Advertisements

LUPUS LUPIS LEPAS

LUPUS LUPIS LEPAS

LUPUS LUPIS LEPAS

Bertahun lalu saya membaca cerita seri Lupus karya Hilman Hariwijaya. Ceritanya lucu bener dan sangat menarik untuk orang “daerah” seperti saya yang hanya bisa membayangkan kehidupan para remaja Jakarta. Saya masih ingat saya bertanya-tanya pada diri sendiri apa arti lupus. Saya sempat berpikir apakah lupus artinya permen karet ya? Ya maklum lah waktu itu saya masih SMP, akses pada informasi sangat terbatas – ndeso, bow – dan terutama internet belum terjangkau.

Sampai akhirnya saya menginjak usia SMA. Saya mulai berkenalan dengan ensiklopedia milik sekolah saya yang saya buka kapanpun ada kesempatan ke perpustakaan. Ternyata lupus itu artinya srigala. Ada juga sih arti lain tapi yang paling pas dengan yang saya harapkan adalah srigala itu.

HOMO HOMINI LUPUS

Istilah ini saya kenal ketika saya kuliah. Artinya sih katanya “manusia adalah srigala bagi manusia lain” atau “manusia memangsa manusia lain”. Sangat mengenaskan kalau memang istilah ini sudah ada sejak jaman dahulu kala; indikasi “istilah lama” ini karena pertama kali diucapkan oleh Plautus dalam karyanya Asinaria pada tahun 195 SM yang tepatnya berbunyi “lupus est homo homini”.

Yang dialami teman saya ini mungkin semacam “homo homini lupus”, dia dimangsa oleh teman yang lainnya.

Seorang karyawan kontrak di sebuah pabrik – sebut saja namanya si Gopel – menjalani kerja sampingan sebagai tenaga harian lepas di pabrik lain. Di pabrik siang dia bekerja sebagai tenaga di bagian pengemasan (packing) dan di pabrik dengan shift malam dia bekerja sebagai tenaga kuli angkut di bagian gudang bahan dan kadang diperbantukan di bagian pengemasan (packing).

Suatu hari, teman-temannya merasa bahwa si Gopel ini hidup lebih makmur daripada dia. Gopel bisa tetap bertahan hidup: membayar kontrakan dan ada indikasi akan mencicil rumah di pinggiran kota tangerang, mencicil motor lewat koperasi perusahaan, membeli sembako di koperasi dan juga menyekolahkan dua anaknya di sekolah negeri yang berlokasi di dekat alun-alun Kota Tangerang. Gopel tidak pernah menyadari bahwa ada sekelompok orang yang menginginkan kemakmurannya. Gopel hanya menjalani hidupnya secara polos tanpa aturan main kecuali norma kesetiaan kepada keluarga dan kesholehan sosial dalam pergaulan.

Tanpa piker panjang, teman-teman itu melaporkan pada pabrik siang dan pabrik malam tentang apa yang dilakukan oleh Gopel. Mereka memprotes apa yang dilakukan Gopel berdasarkan peraturan ini dan itu yang intinya adalah Gopel telah menyalahi hokum karena memiliki 2 pekerjaan yang sama di 2 tempat yang berbeda.

Gopel hanya bisa menarik napas panjang, sepanjang usus dan seluruh otot di tubuhnya jika disambungkan menjadi satu. Gopel kemudian teringat pada gajinya yang selalu hanya bersisa Rp.100.000 karena sisanya telah dipotong hutang koperasi. Dengan bekerja di malam hari sebagai harian lepas maka dia akan mendapatkan tambahan Rp.700.000 per bulan, jumlah yang cukup untuk membayar uang sekolah dua anaknya dan biaya hidup sehari-hari. Seringkali istrinya dan dia harus berpuasa; dia berucap syukur karena anak-anaknya juga ikut berpuasa jika orangtuanya berpuasa.

LUPIS

Istri Gopel bermaksud menjual lupis, makanan yang menjadi kesukaan keluarga. Maka dengan modal kecil dia membeli beras ketan, kelapa, daun pandan dan keperluan lain. Maka di hari itu, di hari Gopel kehilangan pekerjaan sebagai tenaga packing di pabrik tempat dia bekerja sebagai karyawan kontrak karena HRD di pabrik itu mengatakan bahwa itu tidak etis. Gopel hanya pasrah maka dia hanya bisa menjadi karyawan harian lepas di shift malam. Dia memutuskan untuk membantu sang istri di pagi dan siang hari termasuk membuat kue lupis dan menjualnya. Laris juga tapi tetap saja belum cukup untuk menutup kebutuhan keluarga.

LEPAS

Tiba saatnya Gopel mendapat panggilan untuk menerima gaji di pabrik tempat dia bekerja di shift malam. Hati tenangnya mengatakan bahwa Rp.700.000 akan masuk ke kantongnya. Hati galaunya mengusiknya bahwa bulan depan dia akan mengalami krisis keuangan karena tabungan mereka hanya cukup untuk satu bulan ke depan. Dua bulan yang akan datang dia terancam tak bisa membayar kontrakan, cicilan motor dan kehilangan hak mengutang pada koperasi untuk kebutuhan sembako.

Setelah memarir motor, Gopel langsung menuju ADM (petugas administrasi) di bagian packing yang biasanya bertugas membagikan gaji pada karyawan harian lepas.

“Gopel.” Gopel mendengar namanya dipanggil. Dengan langkah tegap dia menghampiri petugas ADM.

“Dipanggil HRD sekarang.”

Gopel merasa tulangnya dilucuti dari tubuhnya; lemas. Dia tahu apa yang akan terjadi padanya. Dia akan kehilangan pekerjaan sampingan yang sekarang telah menjadi pekerjaan utamanya. Kepasrahan memenuhi relung hatinya. Wolo-wolo kuwato, kata orang Jawa.

“Gopel ya?”

“Iya, Pak. Saya mau ngambil gaji tadi trus disuruh ke sini.”

“Iya. Kamu tahu nggak kenapa dipanggil?”

“Mau dipecat ya, Pak?”

“Enggak, siapa yang bilang kamu dipecat.”

“Saya sudah dipecat dari pabrik siang, Pak.”

“Iya, saya tahu kok.”

Gopel diam seribu bahasa.

“Gini Gopel, kamu pernah jadi operator genset ya?”

“Pernah, Pak tapi sudah lama. Sebelum saya pindah ke packing di pabrik siang.”

“Operator genset kita pindah ke Sukabumi, nggak ada lagi yang bisa ngoperasiin genset. Kamu mau nggak jadi operator genset?”

Gopel bengong.

“Beneran ini, Pak?”

“Bener lah masak saya main-main. Tuh orangnya tanyain aja, mulai minggu depan udah keluar. Mau nggak?”

“Mau, mau, Pak. Saya mau banget.”

Manager HRD tersenyum-senyum lega, pekerjaannya tuntas sudah.

“Gini, Gopel. Kamu nanti probation dulu 3 bulan trus habis itu langsung diangkat jadi karyawan tetap ya. Nanti ada training dulu ya.”

Gopel makin bengong karena dia tidak paham arti probation. Tapi kata-kata karyawan tetap membuatnya tersenyum bahagia.

Gopel menyambut tangan Manager HRD yang memberikannya selamat.

Hari itu juga Gopel dan keluarga lepas dari himpitan mangsaan srigala yang bernama manusia.

Jatiuwung, 14 November 2012 – 1:34 siang

Gambar dipinjam dari http://mikebrandlyauctioneer.wordpress.com/2012/02/02/how-ethical-are-auctioneers/

Advertisements

PROMOSIIN GUE DONG

PROMOSIIN GUE DONG…

Salah seorang teman saya berkesempatan mendapat promosi jabatan. Dia sekarang atasan kami. Yang tadinya bisa jenggut-jenggutan, sekarang jenggutan untuk dia melembut. Yang tadinya menyumpah-serapahinya, sekarang rem cacian-nya lebih pakem. Yang tadinya berani ngomongin kesalahan dia apa secara langsung, sekarang…. Hmmm….

Yang terakhir itu yang sedang dicurhatkan kepada saya.

Ceritanya nih ada yang lagi hobi banget main game baru yang baru dipromosikan oleh teman. Jadi bos baru main game baru. BARU + BARU = GOSIP SERU…

“Kok Si Heboh main game melulu sih, Ke? Bukannya promosi jabatan berarti nambah workload ya?”

Saya cuma bisa bengong karena memang rasa penasaran sempat ada di benak juga. Hanya saja saya tidak terlalu ambil pusing lantaran workload sudah cukup berat untuk berbagi rasa tentang workload orang lain. Biarlah orang lain mengeluh tentang kerjaannya yang susahnya minta ampun, hanya Allah yang tahu. Biar saya menghayati bagaimana beratnya keluhan bertemu dengan sulitnya dokumen yang sedang di- review.

Tapi, jujur saja saya sempat menyentil bos baru itu dengan nada guyon. Ini terjadi sebelum teman ini curhat.

“Aduuuh… mau dong naik pangkat, naik gaji tapi bisa banyak-banyak main game ha ha ha….”

Karena saat itu semua sedang geguyonan, saya mendapat kesan yang mendalam bahwa guyonan saya itu benar-benar diterima sebagai sekedar guyonan. Syukurlah… Jangan cari musuh!

Kembali pada curhatan teman tentang bos yang main game baru, saya mulai berpikir berbeda. Saya rasa bos saya itu memang menanggung workload yang jauh lebih tinggi tetapi bentuknya berbeda dengan yang dulu dia ampu. Kalau sekarang dia hanya harus mengawasi kami bekerja dengan tanggung jawab moral yang jauh lebih besar; walhasil dia tetap bisa bekerja sambil main game agak lamaan dikiiiit daripada orang lain yang suka main game di kantor….

Lalu saya bergumam dalam hati,”Ah, mengapa mesti saya pikirkan hal init oh bos saya dijadikan bos karena dia berkualitas menjadi seorang bos. Jadi kalaupun dia banyak main game, itu hanya luarnya saja. Mungkin otak dia sedang memikirkan flow-chart dan beragam dokumen yang tidak pernah saya kuasai sebagai seorang anak buah. Udah, kerja, kerja, kerja… ngempi dan fesbukan kadang kala saja… Jangan sampai kerjaan pekan ini sampai terutang pekan depan. Amin.”

Lalu saya lihat ada orang lain yang nge-game di fesbuk dan komputernya kenceng juga melebihi bos; makin males lah saya mengurusi hal itu.

Saya jawab kalimat teman yang curhat pada saya itu:

“Gimana ya, Bos. Aku masih banyak kerjaan jadi gak bisa ikutan bos main game juga he he he…”

Kerja yuk kerja….

October 21, 2009 – 12:51pm – obrolan di YM dengan teman kantor

THE RIVER WALK

Daily Thoughts and Meditations as we journey together with our Lord.

Inner Peace

True wealth is the wealth of the soul

Luna

Every now and then my head is racing with thoughts so I put pen to paper

(Metanoia)

Fan of GOD

The Art of Blogging

For bloggers who aspire to inspire

Verona

- Renee verona -

The Travellothoner

Travel, Running, Fitness, Life, Writing.

Learning to write

Just your average PhD student using the internet to enhance their CV

a.mermaid'spen_

I am as lost as the ocean💫

New Lune

A blog full of tips, inspiration and freebies!

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

Listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: