RECTO VERSO

RECTO VERSO

Semangat baca yang selalu ada ketika membaca tulisan Dee (Dewi Lestari) memang masih disana ketika aku membaca buku terbarunya yang bertajuk Recto Verso.

Terdapat 11 cerita pendek dirangkum dalam buku itu dan 11 lagu di CD dengan tajuk yang serupa, Recto Verso. Setiap cerita pendek ditemani oleh satu lagu dengan judul sama persis dan didesain dengan kerangka yang sama juga. Perkelindanan antara cerpen dan lagu inilah “senjata” Dee untuk memikat para pembaca. Dia menyebut karya ini sebagai hibrida; dalam hal ini mari kita sebut sebagai produk persilangan dua jenis karya seni yang berbeda bentuk dan sifatnya sehingga menghasilkan sebuah karya seni baru dengan sifat yang baru sebagai kombinasi dari sifat berbeda di awalnya.

Recto Verso sendiri berrati dua halaman yang berhadapan. Verso adalah halaman sebelah kiri, Recto adalah halaman sebelah kanan. Cerpen dan lagu itu dimaksudkan sebagai simbol dua halaman yang berhadapan yang notabene adalah halaman yang menampung topik yang bersambungan; dua hal yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan.

Membaca cerita pendek di buku ini tak membuat saya mengalami kebosanan karena seperti biasa kosakata dan gaya cerita Dee memang sudah khas. Filosofis sekaligus lugas, alur lambat sekaligus dengan kejutan. Lembut sekaligus kuat. Gaya Dee masih seperti dulu.

Tapi… jujur adanya bahwa saya merasakan kekuatan yang menghilang dari tulisan Dee dalam Recto Verso. Di buku-bukunya yang lalu (Supernova dan Filosofi Kopi), saya menemukan Dee yang tak sedikitpun memiliki “kecengengan” sekalipun harus menceritakan kisah patah hati. Dalam Recto Verso ini aroma curhat sangat kuat seperti harumnya asap yang menyeruak dari seduhan kopi luwak.

Beberapa cerita yang mengundang kesan melankolis kental menurut saya adalah Curhat Buat Sahabat, Selamat Ulang Tahun, Hanya Isyarat, Peluk, Grow a Day Older, Firasat dan Back to Heaven’s Light.

Lagu-lagu yang dibawakan oleh Dee dan 2 vokalis lainnya semua beraliran easy listening dan slow. Tak satupun lagu berirama menghentak. Kesan yang saya tangkap adalah kepolosan seperti gaya cerita dalam bukunya. Tak ada hentakan sama sekali. Lagu yang menurut saya memiliki kekuatan lebih adalah Malaikat Juga Tahu, Hanya Isyarat dan Firasat (lagu ini pernah dipopulerkan oleh Marcel, mantan suami Dee).

Entah benar atau tidak, saya menyimpulkan bahwa buku ini lahir dari kejujuran perasaan dan pergulatan batin Dee selama 2 tahun sebelum akhirnya cerai dengan sang suami saat itu. Tak salah jika aliran sungai cerita itu adalah pengikhlasan kepergian orang yang dicinta oleh orang yang mencinta.

Lepas dari kuat atau tidaknya gaya yang pernah Dee tawarkan melalui buku-buku sebelumnya, Dee masih tetap tampil berbeda dari pengusung sastra wangi yang pernah ada. Saya beri bintang 3 dari 5.

Recto verso bisa dibeli sekaligus sebagai paket (buku dan CD) atau satuan (buku saja atau CD saja.

Dengar fiksinya, baca musiknya.

http://www.dee-rectoverso.com/

October 19, 2008 – 4:01am

22 thoughts on “RECTO VERSO

  1. shan9rila said: penuh aroma curhat ya? mungkin juga..tapi dari novel ini saya menangkap satu hal, imho, dee itu lebih cocok memposisikan diri sebagai pencerita laki-laki ketimbang perempuan, karena curhat nya jarang sampai terlalu jatuh sentimentil-melankolis

    hmmm..

    Like

  2. shan9rila said: penuh aroma curhat ya? mungkin juga..tapi dari novel ini saya menangkap satu hal, imho, dee itu lebih cocok memposisikan diri sebagai pencerita laki-laki ketimbang perempuan, karena curhat nya jarang sampai terlalu jatuh sentimentil-melankolis

    menurut saya sih cara curhat yang melankolis atau sentimentil bukan monopili gender tertentu. itu lebih berhubungan dengan bagaimana seseorang menyikapi suatu masalah. lelaki atau perempuan bisa saja sama tegarnya jika memandang masalah sebagai peluang untuk menjadi makin dewasa. itu juga pendapat pribadi, bukan jaminan mutu :-)dan, pada dasarnya semua karya sastra adalah arena curahan hati dan curahan ide para sastrawan yang bentuknya macam-macam dan meninggalkan kesan yang berbeda-beda pada penikmatnya. matur nuwun udah berbagi ya 🙂

    Like

Comments are closed.