Hari Kartini

Siang tadi seorang teman mengirimkan pesan whatsapp, bunyinya: “Bagaimana kamu memaknai Hari Kartini?” Pertanyaan kok berat-berat gitu to ya? Akhirnya kujawab “Bentar, asah batu akik dulu baru bisa jawab.”

Beberapa tahun lalu mudah rasanya memaknai sesuatu, gampang sekali mengucapkan kata-kata baik lisan maupun tulisan. Ada di tulisan saya ini: .

Nah, tahun ini pertanyaan tentang makna Hari Kartini justru merangsang rangkaian pertanyaan di benak: sudah benarkah pengetahuan sejarah tentang Kartini? Sejauh mana surat-surat yang dikompilasi itu menceritakan kisah yang sesungguhnya? Apakah memang emansipasi wanita itu yang seperti dikonsepkan berbagai corong toa bernama media?

Nggak bisa dibahas di sini — sebab nggak semangat nulisnya. Tapi masih ada jalan untuk memaknai Hari Kartini demi mencari jawaban yang lebih jujur: dengan mencari tahu kehidupan Eyang Kartini secara proporsional (bukan lagi menurut Pram atau Imron atau penulis lainnya), memahami arti emansipasi.

Ok, mari kita mulai….

Emansipasi berasal dari kata emancipate yang artinya “memerdekakan, membebaskan”. Sebebas apa yang kita bisa? Sebebas apa yang kita mau? Sebebas apa yang kita perlu?

Eyang Kartini bebas naik dokar pergi ke luar pagar walau harus didampingi. Dia masih surat-menyurat dengan sahabat penanya – jaman itu belum ada email, jadi dia suruh-suruh orang juga buat kirim surat ke kantor pos kali ya. Dia juga memodali pengusaha perabot jati berukir walau tak mencapai kesuksesan layaknya konglomerat – kalau nggak dari suami atau orangtuanya kayaknya Kartini nggak ada duit (nggak kerja boooow…). Tapi ingat, dia masih mau menjadi priyayi, mengikut tradisi Jawa dipersunting lelaki priyayi dan rela dimadu. Di sisi lain (mungkin) dibanding Eyang Sartika yang dari Jawa Barat Eyang Kartini kalah egaliternya. Eyang Kartini masih kurang terbebaskan, kalah termerdekakan daripada Eyang Sartika. So, sebebas apa yang Kartini bisa atau mau atau perlu? Itu tergantung bagaimana kita ingin menakarnya, berdasarkan pengetahuan yang kita gali dan nilai yang kita anut.

Sampai sekarang aku masih percaya ada kisah kecil tentang Eyang Kartini yang tak tersampaikan bahwa dia tetap bahagia jadi orang Jawa, tidak menyesal menjadi orang yang terpenjara di balik tembok kadipaten…. Walau di beberapa suratnya pada mevrow Belanda dia mengeluhkan tentang betapa sedihnya melihat nasib kaumnya (baca: perempuan Jawa). Dan lalu, berdasarkan sejarah yang dipaparkan oleh media itu sebagian wanita Indonesia getol memperjuangkan kemerdekaannya sampai ada juga yang kebablasan. Kebablasan? Oops!

Maafkan aku, mungkin tak ada juga kata atau esensi kebablasan karena kebablasan itu tentang takaran dan takaran itu bisa berbeda atas matra waktu, ruang dan lain-lain.

Ngelantur…. Jadi maknanya apa dong?

Baiklah. Lebih baik aku mencari batas kemerdekaan karena sesungguhnya sebaik-baik pemahaman tentang kemerdekaan adalah ketika kita telah melengkapinya dengan pemahaman tentang batas-batas.

Repot ngurus kemerdekaan Eyang Kartini sebagai wanita Jawa kuno….
…. Karena sejatinya jiwanya telah merdeka.

Singapura – 21 April 2015 – 9:10pm

MENGINGATKAN PADA AKAR KITA

MENGINGATKAN PADA AKAR KITA

Membaca beberapa baris dari buku Pram (Pramoedya Ananta Toer); saya merasa disentil untuk berpikir ulang sebagai orang Indonesia Jawa, inlander kata Tuan Besar alias Meneer Daendels dkk.

Nggak nyangka ada kajian semacam ini di kalangan wong Walanda (orang Belanda, Bahasa Jawa). Sementara ini saya hanya tahu bahwa Belanda kesini semata karena kebutuhan mereka akan hasil alam dan penyebaran ideologi yang mereka genggam tanpa pengkajian budaya kita sebagai inang dari parasit yang bernama kompeni Belanda itu. Setelah membaca bagian ini yang ada tinggal rasa penasaran untuk mengkaji lebih dalam tentang kejawaan (baca: ke-inlander-an) yang tersisa dalam diri saya.

Mengapa di Jawa dan bukan di Ambon atau di Sulawesi atau di pulau lainnya? Ternyata ada juga sebab lain mengapa Belanda dengan V.O.C.-nya dan para kompeni itu milih di pulau kecil tapi sesak manusia ini.

Maaf jika nantinya primordialisme tertangkap tanpa zoom karena kesannya hanya menyangkut suku bangsa tertentu (Jawa); saya hanya ingin memaparkan bagaimana Belanda kok krasan dan gendut disini.

Kita punya sejarah yang tua dan berkembang, kaya dan terorganisir, namun sekaligus tanpa arah yang konsisten dan solid. Semoga kesan yang Anda tangkap jauh lebih baik. J

Berikut adalah percakapan antara Jacques Pangemanann (tokoh aku, seorang Menado, Komisaris Besar yang ditugasi menangani Minke dan S.D.I.-nya) dengan Tuan L. (Belanda totok, muda, seorang arsivaris).

“Apa sebab Tuan mengambil Jawa sebagai pokok?”

“Ada rahasia yang sampai sekarang belum juga dapat aku pecahkan, Tuan. Membuat hipotesa sederhana pun aku belum mampu. Cobalah temuan jawabannya: Apa sebab dengan kesempatan yang sama, dengan syarat-syarat alam yang sama, jumlah bangsa jawa jauh lebih tinggi daripada latar belakang sejarah lebih panjang dan lebih kaya? Meninggalkan warisan-warisan kebudayaan lebih banyak, pada suatu kurun sejarah tertentu? Malahan dalam suatu jaman yang sama pernah melebihi bangsa-bangsa Eropa tertentu dalam bidang-bidang tertentu? Ha, aku lihat Tuan terheran-heran.”

Aku tidak terheran-heran. Setiap kali seorang pembesar memuji-muji kelebihan bangsa jawa dibandingkan bangsa Hindia yang lain, ada sesuatu yang mengganjal dalam perasaanku. Aku tahu pada suatu kali tentu aku membutuhkan ilmu dan pengetahuan tentang bangsa jawa. Maka sekarang aku harus melayaninya sedang ia naik semangat bicara tentang Jawa.

“Tidakkah itu,” tanyaku.

“Disebabkan karena kekuasaan Belanda di Hindia memusat di jawa sejak semual?”

“Kenyataan justru sebaliknya, tuan Pangemanann. Adminstrasi Hindia Belanda dipusatkan di jawa, justru karena sebab tersebut. Jawa sebelum datang orang Eropa sudah punya organisasi sosial yang menyebabkan mungkinnya kesejahteraan sosial ekonomi dan kebudayaan.”

“Kalau setinggi itu puji-pujian Tuan pada bangsa Jawa, mengapa mereka toh dapat dikalahkan oleh bangsa Eropa?”

“Panjang persoalannya, Tuan,” ia angkat gelas brendinya dan disentuhkan pada gelasku,”Semoga Tuan akan sukses sebagai ahli kolonial!”

“Dan sukses untuk Tuan sebagai ahli Jawa,” jawabku.

“Pertama-tama karena bangsa ini mempunyai watak selalu mencari-cari kesamaan, keselarasan, melupakan perbed
aan untuk menghindari bentrokan sosial. Dia tunduk dan taat pada ini, sampai kadang tak ada batasnya. Akhirnya dalam perkembangannnya yang sering, ia terjatuh pada satu kompromi ke kompromi lain dan kehilangan prinsip-prinsip. Ia lebih suka penyesuaian daripada cekcok urusan prinsip.”

“Tuan mengada-ada lagi,” kataku memancing lebih lanjut.

“Sebaiknya Tuan belajar tentang Jawa. Setiap ahli kolonial Hindia mempunyai persoalan bangsa yang luar biasa ini. Tentu aku tidak mengada-ada, Tuan. Bangsa ini sendiri yang meninggalkan jejak-jejaknya, bukan sekedar dalam batu dan tembaga atau cerita-cerita omong-kosong. Bagaimana watak seperti itu muncul tentu disebabkan karena perang ke perang tak habis-habisnya. Orang merindukan perdamaian, maka orang pun meninggalkan prinsip. Penyair besar di masa Hayam Wuruk, abad empatbelas, Mpu Tantular, Tuan, telah merumuskan watak penyesuaian ini dalam sebuah bait dari syair-syairnya.”

“Syairs?!” seruku tidak percaya.

“Ya, Tuan, syair tertulis dalam abad ke empatbelas. Begini kira-kira terjemahannya: Buddha yang dimuliakan tiada berbeda dengan Shiva, yang tertinggi di antara dewa-dewa. Buddha yang dimuliakan adalah alam semesta. Bagaimana mungkin menceraikannya? Wujud Jina dan wujud Shiva adalah satu. Mereka berbeda, namun mereka satu, tak ada pertentangan.” … Penyair lain dalam masa yang sama, Prapanca, yang pada waktu itu juga superintendent gereja Buddha Jawa, menulis syair Negarakertagama, menulis dalam kedudukannya yang tinggi itu, kedudukan bertanggung-jawab. Dia juga mempersatukan Shiva dengan Buddha. Itulah arus umum ke arah kompromi, melupakan prinsip-prinsip.”

“Tapi itu persoalan agama, Tuan,: bentakku.

“Pada jamannya, Tuan, agama itu adalah juga politik, soal kekuasaan. Bukankah demikian juga di Eropa dalam jaman yang lebih muda? bukankah 80 tahun di Nederland melawan Spanyol adalah Protestantisme bertahan terhadap Katolisisme, yang melahirkan Nederland menjadi negara merdeka? Juga di Jawa, raja yang satu digulingkan oleh raja yang lain karena kelainan agama, yang satu pengikut Vishnu, yang lain Shiva dan seterusnya.”

Aku dapat mengerti, tetapi bahwa orang Jawa sudah menuliskan syair dalam abad ke empatbelas …

“Mereka sudah menulis waktu sebagian terbesar bangsa-bangsa Eropa sekarang masih buta huruf, Tuan. Bukti menunjukkan peninggalan-peninggalan tulisan mereka dari abad ke delapan. Dalam abad itu bangsa Belanda baru berkenalan dengan agama Nasrani, baru mengenal tulisan dari kejauhan, belum lagi dapat membaca, malahan mereka membunuh penyebar injil golongan termula, Bonifacius. Bukankah begitu?”

Dengan sejujur hatiku aku akui orang ini tahu mendalam tentang Jawa di masalewat dan Jawa di masasekarang.

“Pemikiran resmi pada waktu Majapahit justru sampai pada puncak perkembangannya, adalah salah satu unsur kematian bangsa itu sendiri, bersumber pada Prapanca dan Tantular. Orang semakin tidak mengindahkan prinsip. Begitu juga waktu Islam masuk ke Jawa nyaris seratus tahun kemudian. Orang mencari kesamaan antara Shiva-Buddhisme dengan Islam. Juga Islam diterima tanpa prinsip, diambil syariatnya. Dalam puluhan tahun terbiasa meninggalkan prinsip ini Eropa datang, Eropa yang justru berkukuhan pada prinsip. Orang Eropa lebih kecil jumlahnya, tapi menang prinsip.”

(dikutip dari novel RUMAH KACA, Pramoedya Ananta Toer)

Semoga bermanfaat.

November 12, 2008 – 11:44pm

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi Islami (AMPLI)

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Dinamisasi Otak dan Hati dengan berbagi informasi, ilmu dan pengetahuan

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

My First Orchid

LEARNING TO CARE FOR YOUR FIRST ORCHID

DBR Foundation Blog

Coming together to solve global problems

Lukecats

About cats and man.

A Charmed Yogi

Inspiration to live your yoga from a passionate yogi & yoga teacher

Tatikprice's Blog

Life's experiences of a thirtysomething girl living in the far east of London

My Rainbow Village

It's about I, You, and We!

Be Inspired..!!

Listen to your inner self..it has all the answers..

me and my story

A melancholic thinker who thinks too much

%d bloggers like this: