MIMPI DISUPIRI

MIMPI DISUPIRI

(berhadapan dengan bakpao isi cabe rawit)

Tadi malam saya mimpi. Mimpi disupiri seorang teman yang pernah baik sekali. Awalnya kami naik sedan mewah. Dia di kanan nyupir, saya duduk di sebelah depan kiri. Jalanan licin dan penuh batu.

“Hati-hati, Saudari… Jalan berbatu. Jika tak jalan pelan bisa selip ban mobilmu.”

Tapi dia bergeming, ngebut seperti dia pembalap ahli yang hapal jalanan dan tikungan maut.

Anehnya kami menyusuri jalanan kampung yang berliku diantara rumah-rumah penduduk miskin dan sunyi. Bagaimana bisa? Bukankah kami pulang dari kantor yang mewah dan megah? Adakah yang salah? Jika ya, aku atau dia kah?

Aku belum juga bangun. Mimpiku masih bertahan membawa kami dalam perjalanan. Menurun… Bukit yang terjal dengan rumpun bamboo dai kanan kiri.

Aku juga menyadari sesuatu yang janggal. Mana sedan mewah itu? Mana hawa segar pendingin ruangan yang menyejukkan kami? Tak ada.

Mobil menjelma motor matic.

Oh rupanya aku tertipu.

Dia bukan pengemudi yang baik. Karena terjalnya jalan sekarang kami rasakan, dia tak mendengarkan peringatanku. Dia mbudheg* seakan informasiku tak berguna dan dia lebih suka terpeleset terpelanting asal dia suka. Dan aku tak lagi sudi, ada orang yang menyupiri atau memboncengkanku.

Aku tak mau lagi menanti. Tak perlu jauh hingga tujuan, aku melompat!

Hop! Aku berlari sendiri, menyusuri jalan yang kupilih. Walau aku berlari tanpa sedan atau motor matic.

Mantan supir dan pengendara itu terus menyusuri jalan yang tak menuju tujuanku. Aku tak mau. Tak mau sungguh…

Tangerang – 14 Januari 2012 – 8:48 malam

* pura-pura budheg

34 thoughts on “MIMPI DISUPIRI

Comments are closed.