January 14, 2010
rike jokanan

9 comments

MUSA MENCARI HARUN

MUSA MENCARI HARUN?

Apakah aku ini seorang yang kesepian?

Aku tak tahu;

Apakah aku ini seorang pencari ilmu?

Aku juga tak tahu;

Apakah aku ini seorang pencinta?

Aku tak tahu;

Apakah aku ini seorang yang gagal?

Aku juga tak tahu;

Apakah aku ini seorang yang marah?

Sepertinya hanya itu yang kutahu.

Aku marah dan marah lagi.

Aku marah berulang kali.

Aku marah berlama-lama.

Tahan sekali kemarahanku?

Api di dadaku ini tak segera padam

Mungkin karena aku tak mau memadamkannya.

Aku bertarung melawan pemadam kemarahanku

Karena kukira api ini sumber segalanya.

Dengan api ini lingkaranku menjadi terang;

Dengan api ini aku merasa aman;

Dengan api ini aku melanjutkan hidupku;

Yang gontai menyeret langkah berat

Satu-satu.

Berpuluh bingkai kaca kudatangi

Kebertanya pada cermin-cermin itu

“Duhai Sang Cermin, apakah aku ini sesungguhnya?

Adakah yang lebih malang daripadaku?

Adakah yang lebih beruntung daripadaku?

Apakah akhir perjalananku?”

Cermin satu,

Cermin dua,

Cermin tiga,

Dan cermin yang lain-lainnya

Mereka menjawabku tanpa ampun;

Memantulkan apa yang mau mereka pantulkan;

Memantulkan apa yang mereka suka.

Kadang sesuatu yang tak sesungguhnya padaku ada

Kebohongan tentang diriku kah?

Bukan.

Itu sesuatu yang terpantul di retakan mereka.

Lalu kudapati kini cermin-cermin mungkin tak rata atau retak atau berdebu.

Ku ber-ja-lan.

Sekubangan air menghadangku

Menggodaku untuk berkaca

Karena segala yang mengkilat kukira memantulkan

Dan yang kutemukan pun hanya bayangan gelap tubuhku.

Kutersungkur.

Menangis.

Meraung.

Mencabiki kesadaranku

Yang belum juga terbit dari malamnya.

Lalu kutertidur lelah.

Mana oh manakah Harunku?

Atau jika beruntung kudapat Shofuraku?

Oh… datanglah Ibu Musa

Biar kumenyusu padanya,

Kemudian dikenalkan pada saudara perempuan dan

Saudara lelakiku yang kelak menjadi juru bicaraku.

Atau antarkanlah aku pada Nabi Syuaib.

Biarpun 10 masa aku mesti bekerja

Kuberharap itu ada.

Angka 10 begitu menggoda

Tetapi manakah dia?

Tertipukah aku?

Atau kesabaranku hanya sebanding Musa muda yang banyak tanya?

Hanya sekedar keluargaku dan keluarga Syuaib kah ujung pencarianku?

Atau aku berjalan lebih jauh lagi?

Aku tak mungkin menjadi Musa Sang Nabi dalam kitab.

Aku hanya ingin mengalami Musa yang bernubuwah.

Biarkan aku sampai di Gunung.

Biarkan aku diguyur Cahaya.

Biarkan aku berlidah kelu.

Biarkan aku pingsan.

Biarkan aku sejenak membuang asma dan sifat —melebur dalam wujudnya.

Jangan halangi.

Sedangkan kini aku baru sekedar Musa mencari Harun

Sehingga jika keberuntungan membawaku pada Nabi Syuaib, kuakan bertemu Shofura.

Keramat – 11 Desember 2009 – 9:00 malam

9 thoughts on “MUSA MENCARI HARUN

  1. ohtrie said: menyimak……

    semakan Ten Commandments he he he

    Like

  2. rikejokanan said: semakan Ten Commandments he he he

    psttttt……pingin konsen dulu bacanyaa…..(hmm nahan tawa..!)

    Like

  3. ohtrie said: psttttt……pingin konsen dulu bacanyaa…..(hmm nahan tawa..!)

    ning nek bali ke masa rasul bakal kena marah njenengan ora entuk belajar kitab taurat he he he…

    Like

  4. rikejokanan said: ning nek bali ke masa rasul bakal kena marah njenengan ora entuk belajar kitab taurat he he he…

    duuhhhh bingung aku nek kudu nanggapi komentarf sampean iki je mBak…sensitip, hihihi…wis achhh……

    Like

  5. ohtrie said: duuhhhh bingung aku nek kudu nanggapi komentarf sampean iki je mBak…sensitip, hihihi…wis achhh……

    wehhh… yo ojo digawe sensitif. ini kan era keterbukaan. masak orang kritis malah disiriki. kalau dianggap salah, sila diberi alternatif pemikiran yang lebih jernah. kalau dirasa benar, sila direnungi. kalau menakutkan, sila ditinggalkan. gampang tooo ha ha ha….digawe nyantai ae, Mas…

    Like

  6. rikejokanan said: wehhh… yo ojo digawe sensitif. ini kan era keterbukaan. masak orang kritis malah disiriki. kalau dianggap salah, sila diberi alternatif pemikiran yang lebih jernah. kalau dirasa benar, sila direnungi. kalau menakutkan, sila ditinggalkan. gampang tooo ha ha ha….digawe nyantai ae, Mas…

    sip gann… setubuhhh…..mung sing bisa ndemokrasi nang ngalam demokrasi iki isih durung akeh je mbak….(nunjuk hidung ndiri aja yaa.. hihi)

    Like

  7. ohtrie said: sip gann… setubuhhh…..mung sing bisa ndemokrasi nang ngalam demokrasi iki isih durung akeh je mbak….(nunjuk hidung ndiri aja yaa.. hihi)

    awas irunge ono upile ora ha ha ha

    Like

  8. rikejokanan said: awas irunge ono upile ora ha ha ha

    wis ilang, ntas ngupil sedari pagi kokkk….:))

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: