August 17, 2008
rike jokanan

18 comments

17 AGUSTUS 2008

17 AGUSTUS 2008

(tak terlalu penting, hanya omong kosong)

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang keberapa tahun ini? Mungkin masih cukup banyak yang menjawab pertanyaan ini tanpa harus berpikir. Namun ternyata tidak sedikit pula yang menjawab dengan menerawang menghitung dulu atau bahkan ada yang tertawa-tawa geli sambil menjawab “Aduh, gue lupa tuh, Rike. Keberapa sih? Enampuluhan gitu deeeeeh. Lu nasionalis banget sih??? Ha ha ha… Hari gini…”

Jujur saja, saya juga masih perlu menghitung; 2008 – 1945 = 63 tahun

63 tahun kita berjalan dari titik tolak yang disebut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustu 1945. Pada saat itu kata Indonesia telah diakui sebagai sebuah nama wilayah, bangsa, kesatuan kedaulatan yang diinterpretasikan sebagai negara. Patut bersyukur bahwa kita mendapatkannya. Masalah bagaimana ngramut (memelihara, Bahasa Jawa) itu urusan keri (belakangan, Bahasa Jawa).

Membincangkan kata merdeka bukan lagi hal menarik karena definisinya bisa panjang dari range yang paling positif sampai dengan negatif; dua ekstrim yang akan selamanya ada dan tidak perlu membuat kita risau. Saya ingin membicarakan sesuatu yang agak lain. Yaitu renungan saya.

Tadi malam saya menyempatkan diri mengadakan RENUNGAN PRIBADI setelah menyaksikan ke-63 tahunnya usia Republik ini. Saya melakukannya sebagai seorang yang TIDAK menguasai sejarah. Saya melakukannya sebagai seorang rakyat jelata yang memandang dirinya kurang beruntung hidup dalam alam politik yang agak kurang kondusif sekaligus sangat beruntung karena dilahirkan dalam kondisi yang biasa-biasa saja. Saya hidup di alam yang penuh bias namun tetap berjuang menetapkan keadilan bersikap yang dilandasi keseimbangan dalam berpikir.

Apa yang saya dapatkan dalam proses merenung tersebut Sudaraku tercinta?

Saya bersedih karena ternyata saya masih terjajah oleh keinginan yang sebenarnya bukan benar-benar dilandasi oleh semangat untuk menjadi melainkan oleh semangat untuk memiliki. Saya masih berharap ini dan itu karena semata-mata ingin, bukan karena butuh. Saya berdoa karena menganggap bahwa keinginan saya belum terakomodir oleh Sang Murbeng Dumadi (Sang Pencipta, bahasa Jawa). Saya juga menganggap bahwa para pemimpin (maksud saya POLITIKUS) Indonesia masih menganggap bahwa yang namanya pembangunan adalah terwujudnya ide-ide mereka walaupun sebenarnya TIDAK BERMANFAAT UNTUK KHALAYAK RAMAI DALAM JANGKA WAKTU YANG PANJANG.

Saya juga masih punya rasa malu dan gengsi menjadi warga negara kelas embuh (tidak tahu, Bahasa jawa), ini karena semata-mata saya minder mengetahui bahwa saya ini warga negara kelas bebek. Saya ngikut aja kemana arus mengalir. Bukan karena apa-apa Sudara-Sudara. Ini semata karena saya tak bisa berenang dengan baik. Saya ini hanya semacam buih yang kelihatan semarak namun mudah terombang-ambing oleh gelombang. Saya belum bisa menjadi gelombang. Alih-alih menentang arus, yang ada malah menjadi bahan tertawaan karena miskin ilmu dan miskin kepribadian.

Saya kemudian mulai berpikir ulang. Buat apa saya berdoa kalau ternyata doa saya bukan esensi dari kebutuhan jiwa saya yang jujur. Saya meminta karena saya ingin bukan karena tergerak oleh kearifan jiwa menyikapi kebutuhannya. Saya pernah berdoa “Ya Allah, saya mau kaya supaya bisa berbagi dengan keluarga dan orang-orang yang memerlukan” padahal saya tahu bahwa denganberamal dalam kondisi sekarang saya akan tetap miskin – tidak akan menjadi jatuh miskin – sebab sejatinya saya tidak punya apa-apa. Saya juga pernah berdoa “Ya Allah, menangkanlah partai politik ini biar negara ini diurus oleh orang-orang yang tepercaya. Kami sudah bosan dengan keadaan yang begini-begini saja” padahal saya juga justru BELUM tahu apakah memang mereka memiliki konsep yang jelas-jelas cocok dengan kebhinekaan kita. Mereka boleh mengatakan konsep mereka paling jempol tapi keadilan tidak diukur oleh konsep baku melainkan oleh konsep kejernihan berpikir.

Aduh, aduh… renungan saya membawa saya pada bagaimana kalau saya mati sebelum cita-cita saya tercapai padahal kenyataannya saya tidak pernah benar-benar punya cita-cita. Cita-cita saya hanyalah segumpal
kekecewaan yang harus saya balas dengan kutub sebaliknya. Saya bodoh, saya mau kuliah lagi. Saya miskin, saya pengen banyak uang. Saya jelek, saya pengen bisa beli alat dan jasa kecantikan. Saya belum punya ini, saya harus punya ini. Saya belum punya itu, saya harus punya itu. Semua dikendalikan oleh keinginan dalam diri saya.

Panjang sekali karena memang renungan saya berlangsung semalaman. Masih banyak yang harus saya sampaikan kepada Anda sebagai bentuk curhat dan sharing namun saya tidak mampu karena kemiskinan ilmu dan kepribadian itu tadi. Ilmu dan semesta ini terlalu luas untuk disombongkan. Airmata seringkali cukup untuk mengungkapkan rasa, termasuk rasa gembira sekalipun.

Hari ini saya kembali memelototi komputer saya. Kembali bekerja karena saya berjanji pada Account Representative saya di Hong Kong bahwa hari ini juga saya menyelesaikan pekerjaan yang mencapai deadline tanggal 21 Agustus dengan alasan “Selasa saya mau lihat lomba di sebuah sekolah kampung tempat teman saya ngajar dengan bayaran yang sangat minim”. Karena dia oke, maka saya harus menepati janji.

Ok, Sudara-Sudara. Apakah Anda punya pekerjaan yang harus segera dikerjakan? Jika ya, segera tuntaskan. Jika tidak segera dituntaskan, Anda tidak akan segera merdeka.

Allahu Akbar! Merdeka!!!

18 thoughts on “17 AGUSTUS 2008

  1. bambangpriantono said: Merdeka!!!

    Renungan Indah….Akan lebih indah apabila saya secara pribadi juga menelaah renungan itu sebagai tindakan nyata, antara rasa “ingin” masih dominan juga dalam diri saya, berbanding 90 persen dari rasa “perlu” yang tentu saja berakhir dengan kata nafsu (memiliki) sebagai penutup.Disisi lain saya sadar sebenarnya Rosul kita telah mengajarkan bahwa perlunya “Hablum minannas” selain “Hablum minallah” ini artinya bahwa tindakan nyata bagi lingkungan sosial sekeliling kita wajib saya jalani selain juga wajibnya saya menyembah padaNya, Masa Allah…SAYA CINTA INDONESIA, tapi JUJUR saya merasa malu menjadi bagian dari Rakyat Indonesia ini apalagi dengan tingkah rakyat (termasuk birokratnya) yang tidak dapat memegang AMANAT para pejuang pendahulunya.Semoga saya akan mampu mengadakan perbaikan diri saya bagi lingkungan ini,Amiin.Thank’s untuk berbagi renunganNya…

    Like

  2. ohtrie said: Renungan Indah….Akan lebih indah apabila saya secara pribadi juga menelaah renungan itu sebagai tindakan nyata, antara rasa “ingin” masih dominan juga dalam diri saya, berbanding 90 persen dari rasa “perlu” yang tentu saja berakhir dengan kata nafsu (memiliki) sebagai penutup.Disisi lain saya sadar sebenarnya Rosul kita telah mengajarkan bahwa perlunya “Hablum minannas” selain “Hablum minallah” ini artinya bahwa tindakan nyata bagi lingkungan sosial sekeliling kita wajib saya jalani selain juga wajibnya saya menyembah padaNya, Masa Allah…SAYA CINTA INDONESIA, tapi JUJUR saya merasa malu menjadi bagian dari Rakyat Indonesia ini apalagi dengan tingkah rakyat (termasuk birokratnya) yang tidak dapat memegang AMANAT para pejuang pendahulunya.Semoga saya akan mampu mengadakan perbaikan diri saya bagi lingkungan ini,Amiin.Thank’s untuk berbagi renunganNya…

    merenung selalu membawa keindahan Mas Othrie. tidak sekedar menghasilkan setumpuk rasa kantuk melainkan sekarung kesadaran.selamat berpesta dengan gemerlapnya terang jiwa.Merdeka!!!

    Like

  3. ohtrie said: Renungan Indah….Akan lebih indah apabila saya secara pribadi juga menelaah renungan itu sebagai tindakan nyata, antara rasa “ingin” masih dominan juga dalam diri saya, berbanding 90 persen dari rasa “perlu” yang tentu saja berakhir dengan kata nafsu (memiliki) sebagai penutup.Disisi lain saya sadar sebenarnya Rosul kita telah mengajarkan bahwa perlunya “Hablum minannas” selain “Hablum minallah” ini artinya bahwa tindakan nyata bagi lingkungan sosial sekeliling kita wajib saya jalani selain juga wajibnya saya menyembah padaNya, Masa Allah…SAYA CINTA INDONESIA, tapi JUJUR saya merasa malu menjadi bagian dari Rakyat Indonesia ini apalagi dengan tingkah rakyat (termasuk birokratnya) yang tidak dapat memegang AMANAT para pejuang pendahulunya.Semoga saya akan mampu mengadakan perbaikan diri saya bagi lingkungan ini,Amiin.Thank’s untuk berbagi renunganNya…

    Amiin..Jadi ini belum tidur n masih dalam rangka perenungan juga Mbak..?Aqu sempet merenung tapi ini masih disawah sambil macul n angon kebo je…Agak kurang konsen juga takut kalo kebonya lepas…Posisi dimana Mbak.. Pengayoman..?

    Like

  4. ohtrie said: Amiin..Jadi ini belum tidur n masih dalam rangka perenungan juga Mbak..?Aqu sempet merenung tapi ini masih disawah sambil macul n angon kebo je…Agak kurang konsen juga takut kalo kebonya lepas…Posisi dimana Mbak.. Pengayoman..?

    walah, merenungnya leren sik. iki lagi wae jaga malam he he he… bengi2 kok angon kebo to yo yo…

    Like

  5. ohtrie said: Amiin..Jadi ini belum tidur n masih dalam rangka perenungan juga Mbak..?Aqu sempet merenung tapi ini masih disawah sambil macul n angon kebo je…Agak kurang konsen juga takut kalo kebonya lepas…Posisi dimana Mbak.. Pengayoman..?

    OOooooo……Iyo je Mbak iqi nang sawah, kebone sih wis do turu….tapi demanding banget njaluk diladeni nek ngelak je…

    Like

  6. ohtrie said: OOooooo……Iyo je Mbak iqi nang sawah, kebone sih wis do turu….tapi demanding banget njaluk diladeni nek ngelak je…

    he he he… kebo bule po piye to?

    Like

  7. ohtrie said: OOooooo……Iyo je Mbak iqi nang sawah, kebone sih wis do turu….tapi demanding banget njaluk diladeni nek ngelak je…

    Iyo campur to…Ana bulene, Bangkok’e, Cinane…Sing paling demanding sih Unta Arab + India…Tapi iqi wis aman koq…Sampean piye, isih ngoyah deadline po…?

    Like

  8. ohtrie said: isih ngoyah deadline po…?

    lha ya padha wae karo si kebo2 mau, si Deadline ki mlayune cepet tenan tur njaluke dioyak…

    Like

  9. ohtrie said: isih ngoyah deadline po…?

    Wah malyu-mlayu juga to Mbak…Btw, “How may I assist You..?”Tenan iqi mbak… Masalahe sengaja jatah nang sawah njaluk mbengi terus due to aq lagi butuh part time-an je,

    Like

  10. ohtrie said: isih ngoyah deadline po…?

    Memang hidup ini ga gampang, bagi yang sudah cukup hidupnya pengin jadi kaya, yang tinggi pangkat nya pengin menjadi lebih tinggi, dan yang sekolah nya sudah S1 pengin jadi lebih lagi, mencapai puncak kehidupan yang se tinggi2 nya dalam segala bidang, bentuk dan cara, karena jarang orang yang puas didalam dunia ini. Itu juga sudah menjadi kodrat, impian dari tiap2 manusia yang tak kunjung padam. Tapi bagi yang bisa/mau merasa sudah beruntung dan bisa terimakasih padaNya untuk apapun yang telah bisa diraihnya itu bisa bikin juga rasa adem ayem pada dirinyaa, lebih2 bila mau/bisa melihat kebawah (melihat teman2 lain yang jauh lebih susah dan sengsara dari dirinya), ga akanlah ngoyo2 juga kok dan bisa santai2 saja sambil berdoa, walau mempunyai segala cita2 yang masih belum terlaksana. Memang kita tetap hasur selalu berdoa agar Alloh swat bisa selalu melindungi dan mengabulkan cita2 kita. Hanya jangan lupa kalau Alloh itu kasih 5 panca indera kepada kita untuk digunakan berusaha se maximum mungkin, untuk segala yang yang paling baik bagi diri kita. Karena, ga mungkin hanya dengan berdoa padaNya tanpa Usaha segala nya datang begitu saja dengan tiba2, seperti magic saja atau mirakel yang tanpa kita nyana. Jadi hanya dengan berdoa sambil berusahalah jalan yang tepat untuk mencapai cita2 kita apapun. Yang lebih penting lagi kita harus bisa sesuaikan juga diri kita terhadap situasi dan kondisi lingkungan kita, karena setiap lingkungan itu lain2, lebih2 sekitar lingkungan kerja dalam hal segalanya. Jadi harus sesuaikan diri dulu terhadap tiap lingkungan agar bisa membawa hasil yang paling baik dan yang menguntungan bagi diri sendiri dulu. Kalau sudah bisa menyesuaikan diri ternyata hasilnya NOL alias ga ada hasil nya juga, dan gagal, perlulah merubah diri lagi ikuti lingkungan lagi sampai berhasil, terutama didalam lingkungan kerja, yang prioritasnya membawa gajih untuk membawa hasil yang serba positif disitu, kemasa depan, agar semua cita2 yang belum terlaksana bisa terkabul. Cobalah cara2ku itu, karena dulu aku selalu dengan cara itu bila selagi dapat kegagalan, dan diem2 tapi ga perlu tanya/ kasih tahu teman2 merubahnya, karena nasehat teman2 itu baik, tapi suka bikin bingung dan salah jurusan juga. Jadi aku jalan sendiri saja selama itu apa mauku, malah lebih tenang, dan selama aku berada dijalanNya aku ga pernah takut juga kemanapun, ga maulah lagi aku tanya2 kanan kiri (teman/ siapapun) yang justru bikin bodoh dan ragu2 ku dll tiap aku mau ambil jarak. Akhirnya Alloh mengabulkan juga dan bisa sampai juga deh ketujuanku, karena aku bisa membeayai sekolah 5adik2ku, walau bagaimanapun juga. Yang penting bagiku waktu itu, segala yang aku lalui itu HALAL, dan aku ga pernah berhenti berterimakasih padaNya, untuk selalu bisa kuat, berani, tabah dan tegar dan berhasil segala cita2. Kalau soal keadilan sosial dll dinegara kita itu lain lagi, karena Indonesia salah bikin program tentunya, senjak dulu jaman Suharto maka sana sini malah jadi salah kaprah, utang negarapun menanjak jadi milyardan dollar untuk tiap pembangunan2, dan untuk memperbaikinyapun perlu ber tahun2, karena utang negara yang ga akan pernah selesai pula mbayarnya untuk selama ber-tahun2. Jadi ga usahlah mikir hal2 itu karena ga akan pernah selesai, walau kita punya pemimpin2 yang lain akan tetap sama ga bakalan berubah, juga tentang korupsinya. Yang penting sekarang ini diri sendiri dulu, sebelum bisa menolong dll kesiapapun/ orang2 yang lain. Amin amin amin.

    Like

  11. ohtrie said: Wah malyu-mlayu juga to Mbak…Btw, “How may I assist You..?”Tenan iqi mbak… Masalahe sengaja jatah nang sawah njaluk mbengi terus due to aq lagi butuh part time-an je,

    aku ra kuat mbayare… wis urus kebo wae tips-nya gede dollar, euro, yen, RMB, rupee, dinar he he…

    Like

  12. aigle07 said: Memang hidup ini ga gampang, bagi yang sudah cukup hidupnya pengin jadi kaya, yang tinggi pangkat nya pengin menjadi lebih tinggi, dan yang sekolah nya sudah S1 pengin jadi lebih lagi, mencapai puncak kehidupan yang se tinggi2 nya dalam segala bidang, bentuk dan cara, karena jarang orang yang pusa didalam dunia ini. Itu juga sudah menjadi kodrat, impian dari tiap2 manusia yang tak kunjung padam. Tapi bagi yang bisa/mau merasa sudah beruntung dan bisa terimakasih padaNya untuk apapun yang telah bisa diraihnya itu bisa bikin juga rasa adem ayem pada dirinyaa, lebih2 bila mau/bisa melihat kebawah (melihat teman2 lain yang jauh lebih susah dan sengsara dari dirinya), ga akanlah ngoyo2 juga kok dan bisa santai2 saja sambil berdoa, walau mempunyai segala cita2 yang masih belum terlaksana. Memang kita tetap hasur selalu berdoa agar Alloh swat bisa selalu melindungi dan mengabulkan cita2 kita. Hanya jangan lupa kalau Alloh itu kasih 5 panca indera kepada kita untuk digunakan berusaha se maximum mungkin, untuk segala yang yang paling baik bagi diri kita. Karena, ga mungkin hanya dengan berdoa padaNya tanpa Usaha segala nya datang begitu saja dengan tiba2, seperti magic saja atau mirakel yang tanpa kita nyana. Jadi hanya dengan berdoa sambil berusahalah jalan yang tepat untuk mencapai cita2 kita apapun. Yang lebih penting lagi kita harus bisa sesuaikan juga diri kita terhadap situasi dan kondisi lingkungan kita, karena setiap lingkungan itu lain2, lebih2 sekitar lingkungan kerja dalam hal segalanya. Jadi harus sesuaikan diri dulu terhadap tiap lingkungan agar bisa membawa hasil yang paling baik dan yang menguntungan bagi diri sendiri dulu. Kalau sudah bisa menyesuaikan diri ternyata hasilnya NOL alias ga ada hasil nya juga, dan gagal, perlulah merubah diri lagi ikuti lingkungan lagi sampai berhasil, terutama didalam lingkungan kerja, yang prioritasnya membawa gajih untuk membawa hasil yang serba positif disitu, kemasa depan, agar semua cita2 yang belum terlaksana bisa terkabul. Cobalah cara2ku itu, karena dulu aku selalu dengan cara itu bila selagi dapat kegagalan, dan diem2 tapi ga perlu tanya/ kasih tahu teman2 merubahnya, karena nasehat teman2 itu baik, tapi suka bikin bingung dan salah jurusan juga. Jadi aku jalan sendiri saja selama itu apa mauku, malah lebih tenang, dan selama aku berada dijalanNya aku ga pernah takut juga kemanapun, ga maulah lagi aku tanya2 kanan kiri (teman/ siapapun) yang justru bikin bodoh dan ragu2 ku dll tiap aku mau ambil jarak. Akhirnya Alloh mengabulkan juga dan bisa sampai juga deh ketujuanku, karena aku bisa membeayai sekolah 5adik2ku, walau bagaimanapun juga. Yang penting bagiku waktu itu, segala yang aku lalui itu HALAL, dan aku ga pernah berhenti berterimakasih padaNya, untuk selalu bisa kuat, berani, tabah dan tegar dan berhasilsegala cita2.. Amin amin amin.

    betul banget, Mbak Emmy.kalau ingat besarnya karunia-Nya, rasanya gak mau lagi minta-minta yang macem-macem karena kita ini pada dasarnya diciptakan serba cukup. tapi kalau udah kambuh penyakit alami manusia (lupa), wis deh apa aja pengennya diembat he he he…makasih banget udah dibagi-bagi tips jitu. kebetulan aku juga lagi ngejar deadline dan akhirnya kerjaan agak teledor nih.

    Like

  13. aigle07 said: Memang hidup ini ga gampang, bagi yang sudah cukup hidupnya pengin jadi kaya, yang tinggi pangkat nya pengin menjadi lebih tinggi, dan yang sekolah nya sudah S1 pengin jadi lebih lagi, mencapai puncak kehidupan yang se tinggi2 nya dalam segala bidang, bentuk dan cara, karena jarang orang yang pusa didalam dunia ini. Itu juga sudah menjadi kodrat, impian dari tiap2 manusia yang tak kunjung padam. Tapi bagi yang bisa/mau merasa sudah beruntung dan bisa terimakasih padaNya untuk apapun yang telah bisa diraihnya itu bisa bikin juga rasa adem ayem pada dirinyaa, lebih2 bila mau/bisa melihat kebawah (melihat teman2 lain yang jauh lebih susah dan sengsara dari dirinya), ga akanlah ngoyo2 juga kok dan bisa santai2 saja sambil berdoa, walau mempunyai segala cita2 yang masih belum terlaksana. Memang kita tetap hasur selalu berdoa agar Alloh swat bisa selalu melindungi dan mengabulkan cita2 kita. Hanya jangan lupa kalau Alloh itu kasih 5 panca indera kepada kita untuk digunakan berusaha se maximum mungkin, untuk segala yang yang paling baik bagi diri kita. Karena, ga mungkin hanya dengan berdoa padaNya tanpa Usaha segala nya datang begitu saja dengan tiba2, seperti magic saja atau mirakel yang tanpa kita nyana. Jadi hanya dengan berdoa sambil berusahalah jalan yang tepat untuk mencapai cita2 kita apapun. Yang lebih penting lagi kita harus bisa sesuaikan juga diri kita terhadap situasi dan kondisi lingkungan kita, karena setiap lingkungan itu lain2, lebih2 sekitar lingkungan kerja dalam hal segalanya. Jadi harus sesuaikan diri dulu terhadap tiap lingkungan agar bisa membawa hasil yang paling baik dan yang menguntungan bagi diri sendiri dulu. Kalau sudah bisa menyesuaikan diri ternyata hasilnya NOL alias ga ada hasil nya juga, dan gagal, perlulah merubah diri lagi ikuti lingkungan lagi sampai berhasil, terutama didalam lingkungan kerja, yang prioritasnya membawa gajih untuk membawa hasil yang serba positif disitu, kemasa depan, agar semua cita2 yang belum terlaksana bisa terkabul. Cobalah cara2ku itu, karena dulu aku selalu dengan cara itu bila selagi dapat kegagalan, dan diem2 tapi ga perlu tanya/ kasih tahu teman2 merubahnya, karena nasehat teman2 itu baik, tapi suka bikin bingung dan salah jurusan juga. Jadi aku jalan sendiri saja selama itu apa mauku, malah lebih tenang, dan selama aku berada dijalanNya aku ga pernah takut juga kemanapun, ga maulah lagi aku tanya2 kanan kiri (teman/ siapapun) yang justru bikin bodoh dan ragu2 ku dll tiap aku mau ambil jarak. Akhirnya Alloh mengabulkan juga dan bisa sampai juga deh ketujuanku, karena aku bisa membeayai sekolah 5adik2ku, walau bagaimanapun juga. Yang penting bagiku waktu itu, segala yang aku lalui itu HALAL, dan aku ga pernah berhenti berterimakasih padaNya, untuk selalu bisa kuat, berani, tabah dan tegar dan berhasilsegala cita2.. Amin amin amin.

    Walah….Aqu qi nang back office Mbak dadi yo ora ana tip-tipan wong ora guest contact, isane ya mulkiplian ngene…

    Like

  14. ohtrie said: Aqu qi nang back office Mbak dadi yo ora ana tip-tipan wong ora guest contact, isane ya mulkiplian ngene…

    syukur yo, guest contact ora isa mulkipian to he he he…

    Like

  15. ohtrie said: Renungan Indah….Akan lebih indah apabila saya secara pribadi juga menelaah renungan itu sebagai tindakan nyata, antara rasa “ingin” masih dominan juga dalam diri saya, berbanding 90 persen dari rasa “perlu” yang tentu saja berakhir dengan kata nafsu (memiliki) sebagai penutup.Disisi lain saya sadar sebenarnya Rosul kita telah mengajarkan bahwa perlunya “Hablum minannas” selain “Hablum minallah” ini artinya bahwa tindakan nyata bagi lingkungan sosial sekeliling kita wajib saya jalani selain juga wajibnya saya menyembah padaNya, Masa Allah…SAYA CINTA INDONESIA, tapi JUJUR saya merasa malu menjadi bagian dari Rakyat Indonesia ini apalagi dengan tingkah rakyat (termasuk birokratnya) yang tidak dapat memegang AMANAT para pejuang pendahulunya.Semoga saya akan mampu mengadakan perbaikan diri saya bagi lingkungan ini,Amiin.Thank’s untuk berbagi renunganNya…

    ikut juga ah! merdeka!!!

    Like

  16. anggrilukman said: ikut juga ah! merdeka!!!

    merdeka!!!

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: