AKU ANAK PANAH TAJAM

AKU ANAK PANAH TAJAM

Lepas dari busur, aku terbang melesat menuju sebuah titik. Aku meluncur ke tujuan yang menyatu denganku dan sang pemanah. Perjalanan tanpa jeda, menyimpangi burung-burung yang terbang entah kemana, hanya tahu bersuka-ria; lalu aku merasa malang dan sial tak bebas seperti mereka.

Apa daya, aku tak bisa berhenti hingga benar-benar tertanam di tempat yang dituju pemanahku. Kusibak dinding angin yang berjuang keras melawan daya dorongku. Angin, kau tak mungkin bisa menghentikanku dengan kekuatan yang disalurkan padaku oleh pelontar dibelakang sana. Jika kau amuk maka aku kan hancur dan itu tak meninggalkan kepedihan apapun buatnya karena dia akan tetap memanah seumur hidupnya. Kau tahu dia tak bisa mati bukan?

Tak hanya burung dan angin kulalui. Awan dan matahari. Bulan, bintang dan malaikat bersimpangan dengan tubuhku. Awan lembut membelai dan membuatku tergoda untuk berhenti, menyandarkan kelelahanku padanya. Tapi matahari membuatku bergegas melupakan saat ini karena yang di depan sana lebih sejuk dan menenangkan. Bulan dan bintang merayuku sejenak menikmati malam. Tapi malaikat kemudian menggendongku melewati gangguan demi gangguan. Perjalanan…

Tubuh, jiwa dan semangatku diringkas oleh sang pemanah dalam satu pandangan matanya yang tak lelah meyakini satu titik di akhir pengembaraan.

Makin jauh aku meluncur, makin dekat aku pada titik yang diingini sang pemanah. Sebuah lingkaran berlapis-lapis ada didepan menghadangk. Entah dimana dia berencana menancapkanku. Entah di titik terluar atau terpusat. Yang kutahu mataku sangat tajam. Jika mengenai yang terluka tak bisa sembuh dalam sesaat. Tak ada harap aku terpusat atau dimana. Yang kuinginkan adalah sampai pada tujuanku: menancap dengan segenap ketajaman.

Sang pemanah, busur, aku dan sasaran adalah tubuh-tubuh dalam satu jiwa yang jika satunya tiada, kematianlah perdana menterinya.

Grand Quality Hotel, DIY – 25 September 2010 – 10:23 pagi

12 thoughts on “AKU ANAK PANAH TAJAM

  1. musimbunga said: okeh boleh πŸ™‚ di tag “obsesi gila pujangga” atau di poto album puisi pernikahan πŸ™‚

    aku udah baca beberapa dan komen di salah satunya… orang kalau suka puisi kesannya memang mellow gini kayak kita ya… machonya jadi nggak kentara kalau gak ketemu langsung he he he

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s