LUPA

LUPA

Sepanjang jalan pulang tadi sebuah outline tulisan sudah siap tertuang begitu kelar pekerjaan rumah. Sepertinya ide sederhana itu cukup layak untuk mewakili sedebu pikiran saya.

Membersihkan pasir kucing

Membuang sampah

Mengepel lantai

Menyiapkan makan pagi

Merendam pakaian

Dll yang kecil-kecil

Beres.

Duduklah saya di depa
n laptop tersayang.

Siap mengetik.

Duh aku lupa!

Ide apa gerangan yang tadi siap diekspresikan? Topik apa yang tadi membuat saya tersenyum lebar antara Kebayoran dan Tangerang? Sekarang dimana terselipnya untaian kata yang tadinya berjejer seperti rantai karbon persenyawaan kimia alam raya?

Ah sungguh namanya lupa itu absolutnya tidak ingat.

Hanya dalam hitungan jam ide saya lenyap. Seperti ludesnya debu tipis di sapu lap basah.

Lhadalah! Kalau baru beberapa jam saja pikiran sudah tak mampu mengingat, apa tah lagi memoriku yang paling dahulu? Memoriku yang paling tua, berkerak di dasar gudang bawah sadarku. Ada jutaan ingatan yang bertumpuk kemudian lapuk menua/membusuk rusak dan merusak/mengeras dan mengerak/bertumpuk dan terjepit/menyepi: menjadi fosil yang hanya bisa dipindai dengan zat kimia mahal dalam proses fusi dan fisi berupa ketelatenan mengekspresikan keingintahuan tentang memori yang – mari kita namakan – khazanah yang tersembunyi.

Ada bagian paling purba dalam memoriku yang sangat berharga tapi belum juga kuingat. Mungkin karena tertutup jutaan kemuraman dan keceriaan hari-hari. Terabaikan…

Wow! Bagaimana aku bisa mengingatnya kembali ya? Dulu aku pernah hidup di alam jiwa dan mengenal kalian semua. Kalau sekarang ternyata saya lupa kita pernah saling mengenal, itu karena ingatan ini sudah menjadi batu tua. Tulang-belulang ingatanku lebih tua dari batubara. Lebih renta daripada prasasti tertua.

Ingatan: yang hilang dari manusia karena terlalu sibuk mengurus badan daripada yang dihantarkan badan.

Tak salah. Lupa adalah kewajaran yang dalam agama tidak dicatat dosa. Pemaklumannya disetarakan dengan tidak berdosanya orang gila.

Singkatnya, tak mengapa lupa karena yang pernah direkam pasti bisa diputar ulang jika dan hanya jika kasetnya bisa ditemukan diantara tumpukan data di perpustakaan jiwaku.

Maaf, ide yang tadi saya siapakan tak bisa saya sajikan. Karena LUPA. Insya Allah, saya akan mempersembahkannya pada Anda jika dan hanya jika sudah INGAT.

Wahai ingatan purbaku, kembalilah. Aku ingin mendengarkan kepingan album jiwaku. J

Keramat – 15 Februari 2010 – 9:42 malam

SIMBOL ATAU MAKNA MANA YANG LEBIH PENTING (bagian 2)

SIMBOL ATAU MAKNA

Mana Yang Lebih Penting?

(Bagian 2)

Sekali simbol terungkap maka akan segera terbuka pulalah lapisan pembatas cakrawala kita. Seperti lapisan pelangi yang sebenarnya bukan mejikuhibiniu. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu tak cukup mewakili warna yang ada di semesta raya ini.

Merah berarti berani? Benarkah? Itu hanya budaya kita. Menurut budaya lain, merah adalah simbol kegembiraan. Di budaya yang lain lagi, mereka menyebut merah berarti darah alias kematian. Budaya yang lain bisa saja menyebut kualitas lain. Hitam bisa saja berarti apa saja tergantung apa yang dilihat seseorang dibalik warna hitam. Alangkah jamaknya makna yang dapat ditangkap dari sebuah simbol.

Mana yang lebih penting?

Simbol atau makna?

Atau keduanya?

Tak bisa keduanya, harus ada salah satu mengalah pada yang lain. Lihatlah foto diatas judul tulisan saya ini. Apa yang Anda lihat? Simbol atau makna?

Bisa saja Anda segera berkesimpulan bahwa gambar diatas penuh makna. Artinya Anda menganggap bahwa lukisan tersebut merupakan simbol yang dibaliknya tersimpan lika-liku pelajaran yang membuat pemaknanya memahami sesuatu.

Mungkin juga Anda berkata “gambar diatas hanya simbol” maka Anda telah siap dengan kepelikan yang akan Anda buat sendiri untuk menjadikannya penuh makna.

Jadi ada saat kwtika Anda memahami sesuatu sebagai simbol; saat yang bersamaan orang lain menjadikannya makna. Sebaliknya, juga bisa.

Ada sebuah persyaratan mutlak supaya sesuatu menjadi simbol sekaligus makna pada saat yang bersamaan. Dan itulah ketika dua pandangan yang bertentangan mampu memahami simbol dan makna sebagai suatu kesatuan.

Contohnya:

Seorang istri menganggap anak adalah investasi yang nanti kalau si anak udah gede mereka bisa menjadi tempat mereka berteduh sambil menunggu Pengelana menjemputnya. Sang suami menganggap anak itu sebagai beban yang harus segera dibebaskan dengan kerja keras sehingga disaat sang ayah tua dia sudah tak harus dibebani urusan anak lagi. Apakah keduanya memandang dengan persepsi yang sama? Tidak!

Sang ibu memahami anak sebagai sebuah makna yang apabila diselami akan menjadikannya bahagia: makna yang mendalam bisa membuat sang ibu bertahan menghadapi kesakitan batin “disakiti” anak. Sang ayah memahami keberadaan anak sebagai simbol perjuangan jika sudah tuntas akan menjadi penuh makna dengan datangnya: kemenangan.

Apakah Anda ingin berpikir sebaliknya? Tak mengapa. Saya terima. Karena seumpama mengupas bawang, Anda berhak menguliti apa yang baru saja saya kuliti. Jika mata Anda telah pedih Anda boleh juga berhenti atau tak berhenti.

Ukuran simbol dan makna: sekuat Anda, batas keletihan tak terukur karena Pemilik simbol dan makna sungguh tak berbatas apa-apa.

Keramat – Februari 2010 – 9:53 malam

SIMBOL ATAU MAKNA: MANA YANG LEBIH PENTING (1)

SIMBOL ATAU MAKNA

Mana Yang Lebih Penting?

Barangkali simbol adalah elemen termenarik jika bukan terpenting dalam karya sastra. Tanpa simbol karya sastra terasa kurang nyastra. Semua genre bisa sangat sarat simbol demi tercapainya tujuan dilahirkannya karya sastra: menyampaikan makna.

Walaupun menyampaikan makna adalah sebuah “tugas mulia” sastrawan dalam membangun karyanya, jangan harap makna itu selalu dilukiskan secara gamblang tanpa terjadinya kesalahpahaman antara makna yang dimaksud oleh pekarya dan makna yang dipahami oleh penikmat. Jangan juga sangka “selisih nol” akan terjadi antar sesama penikmat dalam memaknai simbol yang sama. Sering kali timbul multi-interpretasi yang disebabkan oleh banyak faktor.

Jadi simbol sangat mungkin diapresiasi secara berbeda; rasio perbedaannya pun tak hingga; dan tak bisa diprediksi.

Coba Anda maknai puisi berikut, lalu Anda bisa men-share dengan jujur tentang makna yang tertangkap oleh rasa Anda.

Wanting is – What?

Summer Redundant,

Blueness abundant,

– Where is the blot?

(dari JOCOSERIA – Robert Browning)

Bagi manusia yang gemar sastra seperti saya, banyak realitas yang kemudian menjadi potensial diinterpretasikan. Kecintaan kepada dunia sastra membuat saya terobsesi untuk tidak pernah puas dengan interpretasi tunggal atau satu-satunya interpretasi yang benar sebab kebenaran dibalik simbol yang kita interpretasikan ibarat sebutir bawang yang jika dikupas selapis kulitnya maka yang kita lihat adalah kulit dalam yang terbungkus kulit luar. Lalu setelah kulit kedua maka ada kulit ketiga, keempat, kelima dan seterusnya hingga akhirnya kita menemukan lapisan yang terakhir di ujung keletihan.

Jikalau kulit adalah simbol maka maknanya adalah kulit berikutnya. Dan kulit kedua tersebut menjadi simbol baru yang niscaya terkelupas. Jika masih ada energi dan waktu, singkaplah kulit ketiga sebagai simbol berikutnya. Kulit keempat sebagai rahasia ternyata tak jadi rahasia lagi karena beberapa saat kemudian kulit kelima muncul sebagai makna selanjutnya. Begitu seterusnya.

Apa modal mengupas bawang? Pisau kah? Sejatinya mengupas bawang tidak mutlak mememerlukan pisau tajam. Ujung jari dan sedikit peran kuku sudah cukup karena kulit bawang yang sangat tipis perlu ditarik secara hati-hati supaya yang dibungkusnya tidak terluka. Dalam hal pengungkapan makna, hanya dibutuhkan kepekaan jiwa berkat kelembutan hati. Tak terlalu penting apakah sang pencari makna seorang jenius atau tidak untuk bisa memahami simbol yang membungkus makna berupa kebenaran (nisbi). Tuhan tidak pelit kepala orang yang tidak intelek. Gusti Allah itu sayang pada jiwa yang merendah kepada-Nya. Jadi mengapa orang yang IQ-nya tinggi mesti takut mengupas simbol? Dan mengapa yang EQ dan SQ-nya tinggi tidak mencobanya pula?

Dari manakah kelembutan itu? Dari kesadaran diri bahwa jiwa ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Masing-masing kita adalah elemen sebuah jaringan yang dirajut dengan sangat kalkulatif. Ibarat rumah laba-laba, sudut dan jari-jarinya sangat presisi; benang-benangnya lebih kuat dari tali baja sekalipun. Dan network ini hanya terbukti kuat jika jiwa-jiwa yang membentuknya benar-benar terajut dengan kesadaran yang sama.

Jadi Sudara-Sudaraku, apabila kita menghidupkan kesadaran bahwa dibalik badan-badan kasar ini adalah rajutan kesadaran yang tak terpisahkan maka alangkah indahnya kenyataan ini. Kenyataan yang dihiasi simbol-simbol yang siap diungkapkan sehingga tersingkaplah khazanah yang selama ini terbungkus rapat seperti tersegel kerasnya pikiran manusia.

Jika berdzikir adalah pelembut hatimu, maka berdzikirlah. Jika merenung adalah pelembut jiwamu, maka mernunglah. Jika bermeditasi adalah pelembut jiwamu, bermeditasilah. Hanya engkau yang tepat tahu pelembut yang mana yang memberimu kesadaran terjernih.

Kesadaran itu telah ada; dia adalah api abadi menunggu hembusan angin kelembutan yang mengantar cahaya benderang. Hembusan yang kencang mengobarkannya atau meredupkannya. Hidupkah kelembutan, sadarilah kesadaran, maknailah kehidupan.

Simbol dan makna menyelimuti kita; menunggu hidupnya kelembutan dan kesadaran kita untuk menguaknya. Jangan sampai terlalmbat: mana simbol, mana makna. Tak mengapa terbalik menandainya.

(bersambung)

Keramat – 21 Januari 2010 – 10:10 malam

INGIN PULANG DIAM-DIAM

INGIN PULANG DIAM-DIAM

Aku ingin diam

Seribu bahasa;

Mengundang kunang-kunang

‘Tuk memanduku pulang.

Syeh Yusuf – Januari 2010 – 10:52 pagi

BATU LONCATAN

Kemarin mengapung

Sekarang tenggelam,

Melesak ke dalam lumpur:

Aku kehilangan batu loncatan.

Syeh Yusuf – Januari 2010 – 10:55 pagi

HIDUP (KEMBALI)

Orang-orangan sawah

Tiba-tiba hidup berlarian, mengejar

Burung yang lapar.

Syeh Yusuf – Januari 2010 – 11:02 pagi

POWER RANGER MERAH

Kalau berubah itu biasa—

Jadi Power Ranger merah itu istimewa:

Dari warnanya saja engkau tahu

Apa kebisaanku.

Syeh Yusuf – Januari 2010 – 11:06 pagi

TERBANGUN

Kulepas selimut,

Mencari hawa segar keluar bidang tidurku.

Malam,

Lipatlah selimutmu. Kita bergegas menjemput-

Nya.

Syeh Yusuf – Januari 2010 – 11:12 pagi

SETAPAK

Sempit;

Mendadak mengarah tak kemanapun;

Setapak ini biar kutinggalkan saja.

LIA Thamrin – Januari 2010 – 4:44 sore

GELAK TAWA

Gigi putih,

Gusi yang menyembul,

Otot yang tertarik,

Suara yang meretakkan dinding,

Rambu-rambu keceriaan hati

Yang lama terpenjara.

Tertawa saja walau tak lucu.

LIA Thamrin – Januari 2010 – 4:51 sore

MAHARAYA

Tandanya keheningan

Penggambarannya puncak kebutaan

Pengenalannya terangnya kegelapan

Ah Sang Maharaya.

LIA Thamrin – Januari 2010 – 5:00 sore

AYO

Tadi pagi kamu datang

Meraih jemariku

Mengajakku berangkat.

Ayo!

Keramat – February 8, 2010 – 11:11 malam

TAKUT BERBEDA ATAU TAKUT SAMA?

TAKUT BERBEDA ATAU TAKUT SAMA?

Semakin tua usia, semakin banyak pertanyaan meletup-letup di kepala saya seperti lapangan penuh kawah lumpur yang bergantian memuntahkan rebusan dari dasarnya. Ada yang kecil, ada yang besar, ada yang sedang-sedang saja. Ada yang bersuara, ada yang lembut, ada juga yang tertahan. Ada yang melejit tinggi, ada yang meluber ke segala arah, ada juga yang tertahan sebelum meledak. Duh, pertanyaan-pertanyaanku ini memenuhi arena belajarku.

Akhir-akhir ini kucurigai ketakutanku bahwa aku tidak lagi mampu menghidupkan kehidupan pikiranku yang selama ini menjadi energi terbesar untuk menjadi aku yang sekarang ini. Aku mulai tak punya nyali bertanya.

Ada beberapa pihak yang kurasakan sedang berusaha mematikan potensiku dengan jalan menggembosi semangatku untuk membuka diri terhadap segala keniscayaan Yang Benar. Ada lagi pihak lain yang ingin membelokkan niatan saya: dari menyibak tirai menjadi merobek tirai, keduanya bertujuan sama (membuka tabir) tapi berefek beda. Ada juga yang tetap percaya diri menemani saya seperti induk burung melepas anak-anaknya terbang tanpa sekolah. Terima kasih semua.

Saya sedang memilah kebenaran… saya tahu itu. Dianggap salah oleh sebagian pihak… saya tahu itu. Dinilai berlebihan dalam membuka pikiran saya… saya sadar itu. Pendeknya saya sedang berevolusi secara spiritual dalam keadaan sadar tidak dibawah pengaruh siapapun dan reaksi sekitar sungguh beragam: positif, negatif, netral.

Dus, ketakutan itu bukanlah bahwa saya menjadi sendiri diantara belantara tirai dan kegelapan melainkan sendiri dan kesepian karena tak lagi mampu memantik api abadi yang seharusnya menyala terus sampai akhirnya cahaya ini mesti berkelana kepada Sang Sumber; layaknya Gadis Korek Api mati kedinginan kehabisan batang korek api yang memercikkan api penghangat tubuhnya. Mati sendirian, kedinginan sementara orang-orang berpesta di depan perapiannya.

Ketakutan ini wujud ragam kebingungan: apakah takut sama ataukah takut berbeda?

Apakah takut sama?

Siapa yang tak bangga merasa unik dan istimewa? Menjadi manusia yang mumpuni, menjadi pribadi yang tak tersamai dalam artian punya pencapaian yang tak biasa. Apa keinginanku? Aku ingin orang mengenalku tanpa terkenal, aku ingin orang menghargaiku tanpa aku harus membului diriku dengan bulu mereka. Intinya aku tak ingin menjadi biasa-biasa saja karena menjadi biasa berarti tidak menjadi apa-apa. Ini wajar tetapi ternyata kemungkinan justru sebaliknya.

Apakah takut berbeda?

Alangkah sedihnya menjadi orang yang tak dianggap pantas menyatu dalam suatu sistem sedangkan sistem itu sedang memuatnya. Seakan menjadi kucing yang sejak lahir hidup bersama kawanan macan, diasuh oleh induk macan bersama-sama gogor-gogor (anak-anak macan, Bahasa Jawa) saudara angkatnya. Ketika mereka tahu aku bukan macan, apakah mereka akan memakanku atau mempermainkanku seperti kucing membolak-balik tikus yang klenger dibawah tangkapannya?

Apakah aku takut?

Inilah pertanyaan sebenarnya. Dan saya masih belum punya jawabannya.

Keramat, 8 Februari 2010 – 11:05 malam

TERTIPU

tertipu

oleh gemerisik daun, wangi kembang setaman, ranum butir mengkilap yang disuguhkan bumi.

terpelanting

oleh juluran otot pohon raksasa, sulur beringin, pokok patah yg dipasang sebagai jebakan kijang.

terjerembab

dalam selimut kejantanan, rayuan maut dusta dan elusan sementara yg hanya bertahan ketika dekat.

tertipu

oleh kelihaian pemburu rusa dan para pembantunya yg tak lama lagi menikmati dagingku berbumbu racun yg tadinya melumuri senjata mereka.

December 30, 2008 – 1.00am