A Goose, A Kitten and A Bear

I saw a gracefully-moving goose, swimming…. Not swimming, she was paddling her feet below the water to show me that life is beautiful but with circulating movement of inner power. How do human being look so calm but struggling to reach the other end of their journey which is at the same point is the start of another trip….

Swan-Goose-2

Picture borrowed from http://ibc.lynxeds.com/photo/swan-goose-anser-cygnoides/swan-goose

 

I saw then played with a bear. The eyes are soft so intriguingly contradictory with his sharp claws and teeth. Oye, Mr. Bear…. Please hug me in your huge warm body to feel that your heart is distributing love to your real existence through your eyes…. Your claws are the only tools to survive from others’ attack. Your strength is ultimately powerful to pump your core of love to my life, your strong boundary shares my selfishness of being a spiritual being – I will never want others to dictate my spiritual journey. You take the honey from my hands softly because you know that I only have heart full of love for you. I have nothing but love…..

5fc8b620-ea9d-4b40-857b-ec0bda66f082_details_big

Picture borrowed from https://addons.opera.com/en/themes/details/sweet-bear/

 

For me this life is a group of circling boundaries set by Mr. Bear; boundaries full with claws that have been defeated by his loving eyes…. Take the claws and del the love.

And, I saw a kitten…. Kitten, my baby….. Thank you for staying with me for quite sometime. You accompanied me when I was sobbing and curling near the lake. You sat next to me doing nothing except staring at me with full of questions:

“Why are you crying?

Don’t you know I am your angel?

Don’t you realize that you are my guardian angel?

What do you know about us?

How do you produce your tears? Are they from the bottom of your soul? Would you please teach me how to cry sincerely?

Soul, don’t you know you are beautiful and deserve to enjoy this blessed life? Soul, do you know that I will always be with you?

How would you stop crying of missing the real one, while I am here with you? Would you please hug me and whisper to my ears that I am your loved one?”

….

The kitten, he is now a sacred soul with me in this very world…. Thanks for being with me when I was weeping by the lake. Thanks for whispering to my spirit that you love me truly. My dear kitten, you are opening your Life and my Eyes…. Live love, Love…..

They sat with me by the lake where I saw the reflection of my spirit….

533835_436000479791930_34906828_n

My dear Bob, now he is living in a real heaven with full of love all his life….

 

Singapore – July 7, 2014 – 10:57pm

SEVEN POUNDS DAN KERELAAN

SEVEN POUNDS DAN KERELAAN

Selepas nonton Seven Pounds yang dibintangi oleh Will Smith saya melamun tentang keputusasaan, ketakbergunaan, cinta dan penyesalan. Rasa cinta yang besar membuat Tim (pemeran utama oleh Will Smith) menyesali diri akibat kecelakaan karena kekhilafannya sehingga nyawa istrinya terenggut. Penyesalan yang mendalam tumbuh menjadi rasa bersalah, keputusasaan dan perasaan tak berguna sebagai seorang manusia.

Saya nangis selama menonton karena film-nya memang menggerogoti kesadaran akan rasa tak berguna yang mungkin saja hadir pada manusia entah dalam waktu lama maupun sesaat.

Seberapa banyak waktu yang kita lewatkan untuk orang-orang yang kita cintai sebelum segalanya tak tertolong lantaran sebuah kata sederhana: terlambat.

Tak ada orang yang lebih menyesal karena terlambat kecuali mereka yang pernah terlambat. Saya termasuk salah seorang diantaranya. Saya menyesal karena terlambat melakukan banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan jauh hari sebelum sekarang. Tak ada satu kata pun yang dapat dilakukan kecuali berandai-andai untuk menghentikan penyesalan saya. Tapi ada sebuah resep mujarab yang sedang saya terapkan pada diri sebagai pengganti aksi berandai-andai; sadar bahwa berandai-andai juga tak baik hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah berandai-andai.

Mungkin perlu memaksa diri untuk melakukan segalanya dengan kesadaran. Kesadaran terhadap mengapa saya melakukan sesuatu dan kesadaran untuk apa saya melakukannya. Mengapa saya harus tidur tepat waktunya adalah karena tubuh saya perlu beristirahat sesuai porsi. Dan untuk apa; supaya dia siap untuk melanjutkan kehidupannya.

Tim berpikir bahwa 7 detik kelalaiannya (baca message di PDA saat nyetir) yang berujung kematian istrinya dapat dia tebus dengan menemukan 7 manusia baik dan membagikan karunia tubuh saat tubuhnya mati nanti. Pada Ben (saudara lelakinya) dia berikan sebelah paru-parunya, pada Holly dia donorkan hati kanannya, pada seorang pelatih hockey dia berikan satu ginjalnya, pada seorang anak kecil dia donorkan sumsum tulang belakangnya, pada Connie dia hibahkan seluruh hartanya, pada Ezra dia berikan matanya dan puncaknya pada Emily (pada siapa dia jatuh cinta selanjutnya) dia berikan jantungnya. Tapi sayangnya dia menyiksa tubuhnya dengan jalan bunuh diri supaya 2 orang terakhir itu dapat menerima organ tubuhnya. Mengapa dia melakukan itu dan untuk apa, saya mengerti tapi tak masuk di akal saya.

Selanjutnya apakah kita mesti menguji bahwa orang-orang yang berhak kita bagi karunia adalah orang-orang baik seperti yang dilakukan Tim, lagi-lagi saya tak tahu. Yang membuat saya terkesan adalah bahwa Tim melakukan penyelidikan terhadap pribadi-pribadi tersebut sendiri dan pada saat yang bersamaan rasa sakit akan kehilangan orang yang dicintainya tumbuh makin besar. Jika saya Tim maka saya hanya akan menyesal terus dan makan sebanyak mungkin dan marah pada keadaan tanpa merasa perlu meninggalkan kebajikan untuk orang-orang yang hidup di sekitar saya. Mungkin saya akan merusak diri dan memperburuk keadaan dengan jalan tak mengindahkan apapun yang seharusnya saya perhatikan. Saya hanya akan merutuk kenapa terlambat melakukan ini atau itu tanpa berusaha merelakan bahwa ada kemuliaan lain yang bisa menebus segala bentuk keterlambatan itu.

Saya merenungi Seven Pounds sambil juga bertanya-tanya mengapa ada orang rela mati lalu memberikan apa-apa yang bisa dia berikan kepada orang lain untuk menebus kesalahan yang dia lakukan kepada orang yang lain lagi.

Saya masih bertanya-tanya bisakah saya serela Tim yang menderita untuk kebahagiaan orang lain. Kalau cinta Tim pada almarhum istrinya cukup membuatnya menjadi martyr bagi 7 nama, cinta apa yang mampu membuat saya rela menderita lahir batin seperti itu?

Dedicated to Tim in Seven Pounds dan para martyr yang telah menemukan
cinta sejatinya

March 9, 2009 – 9:32pm