Batik Gringsing

Time travels with you
To where good memories sit,
Waiting to rejoice.

———————————————————-

When I was a girl, I got sick very often. Yet what I remember the most isn’t the pain but is how my family would take care of me. Of course they medically treated me either at home or hospitalised, but there was a unique way I can never forget what my mother, father and siblings did extra.

My father would chant Javanese mantra that would calm me down. My mother would wrap me with a sheet of batik cloth before putting the next thicker blanket. And of course siblings especially sisters would sleep with me the whole night.

What Javanese mantra chanted by father? Oh can’t remember! What batik, I definitely remember it and now own it for the same need; covering myself with batik gringsing when sick.

1.2mx2.3m batik cloth with gringsing background pattern of flower bouquets

Gringsing is one of the oldest batik background patterns in Java. It is thousands of tiny square with a dot in the center symbolising “sedulur papat kalima pancer” (literally means 4 siblings and 1 core as the fifth) the cosmic balance of human reality in Javanese wisdom. And through the philosophy it is believed that when a Javanese human is sick, s/he is cosmically imbalanced and needs to be balanced. Physically s/he is medically treated, metaphysically s/he is cured with gringsing the balance symbol.

Gringsing is an acronym of gring or gering (sick, not well, ill) and sing (not); gringsing means not sick anymore. Oh! That simple! Made by hand! Oh! Not that simple!

What a blessed human being!

wrapping body when catching fever doesn’t replace paracetamol, it’s to recall the memory of how my family well treated me when I was sick 🥰
detail of gringsing: a tiny squarish scale with a dot in the center – sedulur 4 ka-5 pancer

Make Peace

Make peace, Beloved,
With the softest anger in.
Growing peaceful stars—

—————————————————-

🌱

Weekend, bring the peace intact.

Salaam 🙏🏼

batik truntum to cover my working chair; truntum is taken from a Javanese word “tumaruntum” meaning growing

Does Too Much Love Kill?

Too much love will kill
Who? None. Love will overflow,
Reviving the death.

——————————————————

Finally an agreement was achieved among some friends to start a project to support a few batik makers that we know and to spread knowledge about batik from unique perspectives. There will be video about batik, the batik artisan’s life and thin slices of Javanese wisdom. And so I have to restart the old hobby that has been dormant for how long only heaven knows.

Can’t wait to travel to dear home-base-will-be and produce slides and shows….

Hope it works well.

Friendship nurtures human beings in many ways possible.

good, the tripod still stands still 👍🏽

Dark, Fragrant Beauty

A bunch of roses,
Send this prayer as a gift
To those remembered
Through air, land, water, fire in
Dark, fragrant beauty. Amen.

I pray with flowers in a glass vase every week: reciting beautiful verses to those I’ve loved and remembered especially the ancestors, whispering unsaid love to those faraway, wishing they be happy everyday. Some people consider it ancient practice and not applicable or acceptable as modern but I feel more connected to my own self by doing it. So making it a habit

I love the dark mood of today’s flowers combined with my “sogan handmade batik”. It painted a shade of dark beauty with special fragrance and colour.

May all beings be happy.

HARI INI HARI BATIK

Tanggal 2 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Batik oleh pemerintah setelah UNESCO mengukuhkan batik kita sebagai kekayaan dunia dan seyogyanya kita menyokongnya dengan suka cita. Masih teringat bagaimana hingar-bingar pecinta batik kita berjuang dengan cara mereka sendiri ketika Malaysia mengklaim batik sebagai milik mereka.

Sekilas tentang batik
Batik adalah metode pembentukan motif pada media tertentu – awalnya hanya kain mori lalu berkembang hingga sekarang batik dapat diterapkan pada kulit, kayu, dll – dengan cara menutup bagian tertentu dengan lilin (malam) sebelum proses pewarnaan dilakukan. Awalnya batik memiliki motif tertentu yang dihubungkan dengan proses kontemplasi seniman batik pada jamannya yang biasanya menciptakan karyanya untuk kebutuhan kraton mengingat dulunya batik hanya bisa dijangkau oleh kaum ningrat. Maka terciptalah motif-motif batik seperti Wahyu Tumurun, Kawung, Klithik, Sido Mukti, Parang dengan berbagai variannya, Mega Mendung dll. Semua yang saya sebutkan adalah “batik pakem”
Di negeri kita ini hampir semua daerah utama memiliki batik dengan ciri khas tersendiri walaupun secara umum batik dibagi 2 kelompok besar: batik pesisiran (daerah pinggir laut) dan batik Jogja-Solo (pedalaman). Dua kelompok besar ini membuat khazanah batik Indonesia menjadi kaya luar biasa. Batik pesisiran biasanya menggunakan warna-warna terang dan aplikasi motif yang lebih ringan dan ceria serta menggambarkan objek secara gamblang dan nyata sedangkan batik pedalaman lebih didominasi oleh lebih banyak warna gelap yang lazim disebut sogan (coklat, hitam, kelabu) dan penggambaran objeknya lebih abstrak dan penuh simbol.

Batik Cirebonan adalah contoh batik pesisiran yang paling memasyarakat saat ini. Dengan warna yang gonjrengnya batik Cirebonan mampu menyelinap ke dalam hati para penggemar instan karena memungkinkan mereka untuk bergaya dengan batik secara lebih mudah. Ciri khas batik Cirebonan juga terletak pada objeknya: tanaman, burung-burung, langit berarak, matahari, dll dan satu lagi yaitu “tumpal”. Tumpal adalah aplikasi motif penyelaras di ujung kanan atau kiri kain yang biasanya diletakkan di depan ketika batik dipakai sebagai sarung.

Batik pedalaman atau Jogja-Solo lebih banyak bermain dengan simbol dan pemaparan ide secara abstrak dan mengedepankan kesan sakral dalam setiap motif pakemnya. Misalnya “jarik” Sido Mukti adalah ekspresi doa kebahagiaan, kemakmuran dan kelanggengan desainernya sehingga dipakailah batik ini sebagai salah satu pakaian pengantin. Sebaliknya batik bermotif Parang tidak direkomendasikan dikenakan dalam prosesi itu.

Proses dalam membatik
– memilih media
– memilih motif
– menggambar motif (mola)
– membatik (menutup bagian dengan lilin sesuai pola)
– mewarnai (nyelup)
– membuang lilin (nglorot) dengan cara merebus kain yang telah dicelup
– mengeringkan
– membersihkan batik dari sisa-sisa lilin yang menempel

Tidak terlalu sulit bukan? Tidak ada salahnya jika kita mau mencoba. Kalau ada waktu, silakan kunjungi Musium Tekstil di Jl. Karel Sasuit Tubun, Jakarta yang mengadakan kursus batik secara reguler. Anda akan bertemu dengan para seniman dan instruktur yang dengan suka rela berbagi ilmu, pengalaman dan kecintaan budaya.

Banyak istilah dalam dunia perbatikan yang mungkin tidak terlalu dikenal secara luas misalnya isen, semen, nitik, nyolet, dll. Namun itu bukan hal yang urgent bagi kita untuk mengetahuinya. Untuk saat ini mari kita mencintai dulu batik kita dengan cara memakainya baik setiap hari maupun pada acara-acara tertentu saja.

Kiranya tulisanku di Hari Batik ini cukuplah untuk memberikan penghargaan pada batik dan pelestarinya serta membagi sedikit pengetahuan bermanfaat.

Selamat Hari Batik
Mari pakai batik paling tidak sekali seumur hidup 🙂

Otw Blok M di Ekspres MC2636 – 7:45 pagi

MEMBATIK LAGI

MEMBATIK LAGI

Sudah setahun lebih saya tidak memegang canting. Selama itu saya berkutat dengan kesibukan yang tidak bisa saya ungkapkan secara terperinci. Yang pasti selama kurun waktu itu saya membiarkan kompor kecil saya kering sumbunya, wajan tembaga saya penuh dengan malam beku dan canting saya buntu sama sekali.

Saya ingin membatik lagi. Dulu saya membatik bisa sampai pagi. Saya tidak peduli walaupun saya harus membatik di teras luar supaya asap tidak mengganggu pernafasan di dalam ruangan. Saya tidak peduli bahwa malam itu bisa saja maling celana sedang gentayangan,. Saya tidak peduli pada makhluk-makhluk lain yang sejatinya sedang menggoda saya dengan rupa yang berbeda-beda, dari tikus, cicak, kecoa, laba-laba, semut merah dan yang berpakaian compang-camping atau berpakaian kerajaan menembus dinding… Apa itu ya…

Karya batik saya sudah ada beberapa lemabr baik yang telah sempurna proses pembuatannya maupun yang belum diwarnai atau belum dicanting sebagian atau baru dipola. Semua itu membuat saya terpacu untuk menyelesaikan tugas saya. Tugas saya adalah menyempurnakan karya saya. Saya tidak mau karya saya terbengkalai sebelum purna usia. Apapun tugas dan karya saya yang belum tuntas saya anggap hutang. Dan hutang saya harus terbayar sebelum saya meninggal. Batik saya harus jadi dalam waktu dekat.

Satu batik yang akan segera saya kerjakan adalah sebuah selendang sutera yang ingin saya persembahkan pada ibu saya Lebaran ini. Cantik sekali polanya. Saya membayangkan alangkah cantiknya ibu saya mengenakan selendang sutera pada saat shola Id.

Ok, yang penting sekarang saya telah memiliki waktu lagi untuk membatik. Membatik seperti tidka jauh berbeda dengan kegemaran saya menggambar dan melukis namun jujur adanya membatik membutuhkan kesabaran ekstra. Saya tak heran jika setahun ini saya merasa kesabaran saya tidak sebagus ketika saya aktif membatik.

Ternyata kesabaran bukanlah sebuah kata benda yang dapat kita peroleh begitu saja. Kesabaran adalah buha latihan bersabar dalam kehidupan sehari-hari.

Duh, saya ingin membatik lagi…