MENGINGATKAN PADA AKAR KITA

MENGINGATKAN PADA AKAR KITA

Membaca beberapa baris dari buku Pram (Pramoedya Ananta Toer); saya merasa disentil untuk berpikir ulang sebagai orang Indonesia Jawa, inlander kata Tuan Besar alias Meneer Daendels dkk.

Nggak nyangka ada kajian semacam ini di kalangan wong Walanda (orang Belanda, Bahasa Jawa). Sementara ini saya hanya tahu bahwa Belanda kesini semata karena kebutuhan mereka akan hasil alam dan penyebaran ideologi yang mereka genggam tanpa pengkajian budaya kita sebagai inang dari parasit yang bernama kompeni Belanda itu. Setelah membaca bagian ini yang ada tinggal rasa penasaran untuk mengkaji lebih dalam tentang kejawaan (baca: ke-inlander-an) yang tersisa dalam diri saya.

Mengapa di Jawa dan bukan di Ambon atau di Sulawesi atau di pulau lainnya? Ternyata ada juga sebab lain mengapa Belanda dengan V.O.C.-nya dan para kompeni itu milih di pulau kecil tapi sesak manusia ini.

Maaf jika nantinya primordialisme tertangkap tanpa zoom karena kesannya hanya menyangkut suku bangsa tertentu (Jawa); saya hanya ingin memaparkan bagaimana Belanda kok krasan dan gendut disini.

Kita punya sejarah yang tua dan berkembang, kaya dan terorganisir, namun sekaligus tanpa arah yang konsisten dan solid. Semoga kesan yang Anda tangkap jauh lebih baik. J

Berikut adalah percakapan antara Jacques Pangemanann (tokoh aku, seorang Menado, Komisaris Besar yang ditugasi menangani Minke dan S.D.I.-nya) dengan Tuan L. (Belanda totok, muda, seorang arsivaris).

“Apa sebab Tuan mengambil Jawa sebagai pokok?”

“Ada rahasia yang sampai sekarang belum juga dapat aku pecahkan, Tuan. Membuat hipotesa sederhana pun aku belum mampu. Cobalah temuan jawabannya: Apa sebab dengan kesempatan yang sama, dengan syarat-syarat alam yang sama, jumlah bangsa jawa jauh lebih tinggi daripada latar belakang sejarah lebih panjang dan lebih kaya? Meninggalkan warisan-warisan kebudayaan lebih banyak, pada suatu kurun sejarah tertentu? Malahan dalam suatu jaman yang sama pernah melebihi bangsa-bangsa Eropa tertentu dalam bidang-bidang tertentu? Ha, aku lihat Tuan terheran-heran.”

Aku tidak terheran-heran. Setiap kali seorang pembesar memuji-muji kelebihan bangsa jawa dibandingkan bangsa Hindia yang lain, ada sesuatu yang mengganjal dalam perasaanku. Aku tahu pada suatu kali tentu aku membutuhkan ilmu dan pengetahuan tentang bangsa jawa. Maka sekarang aku harus melayaninya sedang ia naik semangat bicara tentang Jawa.

“Tidakkah itu,” tanyaku.

“Disebabkan karena kekuasaan Belanda di Hindia memusat di jawa sejak semual?”

“Kenyataan justru sebaliknya, tuan Pangemanann. Adminstrasi Hindia Belanda dipusatkan di jawa, justru karena sebab tersebut. Jawa sebelum datang orang Eropa sudah punya organisasi sosial yang menyebabkan mungkinnya kesejahteraan sosial ekonomi dan kebudayaan.”

“Kalau setinggi itu puji-pujian Tuan pada bangsa Jawa, mengapa mereka toh dapat dikalahkan oleh bangsa Eropa?”

“Panjang persoalannya, Tuan,” ia angkat gelas brendinya dan disentuhkan pada gelasku,”Semoga Tuan akan sukses sebagai ahli kolonial!”

“Dan sukses untuk Tuan sebagai ahli Jawa,” jawabku.

“Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak selalu mencari-cari kesamaan, keselarasan, melupakan perbed
aan untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan taat pada ini, sampai kadang tak ada batasnya. Akhirnya dalam perkembangannnya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka penyesuaian daripada cekcok urusan prinsip.”

“Tuan mengada-ada lagi,” kataku memancing lebih lanjut.

“Sebaiknya Tuan belajar tentang Jawa. Setiap ahli kolonial Hindia mempunyai persoalan bangsa yang luar biasa ini. Tentu aku tidak mengada-ada, Tuan. Bangsa ini sendiri yang meninggalkan jejak-jejaknya, bukan sekedar dalam batu dan tembaga atau cerita-cerita omong-kosong. Bagaimana watak seperti itu muncul tentu disebabkan karena perang ke perang tak habis-habisnya. Orang merindukan perdamaian, maka orang pun meninggalkan prinsip. Penyair besar di masa Hayam Wuruk, abad empatbelas, Mpu Tantular, Tuan, telah merumuskan watak penyesuaian ini dalam sebuah bait dari syair-syairnya.”

“Syairs?!” seruku tidak percaya.

“Ya, Tuan, syair tertulis dalam abad ke empatbelas. Begini kira-kira terjemahannya: Buddha yang dimuliakan tiada berbeda dengan Shiva, yang tertinggi di antara dewa-dewa. Buddha yang dimuliakan adalah alam semesta. Bagaimana mungkin menceraikannya? Wujud Jina dan wujud Shiva adalah satu. Mereka berbeda, namun mereka satu, tak ada pertentangan.” … Penyair lain dalam masa yang sama, Prapanca, yang pada waktu itu juga superintendent gereja Buddha Jawa, menulis syair Negarakertagama, menulis dalam kedudukannya yang tinggi itu, kedudukan bertanggung-jawab. Dia juga mempersatukan Shiva dengan Buddha. Itulah arus umum ke arah kompromi, melupakan prinsip-prinsip.”

“Tapi itu persoalan agama, Tuan,: bentakku.

“Pada jamannya, Tuan, agama itu adalah juga politik, soal kekuasaan. Bukankah demikian juga di Eropa dalam jaman yang lebih muda? bukankah 80 tahun di Nederland melawan Spanyol adalah Protestantisme bertahan terhadap Katolisisme, yang melahirkan Nederland menjadi negara merdeka? Juga di Jawa, raja yang satu digulingkan oleh raja yang lain karena kelainan agama, yang satu pengikut Vishnu, yang lain Shiva dan seterusnya.”

Aku dapat mengerti, tetapi bahwa orang Jawa sudah menuliskan syair dalam abad ke empatbelas …

“Mereka sudah menulis waktu sebagian terbesar bangsa-bangsa Eropa sekarang masih buta huruf, Tuan. Bukti menunjukkan peninggalan-peninggalan tulisan mereka dari abad ke delapan. Dalam abad itu bangsa Belanda baru berkenalan dengan agama Nasrani, baru mengenal tulisan dari kejauhan, belum lagi dapat membaca, malahan mereka membunuh penyebar injil golongan termula, Bonifacius. Bukankah begitu?”

Dengan sejujur hatiku aku akui orang ini tahu mendalam tentang Jawa di masalewat dan Jawa di masasekarang.

“Pemikiran resmi pada waktu Majapahit justru sampai pada puncak perkembangannya, adalah salah satu unsur kematian bangsa itu sendiri, bersumber pada Prapanca dan Tantular. Orang semakin tidak mengindahkan prinsip. Begitu juga waktu Islam masuk ke Jawa nyaris seratus tahun kemudian. Orang mencari kesamaan antara Shiva-Buddhisme dengan Islam. Juga Islam diterima tanpa prinsip, diambil syariatnya. Dalam puluhan tahun terbiasa meninggalkan prinsip ini Eropa datang, Eropa yang justru berkukuhan pada prinsip. Orang Eropa lebih kecil jumlahnya, tapi menang prinsip.”

(dikutip dari novel RUMAH KACA, Pramoedya Ananta Toer)

Semoga bermanfaat.

November 12, 2008 – 11:44pm

21 responses

  1. dan dalam kancah suksesi rebutan tahta semenjak amangkurat 1 sampai hamengkubuwono 4, para kandidat berlomba mendapat dukungan belanda dengan menawarkan kontrak politik yang jelas2 merugikan tuan rumah. cara macam itu masih berlaku sampai sekarang.

    Like

  2. sepertinya mesti berani menata ulang cara orang Jawa khususnya Indonesia umumnya dalam menyikapi perbedaan. dalam hal apa kompromi bisa dilakukan? jika sedikit, seberapa dikit. jika banyak, seberapa banyak. segala sesuatunya harus sesuai takaran. kalau tak sesuai takaran, wakul ngglempang segane dadi sak latar!!!

    Like

  3. klewang said: dan dalam kancah suksesi rebutan tahta semenjak amangkurat 1 sampai hamengkubuwono 4, para kandidat berlomba mendapat dukungan belanda dengan menawarkan kontrak politik yang jelas2 merugikan tuan rumah. cara macam itu masih berlaku sampai sekarang.

    kalau sekarang juga banyak sekali kompromi yang kadang menggelikan karena “idealnya” pihak yang berkompromi itu tidak ketemu di satu titik. misalnya sebuah ormas agama yang getol menyikat yang diluar mereka berkompromi dengan ormas yang nyata-nyata diluar mereka. ya pokoknya asal berkuasa aja apapun dilakukan.rakyat tetep aja statusnya “pemilik negeri” berposisi jongos.

    Like

  4. cobadua said: sepertinya mesti berani menata ulang cara orang Jawa khususnya Indonesia umumnya dalam menyikapi perbedaan. dalam hal apa kompromi bisa dilakukan? jika sedikit, seberapa dikit. jika banyak, seberapa banyak. segala sesuatunya harus sesuai takaran. kalau tak sesuai takaran, wakul ngglempang segane dadi sak latar!!!

    menata diri demi kebaikan adalah proses yang mau tidak mau akan berlangsung. hanya saja ada pilihan apakah kita mau segera berubah atau mau ndhothor (diam bermalasan) dulu seperti kebiasaan bangun tidur bukannya mak-jranthal nyandhak alu (bersegera berkarya) malah mancal kemul (tidur lagi) he he…

    Like

  5. rikejokanan said: Orang Eropa lebih kecil jumlahnya, tapi menang prinsip

    orang eropa rata2 mempunyai prinsip kuat dan ego nomer wahid soal postur tubuh memang sedikit berpengaruh pada kewibawaan untuk kekuasaan……..sebenarnya kita orang jawa juga banyak prinsip dalam hidup, tapi prinsip itu lebih banyak mengacu ke arah perdamaian bukan penguasaan atas suatu kaum, sebuah kalimat dan sekaligus prinsip yang masih kita ikuti adalah “memayu hayuning bawono” dan “nerimo ing pandum”

    Like

  6. rikejokanan said: Orang Eropa lebih kecil jumlahnya, tapi menang prinsip

    wong jowo iku duwe prinsip mung sasdermo nglakoni, dadi gak macem macemuripe yo wis ngono ngono thok, gak pengen ono perubahan sing significant dadi gak maju maju

    Like

  7. otrad said: orang eropa rata2 mempunyai prinsip kuat dan ego nomer wahid soal postur tubuh memang sedikit berpengaruh pada kewibawaan untuk kekuasaan……..sebenarnya kita orang jawa juga banyak prinsip dalam hidup, tapi prinsip itu lebih banyak mengacu ke arah perdamaian bukan penguasaan atas suatu kaum, sebuah kalimat dan sekaligus prinsip yang masih kita ikuti adalah “memayu hayuning bawono” dan “nerimo ing pandum”

    memang penguasaan suatu kaum itu bedanya dikit sama mengayomi kalau dalam bahasa politik, Mas ha ha ha…tapi bisa juga dibilang begitu. kita ambil contoh di budaya Jawa jarang sekali para raja memakai gelar RAJA. mereka lebih suka memakai istilah RATU yang lebih mengacu ke peran feminis yaitu memangku rakya, mengayomi, dll… lha padahal dalam budaya NULIS JAWA, kalau huruf Jawa itu di-PANGKU malahan jadi MATI. makanya kalau mau maku alias mematikan potensi orang Jawa KATANYA di-PANGKU saja alias dikasih jabatan.Allaahu a’laam…

    Like

  8. dewiekha said: wong jowo iku duwe prinsip mung sasdermo nglakoni, dadi gak macem macemuripe yo wis ngono ngono thok, gak pengen ono perubahan sing significant dadi gak maju maju

    memang Mbak Dewi, dan itu ada kekurangan dan kelebihan. sebisa mungkin kita optimaslkan kekuatan kita dan minimalkan kekurangannya.tapi kalau njenengan bisa jadi Auditor Jawa yang optimal, pasti dunia auditting jadi semarak karena dengan semangat mengabdi orang Jawa seperti njenengan ini punya sumbangan buanyak.amin.

    Like

  9. rikejokanan said: makanya kalau mau maku alias mematikan potensi orang Jawa KATANYA di-PANGKU saja alias dikasih jabatan

    mangkubghumi bukan berarti membunuh bumi kan, mangku rondho tanpo busono bukan berarti membunuh janda ketika mandi kan? hahaha…….. memangku itu lebih pas kalau kita artikan dengan memegang kendali, kalau saat memangku jabatan kemudian dia “mati rasa” or ra ngrumangsani berarti wis sulap bondo dunyo and wanito….

    Like

  10. rikejokanan said: makanya kalau mau maku alias mematikan potensi orang Jawa KATANYA di-PANGKU saja alias dikasih jabatan

    euleuh, sim kuring teu ngartos yeuh, da abdi mah ti pasundan.. hehhe..can’t wait to read another books of Pram..

    Like

  11. rikejokanan said: makanya kalau mau maku alias mematikan potensi orang Jawa KATANYA di-PANGKU saja alias dikasih jabatan

    i wish i can understand the language so i can give a response …thankyou for sharing the bookof Pram…i guess.

    Like

  12. otrad said: mangkubghumi bukan berarti membunuh bumi kan, mangku rondho tanpo busono bukan berarti membunuh janda ketika mandi kan? hahaha…….. memangku itu lebih pas kalau kita artikan dengan memegang kendali, kalau saat memangku jabatan kemudian dia “mati rasa” or ra ngrumangsani berarti wis sulap bondo dunyo and wanito….

    memegang kendali itu juga nggak beda jauh dengan berkuasa, Pak.saya lebih suka memakai istilah “memberdayakan potensi pribadi untuk kepentingan masyarakat banyak dan menjadi pelopor” he he he…sulap pakai kocomoto riben, ok!!!

    Like

  13. atiggna said: euleuh, sim kuring teu ngartos yeuh, da abdi mah ti pasundan.. hehhe..can’t wait to read another books of Pram..

    abdi teu ngartos basa Sunda… happy reading, Mbak Anggita. can’t wait to read your next book review 🙂

    Like

  14. 2m79 said: i wish i can understand the language so i can give a response …thankyou for sharing the bookof Pram…i guess.

    yes, Miriam. i am sharing a conversation between Pangemanann and a Netherland officer about why Dutch with the VOC “had enjoyed” occupying Indonesia and why they chose Java island for their headquarters.i believe you read Pram’s books 🙂

    Like

  15. smallnote said: PINJAM BUKUNYAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!+) Semangat 45

    wong jowo sing dadi latar critane pram kuwi wong jowo sing wis ra iso perang. maklum bangsa sing ra iso perang ya dadine bangsa sing pengecut. mesti wae jireh, trus gampang diapusi. makane londo milih P. Jawa sebagai kantor pusat

    Like

  16. ujiarso said: wong jowo sing dadi latar critane pram kuwi wong jowo sing wis ra iso perang. maklum bangsa sing ra iso perang ya dadine bangsa sing pengecut. mesti wae jireh, trus gampang diapusi. makane londo milih P. Jawa sebagai kantor pusat

    bocah iki (Minke) wonge cerdas ananging ora nduweni kekuatan. karepe Minke wong Jowo ki kudu wani maju cara berpikire; nek ora iso perang lawan senjata yo mesthine perang lawan pemikiran. siji meneh Mas, akeh wong prinsipe mlayu nang weteng. mergo dadi dul buthun (abdine weteng) malih jireh wedi keluwen. rumangsane nek ora mangan enak kuwi kalah; nyatane luwe kuwi iso ae ditahan sing penting ajining diri kejogo.Allaahu a’lam. cuma pendapat sementara.

    Like

  17. rikejokanan said: bocah iki (Minke) wonge cerdas ananging ora nduweni kekuatan. karepe Minke wong Jowo ki kudu wani maju cara berpikire; nek ora iso perang lawan senjata yo mesthine perang lawan pemikiran.

    Minke oleh Pram, kayaknya digambarkan sebagai profil kelas menengah yang pengecut, selalu ragu – ragu membuat keputusan ….perang pemikiran masih jauh dari menang, begitu juga perang fisik, gampang dilindas …

    Like

  18. ujiarso said: Minke oleh Pram, kayaknya digambarkan sebagai profil kelas menengah yang pengecut, selalu ragu – ragu membuat keputusan ….perang pemikiran masih jauh dari menang, begitu juga perang fisik, gampang dilindas …

    ya memang demikian Mas Uji. Raden Mas minke ini masih gojag-gajeg. maju ra wani, mundur ra sudi. menurut saya, Pram sukses menggambarkan kondisi pemuda pemikir pada masa itu. kalau pada kenyataannya sekarang pemuda masih seperti itu, saya kok takut jangan-jangan ini kepribadian yang tak bisa dirombak.

    Like

  19. rikejokanan said: saya kok takut jangan-jangan ini kepribadian yang tak bisa dirombak.

    moga – moga tidak, lebih – lebih kalau kelas menengah kita berkaca kepada dr. Wahidin, RMP Sosrokartono, Ki Ageng Suryomentaram, dan masih banyak lagi eee juga Mas Marco ,,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Shawn L. Bird

Original poetry, commentary, and fiction. All copyrights reserved.

Made of sticks and stones

Frank Regan in words

Penumbra Haiku

..... Just ....... Haiku .....

ram H singhal

Journey of Creative Enlightenment

Flora Fiction

A Creative Space

tinytotspoetry

Aspiring to be the best at writing. Poetry lover, haiku and free verse to be precise, I hope to one day master

myScribbles

Absent-minded musings

Melody Chen

Word-Experimentalist

Den of Dreams

Creativity Is a Wild Thing

Daydreaming as a profession

Just writing some poems. No pics, no GIFs, no vids. Keeping it simple.

Pee Kay

voice_of_the_pen

The Broken Specs

Here's To Express.. :)

Indonesia Labour Database

Knowledge is Power

Light Play ~ Revitalize

we are fish that play in a sea of light

Cooking

recipes, tips & ideas

Simplify Tasks

Want to learn the simple way?

myvvoice

Escaping reality or facing reality.

The BELOVED

Our hearts are home, secured in God's Love. Find Hope and Encouragement in The LORD, The HOLY BELOVED.

thoughts and entanglements

A collective of poems and photos. All photos taken by me unless stated otherwise.

Rusted Honey

Poetry, haiku, tanka, and micropoetry

OwnShadow

Looking for people to share the written word

Madamsabi's Blog

Coffee For The Mind, inspiration for the soul!

unbolt me

the literary asylum

THE RIVER WALK

Daily Thoughts and Meditations as we journey together with our Lord.

Inner Peace

True wealth is the wealth of the soul

Luna

Pen to paper.

(Metanoia)

Fan of GOD

The Art of Blogging

For bloggers who aspire to inspire

Verona

- Renee verona -

Bombay Ficus

Running, Writing, Real Life Experiences & Relatable Content.

Learning to write

Just your average PhD student using the internet to enhance their CV

a.mermaid'spen_

I rant and write ;)

New Lune

A blog full of tips, inspiration and freebies!

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Apa adanya, selaraskan akal dan hati

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

%d bloggers like this: