Collecting

I’ve been collecting things in my life — not so much thinking about their functionalities, just as hobbies. It’s like never ending craving for new types of the collected items. Fun, fun, fun!

When I was elementary schooler, I collected stamps – at least five albums & some un-albumed packs of foreign stamps before finally I gave up. Where are those albums now? No idea where they are, probably my cousins took care of them. I was fond of nail polish, bead necklaces and hair bands…. Yeah, so glad remembering that — I was feminine, yes I was….

Another I remember is pencil collection, it was when I was 15. Any types of pencil were nested in a big fancied cartons and cans – 200+++ until finally I gave up…. Where did they end their “life”? Cant remember, I thought I gave them away to anybody wanted to take them.

IMG_3213IMG_3305IMG_0070

Longer list…. Turtle & tortoises figurines, batik sheets, overseas coins, natural stones, gemstones, crystals, orchids, refrigerator magnetics, socks, silver and other metals…. And, many more collecting thingy.

What are those all things for? Just to feed desire of having this and that, wanting this and that, the word need was forgotten and/or ignored. Did I need the used stamps? Economic value was never a concern; I’ve never considered myself a sales-person type. Did my two hands operated hundreds of pencils? Who takes care of those collections — I leave them in my house in Indonesia…. So sad. Just these very recent months I decided to stop collecting. My attention and action shall be more meaningful to more people rather than just making me contented or proud of having bunch of things.

Supporting animal rescuers (cats and dogs), and communities helping underprivileged people (health and education) are the best choices now. Not because of having so much money to donate, but it is more about how to allocate the capitals wisely. No rates of return expected except that I want to be less guilty of enjoying this blessing selfishly.

IMG_2233

Thanks Universe, for waking me up, for opening my very eyes wide, for presenting the needy before me…. Now, the challenge is to work constantly hard and smart to be able to share more without feeling “being more”. My time to breeze…..!

 

Sweet disclaimer: probably the consistent collection is books ‘coz reading is like eating, without it I’ll die… Hope reading will be everlasting hobby of mine. Reading with eyes, reading with mind, reading with soul.

books

Picture borrowed from http://liquid-state.com/2014/04/25/people-buy-books-love-books-isnt-obvious/

Singapore – October 19, 2014 – 9:36pm

MEMPERLAKUKAN MY MIND

MEMPERLAKUKAN MY MIND

Setelah meluangkan waktu untuk merenung saya benar-benar menyadari bahwa hidup ini bisa kita anaogikan dengan apa saja berdasarkan dasar apapun yang manusia suka. Mau dibikin susah, mau dibikin enak ya enak tenan. Saya ingat seseorang di Bandung sana yang tak lelah mengingatkan saya untuk selalu berpikiran baik. Dan ada seorang MP-er yang (kelihatannya) jenius dan gila yang mengingatkan saya bahwa segalanya tergantung mind set kita.

Mind set

Tak dipungkiri lagi bahwa yang namanya mind, pikiran yang tak bisa jauh-jauh dengan perasaan adalah sebuah keliaran berpikir yang bisa bergerak acak-adut seperti Gerak Brown yang tampak berantakan namun sebenarnya membentuk pola tertentu. Pola itu hanya akan nampak dengan pengamatan yang seksama kemudian dengan penghitungan yang akurat. Karena itulah maka sering kali kita harus men-set ulang gerak Brown yang berpola acak tersebut sehingga membentuk sebuah gaya yang lebih menonjol polanya daripada kekisruhannya.

Mind partition

Saya bukan ahli IT tapi bolehlah saya katakan bahwa men-set pikiran kita hampir sama dengan upaya mempartisi memori komputer. Yang ini di bagian sini, yang itu di drive A, yang ini di drive B, dll. Selain membuat lebih rapi ternyata juga bermanfaat untuk menyelamatkan memori dari penghapusan total seumpama terjadi apa-apa dengan salah satu bagian memori tersebut.

Mind regulation

Pikiran kita tak jauh dengan perasaan maka kadang pikiran kita dipengaruhi oleh perasaan atau perasaan kita terlalu dikomando oleh pikiran padahal segala sesuatu yang berat sebelah tidak akan membuat kosmos seimbang. Maka kekuatan keduanya mesti diatur dengan regulasi yang mereka buat sendiri. Kawang perlu juga menganggap pikiran dan perasaan sebagai “orang luar” supaya kita tidak merasakan kejumbuhan dikala harus menyeimbangkan keduanya. Jadikan jiwa sebagai moderator dalam perdebatan antara pikiran dan perasaan sehingga tak ada menang tak ada kalah, yang ada hanya kolaborasi.

Mind enrichment

Haus ilmu adalah sifat dasar manusia karena memiliki akal budi. Mind kita tumbuh berkembanga karena proses pengayaan yang kita lakukan sepanjang hayat. Memori yang berarti maupun yang tak berarti bercampur menjadi adonan yang jika pas pengolahannya akan menjadi hidangan semesta yang manfaatnya ibarat zakat bagi si miskin. Proses belajar ini tentunya tak lepas dari peran indera sebagai pintu gerbang rangsangan berupa “ilmu”. Ingat Sudaraku, segala rangsangan luar mesti kita fungsikan sebagai ilmu sehingga seburuk apapun rangsangan itu, kita tidak terpengaruh buruk.

Mind beautifying

Pernahkah Anda merasa bahwa mind Anda ini cantik? Seberapa canti pikiran Anda? Selalulah ingatkan diri bahwa mind ini bisa juga berlaku seperti bunga atau wanita yang keindahan dan kecantikannya tiada tara, tak peduli dari segi apa Anda meniliknya. Pikiran indah ibarat lukisan berwarna pelangi. Warna-warni bertebaran seakan tak beraturan namun membentuk citra-citra yang menyejukkan pandangan. Siapa orang yang tak ingin pikirannya sebentuk lukisan pemandangan alam yang bersih dari asap, limbah sampah dan segala keburaman. Hanya penyeimbangan yang dapat membuat pelangi kita menjelma pendaran gambaran indah alam raya.

Sebenarnya mind set, mind partition, mind regulation, mind enrichment dan mind beautifying adalah kesatuan fungsi yang coba saya mengerti dengan menjadikannya beberapa bagian. Sebuah MIND membuat saya cukup kerepotan karena tak cukup kiranya buat saya menempatkannya sebagai sekedar serangkaian gir-gir yang berputar dan selalu membutuhkan minyak pelumas. MIND saya jauh lebih kompleks sekaligus indah sehingga saya tak mau memperlakukannya seperti mesin yang cuma butuh tetesan pelumas apalagi oli bekas. No way!

Saya berusaha untuk memahami pikiran saya dan menuliskan apa yang saya pahami dalam tulisan ini. Tulisan ini saya buat secepat mung
kin karena takut ide saya segera menguap dan menunggu bentukan lainnya dalam waktu lama. Dalam waktu 10 menit saya berkejaran dengan papan kunci, salip-menyalip dengan kekeritingan pita otak dan keriutan perut lapar. Jika kurang, tambahkanlah. Jika berlebihan, seimbangkanlah. Jika tak benar sama sekali, koreksilah untuk diri Anda sendiri.

Semoga bermanfaat. Saya mau sahur dulu, Sudaraku.

September 12, 2008

3:44am