March 2, 2010
rike jokanan

7 comments

TEMANKU, BINTANGKU

TEMANKU, BINTANGKU

Berupa-rupa diskusi kecil dalam keseharian saya ibarat bintang-bintang di langit, bertaburan tak beraturan tapi jika diamati mereka adalah gabungan rasi-rasi bermakna. Diskusi seru semacam bintang yang pijarannya ibarat Alpha Century. Yang sedang saja tetapi ajeg ibarat Mars yang rajin terbit dan tenggelam di muka bumi. Yang redup-redup saja ibarat bintang yang jauuuuuh, tidak terbaca konstelasinya dan pijarnya tidak cukup untuk terlihat mata telanjang.

Nyatanya bintang-bintang dengan atau tanpa kejelasan konstelasi tetap diharapkan kehadirannya di malam-malam manusia. Kalau tak ada bintang, malam jadi kelam atau menjadi kurang ramai karena hanya terlihat bulan saja.

Itulah makanya saya menghargai kehadiran teman. Kurasa tanpa teman hidup ini sepi, tak berkembang dan membosankan.

Seburuk apapun teman yang bisa kita ajak bertukar pikiran, dia bagaikan bintang yang menghiasi pemandangan hitam di langit. Dengan teman yang tak terlalu memahami alur pikiran kita, topik-topik ringan bisa menyemarakkan suasana. Yang dibutuhkan dari teman semacam ini hanya ketulusan untuk berbagi keceriaan tanpa ada kompetisi untuk memamerkan keakuan. Saya punya banyak teman seperti ini. Biasanya saling ledek tanpa batas justru membuat kami tertawa guling-guling seandainya guling-guling di tempat umum tidak memalukan.

Jika teman ngobrol punya frekwensi yang harmonis dengan getaran pribadi kita, pikiran berlompatan seperti sekawanan kelinci yang sedang menikmati sehatnya tungkai-tungkai lompatnya, bergembira. Pikiran hidup, melewati quantum yang secara fisika atau kimia hitungannya menjebolkan kalkulator ciptaan manusia. Disini aku menikmati “sharing session” yang menjadi bursa pemahaman dan membikin masing-masing komunikan menjadi cerlang jiwanya. Ah… teman-teman semacam ini memang jumlahnya tak banyak, mereka seperti kumpulan bintang yang telah kita definisikan konstelasinya, pijarnya dan manfaatnya.

Ada lagi sejenis teman yang justru saat ini sangat banyak meningkahi proses berpikir saya. Mereka ibarat bintang-bintang gumebyar (bergebyaran, Bahasa Jawa) dan membuat saya kesurupan. Bagaimana tidak kesurupan? Saya seperti menemukan batuan mulia gratis di dasar bumi yang normalnya berharga sangat tinggi di permukaan bumi. Teman ini membawa sesuatu yang baru yang sebelumnya tak terpikirkan. Atau, teman ini membawa sesuatu yang membuat saya berani menyatakan sesuatu yang selama ini saya sembunyikan lantaran ketakutan jika terlalu terbuka saya akan “dihajar” massa. Tetapi percayalah bahwa memiliki teman seperti ni bukan tidak menawarkan ketakutan. Ada sebuah ketakutan bernama rasa sungkan (enggan karena rasa hormat dan sedikit rasa kurang percaya diri, Bahasa Jawa) timbul.

Rasa minder campur hormat ini hadir ketika saya tertantang untuk bertanya tetapi ternyata pertanyaan saya ini seakan sebuah kerikil yang besarnya tak cukup besar untuk diselipkan di kulit ketapel rasa ingin tahu saya. Hasilnya, pertanyaan itu tak mampu dilontarkan. Rasa percaya diri kadang cukup besar tetapi pertanyaan itu hanya menuai tertawaan karena terlalu cebol untuk dibahas oleh teman-teman yang bintangnya gemerlap. Yah, pada kondisi ini aku seperti “cebol nggayuh lintang” (orang kerdil menggapai bintang, peribahasa Jawa)

Tak mengapa, perasaan itu justru membuat saya makin getol bertanya dan mencoba-coba menjawabnya sendiri dengan membaca dan membuat relasi-relasi walau kadang yang muncul adalah pertanyaan konyol selanjutnya atau jawaban yang tak bisa dimengerti secara instan.

Ok lah kalo beg beg begitu… teman-teman, bagaimanapun rupa jiwanya tak saya sesali kehadirannya. Separah apapun luka yang digoreskannya akan saya hargai sebagai sebuah hadiah yang kelak di pertemuan yang selanjutnya akan mereka kenal sebagai tanda mata. Mereka akan segera mengenal jejak yang mereka tinggalkan baik itu keceriaan dengan saya, keindahan berbaginya atau jawaban-jawaban yang dilontarkannya dan membuat saya memahami diri saya sendiri. Ada juga yang suatu saat nanti akan terharu atau menyesal karena luka-luka dalam yang ditinggalkannya justru membuat pohon jiwa saya berlekuk-lekuk indah tak seindah pohon jiwa mereka.

Temanku, bintangku. Kita berjumpa karena kita pernah berjumpa dan akan berjumpa di tempat yang lebih indah.

Salam.

Keramat, 25 Februari & 1 Maret 2010 – 10:20 & 10:02 malam

7 thoughts on “TEMANKU, BINTANGKU

  1. Kita akan berjumpa… Pada suatu hari nanti…Kelabu Jakarta, 2 Maret 2010 | 19.10

    Like

  2. Temanku, bintangku. Tapi kalo ada yang nyebelin…aku cukup tau ajah…ga bisa lagi berdekatan sperti sbelumnya…beware of “friends”. Alhamdulillah ga smua bintangku sperti itu, karna aku melihat dari kacamata hatiku akan ketulusan mreka untuk menjadi temanku 🙂 Nice info Miss 🙂

    Like

  3. rikejokanan said: Temanku, bintangku. Kita berjumpa karena kita pernah berjumpa dan akan berjumpa di tempat yang lebih indah.

    Like this…

    Like

  4. smallnote said: Kita akan berjumpa… Pada suatu hari nanti…Kelabu Jakarta, 2 Maret 2010 | 19.10

    yes, karena kita pernah berjumpa… engkau bintangku…

    Like

  5. moddies said: Temanku, bintangku. Tapi kalo ada yang nyebelin…aku cukup tau ajah…ga bisa lagi berdekatan sperti sbelumnya…beware of “friends”. Alhamdulillah ga smua bintangku sperti itu, karna aku melihat dari kacamata hatiku akan ketulusan mreka untuk menjadi temanku 🙂 Nice info Miss 🙂

    bagaimanapun buramnya bintang, dia tetap penghuni langit yang membuat malam menjadi indah ketika tak bintang lain selain bintang buram itu. love yourself then love others…kalau udah keterlaluan, cuekin aja he he he

    Like

  6. ohtrie said: Like this…

    sampeyan kok koyok Farah Quin ae to, Mas Utroq ha ha ha…Like… thissssss…

    Like

  7. rikejokanan said: sampeyan kok koyok Farah Quin ae to, Mas Utroq ha ha ha…Like… thissssss…

    hihihi beneran je mbakk ku senenng nontone, wooowwww… bodinya mang odhonnnnn body metropolitann….

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: