To Be Just Right

There are a lot of things left behind the schedule if I talk about my life plan.


I plan to get married at 25 years old but happen to be single until 39. Plan to have a house by 30 but got it by 35. To have iPod, iPhone, iPad, MacBook as soon as they were launched but I could just got them all as one package two years ago — just right after I reached Singapore for a new job. To enjoy meditation years ago but being able to do it just three years ago. To do this and that, all with delay….


But that’s life, to wait for things happen with real patience. When the time is just right, all will come. Needless to say, but like working on repeated actions requiring ergonomics, it takes good stance and poise to get all life plans done. Stance is focusing on priority, poise is doing the best.


To be just right is a main goal of mine now. To be at the point of understanding that I can only plan and work on my plans without extremely targeting when and how I should reach the dream. Dreams will come true, we should believe — as part of flame to keep up good things. But when and how…. That is just right at the end of the tunnel, we can only see the light without seeing the details of it.

Ahhh…. I’ve been so much treating my life seriously. Time to enjoy every tap of my steps and every tick of my second…. All is well and it can never be enough to say “thanks”. Anyway…

…. Thanks for everything, my Universe….

Muar, Malaysia – September 21, 2014 – 7:36pm



Tadi saya ngobrol per telepon dengan karib saya yang sedang dalam perjalanan dari Bandung ke Tangerang. Kami berdiskusi tentang tujuan hidup.

Tujuan hidup. Dia menanyakan apa tujuan hidup saya. Saya bingung. Bukan karena saya berpikir. Saya berpikir seperti searching data di drive otak saya. Dan menemukan bahwa tidak ada hasil pencarian. Ternyata Sudara, saya tidak punya tujuan hidup MUNGKIN.

Justru sekaranglah saya berpikir tentang tujuan hidup saya.

Apakah saya ingin mengejar materi sebanyak mungkin?

Apakah saya ingin menjadi orang yang handal dalam bidang saya?

Apakah saya ingin menjadi orang baik? (Kata teman saya ini terlalu general)

Lalu saya berpikir lagi apakah saya ingin mati dikenang baik?

Apakah-apakah yang lain bermunculan dan justru membuat saya makin tidak yakin apakah saya ini mempunyai tujuan hidup yang tepat atau tidak. Saya berpikir terlalu keras sehingga tidak terasa sudah tengah malam dan saya tidak melakukan apa-apa selain termenung memikirkan tujuan hidup saya.

Ketika saya memutuskan untukberhenti memikirkannya, saya mendapati tulisan saya tidak selesai. Saya menghabiskan waktu saya untuk memikirkan tujuan hidup sehingga beberapa sms urgent tidak terbalas tepat waktu. Saya juga lupa mandi sore. Saya juga lupa bahwa gerbang depan harus segera dikunci. Saya juga terlambat memberi makan Tesie, kura-kura saya.

Gara-gara berpikir berat tentang tujuan hidup saya justru lupa bahwa saya sedang hidup dan perlu menunaikan banyak hal tanpa berpikir berat. Saya juga lupa bahwa saya lupa tidak bertanya pada karib saya apa sebenarnya tujuan hidup dia sendiri.

Ternyata tujuan hidup saya yang sangat pasti adalah terus mengingat tugas-tugas saya dan menunaikannya sebaik mungkin.