KALEIDOSKOP PENCERAHAN

KALEIDOSKOP PENCERAHAN

Sinar berpendar

Melolosi keakuan yang pernah mengasah kemarahan

Dan menajamkan lidah.

Burung-burung bercericit di tangkai-tangkai bunga menur

Mendamu bunganya agar wanginya terbang ke hidung

Lalu menyelusup ke seluruh urat wadag manusia.

Kadang desir getir masih menyerang.

Sesekali.

Lantas pergi seperti pemilik sayap syurga, nanti datang kembali.

Negeri antah berantah menjadi tempat pelarian sempurna

Menjadikan Alice bukan satu-satunya orang asing.

Pulangnya beroleh-oleh senyum atau airmata yang meringankan perjalanan.

Rangkaian listrik bersambung-sambung tanpa sela

Mengantar pijar-pijar gairah sepanjang milyaran syaraf.

Bersiap-sedia tanpa tidur. Tiada kantuk, meniru Tuhan.

Teriakan di gendang telinga seakan bisikan dari seberang benua.

Yang ditangkap syaraf adalah kehidupan nyata yang muncul di awang-uwungl.

Sekilas tak teraba. Demi waktu, yang tak tampak terbukti nyata.

Setetes demi setetes impian itu mendanau, merembesi daratan dan menyuburkannya.

Benih yang pernah beku menjadi gembur bersama tanah;

Alunan nada kehidupan bersiap menumbuhkan pohon raksasa bernama sejarah baru.

Kejujuran berkata-kata bukan lagi kejujuran yang terukur

Karena ternyata kamus bisa direvisi, makna bisa bertelur menetas dan beranak-pinak atau bercabang seperti akar-akar yang merasuki kewarasan bumi.

Kaleidoskop bukan lagi sejarah pendek yang ditakar dengan dacin 12 bulan.

Dia ulangan kejadian yang minta tempat di negeri kesetiaan manusia

Untuk menjadi dirinya yang sadar akan ketiadaannya.

Kelana jiwa,

Memberitakan perjalanannya kepada pribadi yang meringkuk dalam telinga

Sang dewa samudera.

Salam kepada warsa.

Bergulirlah

Bawa sungai ini ke lautan pencerahan.

Keramat, 1 Januari 2011 – 11:11 malam

ternyata di masyarakat kita ini perempuan belum dipercaya bahkan oleh sesama perempuan sekalipun… bukti nyata: seseorang pernah berkata “nggak usah rekrut perempuan lagi, ribeut urusannya”. itu yang bilang lelaki. kalau yang perempuan bilang “gw kalau urusan sama sesama perempuan males. ribeut”. dasar perempuan….!

IBUKU DI HARI IBU

IBUKU DI HARI IBU

Tadi kutelpon ibuku, menyampaiakan kabar baikku dan mendengarkan suaranya yang merdu. Ternyata beliau juga ingat hari ini Hari Ibu. Ketika kuucapkan “Selama Hari Ibu ya, Bu…”, beliau serta-merta berterima-kasih dan lalu mendendangkan doa-doa untukku.

Wanita itu, ibuku.

Selalu ramah menyambutku dengan suaranya yang mendayu dan syahdu. Sabar bikin musuh gentar tetapi tetap lembut mengurai ruwetnya akar-akar syaraf anaknya ini.

Apa yang mesti kuucapkan padanya, sudah kulakukan pagi tadi. Tapi apa yang mesti kuberikan kepadanya sebagai bingkisan Hari Ibu? Entah… Sesuatu tidak cukup membayar kenangan hidupku denganya karena dia lebih dari segalanya yang kupunya.

Mata uang yang kutawarkan adalah cinta baktiku. Bisa saja dia tak cocok dengan bentuk kebaktianku, tapi akan selalu kulihat ketulusannya menerima laku doaku.

Oh, Ibuku…

Selamat Hari Ibu

Kupohonkan sejuta kemuliaan bagimu.

Salam cinta dan bakti…

LIA Taruna – 22 Desember 2010 – 1:25 siang

DAWAI KETIADAAN

DAWAI KETIADAAN

Dawai sukma bergetar anteng mengalunkan tembang termuram yang perlahan memekatkan hawa sudut tiap partikel pembentuk wadag.

Dimana lagi nada-nada menyebar?

Usah ditanya, mereka menggapai segala arah yang ada untuk menjadi alpa, tiada.

Panji perdamaian mengurai angin membelai mata angin yang berjumlah tak hingga.

Serba-neka perasaan terpusat di titik tiada. Rapat dengan kesirnaan yang berat dibaluh ruang dan waktu.

Niscaya…

Pinang – 21 Desember 2010 – 10:07:05 malam

OSENG PEPAYA MUDA

Description:
Semua bahan dan bumbu silakan ditentukan berapa banyaknya. Jika tidak suka udang, silakan diganti yang lain atau ditiadakan saja…

Ingredients:
Bahan:
– Buah pepaya muda
– Petai
– Udang pancet (bisa diganti ebi kering)
– Daun so (bila suka)

Bumbu:
– Bawang putih
– Bawang merah
– Cabai rawit
– Daun salam
– Lengkuas
– Garam
– Gula
– Penyedap rasa jika suka
– Minyak untuk mengoseng

Directions:
Cara memasak:
– Iris-iris papaya memanjang tipis, cuci sambil remas-remas memakai garam lalu tiriskan.
– Kupas petai, belah dua.
– Bersihkan udang.
– Haluskan bawang putih, bawang merah, cabai rawit, garam dan lengkuas.
– Panaskan minyak lalu masukkan bumbu halus. Lalu cemplungkan udang.
– Masukkan irisan pepaya muda, aduk hingga merata dengan bumbunya.
– Taburkan daun salam dan gula. Tutup masakan beberapa saat.
– Jika sudah cukup empuk, masukkan daun so.
– Taburkan bawang merah goreng ketika menyajikan.

Mengenali Cakrawala Yang Melintas

MENGENALI CAKRAWALA YANG MELINTAS

Kukira cakrawala berhenti

Ternyata dia melintas

Seperti burung-burung yang berderet membentuk huruf V

Mencari tujuan yang telah ditemukan sebelum beranjak pergi.

Cakrawala itu

Itu? Jauhkah kau sebut itu?

Atau cakrawala ini?

Yang dekat bersanding dengan aliran jiwa

Yang memusat di jantung yang terus berdetak.

Cakrawala mengintip langit

Membuka jalan yang dipasangi rantai seperti

Yang dilintasi para bintang diatas karpet merah,

Indahnya….

Cakrawala itu perlahan kuluaskan agar napasku lebih lega

Tanpa mesti memakai topeng penyaring udara.

Lebih cepat cakrawala kudorong,

Makin lega rasa yang kusimpan.

Agaknya niscaya.

Cakrawala menjadi kebaikan

Yang tak pernah terbayang sebelum kumati dalam tubuhku ini.

Rasanya semacam onggokan jiwa yang siap meledak

Dan mendobrak jalan ke surga.

Cakrawala ini

Cakrawala itu

Tak ada pemisah antaranya.

Penautnya adalah jantungku

Yang tak hendak mengungsi

Biarpun bencana menguntiti.

Pinang, 12/12/10 – 2:52 siang

SUP SPAGHETTI KACANG HIJAU

Description:
Saya memasak hidangan ini karena cuma itu saja yang bisa saya temukan di kulkas he he he… Selamat mencoba. Jika Anda ingin membuat variasi untuk resep ini, sepertinya akan semakin lezat memikat. Selamat mencoba…

Ingredients:
Bahan:
– 1 genggam spaghetti
– ½ genggam kacang hijau
– Wortel
– Air secukupnya

Bumbu:
(ukuran secukupnya sesuai intuisi memasak Anda he he…)
– bawang putih
– merica
– garam
– gula
– perasa jikau suka

Directions:
1. Rebus kacang hijau hingga cukup matang tetapi tidak sampai empuk atau hacur sekali.
2. Masukkan spaghetti dan bumbu yang telah dihaluskan. Kemudian tambahkan wortel.
3. Angkat jika spaghetti telah masak (empuk).
4. Sajikan dengan saos sambal.

TIDAK

TIDAK

Berhentilah berdetak

Wahai, jantung yang menguntit bayanganku.

Pijakan di bawahku mulai berderak

Tak mengijinkan lagi penumpang tambahan

Yang niscaya meruntuhkan perahu

Lalu menenggelamkanku

Bahkan sebelum ujung pulau tertangkap.

Atau

Jika kau masih ingin hidup,

Segeralah ambil dayung di bawah lantai geladak

Kemudian sawuklah gelombang

Menjalankan bahtera

Menuju persinggahan terdekat.

Pinang, 11 Desember 2010 – 8:15 malam

TUA TANPA BERBANGGA

TUA TANPA BERBANGGA

Ada beberapa hal yang dulu pernah saya suka akan diri sendiri; salah satunya adalah kepekaan pada penderitaan orang lain. Kalau sudah berhubungan dengan kesusahan orang, saya akan menyingsingkan lengan baju. Apa yang bisa dilakukan akan saya lakukan karena secara financial tidak mampu.

Ternyata akhir-akhir ini saya merasa makin tua malahan diri tidak punya apapun yang bisa dibanggakan. Secara fisik semakin tidak mampu membantu orang lain sedangkan secara materi masih orang yang miskin.

Hari ini ada tetangga yang meninggal dunia. Rumahnya tepat di depan mushola yang ada tepat di sebelah kanan rumah. Karena dalam budaya lokal yang membantu di dapur adalah ibu-ibu, maka saya tidak terpakai disana. Karena yang meninggal lelaki maka yang menyelenggarakan jenazah harus lelaki, saya pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena uang tak punya maka saya tak bisa menyumbang yang sedang kesripahan (mendapat musibah, Bahasa Jawa).

Dan, saya pun diam di rumah menikmati akhir pekan bersama Bob, kucing yang menjadi sahabat selain Bob yang satu lagi yang durasi dan frekuensi pertemuannya sangat terbatas.

Saya mulai berpikir bahwa bertambahnya usia tidak otomatis membuat seseorang makin berisi seperti biji padi yang siap dipanen walaupun gerakan merunduk bisa saja menyamai pohon padi. Kalau pohon padi merunduknya karena berisi, kalau badan renta merunduk karena lemah ditarik gravitasi.

Apakah mesti disesali proses yang tak terhindarkan ini? Rasanya justru akan tidak menyenangkan jika tidak bersikap bijak menghadapi pelemahan dan pengurangan dalam fase tenggelamnya masa kegemilangan ini.

Ya sudahlah. Tua dan tak berbangga mungkin telah menjadi jatah saya.

Tapi ada satu hal yang masih membuat harapan tak pernah redup dalam menerangi perjalanan ini: bahwa aku masih bisa membedakan yang tulus dan yang hanya di pelupuk mata.

Keramat – 28 November 2010 – 4:04 sore

BERGERAK MENYUDUT

BERGERAK MENYUDUT

Ke sudut aku berlari

Menanti datangnya matahari

Yang bergelung lama di kehangatan

Dan keegoisan para penguasa dunia.

Lemah rasanya.

Bersandar kini ku pada sudut

Yang entah melindungi ataukah

Membuatku makin ringkas.

Remah-remah perjalanan

Berkedut mencari satu sama lain

Lalu

Menyambungkan diri.

Tersasarkah aku? Atau—

Hanya beristirahat sementara

Di sebuah sudut

Yang tanpa rasa…

Kelima indera

Mengembara,

Belum kembali

Kesini:

Tempat berkemas;

Walau kehabisan ruang.

Masihkah yang keenam? Atau—

Tak disisakan apa-apa?

Sudut ini:

Pilihan hamba

Karena dialah yang belum pernah kupilih,

Pasti akan membuatku berbeda.

November 26, 2010 – Indra Puri Lampung – 10:33 malam

BERAPA

BERAPA?

(hitungan mundur)

Menghitung itu seperti menghimpun pasukan, sekelompok prajurit yang dibariskan menunggu teriakan komandan. Tanpa tawaran mereka bergerak, maju ke medan perang. Jika mati, hitungan dimulai lagi dan sekelompok besar atau lebih besar lagi tiba: datang menumpas musuh yang bisa menang bisa juga kalah jika sandi komandan tak tepat.

Dan,

Sempalnya satu angka pasti akan mengakhiri hitungan. Prajurit kelak berhenti menyerbu, tak ada lagi yang datang oleh panggilan komandan. Niscaya dunia terasa damai…

Sebentar lagi

Hitungan itu berakhir

Menyudahi kelengangan ruang aula raksasa.

Apa yang bakal terjadi?

Berapapun harganya komandan akan menutup mulutnya, membuang peluit dan tongkat komandonya lalu menanggalkan lencana. Duduk di kursi goyang, menikmati godaan kopi pahit dan sepiring pisang rebus…

Hitunglah

Mundur.

Indra Puri Lampung – 26 November 2010 – 10:56 malam

UNDER COVER

UNDER COVER

Getting tortured

Because of being under cover

From everything true but denied

Hurts more than

Being under pressure

Because of telling the truth

Coming from a standardized source?

Shrugging are they.

It hurts when you can’t even answer your very simple question,

While time is about to chime warning you a fleet of planes are heading to you,

Needing confirmation with which one you will go.

Help!

Barito, 19 November 2010 – 2:31pm

PAHLAWAN KESIANGAN

PAHLAWAN KESIANGAN

(pahlawan yang kurang suka bangun siang tapi tetap semangat)

Kenalan saya yang ini sangat unik. Dia sangat suka bangun siang atau tepatnya tidak bisa bangun pagi dengan banyak sekali alasan: tidur telat lah, kecapekan lah, nggak dengar suara weker lah, udah bangun tidur lagi lah, hari libur lah, dll. Yang pasti satu: tidak pernah dalam seminggu dia bangun pagi lebih dari dua kali dan paling pagi dia bangun jam 7. Tapi kalau dalam hal menolong teman, jangan diragukan. Biarpun bangun siang tetap saja dia bersedia membantu dengan syarat temannya sanggup menunggu paling cepat jam 11 baru bisa terbantu. Pahlawan kesiangan? J

Saya sendiri nggak begitu mengerti kenapa ada sebutan pahlawan kesiangan karena biarpun kesiangan tetep saja jika seseorang berjasa maka ada nilai lebih yang patut disematkan bintang jasa.

Saya tak hendak bicara tentang asal mula pahlawan kesiangan karena belum pernah ada cerita tentang pahlawan kemerdekaan/nasional/revolusi/dll yang bangun siang. Yang saya tahu ada yang bergelar pahlawan tapi alasannya tidak masuk akal. Contohnya: seseorang diberikan tanda jasa (hanya) karena dia pernah mengantarkan surat perintah; selain itu ya nggak pernah muncul di medan perang atau medan negosiasi dengan pihak musuh. Ada juga pahlawan yang nggak jelas perannya padahal (mungkin) sangat berjasa dan tanda di kuburannya hanya sepotong bambu runcing dan bendera merah-putih dari seng.

Tidak ada maksud buruk me-ngenyek (menganggap rendah, Bahasa Jawa) pahlawan tak dikenal atau melecehkan pahlawan yang teregistrasi di dokumen negara. Saya cuma ingin menekankan pada diri saya sendiri bahwa jasa yang disematkan kepada seseorang ternyata tidak berbanding lurus dengan apa yang telah dilakukannya selama hidup. Bisa saja seseorang bermanfaat justru setelah matinya.

Bermanfaat setelah matinya itu bisa saja berarti dua hal:

  1. lebih baik dia mati daripada hidup nyusahin orang; bisa secara mental, spiritual, fisik, social dan metafisikal
  2. jasa-jasanya baru dirasakan atau disadari setelah dia mati

Mana yang Anda pilih bagi hidup Anda? Dikenang setelah mati karena ketika hidup Anda terlupakan? Atau disubya-subya (dipuji-puja, Bahasa Jawa) orang sejak hidup hingga mati?

Anda yang menentukan. Jangan biarkan orang lain menyetir hidup Anda.

SELAMAT HARI PAHLAWAN!!!

Salam,

Rike

Semarang, Jl. Majapahit di masa rehat – 10 November 2010, 3:36 sore

KOSONG TAK BISA DIMENGERTI

KOSONG TAK BISA DIMENGERTI

(untukku yang tak juga bersiap menuju Bahtera Nuh)

Tak ingin bicara

Kecuali tentang hari-hari yang sibuk

Dengan peluh dan kesigapan

Untuk bertahan hidup.

Bercakap dengan diri sudah cukup;

Memadukan penasaran dengan jawaban.

Usah ragu memilih yang tepat,

Berat tak dirasa berat karena semua ringan

Karena jika berbicara tak bisa dimengerti,

Jika menulis tak cukup mewakili isi,

Hanya dapat dibaca lewat mata batin,

Hanya cocok diramaikan dalam perenungan.

Lumbung telah dipenuhi

Labu-labu air telah terisi

Pundi telah diikat tali

Hanya satu: kurungan tak dipunyai guna membawa makhluk di pangkuan.

Segeralah!

Perahu Nuh mengarungi samudera untuk yang mau berpasangan.

Berpasanganlah, maka bahtera itu menampungmu.

Jika tidak, kau mesti berlayar sendiri…

Satu, dua, …

Hitungan makin naik

Rapatkan keberanian

Lalu bergegas menjemput kemenangan;

Atau tidak sama sekali memiliki nyali

Lalu tenggelam atas nama kelalaian.

Keramat – 7 November 2010, 10:06 pagi