai orang miskin. Saya sudah bersiap dengan segala kemungkinan termasuk si anak kecil ini menyanyi keras-keras di sebelah saya untuk membuat saya memelas.

Saya tungga-tunggu (adaptasi ke bahasa Jawa) mana suara lagu itu tak juga muncul. Yang saya dengar hanya tangisan yang memilukan. Nangis terus sampai lebih dari sepuluh menit tanpa menyanyi.

Saya agak menyesal karena membuatnya menangis. Bisa jadi ini adalah penolakan pertama bagi kepolosan dan niat baiknya menghibur kami. Duh, Gusti Allah, saya telah melukai jiwa si otong itu. Tapi saya juga tak mau melukai prinsip saya bahwa saya tidak mau memberikan uang pada mereka. Saya terus berdoa, meminta ampun dan berharap suatu saat si otong mengerti mengapa saya menolak amplopnya. Bukan karena jijik atau benci tapi karena perhatian saya yang bentuknya berbeda.

Setelah sekitar hampir seperempat jam, si otong ini berkeliling lagi memunguti amplop putihnya yang mungkin sudah gendut dengan rupiah koin atau kertas. Ketika melewati saya dia melotot sambil mencibir. Ingusnya menggelembung seperti permen karet ditiup.

Setelah si otong (mungkin) turun dari bus, saya mendengar penumpang membahas si otong ini.

“Lu ngasih ya?”
”Iya, gopek. Tuh anak kerjaannya ngamen nangis. Biasanya sih dia nangis di metromini. Gue ketemu di 75. Kenapa sekarang bisa di 138 ya?”

“Ada yang bawa kali.”

“Nyanyi aja nyebelin apalagi nangis. Gue takut dipeperin ingus makanya gue kasih aja seribu.”

Saya masih tetap tersenyum. Untung saya nggak dipeperin ing
us ha ha ha…

2 thoughts on “SI OTONG & SAYA YANG PELIT

  1. hehehe…… aku sih biasa nolak amplop2 itu……. bukan apa-apa…. ga pengen aja ngasih….. udah tau sih itu ada mafianya……. kalo ngasih dia kan harus setor ka boss koordinatornya, trus koordinatornya harus setor lagi ke boss nya lagi……. huuhh…capeee deee….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s