Casting Bintang Sinetron

CASTING BINTANG SINETRON

Akhir pekan lalu saya (secara nggak sengaja) nonton casting bintang sinetron di sebuah mall.

Seperti kata sang pembawa acara minat masyarakat Tangerang jauh lebih rendah dibanding masyarakat Bekasi dan Jakarta dalam keikutsertaan mereka dalam casting bintang sinetron. Dengan mantap Mas MC mengatakan,”Mungkin karena orang Tangerang belum terlalu sadar pentingnya entertainment kali ya… Jadi hari ini hanya ada 3 peserta casting bintang sinetron! Tepuk tangan!!!”

Pertama seperti biasa pembawa acara memanggil sang castee lalu sang castee memperkenalkan dirinya dengan pede setengah malu-malu. Dan kemudian ada sebuah tugas acting yang didaulatkan kepada sang castee.

Mereka hanya diberi sebuah situasi, mereka harus mengembangkan situasi tersebut dan berlagak lagu di hadapan para pemandu bakat dan para penonton yang tak segan menertawakan dan mencela dengan sadis.

Peserta pertama: seorang ABG lelaki yang ditugasi berakting MARAH. Begini kira-kira yang saya rekam.

“Hey, luh yang disana! Ngapain lu liat-liat gueh?” teriaknya marah.

“Iyeee…” teriak penonton sambil ngakak.

“Emangnya gueh lucuh?” teriaknya agak kehilangan marah.

“Iyeee…” teriak penonton lagi sambil ngakak juga.

“Emangnya gueh aneh?” teriaknya sambil menahan tawa.

“Iyeee…” teriak penonton dengan tawa yang makin meledak.

“Emangnya ha gueh ha gueh marah nih!” Kata “ha” melambangkan tawa yang tertahan.

Penonton makin tergelak.

Peserta kedua adalah seorang ABG perempuan, sekitar 15 tahun. Imut. Dia didapuk menjadi anak tiri yang disekap dalam kamar mandi oleh ibu tirinya. Haduhhh, kalau saya jadi ibu tiri mungkin jadinya malah saya yang disekap sama anak tiri ha ha ha…

“Ibuuuuuuuuuuuuuuuu…” teriaknya sambil memaksa diri menangis.

“Apaaaaaaaaaaaaaaaaa…” jawab penonton kencang-kencang.

“Ibuuu…” teriaknya mulai menangis.

“Apaaa…” jawab penonton pura-pura menangis.

“Ibu… Tolong aku… Aku disekap dalam kamar mandi…” teriaknya sudah dengan menangis.

“Apaa… Kuncinya ilang! Kamu lompat dari atap aja!” teriak seorang penonton kencang sekali. Yang lain terbahak-bahak.

“Mengapa aku disekap? Mengapa ibu tiri begitu kejam? Mengapa?”

Mengapa melulu sih? Makanya jangan badung-badung ha ha ha…” Beberapa orang berteriak kencang lagi.

“Ibuuu… Tolong anakmu… Anakmu disekap… Tolong aku ibuuuu…” si ABG ini melolong-lolong, suaranya mengiris hati. Saya sampai merinding.

Sebenarnya merinding bukan karena suara dan rintihannya tetapi lebih ke pencitraan kekejaman ibu tiri. Tak sedikit ibu tiri yang baik dan mungkin bisa saja tak kalah baik daripada ibu kandung. Teman sekantor saya (dulu) diasuh oleh ibu tiri dan bapak tiri sekaligus dan tumbuh menjadi anak yang mandiri, cerdas dan sukses. Fyi, ketika ibu kandungnya meninggal sang ayah menikah lagi. Namun tak lama kemudian sang ayah menninggal dan akhirnya si ibu tiri ini menikah dengan lelaki yang lain. Pasangan orangtua tiri inilah yang mengasuh mereka. Kok jadi ngomongin ibu tiri dan bapak tiri he he he…

Dan, peserta terakhir ternyata tidak datang. Hanya tinggal dua peserta saja yang telah berhasil menghidupkan suasana foodcourt yang biasanya hanya ramai dengan denting gelas, piring dan sendok garpu atau musik mengalun memanjakan telinga pengunjung.

Maka ditentukan oleh pemandu bakat bahwa pemenangnya adalah si gadis yang tersekap dalam kamar mandi yang hilang kuncinya. Dia akan dikirim ke Grand Final di mall lain.

Saya sempat melihat si gadis melompat kegirangan memeluk ibu dan (saya tebak) teman-temannya.

Saya tersenyum. Saya ingat dulu waktu latihan teater, Mbak Ummi (pembimbing teater di es em pe negeri Kalangbret) menasehati kami untuk memerankan lakon sewajarnya.

“Jika harus berakting marah, marahlah karena alasan yang biasanya membuat kamu marah. Ketika kau sedih, sedihlah semata kau tahu kau sedang bersedih. Ketika kau takut, jangan kau buat-buat ketakutanmu. Biarkan peranmu keluar dari jiwamu, jangan dibuat seakan sedang marah, seakan sedih atau seakan takut.”

Sebab akting yang berlebihan hanya akan merusak penjiwaan kami terhadap peran yang dilakonkan.

Semua memang harus sewajarnya. Jangan menahan kebahagiaan, jangan menahan keriangan, jangan menahan kemarahan, jangan menahan kekecewaan. Lakoni dengan wajar sesuai waktu dan porsinya. Niscaya kita berhasil menjiwai peran kita di dunia.

Semoga bermanfaat. J

November 2008

In the middle of the night

25 thoughts on “Casting Bintang Sinetron

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s