Manusia – poem (bilingual)

Pilihlah jalan
Yang termudah
Untuk jadi manusia:
Rasakan….
Indahnya tarikan nafas dan hirupan udara.

Rasakan….
Kicauan burung lewat kupingmu.
Rasakan….
Pijakan pada bumi di setiap langkah
Perlahan.

Jika mata masih berguna,
Rasakan warna dengan matamu —
Yang muda cerlang
Atau yang tua merabun.
Rasakan saja.

Dan, kala rasa nyeri masih melingkar di hati
Demi melihat makhluk-makhluk terlunta-lunta
Tersiksa oleh yang berkuasa;
Rasakan dan lepaskan derita itu,
Bungkus dengan cinta dan pengampunan.
Dan, engkau manusia….

Mudah jadi manusia,
Kan?
Mencintai.
Welas asih.

===========================================

Human

Choose a path:
The easiest way
To become a human.
Feel it….
The beauty of breath with every inhaled air.

Feel it….
The chirps of birds through your ears.
Feel it….
The steps you hit on earth
Slowly.

If the eyes are still open,
Feel the colours with your eyes
Either young bright eyes
Or far/near-sighted ones;
Just feel.

And, if the pain is still there in the heart
To see the underprivileged creatures
Tortured by the privileged rankers;
Feel the pain and release it,
Wrapped in love and forgiveness.
And, you are human….

Easy ways
To be human, huh?
Love.
Compassion.

IMG_2584

My human kind friends…. (Karel, Riduan, Sapto, Eko, Dinah) – Bravo, buddies!

Temasek – March 5, 2015 – 10:58pm

Collecting

I’ve been collecting things in my life — not so much thinking about their functionalities, just as hobbies. It’s like never ending craving for new types of the collected items. Fun, fun, fun!

When I was elementary schooler, I collected stamps – at least five albums & some un-albumed packs of foreign stamps before finally I gave up. Where are those albums now? No idea where they are, probably my cousins took care of them. I was fond of nail polish, bead necklaces and hair bands…. Yeah, so glad remembering that — I was feminine, yes I was….

Another I remember is pencil collection, it was when I was 15. Any types of pencil were nested in a big fancied cartons and cans – 200+++ until finally I gave up…. Where did they end their “life”? Cant remember, I thought I gave them away to anybody wanted to take them.

IMG_3213IMG_3305IMG_0070

Longer list…. Turtle & tortoises figurines, batik sheets, overseas coins, natural stones, gemstones, crystals, orchids, refrigerator magnetics, socks, silver and other metals…. And, many more collecting thingy.

What are those all things for? Just to feed desire of having this and that, wanting this and that, the word need was forgotten and/or ignored. Did I need the used stamps? Economic value was never a concern; I’ve never considered myself a sales-person type. Did my two hands operated hundreds of pencils? Who takes care of those collections — I leave them in my house in Indonesia…. So sad. Just these very recent months I decided to stop collecting. My attention and action shall be more meaningful to more people rather than just making me contented or proud of having bunch of things.

Supporting animal rescuers (cats and dogs), and communities helping underprivileged people (health and education) are the best choices now. Not because of having so much money to donate, but it is more about how to allocate the capitals wisely. No rates of return expected except that I want to be less guilty of enjoying this blessing selfishly.

IMG_2233

Thanks Universe, for waking me up, for opening my very eyes wide, for presenting the needy before me…. Now, the challenge is to work constantly hard and smart to be able to share more without feeling “being more”. My time to breeze…..!

 

Sweet disclaimer: probably the consistent collection is books ‘coz reading is like eating, without it I’ll die… Hope reading will be everlasting hobby of mine. Reading with eyes, reading with mind, reading with soul.

books

Picture borrowed from http://liquid-state.com/2014/04/25/people-buy-books-love-books-isnt-obvious/

Singapore – October 19, 2014 – 9:36pm

Moon (Rembulan) – bilingual

It is a full moon two days from now. I am waiting for it. She might appear full, hiding her pocky face to make me happy…. She-Night, will you shower me with your bright blessing full of messages from the gods and goddesses? Or, would you tap my transparent bubbles bursting out all secrets of Universe? Shalom….

 

Dua hari lagi bulan purnama yang kunanti-nanti. Rembulan mungkin muncul bulat-bulat, menyembunyikan wajah bopengnya untuk membahagiakanku…. Dewi Malam, akankah kau menyiramiku dengan pendaran berkah penuh berita dari dewa-dewi? Atau, akankah kau letuskan gelembung-gelembung bening yang menyemburkan segala rahsia Semesta? Salam….

 

_DSC0539

 

Yio Chu Kang Rd – Oct’ 7, 2014 – 12:25am

You, Me, Shadow?

opening the door,

will I see you?

or, is it only your shadow? pretending to be you….

did I live with you? or with your shadow?

is it now that you are real or shadow?

 

tears flow, flowing along the path pushing through the door at the end.

what end? is there an end?

or a start? what should be started?

 

are you there?

welcoming me or welcoming my shadow?

am I real me or just my shadow?

 

just the two of us….

staring at each other – shadow to shadow?

 

I just hope you are the one behind the door….

 

Hilton KL – April 30, 2014 – 12:49am

Image

Mr. Gray

He used to be the biggest enemy of Bob in Bob’s earlier stay in my mom’s house. He was very skinny then, always trying to peep what Bob was having for meal. Bob would stay inside, not wanting to go out welcome by his evil stare.

Mr. Gray is a tomcat which is now occupying my mom’s terrace – one corner where a curling water hose is put.

Image

I am Mr. Gray….

He is there every single day, sleeping and curling, yawning and waiting for meal after Bob has finished the food on the plate. He is not so much evil to Bob anymore because he knows he will never replace Bob’s position in our heart. But he is trying to behave nicer by staying away from Bob – except at night when Bob is outside we sometimes hear they still quarrel over female cats…. Let it be, they are real cats.

Mr. Gray has become new member in our family. We won’t let him in though. We just spare a corner outside that we think still comfortable for him to nap. We give him meal every time Bob finishes with the breakfast, brunch, lunch, dinner or supper.

Mr. Gray would shout at us if we forget to feed him…. So sweet….

We know it is additional energy needed to share but it is good to share, even only with a cat.

Seeing that Mr. Gray behaves less evil to Bob, we are relieved. That Mr. Gray is fatter, we are thankful. That Mr. Gray lives a bit happily, we are also happy.

Thanks, Mr. Gray…. For being a good fellow creature enjoying the blessing under the sky…. We know you always pray for our good so that you can get good things from us.

We love you, Mr. Gray…. Go ahead napping….

Yio Chu Kang Rd, February 15, 2014 – 6:16pm

Image

Mr. Gray is meowing: “Food, food…. I am hungry…”

AKU YANG EGOIS DAN BOB KUCINGKU YANG DIBERKATI

AKU YANG EGOIS DAN BOB KUCINGKU YANG DIBERKATI

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis dalam bahasa Inggris tentang seekor kucing bernama Bob yang telah menjadi teman setia saya. Saya menganggap diri saya setia padanya karena telah membuat kucing itu jarang kekurangan makanan dibanding kucing kampong lain yang suka sekali berjejer di luar pintu depan menunggu saya membagi sisa makanan Bob atau makanan baru yang rela saya berikan.

Bob setia.

Saya tak ragu dengan kesetiaan Bob menunggu saya pulang, menemani saya bikin report hingga malam sambil dia klekaran (berbaring santai, Bahasa Jawa) di depan pintu kamar atau tepat di telapak kaki saya. Bob yang telah siap duduk di atas pagar tembok ketika saya diantar pulang oleh Pak Usup atau Pak Usen atau Pak Udin atau Pak Iis. Dengan kaki-kakinya yang jinjit Bob akan mengejarku lincah sambil mengeong manja.

“Aku sudah menunggumu. Aku lapar.”

Oh, Bob lapar maka itu dia menantiku dengan setia karena dia tahu aku yang memberinya makan dan minum walau kadang membuatnya bosan dan hanya bisa menikmatinya sedikit lalu minta dibukakakn pintu atau tidur sambil memperhatikan saya.

Seringkali saya merasa Bob telah mendapatkan yang terbaik dari saya. Makanan yang cukup sehat dan menyehatkannya, tempat tidur yang nyaman (bantal saya), badan yang selalu dibersihkan dari debu dan kutu-kutu, elusan lembut dan obrolan ringan (orang gila) atau kadang dituruti apapun maunya. Tahu nggak sih kucing saya ini biarpun jam 1:00 pagi kalau pengen pulang yang pulang saja – saya tidur di kamar belakang maka dia memanggil-manggil saya dari atas trails dapur.

Menurut ilmu perkucingan, saya merasa telah memberikan yang terbaik.

Makanan sehat, tempat tinggal yang cukup bersih, kasih sayang yang memadai, waktu bermain yang tak terikat, dll

Tapi…

… baru-baru ini saya merasa bahwa saya sesungguhnya belum atau malah tidak pernah memberikan yang terbaik pada Bob. Apa yang saya lakukan hanya sekedar best practice yang menurut manusia adalah perlakuan terbaik pada kucing. Manusia telah merasa optimal ngopeni ingon-ingone (merawat hewan piaraannya, Bahasa Jawa).

Ketika Bob mengeong-ngeong minta keluar, biasanya saya akan menunggunya setengah jam.

1. Jika dia mengeong terus hingga lebih dari 30 menit maka saya akn mengeluarkannya karena dia memang serius pengen sesuatu: kawin atau eek.

2. Jika dia tak pulang maka akan saya cari dia hingga keliling RT (serius ini) dan lalu menggiringnya pulang dan tidak melepasnya kecuali yang terjadi adalah nomer 1 di atas.

3. Jika badan dia kotor maka saya akan segera menyediakan air hangat dan shampoo kemudian mengelapnya dengan kain handuk kecil hingga bulunya tampak tidak dekil.

4. Jika kutu-kutu terlihat gembira di sela-sela rambutnya, saya akan memeluk Bob lalu memunguti kutu-kutu dan telur-telur kutu yang suka mendekam di sela telinga lalu membasminya dengan kuku jempol tangan.

5. Jika dia diam sambil memperhatikan saya, kuciumi hidungnya sampai dia merem-merem.

6. Jika Bob begini maka aku begitukan.

7. Jika Bob begitu maka aku beginikan.

Ilmu saya sebagai seorang biyung (ibu, Bahasa Jawa) bagi Bob saya anggap paripurna dan tidak akan saya dengarkan orang-orang diluar sana yang memberikan pitutur (nasehat, Bahasa Jawa) yang niscaya akan membuat Bob lebih sehat sebagai seekor kucing bukan sebagai seekor hewan piaraan.

Saya tidak menyadari bahwa bisa saja Bob mati karena saya perlakukan terlalu istimewa sesuai buku-buku perkucingan yang saya baca atau nasehat-nasehat dokter hewan yang selama ini kupercaya. Oh, alangkah malangnya Bob kucingku ini.

Saya manyun lama, duduk di depan jendela yang menghadap Simpang Lima sambil membayangkan Bob yang gembira karena saya tinggal pergi. Dia bersuka ria karena bisa tidur di alam bebas walau harus berkalang debu. Bisa jadi dia juga jalan-jalan malam mencari pacar dengna leluasa tanpa harus membangunkan mommy Rike untuk dibukakan pintu depan. Dia juga dengan riang-ria mengejar tikus-tikus usil yang membuatnya gemas sekaligus penasaran. Bob oh Bob… Mungkin kau punya hal lain yang menggembirakan…

Saya berpikir, apakah aku masih mampu menjadi sangat posesif terhadap Bob sedangkan aku seharusnya tidak terlalu yakin bahwa ilmu perkucingan yang kuyakini benar itu bisa saja masih bisa dikritisi…

Bob, besok aku sampai rumah jam 9:00 malam… Kalau bisa kau tunggu aku di rumah ya atau di atas pagar tembok. Biar aku bisa memandang matamu yang selalu menggemaskan itu, biar aku tahu apa sebenarnya maumu… Mau jadi kucing liar saja atau jadi kucing rumah yang kalem atau fifty-fifty kayak sekarang? Terberkatilah kau Bob karena telah menjadi bulan-bulanku selama hampir tiga tahun ini. I love you so much… Let’s realize that our bond is unbreakable…

(lihatlah saya masih ngeyel mencintainya)

Semarang – R1222 – 12:18 pagi – kangen Bob