Golden Triangle- haiku

Her head cracked of sun.
Water boiled, blown by cool breeze —
Golden Triangle

Temasek – September 19, 2016 – 11:30pm

anantara-resort-and-spa-golden-triangle-newmap-jpg

Picture borrowed from http://www.fnetravel.com/english/chiangraihotels/anantara-resort-and-spa-golden-triangle.html

 

Circle – haiku

Moving a circle,
Connecting two dots: She is
Making a Zen Art.

 

 

I am the one holding Zen Art T-shirt and Zen Art painting. The smiling lady is the artist – the one making the Zen Art.

Chiang Mai, Thailand – September 16, 2016 – 00:30am

HIDUNG DAN KUPING BABI

HIDUNG DAN KUPING BABI

(negeri ini murah dan ramah)

Ketika saya berkunjung ke negeri Siam tidak ada satu pun ketakutan kecuali bahwa ada rasis disana mengingat daerah Pattani yang penuh konflik. Bahkan karena petugas imigrasi berwajah galak tanpa senyum dan kesan pertama driver kami yang kurang baik, sehari di Bangkok bagai merasa “ihhh… kayaknya nggak enak nih”. Yang bisa menghibur adalah hotel yang bagus dan petugasnya yang menyenangkan dan penolong.

Hari kedua saya bertemu teman seperguruan disana dan melakukan lawatan pertama. Suasana menjadi agak cair karena tuan rumah kami sangat baik dalam hal membantu penyelesaian tugas maupun dalam menjamu kami. Pekerjaan menjadi lancar dan tepat waktu walau saya harus membaca huruf semacam hanacaraka (abjad Jawa) dengan tahun yang berbeda sekitar 543. Tahun 2011 adalah tahun 2554 menurut hitungan Thailand. Amazing, kalau kata Mas Thukul Arwana. Saya juga makin senang karena disuguhi tomyam goong yang rasanya jauh lebih uenak (enak sekali, Bahasa Jawa dialek Timur) dibanding yang pernah saya makan dimana-mana. Ingat ya, saya bayar lho bukannya gratis… J

Hari kedua suasana menjadi makin asyik. Saya belajar bahwa orang-orang Thailand ini memang sangat toleran dan berhati hangat. Selama hampir dua minggu disana saya diperlakukan jauh lebih baik daripada saudara serumpun memperlakukan saya. Justru di negeri gajah itu saya merasa lebih aman dibanding ketika saya bertandang ke negeri tetangga lain yang muslimnya lebih banyak; disana saya merasakan ketidaknyamanan karena sebagian orang yang saya temui sombongnya minta ampun…

Tapi yang bikin saya selalu ingin tertawa adalah hidung dan telinga babi yang dengan mudah ditemukan bergelantungan di berbagai tempat. Di tiap jalan Anda bisa menemukan makanan haram. Saya mengatakan haram bukan karena saya menganggapnya buruk. Ini hanya semata mengacu pada agama Islam yang mempredikati beberapa jenis makanan dengan kata tersebut. Seringkali teman saya bilang “You don’t eat pork, right? So, I’ll order chicken for you.” Itu dia lakukan di restoran yang menjual babi. J

Ada lagi masa dimana saya melihat papan-papan petai bergelantungan lalu saya menarik tangan saudara seperguruan ke restoran itu hanya untuk menemukan bahwa hidung dan telinga itu berjajar rapi menunggu disajikan dalam berbagai masakan.

Seandainya saya bukan seseorang (yang mengaku) muslim mungkin saya sudah gemas ingin memakan hidung dan telinga itu. Atau bisa juga tidak karena saya bisa menjadi vegetarian. Tapi percaya atau tidak, selama saya di Thailand saya tidak pernah merasa tidak nyaman walau beberapa teman berpesan “awas makanan haram, Ke”. Saya tidak terganggu dengan keharaman yang ada di sekitar saya karena mudah penyelesaiannya: ya jangan dikonsumsi, toh bisa menggunakan studio (dapur kecil, Bahasa Inggris) di serviced hotel (hotel berfungsi ganda sebagai apartemen) tempat saya menginap untuk memasak apapun yang saya suka.

Di negeri yang penuh dengan hidung, telinga, kaki, perut, iso, usus dan semua organ binatang yang (nggak tahu kenapa dibilang) haram itu saya justru merasakan subhanallah (maha suci tuhan, Bahasa Arab) kehangatan berteman, keamanan bertetangga dan kelezatan makanan.

Semoga orang-orang yang berbuat baik dan berhati hangat senantiasa mendapatkan keberkahan hidup. Amin…

Temasek, 27 Juli 2011 – 2:35 sore

Tentang Thailand