April 23, 2011
rike jokanan

8 comments

KEMELEKATAN

KEMELEKATAN

(obrolan ringan tentang Bob kucing)

Beberapa orang merasa bahwa cintanya pada dunia tidak sebesar cintanya pada Tuhan. Mereka mengklaim diri bahwa mereka mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Saya meragukan diri saya dalam hal tersebut karena nyatanya memang tidak demikian yang saya alami.

Saya masih belum menikah tapi saya punya kemelekatan yang tak kalah lekat dibanding dengan kemelekatan antara dua pasangan atau anak dan ibunya atau anak dan bapaknya. Saya sangat lekat dengan kucing saya yang saya namai Bob. Kata kuncinya adalah sangat. Sangat adalah kata keterangan yang membuat kata sifat yang mengikutinya berlipat. Kemelekatan saya pada kucing saya berlipat beberapa kali dibanding dengan kemelekatan kepada kucing lain atau hal lain, tentunya kecuali orang-orang yang memang mendapatkan tempat istimewa yang sama dengan si Bob Kucing ini.

Saya tidak menyesal memiliki Bob. Tetapi kata kunci memiliki itulah yang membuat saya agak merasa bersalah. Seharusnya saya tidak pernah mendeklarasikan diri bahwa saya adalah pemilik kucing yang buat saya bagai guardian angel ini. Dengan memiliki Bob saya terbukti tidak siap meninggalkan dia atau ditinggalkan dia. Tiap saya akan dinas ke luar kota, saya selalu berharap saya tidak perlu menginap sehingga tidak perlu meninggalkan dia sendiri atau jikalau sore hingga petang sahabat saya Nining dengan telaten dan sabar menemani piaraan saya itu maka malamnya si meong mesti bobo di luar rumah dan menurut saya itu kurang menyenangkan.

Bob Kucing ini kucing lokal sehingga ada sementara orang yang menganggap saya berlebihan. Sebagian orang Indonesia menganggap bahwa hanya kucing ras-lah yang mesti disayangi dengan cara special seperti: membelikan makanan khusus feline (kucing) dan vitamin segala ubarampen (perlengkapan) kucing, mengobatkannya seperti manusia jika sakit, membiarkannya menikmati rumah seperti anak-anak atau ponakan-ponakan mengharu-biru rumah, menjaganya selayaknya menjaga diri kita… Tidak mengapa karena pendapat boleh berbeda.

Saya tidak sedikitpun merisaukan diri saya kecuali satu: bahwa saya dan Bob mulai saling terikat. Akhir-akhir ini dia sangat dekat dengan saya baik secara fisik maupun batin. Kalau saya di rumah dia ngikut kemana pun saya bergerak bahkan kalau saya mandi dia nggeluntung (berbaring telungkup, Bahasa Jawa) di keset depan kamar mandi. Kalau saya sedang bekerja malam, dia nongkrong diatas tumpukan kertas atau kalau sedang kesal dia nangkring diatas laptop saya, kadang dia menggoda melompat ke atas TV dan menjatuhkan antene sambil mengeong manja. Kalau saya tidur dia biasanya akan melompat keatas selimut tebal saya: dia tidak pernah mau masuk ke bawah selimut dalam waktu lama karena mungkin merasa panas. Dan, masih banyak lagi kegiatan dia yang menunjukkan keakraban dan kenyamanan kami bersama.

Ada satu lagi: dia mulai bisa merasa tidak suka kalau saya tugas keluar kota dan menginap. Sehari sebelum saya berangkat dia sudah ngroweng (rewel, Bahasa Jawa), nempel-nempel ke kaki atau badan saya, meang-meong kesana-kemari, pura-pura sesak napas dan yang biasanya Cuma mau digendong dalam hitungan 3 – 5 detik jadi bertahan sampai satu menit dan sambil mendekur-dekur pula.

Kemelekatan pada kucing saya sungguh kadang membuat saya bertanya-tanya: pantas saja ada ibu yang akhirnya malas bekerja meninggalkan rumah lha wong ada yang nggondheli di rumah dan mengurus anak tentunya menyebabkan stress yang lebih rendah daripada harus berinteraksi dengan macetnya jalanan dan kompetisi dalam karir (bisa saja saya salah tapi paling tidak inilah kesimpulan saya melihat para ibu yang kadang nggak masuk kerja karena “nggak tega ninggal anak”).

Kemelekatan ini harus saya atasi karena kalau tidak membuat saya tidak produktif dan cenderung menuruti kemalasan. Tentunya Bob Kucing tahu bahwa dia disayang sehingga dia punya strategi untuk “tidak ditinggalkan” atau “tidak diabaikan” karena pa
sti kalau saya pergi orang lainlah yang mengurus dia yang notabene tidak se-rempong saya. Saya selalu memastikan bahwa air minum dia baru dan dari gallon atau direbus dulu (kadang dioplos dengan air hangat), vitamin juga selalu saya takar, makanan saya pastikan dihabiskan sesuai porsi, kaki-kaki saya lap dan dubur & alat vital saya lap, telinga dan gigi saya periksa, hidung saya bersihkan, cek bulu dan ekor dari kutu dan serangga, sering kali juga saya ajak ngobrol sekaligus saya ciumin hidungnya dan adu dahi ha ha ha…

Kemelekatan itu tidak boleh terjadi walau saya sangat menyayangi makhluk yang oleh tetangga sebelah saya dibiling “Halah, cuma kucing aja segitunya”. Bodo ammmmaaaat, kata saya tak kalah bangga ha ha ha…

Begitulah kemelekatan itu begitu besar sehingga pernah saya memimpikan Bob Kucing mati dan paginya saya menangis dan menggendong-gendong dia dan saya ciumi.

“Kamu jangan mati dulu ya, Bob… Paling tidak kau hidup 12 tahun bersamaku; tapi kau boleh mati sebelum aku, biar kau tetap ada yang mengurus…”

Kucingku tadi malam menemaniku mencuci. Dia meringkuk di atas keset kamar mandi sambil mengikuti gerakan saya mencuci. Sesekali dia meang-meong tiap saya panggil namanya. Pagi ini dia memanggil saya, minta keluar. Untungnya saya jug sedang ada acara keluar rumah, jadi kami berangkat bersama.

“Nanti malam pulang jam 7 ya, Bob…”

“Meooooong….” Entah apa artinya, yang pasti rasa sayang kami ada dan saya belajar membuang kemelekatan.

Lia Taruna – Tangerang – 4:12 sore

8 thoughts on “KEMELEKATAN

  1. wow! akhirnya aku dikenalin juga sama si bob hehe.. salam buat bob ya.. 🙂 berharap suatu saat kita bisa ketemu:)

    Like

  2. rikejokanan said: Bob Kucing ini kucing lokal sehingga

    Dulu waktu keluarga saya masih lengkap kami juga peliharaannya kucing lokal. Tapi makanannya istimewa, saya beli wishkas sekaleng sehari untuk tiga kucing kami. Hasilnya bulunya lebat dan nggak mudah rontok, persis bulu kucing ras.

    Like

  3. rikejokanan said: Bob Kucing ini kucing lokal sehingga

    Yak ampun, Bob lagi, Bob lagi!

    Like

  4. rikejokanan said: Bob Kucing ini kucing lokal sehingga

    salam kenal mbaksuka kucing jugawah bisa share tentang perawatan kucing ya?suka sedih klo ada yg nakut-nakutin bahwa klo pelihara kucing bakal susah punya anaktapi kan mereka binatang lucukucingku juga kucing kampungaku nemu pas di masih baby n dibuang di belakang rumah :(cekidot yaw, if yu dont mind 😀 => http://sukmakutersenyum.multiply.com/tag/pustengkyuuu 🙂

    Like

  5. sukmakutersenyum said: suka sedih klo ada yg nakut-nakutin bahwa klo pelihara kucing bakal susah punya anaktapi kan mereka binatang lucu

    Mbak Rike, kenalkan dulu ya, ini namanya jeng Aprilia dari Surabaya sesama penggemar kucing kampung, tapi jelas nggak kampungan.Iya kucing dengan bulu dan virus yang dibawanya bisa mendatangkan penyakit sulit hamil yang disebut toxoplasmosis itu. Makanya anakku juga cuma bisa ngasih cucu seorang karena dia mengidap toxoplasmosis dari kucing kami yang dikeloninya seperti si Boy dengan mbak Rike. Anak saya pernah keguguran, pernah juga hamil di luar kandungan, hiks! Saya juga begitu selain ada yang meninggal waktu saya lahirkan, lebih hiks lagi kan?!

    Like

  6. jandra22 said: Mbak Rike, kenalkan dulu ya, ini namanya jeng Aprilia dari Surabaya sesama penggemar kucing kampung, tapi jelas nggak kampungan.Iya kucing dengan bulu dan virus yang dibawanya bisa mendatangkan penyakit sulit hamil yang disebut toxoplasmosis itu. Makanya anakku juga cuma bisa ngasih cucu seorang karena dia mengidap toxoplasmosis dari kucing kami yang dikeloninya seperti si Boy dengan mbak Rike. Anak saya pernah keguguran, pernah juga hamil di luar kandungan, hiks! Saya juga begitu selain ada yang meninggal waktu saya lahirkan, lebih hiks lagi kan?!

    wah berarti kudu periksa kesehtan dulu sebelum nikah ya bund…aku nggak pernah ngeloni sih tapi sering berinteraksi…

    Like

  7. sukmakutersenyum said: wah berarti kudu periksa kesehtan dulu sebelum nikah ya bund…aku nggak pernah ngeloni sih tapi sering berinteraksi…

    Ide yang tepat. Sebaiknya begitu, daripada nggak bisa punya momongan hayo?!Maaf ini bukan mau nakut-nakuti lho.

    Like

  8. sukmakutersenyum said: wah berarti kudu periksa kesehtan dulu sebelum nikah ya bund…aku nggak pernah ngeloni sih tapi sering berinteraksi…

    iya bund… thanks 🙂

    Like

Leave a Reply

Required fields are marked *.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: