November 14, 2012
rike jokanan

no comments

LUPUS LUPIS LEPAS

LUPUS LUPIS LEPAS

Bertahun lalu saya membaca cerita seri Lupus karya Hilman Hariwijaya. Ceritanya lucu bener dan sangat menarik untuk orang “daerah” seperti saya yang hanya bisa membayangkan kehidupan para remaja Jakarta. Saya masih ingat saya bertanya-tanya pada diri sendiri apa arti lupus. Saya sempat berpikir apakah lupus artinya permen karet ya? Ya maklum lah waktu itu saya masih SMP, akses pada informasi sangat terbatas – ndeso, bow – dan terutama internet belum terjangkau.

Sampai akhirnya saya menginjak usia SMA. Saya mulai berkenalan dengan ensiklopedia milik sekolah saya yang saya buka kapanpun ada kesempatan ke perpustakaan. Ternyata lupus itu artinya srigala. Ada juga sih arti lain tapi yang paling pas dengan yang saya harapkan adalah srigala itu.

HOMO HOMINI LUPUS

Istilah ini saya kenal ketika saya kuliah. Artinya sih katanya “manusia adalah srigala bagi manusia lain” atau “manusia memangsa manusia lain”. Sangat mengenaskan kalau memang istilah ini sudah ada sejak jaman dahulu kala; indikasi “istilah lama” ini karena pertama kali diucapkan oleh Plautus dalam karyanya Asinaria pada tahun 195 SM yang tepatnya berbunyi “lupus est homo homini”.

Yang dialami teman saya ini mungkin semacam “homo homini lupus”, dia dimangsa oleh teman yang lainnya.

Seorang karyawan kontrak di sebuah pabrik – sebut saja namanya si Gopel – menjalani kerja sampingan sebagai tenaga harian lepas di pabrik lain. Di pabrik siang dia bekerja sebagai tenaga di bagian pengemasan (packing) dan di pabrik dengan shift malam dia bekerja sebagai tenaga kuli angkut di bagian gudang bahan dan kadang diperbantukan di bagian pengemasan (packing).

Suatu hari, teman-temannya merasa bahwa si Gopel ini hidup lebih makmur daripada dia. Gopel bisa tetap bertahan hidup: membayar kontrakan dan ada indikasi akan mencicil rumah di pinggiran kota tangerang, mencicil motor lewat koperasi perusahaan, membeli sembako di koperasi dan juga menyekolahkan dua anaknya di sekolah negeri yang berlokasi di dekat alun-alun Kota Tangerang. Gopel tidak pernah menyadari bahwa ada sekelompok orang yang menginginkan kemakmurannya. Gopel hanya menjalani hidupnya secara polos tanpa aturan main kecuali norma kesetiaan kepada keluarga dan kesholehan sosial dalam pergaulan.

Tanpa piker panjang, teman-teman itu melaporkan pada pabrik siang dan pabrik malam tentang apa yang dilakukan oleh Gopel. Mereka memprotes apa yang dilakukan Gopel berdasarkan peraturan ini dan itu yang intinya adalah Gopel telah menyalahi hokum karena memiliki 2 pekerjaan yang sama di 2 tempat yang berbeda.

Gopel hanya bisa menarik napas panjang, sepanjang usus dan seluruh otot di tubuhnya jika disambungkan menjadi satu. Gopel kemudian teringat pada gajinya yang selalu hanya bersisa Rp.100.000 karena sisanya telah dipotong hutang koperasi. Dengan bekerja di malam hari sebagai harian lepas maka dia akan mendapatkan tambahan Rp.700.000 per bulan, jumlah yang cukup untuk membayar uang sekolah dua anaknya dan biaya hidup sehari-hari. Seringkali istrinya dan dia harus berpuasa; dia berucap syukur karena anak-anaknya juga ikut berpuasa jika orangtuanya berpuasa.

LUPIS

Istri Gopel bermaksud menjual lupis, makanan yang menjadi kesukaan keluarga. Maka dengan modal kecil dia membeli beras ketan, kelapa, daun pandan dan keperluan lain. Maka di hari itu, di hari Gopel kehilangan pekerjaan sebagai tenaga packing di pabrik tempat dia bekerja sebagai karyawan kontrak karena HRD di pabrik itu mengatakan bahwa itu tidak etis. Gopel hanya pasrah maka dia hanya bisa menjadi karyawan harian lepas di shift malam. Dia memutuskan untuk membantu sang istri di pagi dan siang hari termasuk membuat kue lupis dan menjualnya. Laris juga tapi tetap saja belum cukup untuk menutup kebutuhan keluarga.

LEPAS

Tiba saatnya Gopel mendapat panggilan untuk emnerima gaji di pabrik dia bekerja di shift malam. Hati tenangnya mengatakan bahwa Rp.700.000 akan masuk ke kantongnya. Hati galaunya mengusiknya bahwa bulan depan dia akan mengalami krisis keuangan karena tabungan mereka hanya cukup untuk satu bulan ke depan. Dua bulan yang akan datang dia terancam tak bisa membayar kontrakan, cicilan motor dan kehilangan hak mengutang pada koperasi untuk kebutuhan sembako.

Setelah memarir motor, Gopel langsung menuju ADM (petugas administrasi) di bagian packing yang biasanya bertugas membagikan gaji pada karyawan harian lepas.

“Gopel.” Gopel mendengar namanya dipanggil. Dengan langkah tegap dia menghampiri petugas ADM.

“Dipanggil HRD sekarang.”

Gopel merasa tulangnya dilucuti dari tubuhnya; lemas. Dia tahu apa yang akan terjadi padanya. Dia akan kehilangan pekerjaan sampingan yang sekarang telah menjadi pekerjaan utamanya. Kepasrahan memenuhi relung hatinya. Wolo-wolo kuwato, kata orang Jawa.

“Gopel ya?”

“Iya, Pak. Saya mau ngambil gaji tadi trus disuruh ke sini.”

“Iya. Kamu tahu nggak kenapa dipanggil?”

“Mau dipecat ya, Pak?”

“Enggak, siapa yang bilang kamu dipecat.”

“Saya sudah dipecat dari pabrik siang, Pak.”

“Iya, saya tahu kok.”

Gopel diam seribu bahasa.

“Gini Gopel, kamupernah jadi operator genset ya?”

“Pernah, Pak tapi sudah lama. Sebelum saya pindah ke packing di pabrik siang.”

“Operator genset kita pindah ke Sukabumi, nggak ada lagi yang bisa ngoperasiin genset. Kamu mau nggak jadi operator genset?”

Gopel bengong.

“Beneran ini, Pak?”

“Bener lah masak saya main-main. Tuh orangnya tanyain aja, mulai minggu depan udah keluar. Mau nggak?”

“Mau, mau, Pak. Saya mau banget.”

Manager HRD tersenyum-senyum lega, pekerjaannya tuntas sudah.

“Gini, Gopel. Kamu nanti probation dulu 3 bulan trus habis itu langsung diangkat jadi karyawan tetap ya. Nanti ada training dulu ya.”

Gopel makin bengong karena dia tidak paham arti probation. Tapi kata-kata karyawan tetap membuatnya tersenyum bahagia.

Gopel menyambut tangan Manager HRD yang memberikannya selamat.

Hari itu juga Gopel dan keluarga lepas dari himpitan mangsaan srigala yang bernama manusia.

Jatiuwung, 14 November 2012 – 1:34 siang

Gambar dipinjam dari http://mikebrandlyauctioneer.wordpress.com/2012/02/02/how-ethical-are-auctioneers/

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: