September 16, 2008
rike jokanan

16 comments

PAK SENO MUDIK, KAMI PANIK

PAK SENO MUDIK, KAMI PANIK

Siapa yang mudik tahun ini? Semua perantau seakan berlomba mengacungkan jari seraya berterika say, saya, saya layaknya anak-anak kelas satu es de ketika berebut menjawab pertanyaan mencongak di akhir pertemuan sebuah hari.

Kemarin, September 15 2008, kami dikagetkan oleh halaman sekaligus tempat parkir yang dihiasi dengan dedaunan kering dan kertas, plastik berserakan tak berpola. Wah, Pak Seno belum nyapu halaman nih. Usut punya usut rupanya OB kami, Pak Seno sudah mendahului pulang kampung…

Lagi-lagi tadi pagi, September 16, 2008. Tiba di halaman saya langsung disambut oleh pemandangan tak biasa. Nes, scheduler kami, sedang milang-miling (mencari-cari sesuatu, Bahasa Jawa). Usut punya usut ternyata dia sedang mencari sapu lidi guna menyapu halaman yang ternyata jauh lebih penuh sampah daripada kemarin.

“Rike, Pak Seno baru balik habis Lebaran. Kita harus kerja bakti,” sapa Nes dengan gaya khas Kanton-nya.

Di dalam kantor lantai masih belang-belang. Pak Eko juga sedang sibuk mencari pengki. Saya segera menghidupkan komputer, meng-upload sebuah file lalu bergegas menuju pantry. Disana piring kotor, gelas kotor, mangkuk kotor, pirex kotor, sendok garpu kotor, microwave kotor, segala perangkat kotor…

“Ok, Pak Eko. I’ll do the dishes!” seru saya dari pantry.

Langsung saya tangani dengan sigap seember korahan (perkakas dapur yang kotor, Bahasa Jawa) lalu sambil mencucinya saya berpikir.

Alangkah pentingnya peran Pak Seno dalam keseharian kami. Selama ini kami selalu berpikir bahwa kelangsungan perusahaan ini ada di tangan kami-kami saja. Tak sering terbersit di pikiran bahwa tanpa OB sebuah perusahaan akan mengalami percepatan negatif karena karyawan yang langsung berhadapan dengan client dan data harus juga mengurusi pekerjaan rumah tangga yang secara khusus menjadi tanggung jawab OB.

Saya juga jadi teringat Odah dkk (karakter dalam serial TV OB) yang kadang njengkelin “para penyuruh” dan saya secara otomatis bisa memahami kesenewenan “para pesuruh” menghadapi teriakan dan ketidakpuasan “para penyuruh” itu. Ternyata capek mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Belum lagi setelah itu harus mengurusi pekerjaan kantor. Belum lagi ini-itu keperluan kecil yang menurut penyuruh sepele namun sesengguhnya menguras tenaga dan emosi. Walah… Kalau sudah begini rasanya Pak Seno menjadi pegawai paling penting di kantor kami.

Siangnya, tidak ada orang yang ngendon di foyer kantor (ini tempat Pak Seno melamun sekaligus menjaga warni-nya dari kejauhan). Warni (warung mini) Pak Seno laris manis bukan oleh kami tapi oleh para sopir dan karyawan kantor kiri kanan kami. Kami ini kerjaannya cuma bikin Pak Seno capek. Payah!

Karena tak ada penjaga ruang tamu maka para salesperson dan peminta sumbangan keluar masuk tanpa mengetuk pintu, lalu berteriak-teriak uluk salam. Salah seorang dari kami menjadi korban ceramah lantaran tak memberikan sedekah di bulan suci Ramadhan. Akhirnya kami mengunci diri dari dalam karena tak mau lagi meladeni kerusuhan demi kerusuhan yang tak luwes kami tangani. Ini adalah praktik LOCK-IN pertama di kantor kami. Padahal kami inilah yang “menghukum” pabrik yang me-LOCK-IN karyawannya untuk bekerja ha ha ha…

Oalah… hari pertama piket kantor.

Pak Seno, maafin ya kalau selama ini sering bikin capek atau kesel. Kami berbuat it
u karena lupa bahwa pekerjaanmu ini sangat melelahkan. Selamat mudik ya, Pak Seno. Semoga pernikahannya lancar; yang paling penting dapat istri yang jauuuuh lebih setia daripada yang dulu.

Fyi, sorenya tak ada satupun dari kami yang mau memakai piring dan gelas kantor. Takut besok pagi numpuk cucian dan kena hukuman korah-korah (cuci piring gelas, Bahasa Jawa) ha ha ha…

OB… Itulah office boy…

16 thoughts on “PAK SENO MUDIK, KAMI PANIK

  1. iya mbak, bos aq juga pernah bilang, kalo saya yg cuti ato temen2 yg cuti, kantor ga akan kelimpungan..tapi kalo ob yang cuti…orang sekantor repot semua…hehehe..

    Like

  2. dewiekha said: iya mbak, bos aq juga pernah bilang, kalo saya yg cuti ato temen2 yg cuti, kantor ga akan kelimpungan..tapi kalo ob yang cuti…orang sekantor repot semua…hehehe..

    ternyata tiap kantor mati di OB, Mbak Dew. besok pagi kerja bakti lagi nih kami hi hi…

    Like

  3. dewiekha said: iya mbak, bos aq juga pernah bilang, kalo saya yg cuti ato temen2 yg cuti, kantor ga akan kelimpungan..tapi kalo ob yang cuti…orang sekantor repot semua…hehehe..

    hihi..klo ob kantorku kebetulan orang asli sekitar situ..jd ga mudik..

    Like

  4. dewiekha said: hihi..klo ob kantorku kebetulan orang asli sekitar situ..jd ga mudik..

    itu berkah banget… semoga hanya kantor kami yang ditinggalkan OB, biar terlalu banyak orang yang capek erja bakti. btw, jadi ketahuan sih siapa di kantor yang malas ha ha ha

    Like

  5. dewiekha said: hihi..klo ob kantorku kebetulan orang asli sekitar situ..jd ga mudik..

    hehehe..paling ga enak kerja bakti..udah rapih2 dr rumah eh megang ember, megang cucian piring..,duuuh…

    Like

  6. dewiekha said: hehehe..paling ga enak kerja bakti..udah rapih2 dr rumah eh megang ember, megang cucian piring..,duuuh…

    iya. tadi pagi harus akrobat antara nyelametin kerudung, celana panjang, dan nyelametin piring-gelas-sendok he he he

    Like

  7. rikejokanan said: Alangkah pentingnya peran Pak Seno dalam keseharian kami. Selama ini kami selalu berpikir bahwa kelangsungan perusahaan ini ada di tangan kami-kami saja. Tak sering terbersit di pikiran bahwa tanpa OB sebuah perusahaan akan mengalami percepatan negatif karena karyawan yang langsung berhadapan dengan client dan data harus juga mengurusi pekerjaan rumah tangga yang secara khusus menjadi tanggung jawab OB.

    Hu…hu…hu….hu…..! Pak Seno itu memang orang penting mbak! Hayo, tanpa pak seno kewalahan semua ‘kan?!BTW itu ada istilah di tangan kami-kami saja, mbok diganti. Boleh usul? Kami itu sudah jmak, jadi mestinya kami sekali aja jangan didobeli jadi kami-kami…Maaf, nenek-nenek kebablasen!

    Like

  8. jandra22 said: Hu…hu…hu….hu…..! Pak Seno itu memang orang penting mbak! Hayo, tanpa pak seno kewalahan semua ‘kan?!BTW itu ada istilah di tangan kami-kami saja, mbok diganti. Boleh usul? Kami itu sudah jmak, jadi mestinya kami sekali aja jangan didobeli jadi kami-kami…Maaf, nenek-nenek kebablasen!

    iya Tante, memang Pak Seno penting. kami (gak dua kali lagi he he he) ibarat sebuah mesin yang tidak bisa bekerja dengan baik karena kehilangan sebuah komponen kecil yang selama ini terlupakan.wah… saya malah seneng ada koreksi sana-sini. biar tambah semangat belajar makin tinggi karena menyadari ada sahabat yang mengingatkan. matur nuwun Tanteku…*peluk cium Tante Julie*

    Like

  9. jandra22 said: Hu…hu…hu….hu…..! Pak Seno itu memang orang penting mbak! Hayo, tanpa pak seno kewalahan semua ‘kan?!BTW itu ada istilah di tangan kami-kami saja, mbok diganti. Boleh usul? Kami itu sudah jmak, jadi mestinya kami sekali aja jangan didobeli jadi kami-kami…Maaf, nenek-nenek kebablasen!

    hoho.. kalo udah gini, OB lebih “penting” daripada bos …

    Like

  10. rikejokanan said: peluk cium Tante Julie

    Cium kembali.

    Like

  11. rikejokanan said: peluk cium Tante Julie

    Di indo pake ob tapi disaudi ini rata rata pake casual yang rata rata dari bangladesh…waduh mbak kerja yang ama orang kita diindo bisa dilakukan 2 or 3 jam mereka akan menyelesaikan dalam waktu 6 or 7 jam bagaimana tidak jengkel kalau kita awasin aj mereka baru kerja kalau kita pergi sebentar karena urusan yang lain mereka juga akan menghentikan pekerjaan ato malah ngilang…kalau ditanya jawabnya simple…’ ana rooh hammam'(habis dr toilet-saudi) sangat jauh mental kerja mereka dengan bangsa kita…awalnya ana juga jengkel nglihat semua kotor and tidak beres beres…lama lama ngikutin arus aja,yang penting proses produksi lancar…mereka mau jungkir balik mafi muskila(tidak masalah-saudi) yang penting tugas utama mereka beres….habisnya big bos juga kurang take care seh ngapain juga ana yang level supervisor harus capek and pusing sendiri….yang penting para operator and casual mau kerja meskipun house keeping nomer dua puluh…..yang penting gaji lancar oye

    Like

  12. rikejokanan said: peluk cium Tante Julie

    Mandiri dung ah…

    Like

  13. otrad said: Di indo pake ob tapi disaudi ini rata rata pake casual yang rata rata dari bangladesh…waduh mbak kerja yang ama orang kita diindo bisa dilakukan 2 or 3 jam mereka akan menyelesaikan dalam waktu 6 or 7 jam bagaimana tidak jengkel kalau kita awasin aj mereka baru kerja kalau kita pergi sebentar karena urusan yang lain mereka juga akan menghentikan pekerjaan ato malah ngilang…kalau ditanya jawabnya simple…’ ana rooh hammam'(habis dr toilet-saudi) sangat jauh mental kerja mereka dengan bangsa kita…awalnya ana juga jengkel nglihat semua kotor and tidak beres beres…lama lama ngikutin arus aja,yang penting proses produksi lancar…mereka mau jungkir balik mafi muskila(tidak masalah-saudi) yang penting tugas utama mereka beres….habisnya big bos juga kurang take care seh ngapain juga ana yang level supervisor harus capek and pusing sendiri….yang penting para operator and casual mau kerja meskipun house keeping nomer dua puluh…..yang penting gaji lancar oye

    walah… ternyata kinerja kita ada yang nyaingin jeleknya to? he he he…tapi terus terang memang orang kita lebih bagus kemauan belajarnya dibanding Bangladesh, Sri Lanka n India tapi ya itu budayanya belum kuat jadi suka keseret arus he he he…

    Like

  14. agripzzz said: Mandiri dung ah…

    setuju ama Av!

    Like

  15. atiggna said: hoho.. kalo udah gini, OB lebih “penting” daripada bos …

    boss-nya kudu ngepel sendiri…

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: