LEBARANKU YANG SESEDERHANA IBADAHKU

LEBARANKU YANG SESEDERHANA IBADAHKU

Mau tak mau…

Lebaran datang juga, walau tak diinginkan akhirnya Ramadhan berlalu juga hingga saat ini tak pernah saya sedatar ini memaknai Idul Fitri. Setelah sekian tahun terasa baru-baru ini bahwa getaran ini juga dirasakan oleh manusia lain saat memperingati hari besar mereka.

Bermaaf-maafan bukan sebuah kemutlakan di hari Lebaran karena memaafkan adalah aktvitas yang bisa dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja kepada siapa saja termasuk memaafkan diri sendiri. Dan, memaafkan diri adalah sebuah perjuangan terbesar.

Maka marilah kita maknai Hari Raya Suci ini dengan positive thinking dan tentunya positive action; bukan hanya dengan semangat eksklusif agama. Bagaimanapun slogan Rasul “rahmatan lil alamin” perlu pembuktian karena hingga sekarang dia masih sekedar RUH TANPA TUBUH.

Mohon lahir dan bathin

Rike – Tulungagung – 9 September 2010 – 12:52 siang

duhai Tuhan… aku lelah main petak umpet dengan-Mu. jikalau ada, sajikan saja Al-Maidah padaku jikalau tidak, timbun saja aku dengan Al-Ahqaf sudah berkali kubuka Al-Fatihah tapi tak juga kutemui para Al-Ikhlas yang ada hanya Al-An’am… lama-lama kuabaikan saja An-Naba ini kuberpaling saja menuju Al-Hujurat di bukit Al-A’raf biar kupuas tidur dalam pelukan Al-Lail ditemani sekelompok An-Nahl yang berdengung hingga Al Fajr tiba. *gundah dan nyeri punggung selama sebulan*

HOW MUCH WE ARE ENGAGED

HOW MUCH WE ARE ENGAGED

How much are we engaged?

It is as locked as my breath and air.

How much are we engaged?

It is as closed as fish’ breath and water.

How much are we engaged?

It is as probable as root and nitrogen.

How much are we engaged?

It is as famous as freezing and ice.

How much are we engaged?

It is as united as heat and fire.

How much are we engaged?

It is as dangerous as chemical with elements.

Bintang Mulya, Jember – 4:21 adzan Subuh berkumandang

MAKIN KEATAS MAKIN HANGAT

MAKIN KEATAS MAKIN HANGAT

Perjalanan saya dua hari ini bisa saya simpulkan dengan judul diatas. Makin ke atas, makin hangat.

Keramahan adalah bagian dari budaya yang (entah dulu saja atau sekarang juga) menjadi bagian dari kepribadian masyarakat Jawa. Dulu waktu masih tingla di desa saya hobi banget mengatakan kata “Monggo…” lepada orang-orang yang saya lewati dalam perjalanan jkra kecepatan saya tidak melebihi 60km/jam. Bahkan ketika kecepatan 60km/jam pun saya masih berteriak “Monggo…” kepada sesama pengguna jalan atau kepada mereka yang sedang menikmati duduk manisnya. Dasar bengal!

Namur sekarang saya pribadi telah lupa bahwa keramahan adalah hadiah bagi pribadi yang hangat baik pelaku maupun objek pelakunya. Sedangkan sekarang saya sudah tak punya lagi namanya kehangatan pribadi digerus oleh keangkuhan yang saya bangun semenjak saya mengenal “Time is Money”. Uang telah membuat saya berkejaran dengan waktu dan mengabaikan sisi kiri kanan yang saya lalui sepanjang perjalanan. Saya seperti kelinci yang sedang ngibrit takut diburu kura-kura yang dengan segenap energi kesabaran dan keikhlasannya berjalan lambat. Kelinci mengejar garis finish dengan keyakinan penuh bahwa dia akan mengalahkan si kura-kura. Sedangkan kura-kura bersungguh-sungguh berjalan dengan keyakinan dia akan mencapai garis finish tanpa pretensi hanya mau membuktikan bahwa yang menjadi bahan tertawaan bukan saja sesuatu yang lucu melainkan sesuatu yang serius.

Kembali kepada keramahan: kemarin saya traveling dari Djogja perbukitan Menoreh tempat kelahiran embah-buyut-canggah-wareng-udhegudheg-gantungsiwur-gedebogbosok saya yang telah lama tak saya sambangi. Dari hotel saya pakai taxi karena ternyata Terminal Umbulharjo sudah deactivated (kayak fesbuk aja…) dan sekarang siganti Terminal ngGiwangan. Sari ngGiwangan saya naik yang jurusan Kenteng. Disana saya dijemput sepupu saya.

Dalam bus jurusan Kenteng itulah saya merasa kok semakin bus saya merayap memanjati dataran tinggi kok penumpangnya semakin ramah ya? Ada seorang ibu yang serta-merta menebak bahwa saya bukan orang Jogja melainkan “wong dolan” (traveller) padahal sebisa mungkin saya menerapkan kosakata-tatabahasa-dialek Djogdja yang diwarisi oleh bapak saya.

Ada lagi seorang anak kecil yang dengang percaya diri duduk dan sendhen (bersandar) di pundak saya yang pasti tidak akan terjadi di Jakarta tanpa ibunya turut cambur melindungi anaknya dari kejahatan orang asing.

Ada lagi seorang ibu yang menjelaskan dengan gamblang tanpa saya tanya bahwa kalau saya disuruh mbayar Rp. 6000 berarti memang benar nanti saya akan diturunkan ke Kenteng nDekso bukan Kenteng yang masih lingkup Djogdja dalam.

Dan terbukti naik sedikit si daerah Samigaluh sepupu saya benar-benar jadi amat sangat ramah (usuran saya). Me-monggo-i hampir setiap orang yang berpapasan dengan kami, menyenyumi ibu-ibu dan bapak-bapak tua yang melambaikan caping atau tangan. Waktu saya tanya “Emang kenal?”, dia bilang “Ya ora ning kan apik yen gelem cluluk”.

Saya terkesima.

Tapi pagi (1 Agustus 2010) saya ke pasar. Dan makin tambah merasa jadi selebriti karena ada satu blok yang pedagangnya langsung mengenali siapa saya. “Panjenengan punapa putranipun Lik Jokanan ta, Mas”, spontan saya bilang “Lho kok panjenengan pirsa?”, dan sebagian besar jawabannya adalah “Lha wong persis jebles bapakne…”

Olala… Kalau di Yakarta mungkin nggak berlaku. Mungkin para pedagang itu hanya akan membatin “Kayak si Jokanan sih? Anaknya kali ya?”

Itulah. Keramahan. Prasangka baik. Persaudaraan yang tanpa pamrih apapun itu pamrihnya. Saya berharap saya masih punya itu. Amin…

Djogdja, August 1, 2010 – 10:30pm

MY MURMURING ABOUT A FEAR

I will die and it is a must. I have been thinking about being dead since I realized that my physical is deteriorating through years of life span. Hair loss, wrinkle skin, muscle weakening, hollow bones, weary face, tired organs, etc have reminded me to get set and go… to where I belong. I’ll rest in peace as well as rest in piece.

This soul should be ready to stay in equilibrium state after so many years being imprisoned in a body, rendering every single deed challenged by nature, craving for compatible format of relation and relationship – and all of those have made soul go mad, restless and stirred.

To my understanding being dead is loosening mundane knots to the 5 senses and releasing soul to its nature. It is believed that the nature of soul is peaceful and divine. Some say when someone dies, one returns to God or goes to heaven – a place they don’t really identify where and which but they always say “later” for the when. I believe that heaven is gained only by the ones having experienced it through their physical cycles. If ones can’t feel heaven here, there they will be in un-peaceful realm: hell that people may call. So, where soul belongs is to what condition soul has built towards the body and mind. Is my soul conscious enough to stay peaceful and heavenly looking forward to a heaven with the divine? Btw, when does someone go to Heaven? Later? No! people can go to Heaven now! That’s why some people die because there’s a call from Heaven… My faith J

In the other hand, being in piece is somehow realizing that the body is buried, gets rotten, is decomposed into dust… into pieces. Fear of not able to breathe, eaten by worm, lay in bed of earth all alone with creepy crawly things and surrounded by the dead’s has haunted me. Or, should I find unconventional ways like drowning in the waters, lost in sky to die safe? Perhaps.

In fact, the reality that death is frightening is growing wild in me. It does me immensely: manipulating my belief on that physical is left to soil when I die. My fear cajoles me that death is a gate to a new authority with different rules of game separated from earth. This needs clarification from nowhere but from inside because someone has to go back to where she starts questioning to find the answer.

I am a living being that is occupying a small space until another line limit the space. What is behind the line? I am waiting what the curtain will reveal.

Death, live it up. Life, die in peace…

Salaam,

Rike

11:34am – gapura istana nelayan – n77 transferred to dell in grand Quality, Djogdja in July 2010

OCEHANKU TENTANG KLAKSON

OCEHANKU TENTANG KLAKSON

Ini hari kedua di Jogja. Bukan untuk klenceran karena banyak uang melainkan untuk tugas justru nyari uang supaya bisa mbayar segala keperluan hidup. Ingat: keperluan bukan keinginan. Jadi ya seneng-senengnya ya dalam rangka menambah pengalaman bukan menambah pengeluaran. Pengeluaran kator tetep ada tetapi itu hitungannya berbeda.

Tetapi bukan itu yang ingin saya utarakan sekarang. Saya punya cerita sederhana yang mengingatkan saya betapa dulu saya pernah menjadi seseorang yang “bersih hati” tanpa pikiran buruk seburuk apapun perlakuan orang lain kepada saya. Itu artinya saya telah berubah menjadi manusia yang bersegera menangkap intensi buruk orang bahkan ketika orang tersebut tidak bermaksud buruk.

Hari pertama perjalanan ke kebun jagung kami disupiri oleh seorang management staff perusahaan client kami. Beliau bukan petinggi tetapi juga bukan perendah (ini kata yang saya pilih sendiri supaya agak nyambung secara gramatikal (eror) dengan kata petinggi he he he…). Beliau pernah tinggal di sebuah pulau kecil dan baru tiga tahun di Jogja. Kata beliau tinggal di Jawa (Jogja, menurut saya) membuat dia punya sedikit lebih banyak sopan santun daripada ketika beliau di pulau tertentu yang dia tinggali tersebut. Kata beliau dulu kalau disuguh ya langsung dia embat, sekarang dia menjadi orang yang penyabar walaupun perutnya sudah keroncongan; menanti dipersilakan oleh sang penyuguh makanan. Juga ketika di jalan, dia akan selalu mengklakson sambil tersenyum sebagai tanda permisi mau lewat.

Menglakson inilah yang menarik.

Selama perjalanan disupiri Pak supir, kami hanya mendengar satu kali bunyi klakson dari kendaraan lain yaitu sebuah motor. Tak ada bunyi klakson seperti yang saya dengan di Jabodetabek yang bersahutan menandakan ramainya keinginan penendara untuk sampai tujuan dengan cepat tanpa hambatan padahal kenyataannya memang mesti macet. Dan, Pak supir ini juga tak tertarik untuk membunyikan klakson kecuali satu kali.

Dari jauh saya sudah melihat seorang nenek tua sedang sibuk “ngorak-arik gabah” (membolak-balik padi) yang sedang dijemur di setengah ruas jalan desa. Begitu (mungkin) mendengaran deruman mobil, simbah segera berhenti ngorak-arik gabah, minggir sedikit memberikan jalan yang lebih lebar pada mobil kami.

Saya mengira Pak supir akan melenggang. Eh, ternyata beliau membunyikan klakson sambil mengangguk dan tersenyum pada simbah. Dan simbah itu dengan takzim tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Bagi seseorang yang punya sejarah jahat, itu biasa. Tetapi saya yang punya sejarah baik maka itu kelebihan simbah dan supir. Seandainya saya simbah, maka saya akan memandang masam kepada mobil yang tidak semestinya menggilas gabahnya. Tetapi dia tetap tersenyum – inilah reaksi yang akan saya rupakan jika ini terjadi tiga atau empat setengah tahun lalu – : mungkin dia prihatin kenapa tiba-tiba ada mobil lewat jalan yang biasanya hanya dilewati motor atau sepeda pancal. Dia menganggap klakson itu lebih sebagai ganti kata “Numpang lewat, Mbah…” daripada kalimat “Minggir lo!” Dan si supir menglakson juga ternyata sebagai ekspresi numpang lewat ketimbang sebagai pengingat bahwa simbah kudu minggir; padahal bukan salah pengendra karena memang itu jalan umum bukan halaman rumah (si supir mengatakannya kemudian bahwa itu sebagian dari unggah-ungguh berkendara.. Jogja gitu loooh).

Lihatlah, kelakuannya sama (membunyikan klakson) tetapi dengan takzim yang berbeda dan hati yang lembut maka hasilnya bebeda pula.

Itulah sekedar berbagi saya yang mulai hobi dan-din-dan-din dengan klakson saya sebagai dampak ikutan dari mendengar ekspresi emosi sesama pengendara berupa teriakan lewat klakson.

Ah, seharusnya aku diam saja… tersenyum saja, menunggu dalam diam saja daripada kudu ngedumel di dalam helm sambil mengurangi emosi dengan menekan tanda trompet di motor saya. Emosi memang perlu disalurkan tetapi dengan sedikit kelembutan emosi panas menjadi hangat dan bersahabat… dengan kelembutan.

Quality Hotel Jogja Lt 7 – 21 Juli 2010 – 9:53 malam

bersuka karena dulu waktu kecil pernah main di sawah, melihat dengan mata kepala sendiri kerjaan petani sehingga nggak kaget dengan jam kerja mereka yang sangat longgar. seventh of rest??? apaan tuuuuh, kami bisa libur kapan saja, sehari kerja setengah jam juga nggak dimarahi Gusti Allah ha ha ha

NICKNAME

NICKNAME

I need a nickname of you for me to call you

So that I know that we are close – as close as two lovers in the dark.

A nick name

With which

I am special to have one to identify you.

And for you to recognize me as the only one intimately.

A nick name

In which

I can spell you out in the nick of time.

And you guess who I am, your lover.

A nick name

That

Nobody uses to address you.

And everybody knows that it is ours.

A nick name

Just for both of us

Not for fame or reputation among heads.

It’s just a nick name we both carry.

Should we make your nickname together?

Or do you let me christen you?

Or do you fix a phrase for me?

Or is this nick name hung on a star and be known by universe?

A nick name…

I miss a nick name

With which I worship you

Without any doubt that I am right and they are wrong.

12 September 2009 – 3:07 pagi menjelang sahur

BOB & REALITY

Having a cat is a test for me.
Bob my cat has impris0ned me with his ad0rability just after I decided to bring him m0ve fr0m a b0arding h0use to my new h0use. He was young, n0t 1 year old yet and was very playful yet fragile. He had 2 m0re fans actually but they gave this cat bitter experience. Those 2 are m0m and s0n who had bec0me my landlady n lord. The boy was mean, liked to kick and choke the cute cat whenever he felt bad including when the cat got attenti0n fr0m his friends, m0m n me. He was jealous to everybd including the p0or animal. And the w0man, she fed the cat but t0rtured it when she felt bad. Once she bit the cat with a bro0mstick just bcs the cat climbed up to her bed. Oh my p0or Bob.

Now he’s a gr0wn up cat. He kn0ws h0w to ‘get’ a sweet kitty. He kn0ws h0w to jump to my fridge with0ut making my vase fall down. He kn0ws what to grab to open the do0r. He kn0ws my latest h0me. He learns m0re tips and tricks. In short, he kn0ws h0w to manipulate me!

I don’t dislike it. It is only a stage at which I realize that reality is n0t what has c0me to our life. Bob didn’t c0me with0ut invitati0n. He bec0mes healthier with my support. He stays and leaves my h0me with my permissi0n. I create Bob’s realm in my envir0nment and in my heart. I set a c0nditi0n that c0mf0rt my own self by adding some c0mp0nents that in the process the added c0mp0nents grow their r0ots, protrude their new leaves and buds, spoil their bowing branch with fruits and… Voila! Here is a reality.

so, reality is a c0nditi0ning. It bends your mind as if it is s0mething you’ve never th0ught before. In fact, the plan is yours, the executi0n is yours, the c0nsequence is yours, the all ins and outs of your 0wn c0nditi0ning is ab0ut you. How can I blame it on Bob having impris0ned me? He only takes refuge fr0m me and I’ve misundersto0d his needing me as a helper as his wanting me as an possessor.

I d0n’t catch anym0re what to mend to be n0t t0o much possessive to that hands0me cat. Should I release him to outside of my nursery? Or should I find an0ther cat for him to play with?

No, no, no. That probably will be next c0nditi0ning leading to an unc0ntrolled reality.

Oh Life, help me balance my love to reality. Or else, I’ll die crying for m0re bothering realities.

5.35pm N77 lia cikokol