Kutabur Debu Cahaya

Kutabur debu cahaya
Bersama salam dan langkahku
Demi jejak kemanusiaan
Bagi seluruh isi alam.
Berurai air-mata….

Sungai-sungai sebagai urat-urat darah
Yang mulai tersumbat,
Menyempit,
Buntu…. Samudera pun kehilangan tuah dan birunya.
Tersedak Ibu Gaia terbatuk-batuk, bersedih melihat anak-anaknya tiada berhati.

Duh Gusti,
Ampunilah aku
Yang tak mampu membantu titik-titik mungil bercahaya terkungkung rantai dan kerangkeng.
Letih dan terluka
Batin dan badannya.

Duh Gusti,
Merdekakan kami.
Aku dan titik-titik mungil bercahaya itu.
Merdekakan inti hidup kami.
Sehingga bahagia walau kami dihela hingga pertolonganMu tiba.
Sehingga ikhlash walau kami dipaksa hingga kehendakMu tiba.

Wahai, titik-titik mungil bercahaya….
Kuseru doa dan belai mesra.
Salamku salam ruhani yang akan membungkusmu dengan kekebalan
Dari segala derita.
Kuatkan. Murnikan. Tataplah langit seperti kutatap ia.

Kudekap Ibu Gaia,
Kuhembuskan debu cahaya
Dan titik-titik cahaya itu berpendar, melebar dan merayakan kebahagiaan.
Salamku salam ruhani
Wahai titik-titik mungil dalam dekapan.

Puisi ini kupersembahkan bagi para satwa yang didera kekejaman atas nama kesejahteraan manusia. Terkirim bagimu kekuatan dan kemuliaan selamanya. Sayangku….

Ibu Gaia, teriring doa untukmu jua….

Salaamun qaulammirrabbirrahiem….

IMG_4555

Temasek – August 12, 2017 – 02:59

INTUISI

Mengasah intuisi…
Apakah seperti mengasah pisau? Bisa jadi…
Untuk mengoperasi penyakit menahun yang memblokir kejernihan berpikir.

Intuisiku menginformasikan di usia 39 aku bakal ke benua yang dulunya menjadi rumah bagi para penjaga padang rumput dan bongkahan nugget berkilauan di tanah-tanah berbatu… Dan tempat para bison menikmati kedamaian…

Wow! Semoga…

Garuda lounge – 1 September 2013, 7:13

20130901-191813.jpg

MUSIC

kutemukan musik dalam hidup
aliran udara dan tekanan angin yang berbeda menjadi musik
gemericik air dan gulungan debu menjadi nada
tarikan dan hembusan nafas yang satu-satu lembut, sedang, memburu, sesak… tempo…

musik,
jiwa yang berirama,
kehidupan yang berpola,
nuansa yang menggema beribu tahun, kembali mengingatkanku pada alunan musik

terlupa sejenak lalu ingat ketika terpanggil oleh kerinduan….
akan masa-masa yang penuh cinta…

musik selalu menggugah emosi,
menelusuri rasa,
membangkitkan keimanan akan pertemuan dengan yang sejati

dengan YangSejati….

Yio Chu Kang Road, 28 Agustus 2013 – 21:30

PUISI KUCING

Kucing itu cakep
Binatang imut kusayang…
Bulu yang halus dan suara yang lembut….
Sangat menggetarkan…

Aku punya satu.
Bob namanya
Kucing jantan
Kunamai karena dua alasan
Karena nama lengkapnya Robert de Niro
Dan karena Bob adalah nickname pacarku, mantan….

Tadi ku nemu satu kucing lagi
Tapi tak kuadopsi
Karena masih bayi dua hari
Dan aku tak sanggup mengurusnya

Si kucing mungil
Maafkan aku karena telah menyentuhmu
Terlalu banyak menularkan bau tanganku pada tubuhmu
Sehingga simbokmu tak mampu menyentuh aromamu…

Maka kuseka aku dengan handuk baru dan meminta maaf
Padamu….
Simbokmu akan segera menjamahmu.
Lalu kamu menjadi kucing yang manis
Dewasa dan sehat…

Love catsy….

Garuda Lounge, Soetta Tangerang
July 7, 2013 – 7:08 petang

20130707-191511.jpg

BERKISAH TENTANG…

Berkisahku tentang
Sesuatu yang nisbi ada
Yang berkelindan dalam rangkaian rantai hidup
Jika terputus bukan karena patah melainkan karena terhalang kabut….

Tiada yang kuragukan
Hanya sebatas diselubungi lupa dan alpa.
Jikalau ada waktu ku ‘kan temukan pintu, semua pintu
Menuju surga….

Kita berkisah ku
Tentang semua yang pasti… Di siang hari
Di bawah temaram matahari disaput mega,
Yang ada adalah cerita….

Berkisah ku tentang balada anak manusia
Yang tak kunjung siap meninggalkan mimpinya,
Menuju tikungan terakhir….
Menuju kekasihnya….

Changi – 11 Juni 2013 10:28 malam
Menanti Shanghai tiba

20130611-222939.jpg

PUISI BINGUNG WAKTUKU

PUISI BINGUNG WAKTUKU

Jam di tangan berdetak-detik

Mengancam kelambananku

Jika tak juga pergi maka dia kan mati

Jadi?

Jam di dinding berdentang-denting

Bertanya kapan ku berangkat

Jika berlambat-lambat, dia mau minggat

Jadi?

Jam di awang-awang terbang santai

Melirikku dengan mesra

Tak apa, luangkan saja, tak akan lari gunung dikejar

Jadi?

Gunung merapi terbotak-batuk

Mengintaiku dari balik gantungan mendung

Berdehem, sekelebat kurasa dia bergeser beberapa senti entah ke kiri atau kanan

Jadi?

Waktu berlalu

Agak cepat

Kadang sangat lambat atau terlalu cepat

Jadi?

Jadi apa?

Mau tak beringsut?

Gunung tak berlari tapi dia ngesot pelan

Pertanda ada pergerakan

Entah kemana dia mau bergerak

Yang pasti

Alam ini tak boleh berhenti

Begitu juga aku

Jadi?

Ayo lariiiiii!

Jam-jam terakhir di GQH Jogja – 2:55 siang – selesai packing sebelum berangkat