Beberapa hari ini tulisan saya tergolong confidential sehingga kalaupun selesai dan saya posting, saya hanya men-display untuk beberapa inviduals yang saya rasa perlu membaca ide dan curhatan itu. Kadang hidup ini mesti sangat sempit sehingga hanya beberapa orang saja yang bisa kita percaya untuk mendengarkan dan memahami kita secara benar.

Segelombang ide yang saya telan sendiri pun akhirnya menjadi bahan perenungan saja karena memang ada hal yang tak mungkin saya nikmati kecuali bersama kesunyian yang dikaruniakan kepada saya oleh Kang Murbeng Dumadi.

Terkadang saya merasa bahwa saya adalah orang yang paling berbahagia karena disaat bimbang pun saya masih bisa sanggup menerima orang lain untuk menikmati kebimbangan saya dengan cara berbagi bersama untuk menertawakan kebodohan dan kedangkalan berpikir saya. Namun jujur kadang saya menjadi orang yang sangat pelit dan kemudian merasakan semua sendiri dalam suasana yang tak bisa sedikitpun saya ungkapkan kecuali kepada orang yang sejak awal telah mengetahui siapa saya dalam kondisi tersebut.

Pernah saya curhat tentang sebuah masalah yang menurut saya amat sangat berat karena berhubungan dengan kelangsungan keseimbangan hidup saya; dan yang saya curhati adalah orang yang membuat saya merasa seperti itu. Saya merasa bahwa dialah yang tahu bagaimana saya mendapatkan problem itu dan saya berharap bahwa apa yang saya rasakan dapat dia pahami. Saya tidak tahu apakah itu cara tepat. Yang pasti dengan curhat pada dia, saya bisa lebih mengerti bagaimana dia memahami saya dan dirinya sendiri dan rahasia itu tetap terjaga. Saya tidak memperlakukan dia sebagai musuh sekalipun dia yang telah menghancurkan langkah saya. Saya tidak bermaksud mengganggu dia sekalipun dia yang telah menimbulkan kegoncangan dalam beberapa babak hidup saya dan mungkin akan berlanjut ke babak-babak berikutnya.

Hidup ini memang kadang aneh. Penuh dengan pertimbangan yang tak mudah dipahami. Penuh dengan gelombang yang kadang tak kunjung surut. Penuh dengan emosi yang warna-warni. Penuh dengan letusan pengejut yang membuat kita tak mampu berkata-kata.

Hidup ini indah tapi kadang tak terlukis dengan lukisan dengan media apapun kecuali perasaan hati.

October 18, 2008 – 3:11pm

76 thoughts on “

  1. jandra22 said: Ora bu, ora ngono. Ora lali………Lha jeneh bune njenengi awake shafa2hilman. Kabeh wong bakal ngaranine mbak Shafa. Lha nek tiru aku, jenengku dicekak wae utawa nganggo alias (sing bundel kae) kepeksa kan wong dha ndelok asline jenengku sapa. Terus ra mungkin lali yen wis ngerti jenenge…………Aku dudu mbelani mbak Rike lho bu…..

    betul, Tante memang kula mboten kesupen. malah dari awal kula mboten mangertosi menawi asmanipun punika Mbak Indah he he he… (kok malah nyengenges piye iki)…namung panjenengan leres, dhateng MP mriki asring bingung pundi asma asli pundi asma samaran pundi asma ampilan. namaku asli: Rike.matur nuwun, Tante udah diluruskan info tentang nama.

    Like

  2. rikejokanan said: lho, lho… minta maaf yang sebesar-besarnya ini nggih…jangan khawatir, dikau tetap special friend. lha mana bisa lupa sama orang yang sama-sama nyerocos kerata basa ngene. tapi asli dari awal aku tahunya putrane njenengan asmane Binar dan Hilman sedangkan njenengan sendiri asmane Shafa Zahidah. nah loooo…

    wakakaka..imel ym kui yo jeneng anak..duh…identitas diri tersamar oleh anak ya..ibu2..dasar wesibu2..hihihi

    Like

Leave a comment