IDENTITAS WANITA

IDENTITAS IMPIAN SAYA SEBAGAI WANITA

Ngobrol dengan seorang teman membuat saya makin menyadari bahwa kehilangan diri sendiri adalah kehilangan terbesar bagi manusia yang merdeka.

Kehilangan diri sendiri? Ungkapan apa lagi ini?

Saya mengenal seorang wanita. Saya belum pernah bertemu langsung karena memang saya mengenalnya dari postingan-postingan beliau di Multiply ini. Saya mereka-reka sendiri stgatus beliau ini dan berkesimpulanlah saya bahwa wanita ini seusia saya, pendatang dari “Jawa”, ceria dan mandiri; dan yang terpenting adalah bahwa dia wanita single.

Ternyata saya benar kecuali tentang satu hal: bahwa dia lajang. Wanita ini seorang ibu bagi tiga orang anak yang lucu-lucu dan pasti sangat potensial untuk membuat orang tuanya selalu bahagia dan bangga. Anake ki jan lucu-lucu poool….

Apa yang membuat saya menyimpulkan bahwa beliau single?

Bukan semata-mata bahwa penampilan beliau sangat ngenomi (bahasa Jawa: kelihatan/terkesan muda). Bukan! Tetapi lebih karena curhat dan tulisan beliau yang jika saya selami lebih seperti ide dan opini seorang wanita yang tidak mewakili siapapun di belakangnya.

Wanita ini begitu independen. Beliau tidak pernah (paling tidak belum pernah sampai saat ini) mengatasnamakan pengalamannya sebagai seorang ibu untuk mengomentari sesuatu. Beliau juga belum pernah membuat postingan tentang putra-putrinya seperti yang biasanya dilakukan oleh (maaf kalau istilah berikut kurang berkenan) emak-emak yang biasanya ngomongin anak-anaknya he he he…

Begitu saya sempat mendapat kesempatan berbincang dengan beliau, saya terkesima dengan hasil “wawancanda” saya. Beliau begitu lugas dan merdeka menyuarakan opini dan idenya tentang bagaimana menjalani hidupnya sebagai wanita yang merangkap status istri, ibu, karyawan dan sebagai seorang makhluk individu.

Saya segera menyuarakan kejujuran saya bahwa kalau kelak saya menjadi seorang istri dan ibu, saya tetap memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menulis seperti ketika saya masih lajang. Saya berharap bahwa tugas saya sebagai seorang istri tidak membuat saya kehilangan identitas saya sebagai seorang pribadi. Saya ingin tetap dipanggil Rike walaupun nama belakang saya sudah bukan nama bapak saya. Saya tidak mau dipanggil – misalnya – Mama Loren hanya karena nama anak saya Loren atau dipanggil – misalnya – Ummu Hafiz karena nama anak saya Hafiz.

Saya ingin tetap mempertahankan saya sebagai seorang pribadi yang tak terlalu risau dengan hadirnya anak-anak saya sehingga saya harus selalu mengatasnamakan mereka dalam berbuat. Saya akan tetap menimang mereka tanpa harus khawatir orang-orang tidak tahu bahwa saya menimang mereka. Saya akan tetap menampilkan saya sebagai pribadi tanpa takut terhadap komentar “Halah, ABG” atau “Kayak masih lajang aja” atau “Kok nggak keibuan gitu sih”. Biar… Saya akan menjadi modified Rike tanpa kehilangan jati diri saya.

Kalau saya harus bisa menjaga privasi pasangan saya asalkan dia tidak mengabaikan dan menduakan saya, mengapa dia tidak? Kalau saya memberikan kebebasan yang bertanggung jawab terhadap anak-anak saya, mengapa mereka tidak memberikan kebebasan yang bertanggungjawab terhadap saya tanpa menghargai status saya ibu mereka?

Saya jadi ingat kata-kata seorang wanita yang “tiba-tiba” harus menjadi ibu setelah hanya selama 12 bulan sempat menjadi istri seorang lelaki.

“Rike, kamu nikmati sebaik-baiknya masa lajang kamu. Ambil hikmah bahwa belum menikahnya kamu adalah sebuah tenggang yang diberikan supaya kamu bisa berbuat lebih banyak. Perkuat karakter supaya kamu nggak menyesal nanti. Aku merasa waktu dan perhatianku tersedot oleh keberadaan suami dan anakku. Bukannya aku tidak bahagia; aku hanya merasa ba
hwa ketika masih single aku kurang mengembangkan diri sehingga sekarang aku nggak punya identitas sendiri. Aku harus menjadi Mama Rama atau Nyonya Yusuf dan dikenal sebagai Meutia hanya ketika di kantor. Bahkan mamaku sendiri mengenalku sebagai istrinya Mas Yusuf atau mamanya Rama bukan lagi sebagai anak yang pengen dimanja juga. Sebel ihhh… Petik pelajaran dariku ya, Rike sayang,” kata Meutia, sahabat saya.

Malam Minggu ini sungguh mengesankan buat saya. Mungkin saya tidak bisa mengungkapkan ide tentang identitas ini dengan baik kepada Anda sekalian tapi saya harap Sahabat sekalian tidak berpikiran bahwa saya menganggap ibu yang bangga terhadap putra-putrinya sebagai wanita tanpa identitas. Bukan itu. Saya hanya ingin tetap menyadarai bahwa Rike selalu ada diantara kehebohan dunia keluarga yang akan menghiasinya.

Hidup ini penuh dengan jalan untuk mengekspresikan keberadaan diri masing-masing. Saya menghargai semua Sahabat yang membuat saya tak berhenti bersyukur dengan segala kekurangan yang saya pahami.

Terima kasih, Mbak Dewi…

Catatan: Nama yang digaris-bawah adalah nama samaran.

January 24, 2009 – 1,03am

SAKIT GIGI

GIGIKU SAYANG, GIGIKU GOYANG

Aku sakit gigi

Gigiku sedang mengerang

Biar kompak, aku ikut mengerang

Dan kekompakan itu

Justru menambah beban derita:

Sudah gigiku cenut-cenut, hatiku keriput seperti kacang kisut.

Wahai, gigiku sayang

Sabarlah engkau

Aku juga akan sabar

Makanya aku sekarang pasang koyo Cap Cabe

Biar panasnya memijitimu dari luar dinding rongga mulutku.

Ok, ggiku

Kalau kau tak juga membaik

Terpaksa

Sekali lagi, terpaksa

Aku mengunjunginya

Siapa lagi kalau bukan

Seorang dokter gigi cantik, anggun, cerdas

Tapi kejam dan hobi mengobok-obok mulutku!!!

Duh, Gusti…

Matur nuwun atas sakit giginya

Saya bisa membuat puisi karenanya.

January 23, 2009 – 11:19pm

PIDATO OBAMA DAN TEBAKAN SAYA

PIDATO OBAMA DAN TEBAKAN SAYA

(diiringi senyum tanpa ekspresi)

Saya pernah berharap Obama akan memasukkan secara spesifik tentang konflik Israel-Palestina ke dalam pidatonya namun saya pernah menebak bahwa Obama tidak akan memasukkan “Israel-Palestina” dalam pidato kepresidenan pertamanya.

Terjawab sudah apa yang saya lihat dari balik kacamata gelap saya. Saya tidak sedang bersikap sinis. Saya hanya berusaha mencoba realistis bahwa seorang presiden Amerika Serikat, sehebat dan seobjektif apapun dia, dia akan mengedepankan kepentingan bangsa dan negaranya: kepentingan ipoleksosbudhankamnas Amerika Serikat.

Jika ada sebagian orang luar Amerika Serikat yang berharap begitu besar bahwa naiknya Barack Hussein Obama sebagai presiden kulit hitam kesekian Amerika Serikat akan membawa angin segar untuk konflik Timur Tengah (baca: Israel versus Palestina) itu hak mereka, namun segeralah tahu bahkan Obama pun tidak menyinggungnya sama sekali di dalam pidatonya.

Konflik Israel dan Palestina adalah sebuah isu politik terbesar saat ini dan AS mau tidak mau adalah salah satu aktor yang perannya tidak kecil. Eeeeh… ternyata ndak disinggung. Lha gimana dong, Mas Obama? Kenapa gak nyapa Israel “Eh, Israel, temenku, ojo nakal-nakal karo tetanggamu yooo… Ora apik… Ora sopan… Mbok ayo ciptakan perdamaian bersama-sama. Mesakake wong sing ora ngerti kuwi lho…”.

Tapi yang aneh, kenapa disebut-sebut kata Afghanistan. Ayolaaah… Obama, gak usah perang-perangan. Gak usah merasa diri Anda sebagai bangsa paling edan di dunia ini. Dan kenapa Anda berteriak “for those who blah blah blah, we will defeat you!!!” Walah, Mas Obama… sampeyan ini lho kok gaya tenan… Sampeyan bukan Gusti Allah, kok mau defeat bangsa lain yang menurut pemerintahan Anda “nakal”. Sampeyan masih mau jadi pulisi ndunya (polisi dunia) tah?

Ingat lho ya… sampeyan bilang “honesty, hard work, courage, blah blah blah… and those are TRUE” jadi nanti kalau ternyata sampeyan gak jujur dll, sampeyan akan kualat. Saya tidak mengutuk Obama, saya cuma mengingatkan diri sendiri dengan “gaya karambol” dengan target diri saya sendiri. Pletak! Wadaw!

Oke, saya tidak punya kepentingan apa-apa selain bahwa apapun alasannya perang harus diakhiri. Musuh terbesar adalah kemarahan dalam diri kita yang berkobar tak kenal waktu hingga akhirnya gelombang kegelisahan dalam diri ini menenang.

Saya juga tidak sedang membenci Obama dan bangsa-negaranya. Saya hanya sedang berbagi dengan Anda sekalian bahwa tebakan saya benar namun harapan saya tidak terpenuhi.Bagaimanapun Obama menawarkan perubahan demi citra dan cita bangsanya. Obama sedang memulai pekerjaan panjangnya (4 tahun) demi mewujudkan mimpi pribadi dan kelompoknya.

Kita, yang di Indonesia sini, mari kita bekerja keras secara jujur dan berani untuk mewujudkan mimpi kita yang bisa jadi jauh lebih besar dan mulia daripada mimpi Obama. Gak usah tergantung pada Obama. Gantungkan harapanmu pada Yang-Tak-Butuh-Bergantung. Kita bisa tanpa berharap pada bangsa dan negara lain karena orang Indonesia ditakdirkan menjadi besar sebagai dirinya sendiri.

Saya hanya bisa berdoa pada Gusti Allah bahwa saya dimasukkan kedalam gol
ongan orang-orang yang beruntung dunia dan akhirat. Amin…

January 21, 2009 – 1:11am

TATO DI PUNGGUNG BUKIT

TATO DI PUNGGUNG BUKIT

Berhari-hari kutahan gatal yang menyerang

Jika kugaruk gambarnya tak akan menawan

Dasar tukang tato amatir

Kenapa dia pakai cara jadul untuk bikin tato?

Apa tak ada metode bikin tato yang lebih elegan

Dan yang penting tak terlalu menyakitkan?

Seminggu kemudian

Akarnya mulai menyelinap di pembuluh darahku

Lalu kesegaran menghidupkan batang

Pupus-pupus hijau muncul suka-rela

Memperpanjang harapan mengacung ke langit

Berharap tak lagi ditebang di usia muda.

Tato di punggung bukit

Ditorehkan oleh segerombolan remaja pecinta alam

Mencangkuli tanah tanpa ampun

Hanya untuk mengibarkan bendera kelompok mereka

Supaya dikenal lewat reboisasi

Tak apa, yang penting segera tumbuh tato temporer di punggung polosku.

January 16, 2009 – 11.05pm

Mari cintai hutan, tanem dan rawat pepohonan

MENDUKUNG SAUDARAKU DIK AGUS KRIBO

AGUS KRIBO YANG MENYEBUT DIRINYA KEREN

(dirimu bikin otakku ikutan kribo bo bo!)

Agus Kribo? Dengan jumlah kontak sekian juta orang pasti tak ada pilihan lain buat saya kecuali setuju untuk menilainya sebagai orang yang suka berteman sekaligus suka ngocol. Bayangkan jika dia harus mengklik maka telunjuknya pasti sudah berkenalan dengan begitu banyak nama para Mpers dan bikin mereka (termasuk saya) nyengir kuda lumping.

Tak banyak yang saya tahu dari Dik Agus ini, Sidang Pembaca, karena memang saya belum pernah kopdar sama beliau. Kenal hanya sekedar komen-mengkomen di Multiply dan sapa-menyapa di Messenger jadi saya menulis ini sekedar untuk memenuhi undangan demi kebahagiaan seorang adik yang manja dan tengil. Hiks.

Ada satu kualitas Dik Agus yang sampai saat ini tidak saya miliki dan entah kapan saya bisa memilikinya. Keduanya adalah kreativitas dan kepe-dean yang tak main-main.

Banyak Mpers yang percaya diri tapi baru Agus Kribo yang pernah berlomba pantun dengan niat lillaahi ta’ala mengisi waktu sebelum dan sesudah sahur. Dengan niat ikhlas karena Allah pula dia memuji diri sendiri sehingga dia bisa mengingat bahwa kekerenannya ini tak lebih daripada karunia-Nya semata. Saya juga yakin usahanya yang gigih men-support saya untuk menulis tentang dia baik lewat YM, Facebook maupun sms adalah karena ikhlas karena Allah. Subhanallah…

Dan, itu juga menunjukkan kreativitasnya lho Sudara… Bikin pantun tak semudah bikin keonaran. Apalagi jika harus berlomba, dikomentari para Sidang Pembaca yang kadang kala kejamnya bukan buatan.

Ya inilah yang saya kenal tentang seorang Agus Kribo. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin…

Terjemah buku berpandu kamus

Kamus hilang kerjaan kacau

Gara-gara undangan Agus

Orang tenang jadi meracau

December 2008

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

Listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi Islami (AMPLI)

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Dinamisasi Otak dan Hati dengan berbagi informasi, ilmu dan pengetahuan

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

My First Orchid

LEARNING TO CARE FOR YOUR FIRST ORCHID

DBR Foundation Blog

Coming together to solve global problems

Lukecats

About cats and man

%d bloggers like this: