January 15, 2010
rike jokanan

23 comments

SIAPA YANG KAFIR, SIAPA YANG TIDAK

SIAPA YANG KAFIR, SIAPA YANG TIDAK

Ini tulisan yang sudah tersimpan dan tak jadi-jadi karena menunggu “thread” situasi. Dan inilah saat yang tepat untuk mempublikasikannya. Sumonggo.

Transkripsi QS Al Kaafiruun

  1. Yaa ayyuhal kaafiruun.
  2. Laa a’budu maa ta’buduun.
  3. Wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud.
  4. Wa laa ana ‘aabidun maa a’battum.
  5. Wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud.
  6. Lakum dienukum waliyadiin.

Terjemahan Bahasa Indonesia (Terjemahan Dept. Agama RI)

  1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
  2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
  3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
  4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
  5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
  6. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku”.

Terjemahan Bahasa Inggris (Abdallah Yousuf Ali)

  1. Say: O ye that rejects Faith.
  2. I worship not that which you worship.
  3. And I will not worship that which you worship.
  4. And I will not worship that which ye have been wont to worship.
  5. Nor will ye worship that which I worship.
  6. To you be your Way, and to me mine.

Ini sebuah dialog nyata tapi tak tampak antara dua realitas satu entitas. Antara jiwa dan badan saya yang ternyata saling mengenal dengan baik sehingga sangat senang saling mengolok tanpa marah berkepanjangan. Mana yang bicara dan mana yang disapa tidak dibatasi. Bisa saja sang badan yang sedang bicara kepada sang jiwa atau sebaliknya.

Apakah yang disembah badan dan yang disembah jiwa sama ataukah beda? Silakan berdebat dengan diri Anda sendiri. Tetapi saya hanya ingin mengingatkan bahwa
ketika Anda sholat maka secara fisik Anda menghadap tembok atau gebyok atau kalau Anda sedang berdiri di belakang imam maka Anda menghadap seorang lelaki atau perempuan; bisa juga Anda menghadap sederet sesama makmum. Jadi secara fisik Anda tidak sedang menghadap Tuhan. Memangnya tuhan bisa mbok lihat sama matamu po? Maaf ini sarkasme yang memaksa Anda untuk marah tapi Anda memang harus menghadapi kemarahan jika ingin dewasa.

Karena itu jiwa saya berkata: Hai, kau badan yang tertutup terhadap yang kasat mata, aku (jiwa) tak akan menyembah apa yang kau sembah. Kau nyium lantai, aku nggak mau ikut. Kau nyium Hajar Aswad, aku wegah. Kau nyiumin buku, aku wegah. Kau kelaparan, aku tak kenal nasi atau hamburger; kau tidur, aku bisa jalan-jalan kemana-mana tanpa mengantuk; kau merapuh, aku makin benderang.

Kamu duhai badan bukan pula penyembah apa yang aku (jiwa) sembah. Bagaimana tanah bisa mencapai keilahiyahan. Badan, kau ini hanya sebatas detak jantung. Apa yang kau sembelih tak akan sampai pada Ruh Yang Agung. Dagingnya dimakan tetangga atau keluarga atau kamu sendiri. Ruh yang Agung, Allah SWT hanya menerima niat dan keikhlashanmu. Dimanakah niat dan keikhlashan itu? Ada padaku, jiwa ini.

Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

Mana peduli aku pada tembok? Pada tikar? Pada sajadah? Pada lantai? Pada kopyah? Pada mukena? Pada siapa yang mengimamiku? Pada siapa yang memakmumiku? Duh, jiwa ini terlalu terlena oleh pikatan Yang Maha. Aku tak pernah dilahirkan menjadi suatu bangsa, agama, rasa, suku atau hal lain yang menempel pada badan pinjaman tanah-air-api-angin ini.

Dan duhai badan, kau jangan memaksa menyembah apa yang aku puja. Kau memang harus menghadap tembok. Kau memang harus bersujud di atas lantai. Kamu memang harus bergerak begini dan begitu menurut apa yang diikatkan padamu sejak lahir oleh orang tua atau masyarakat atau budaya dan pendidikanmu. Kau jangan ikuti aku. Aku sanggup sujud setahun penuh bahkan seumur hidupku; seperti malaikat tertentu yang ditugaskan untuk bersujud selamanya. Kalau kamu kelamaan sujud; berarti kau tak adil pada dirimu, keluargamu, teman-temanmu, lingkunganmu dan duniamu. Rugi kan ngikutin aku melulu?

Sudahlah, jangan kau paksa aku untuk mengikuti caramu duhai badan. Kita mengabdi bersama-sama saja. Kau dengan membentur-benturkan dirimu pada dunia fisik dan aku dengan terbang bebas menemui Yang Maha.

Kalau ternyata kita belum kompak, ya jangan berantem. Kita sedang mensinkronkan getaran kita sehingga suatu saat nanti kita benar-benar siap saling mengerti dan memutuskan untuk berjalan bersama-sama; menghadapi perpisahan kita. Kau diserap tanah, aku melesat ke rumah.

Sudara-sudaraku, kalau seseorang tak seperti yang kau harapkan, sesungguhnya itu bukan masalah maqom (makam, tingkatan) karena yang belum mati tak bisa dimakamkan oleh yang mati; apalagi kalau sama-sama mati: mana bisa saling memaqomkan?

Brangkali yang dia perlukan hanya jeda, dimana tak seorangpun mengisinya kecuali Yang Menentukan. Jangan gusar, kau tak bersalah dan dia pun belum tentu tersesat.

Jakarta&Tangerang; akhir 2000 – Januari 2010

23 thoughts on “SIAPA YANG KAFIR, SIAPA YANG TIDAK

  1. menyimak….(sambil angon kebo)

    Like

  2. ket wingi kok menyimak terus to? nek sing iki bedo kitabe….

    Like

  3. rikejokanan said: ket wingi kok menyimak terus to? nek sing iki bedo kitabe….

    durung isa konsen iki saiki mBak… keboku malah lagi wae ucul je, hemmm….

    Like

  4. ohtrie said: durung isa konsen iki saiki mBak… keboku malah lagi wae ucul je, hemmm….

    yo sik dikonsenkan dulu… 🙂

    Like

  5. ohtrie said: durung isa konsen iki saiki mBak… keboku malah lagi wae ucul je, hemmm….

    mbengi iki coba tak baleni maca ya mBk…tulisane sampean ki juan kayne ya penuh makna je (dudu penuhcinta ya, hihihi)tulisn yang membuat kita harus juga mencari sesuatu selanjutnya…thanks mbak…

    Like

  6. ohtrie said: mbengi iki coba tak baleni maca ya mBk…tulisane sampean ki juan kayne ya penuh makna je (dudu penuhcinta ya, hihihi)tulisn yang membuat kita harus juga mencari sesuatu selanjutnya…thanks mbak…

    matur nuwun… tulisanku memang lahir dari pemikiranku yang belum selesai jadi yo nggantung dan membuat pembaca mikir, bingung, mumet trus nek ora kuat yo melu edan ha ha ha…

    Like

  7. rikejokanan said: matur nuwun… tulisanku memang lahir dari pemikiranku yang belum selesai jadi yo nggantung dan membuat pembaca mikir, bingung, mumet trus nek ora kuat yo melu edan ha ha ha…

    kedanan mBak Rike ngono pa….??!!!:))

    Like

  8. ohtrie said: mbengi iki coba tak baleni maca ya mBk…tulisane sampean ki juan kayne ya penuh makna je (dudu penuhcinta ya, hihihi)tulisn yang membuat kita harus juga mencari sesuatu selanjutnya…thanks mbak…

    Pantesan hari Jumat kemarin aku sampai keselek berulang2…rupanya ada yg ngrasani tho? Bayar royalti hayohhhhh!

    Like

  9. ohtrie said: mbengi iki coba tak baleni maca ya mBk…tulisane sampean ki juan kayne ya penuh makna je (dudu penuhcinta ya, hihihi)tulisn yang membuat kita harus juga mencari sesuatu selanjutnya…thanks mbak…

    Rike…pergulatan raga dan jiwa memang jadi topik yg gak ada habis2nya. Bahkan para pemikir dan sastrawan jaman Renaissance juga berdebat masalah ini. Menurutku, yg bukan filsuf dan hanya perempuan sederhana tapi manis manja (huekk), meskipun jiwa tempatnya lbh tinggi dari raga, namun apa yg terjadi pd raga pasti akan terpaut ke jiwa begitu pula sebaliknya. Jadi jiwa tak bisa memperlakukan raga seenaknya krnpasti nanti akibatnya akan berujung padanya. Keduanya jalan bersama, bahkan setelah mati. Meski berpisah sementara, nantinya akan bersatu lagi di kehidupan kedua.

    Like

  10. penuhcinta said: Pantesan hari Jumat kemarin aku sampai keselek berulang2…rupanya ada yg ngrasani tho? Bayar royalti hayohhhhh!

    kalo lagi maem tuh jangan lupa bawa air mBak Irmaaa….. biar nggak kesedak…dirapel aja dulu bayare ya m,Bak..:)

    Like

  11. penuhcinta said: Rike…pergulatan raga dan jiwa memang jadi topik yg gak ada habis2nya. Bahkan para pemikir dan sastrawan jaman Renaissance juga berdebat masalah ini. Menurutku, yg bukan filsuf dan hanya perempuan sederhana tapi manis manja (huekk), meskipun jiwa tempatnya lbh tinggi dari raga, namun apa yg terjadi pd raga pasti akan terpaut ke jiwa begitu pula sebaliknya. Jadi jiwa tak bisa memperlakukan raga seenaknya krnpasti nanti akibatnya akan berujung padanya. Keduanya jalan bersama, bahkan setelah mati. Meski berpisah sementara, nantinya akan bersatu lagi di kehidupan kedua.

    aplaus buat mBak Irmaaaa……:)

    Like

  12. ohtrie said: kalo lagi maem tuh jangan lupa bawa air mBak Irmaaa….. biar nggak kesedak…dirapel aja dulu bayare ya m,Bak..:)

    Sudahhhhhhh…ambil segelas air dr dapur, pas diminum ternyata isi air sabun! Gelas kotor baru mau dicuci rupanya. Dasar apes.Bayaran kok dirapel…banyak kutang lo.

    Like

  13. ohtrie said: aplaus buat mBak Irmaaaa……:)

    *bungkuk-bungkuk terus tebar ciuman mhuaaahhhh*

    Like

  14. penuhcinta said: Sudahhhhhhh…ambil segelas air dr dapur, pas diminum ternyata isi air sabun! Gelas kotor baru mau dicuci rupanya. Dasar apes.Bayaran kok dirapel…banyak kutang lo.

    bwehehehehe…..banyak kutangnya tuhh..seksi dong mbakkk, 🙂

    Like

  15. penuhcinta said: *bungkuk-bungkuk terus tebar ciuman mhuaaahhhh*

    *sujud syukur, n puji Tuhan dech….Moga amal ibadah mBak Irma diterima disisiNYA, amien…:))LoL…

    Like

  16. ohtrie said: bwehehehehe…..banyak kutangnya tuhh..seksi dong mbakkk, 🙂

    Heleh…kutang kayak apa dulu…kalo model di film Dono yg warna hitam terus jadul banget itu ya gak seksi. Hussss…jangan ngomongin kutang…kurang afdol.

    Like

  17. ohtrie said: *sujud syukur, n puji Tuhan dech….Moga amal ibadah mBak Irma diterima disisiNYA, amien…:))LoL…

    Lah…pengsan lagi dia. Baru gitu aja looo. Mana td air sabunnya…biar ta’ sembur.

    Like

  18. penuhcinta said: Heleh…kutang kayak apa dulu…kalo model di film Dono yg warna hitam terus jadul banget itu ya gak seksi. Hussss…jangan ngomongin kutang…kurang afdol.

    wekekekekekekekkk……mBak Rikeeeee, bukan aku yaaa….. mangap omah sampean malah kanggo jak jakan iki taa….mBak Irma omelin aja tuhhhh

    Like

  19. penuhcinta said: Lah…pengsan lagi dia. Baru gitu aja looo. Mana td air sabunnya…biar ta’ sembur.

    yang ada malah air kelapa nich mBakk….

    Like

  20. ohtrie said: yang ada malah air kelapa nich mBakk….

    Oh gak jd nyembur…diminum aja…glegek.

    Like

  21. penuhcinta said: Oh gak jd nyembur…diminum aja…glegek.

    (nepok nepok mBak Irma…!) Abis keracunan ya mbak…?

    Like

  22. ohtrie said: kedanan mBak Rike ngono pa….??!!!:))

    kedanan aku bahaya…. sudah terbukti: yang kedanan padaku menjadi “gila” ha ha ha…

    Like

  23. penuhcinta said: Rike…pergulatan raga dan jiwa memang jadi topik yg gak ada habis2nya. Bahkan para pemikir dan sastrawan jaman Renaissance juga berdebat masalah ini. Menurutku, yg bukan filsuf dan hanya perempuan sederhana tapi manis manja (huekk), meskipun jiwa tempatnya lbh tinggi dari raga, namun apa yg terjadi pd raga pasti akan terpaut ke jiwa begitu pula sebaliknya. Jadi jiwa tak bisa memperlakukan raga seenaknya krnpasti nanti akibatnya akan berujung padanya. Keduanya jalan bersama, bahkan setelah mati. Meski berpisah sementara, nantinya akan bersatu lagi di kehidupan kedua.

    setuju bahwa jiwa dan raga adalah dua realitas satu entitas atau bisa juga sebenarnya disebut dua entitas satu realitas. bagaimana bisa jiwa memperlakukan raga dengan seenaknya sedangkan kenyataannya sering kali raga lah yang “menganiaya” jiwa. aku sendiri memilih untuk tetap dengan tawadhu menghormati hak keduanya. masalah nanti keduanya bersatu kembali, itu hak yang Maha Pencipta…

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: