May 30, 2011
rike jokanan

4 comments

WC DAN RINDU RUMAH

WC DAN RINDU RUMAH

Ada semacam kepercayaan “kalau kita bisa buang hajat besar di suatu tempat dengan mudah maka artinya kita kerasan”. Rupanya ada indikasi kepercayaan itu berlaku bagi saya. Bagaimana bisa?

Beberapa minggu lalu saya ditugaskan ke daerah terpencil di provinsi Lampung. Sebuah pabrik pengolahan udang yang luasnya sekitar dua desa termasuk dengan tambak udang dan kawasan pengolahan serta sarana/prasarana untuk karyawan maupun tamu ada disana. Untuk saya dan seorang teman saya disediakan kamar di guesthouse yang menurut saya sih sekelas hotel bintang 3; satu kamar masing-masing tamu.

Saya merasa senang mengunjungi kawasan itu karena memang tak dinyana saya bisa ngambah (menginjakkan kaki, Bahasa Jawa) daerah se-mencil (pelosok, Bahasa Jawa) itu. Dari bandara Radin Inten, Bandar Lampung kami masih harus berkendara mobil hingga hamper empat jam disambung dengan menyeberang sungai sekitar sepuluh menit saja kemudian disambung lagi dengan mobil sekitar 30 menit barulah kami sampai di lokasi.

sampai sana saya kebelet ke WC tapi anehnya sudah beberapa kali nongkrong eh kok nggak terbuang juga sampah dalam perut ini. Akhirnya saya menyerah, menunggu hingga esok pagi tiba. Tapi ternyata sampah tak juga mau keluar; karena kata ibu saya kalau buang air besar tidak boleh dipaksa ya sudahlah saya mengalah saja.

Walhasil seharian kepala saya nyut-nyutan karena tubuh saya pebuh limbah yang tak keluar. Perut rasanya slemet-slemet (mules, Bahasa Jawa) namun apa daya tak kebelet.

Setelah tugas selesai kami berdua diantarkan ke kota Tanjung Karang untuk menginap di sebuah hotel di atas bukit menghadap lautan. kami terpaksa pulang ke kota karena jam 10:00 WIB keesokan harinya kami sudah haru terbang kembali ke Soekarno-Hatta. Kalau berangkat dari tambak wah bisa ketinggalan pak pilot…

Begitu menginjak pintu kamar hotel, perut saya langsung bereaksi dan alhamdulillah limbah yang menumpuk dan memadat tuntas sudah terbuang.

Saya heran mengapa disini saya bisa dengan lancar buang hajat sedangkan di guesthouse tambak saya “menderita”. Setelah beberapa mengingat-ingat, saya berkesimpulan bahwa saya memang tidak kerasan di daerah terpencil. Malamnya saya memang tidak bisa tidur karena suara-suara (misteri) yang entah cuma di pikiran atau memang menyelinap ke kuping saya.

Itu pertanda saya tidak merasa nyaman. Akhirnya metabolisme tubuh tidak normal dan tidak bisa e’ek dengan sukses. Paling tidak itulah penjelasan hubungan antara WC dan rindu rumah.

Cibaligo – Cimahi, 30 Mei 2011 – 1:46

4 thoughts on “WC DAN RINDU RUMAH

  1. Suara misteri bagaimana sih mbak? Coba ceritain dong, biar kerasa banget seremnya.

    Like

  2. Haha iya, biasanya di tempat baru kalo ga cocok, gak bisa pup, aku jg haha

    Like

  3. jandra22 said: Suara misteri bagaimana sih mbak? Coba ceritain dong, biar kerasa banget seremnya.

    he he he… ada jengkerik, gludak-gluduk (tikus mungkin), burung malam, dll, Bunda… ini memang terpencil banget… sedikit lagi udah ke laut…

    Like

  4. srisariningdiyah said: Haha iya, biasanya di tempat baru kalo ga cocok, gak bisa pup, aku jg haha

    bangeeeets…. judheg kalau udah gitu perut mules gak bisa terbuang hi hi hi…

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: