August 12, 2017
rike jokanan

no comments

Kutabur Debu Cahaya

Kutabur debu cahaya
Bersama salam dan langkahku
Demi jejak kemanusiaan
Bagi seluruh isi alam.
Berurai air-mata….

Sungai-sungai sebagai urat-urat darah
Yang mulai tersumbat,
Menyempit,
Buntu…. Samudera pun kehilangan tuah dan birunya.
Tersedak Ibu Gaia terbatuk-batuk, bersedih melihat anak-anaknya tiada berhati.

Duh Gusti,
Ampunilah aku
Yang tak mampu membantu titik-titik mungil bercahaya terkungkung rantai dan kerangkeng.
Letih dan terluka
Batin dan badannya.

Duh Gusti,
Merdekakan kami.
Aku dan titik-titik mungil bercahaya itu.
Merdekakan inti hidup kami.
Sehingga bahagia walau kami dihela hingga pertolonganMu tiba.
Sehingga ikhlash walau kami dipaksa hingga kehendakMu tiba.

Wahai, titik-titik mungil bercahaya….
Kuseru doa dan belai mesra.
Salamku salam ruhani yang akan membungkusmu dengan kekebalan
Dari segala derita.
Kuatkan. Murnikan. Tataplah langit seperti kutatap ia.

Kudekap Ibu Gaia,
Kuhembuskan debu cahaya
Dan titik-titik cahaya itu berpendar, melebar dan merayakan kebahagiaan.
Salamku salam ruhani
Wahai titik-titik mungil dalam dekapan.

Puisi ini kupersembahkan bagi para satwa yang didera kekejaman atas nama kesejahteraan manusia. Terkirim bagimu kekuatan dan kemuliaan selamanya. Sayangku….

Ibu Gaia, teriring doa untukmu jua….

Salaamun qaulammirrabbirrahiem….

IMG_4555

Temasek – August 12, 2017 – 02:59

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: