Bob Is Always My Baby

Bob, a cat that I have adopted for the past four years, has been my dear. I consider him my dear son that I will take care of as long as he lives.

Now I am away and he is “home”. What I meant by home is that my maid is home and available for him for food and shelter.

I probably do not trust my maid 100% but I really don’t have alternative of what I should do to ensure that Bob is well fed and under shelter safely. I want the best for him when I am around as well as in absence of mine. How I love you, Bob.

I am watching “Rise of The Planet of the Apes” and my mind goes from where I am – Bogor – to Tangerang, Bob’s and my home. How human beings do so much for themselves by defying the life of other creatures. They manipulate other creatures’ life for the benefits of humans’ life. And, they never care that the other creatures actually have their right to survive the way each creature should do. A limit to protect themselves have evolved into human being’s greed to claim that the universe and what’s in it are theirs. By claiming what’s not theirs, human beings take control of every one with unlimited wish.

Whatever it is in my thought and feeling, I miss my cat, my adopted son. I love you, baby. Be strong and healthy. I am here with a heart full of love reaching you…

Bogor – September 29, 2012

RATU KEJAM ITU

Berkelana dari hati ke hati
Menilik mana hati yang sepi
Hati sepi bertahta kilau dunia
Maka bergeraklah dia
Membuai
Membujuk
Memuji
Mengukur kelemahannya
Merontokkan kilauannya
Satu per satu
Dan menendang semua sahabat
Mengusirinya
Demi duduk sendiri

Sungguh hati kosong itu
Makin kosong
Dijajah seorang ratu kejam
Yang bertahta di hati yang bukan miliknya dan
Berkuasa…

Untuk seorang teman yang agak aneh cara bertemannya
Cititel Midvalley – 24 September 2012

EMOTICON

EMOTICON

“Kalau 🙂 artinya apa sih, Ke?”
“Kalau :-* artinya apa sih, Ke?”
Paling tidak itu dua pertanyaan yang pernah membuat saya merasa bermanfaat untuk menerjemahkan emoticon untuk seorang mantan pacar saya yang pasti sekarang sudah mahir ber-emoticon karena tinggal pakai simbol di Blackberry messenger atau Whatsapp dia. Waktu itu saya merasa agak geli juga kok sekian lama pakai handphone nggak tahu “smiley” – emoticon disebut juga smiley.

Jaman segitu smiley lebih dikenal oleh para penulis pesan singkat (sms). Saking populernya smiley sampai-sampai sebuah majalah terbitan Lia – C’nS – mengulas topik ini dan dari situlah saya mengenal paling tidak 30 jenis simbol “emosi” untuk membantu saya mengekspresikan ide dan perasaan secara efektif dan efisien dalam sms saya. Terbukti efektif karena nggak perlu banyak ngetik yang dikhawatirkan mempercepat pembesaran jari jempol namun kurang terbukti efisiensinya karena komunikan di seberang sana belum tentu memahami emoticon kita; walhasil kadang saya harus mengulang pesan saya. Ya, kasusnya sama lah dengan pertanyaan yang saya terima dari mantan ha ha ha

Kenapa emoticon menjadi penting buat sebagian orang? Karena bahasa tulisan tak sering menyediakan latar emosi sehingga bisa diartikan sesuai suasana hati si pembaca dan bukan suasana hati penyampai pesan. Pernah saya menangkap kesan bias ketika seseorang mengisahkan email seseorang.

“… Udah gitu bahasa Enggrisnya kacau gitu. Kalau nggak bisa mbok yao nggak usah nulis…”

Jelas suasana hati pembaca kurang stabil karena seharusnya kemampuan berbahasa Enggris di Indonesia memang kurang merata kalau dibanding di Malaysia atau Singapura. Plus, inti dari tujuan berbahasa bukanlah berbahasa secara baik dan benar saja melainkan untuk berkomunikasi alias menyampaikan ide dan perasaan. Walau tata bahasamu amburadul dan diksimu acak-adut tapi pesanmu tersampaikan, ya namanya masih bagus. Nah, emoticon juga begitu… Kalau emoticon lucu tapi sebenernya bukan buat mewakili kelucuan melainkan kemarahan dan kemarahan orang tersebut tidak tersampaikan ya percuma saja lantaran komunikasi tidak berlaku.

Kembola kepada fungsi emoticon… Sebagai simbol perasaan, emoticon bisa ditambahkan jika seseorang tidak yakin kata-kata yang dipakainya cukup mewakili ide dan rasanya. Contoh:

“Hoi, lu kate ane anak kemaren sore? Lu kali monyet baru lahir… =))”

Nah tanda =)) berarti tertawa terbahak-bahak menandakan. Orang tersebut (semoga) bercanda. Contoh lain:

“Duh gusti… :-}”

Simbol :-} artinya sedang malu.

Ok, emoticon membantu kita mengkomunikasikan rasa dengan lebih mudah to? Ayo monggo dicoba pakai emoticon untuk mengungkap rasa dijamin isi email kalian dipenuhi endhas ngglundhung (kepala yang menggelinding, Bahasa Jawa)…

Di angkot menuju Gancit – ngantor
September 13, 2012

BOB

BOBPlease introduce my cat named Bob Kucing..
He is almost 5 years old and might have a lot of offsprings around my neighborhood.
He eats fish as main dish and cat bites for snack.
He spoils me with his purr and manipulates me with his sickness. Hey, he has space for fleas that I work on in my spare time.

He is an adorable cat at least for me. Have a look at his sleep…

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

JIKA TEMANKU PELANGI

JIKA TEMANKU PELANGI

Ketika seseorang membelimu

Dengan seporsi makanan enak dan segelas minuman segar

Dengan selembar voucher belanja

Dengan voucher handphone untuk tetap bisa bicara

Dengan ongkos taksi supaya kau bisa pulang malam

Apakah kau serta-merta menerimanya?

Aku tidak!

Aku tidak menerimanya.

Aku hanya menerima

Orang-orang

Yang membeliku dengan warna pelangi.

Pelangi di jiwaku:

Merahku memberanikan

Jinggaku menguatkan

Kuningku memenangkan

Hijauku menyegarkan

Biruku menenangkan

Nilaku menghargai

Unguku menghormati

Terima kasiku pada mereka

Kutinggalkan pembeli teman untuk kembali pada pelukis pelangi jiwaku.

Rumah kecil di tepi Kali Cisadane

8 Agustus 2012 – 4:26 sore

Foto dipinjam dari http://www.perutgendut.com/media/read/Pelangi-didalam-sebuah-kue/443

RINDU

RINDU

Apa sih sebenarnya yang menyebabkan rindu?

Ikatan antar jiwa kah?

Apa yang menyebabkan setiap jiwa terikat pada jiwa yang lain?

Adakah zat kimiawi yang menyebabkannya?

Atau inikah yang dinamakan spiritual?

Alangkah rumitnya rindu.

Rindu Bob Kucing

Phnom Penh, 17 Juli 2012 – 7:47 malam

Foto dipinjam dari http://www.fanpop.com/spots/maria-050801090907/images/27986990/title/miss-already-photo

SENSITIVITY IN ME

SENSITIVITY IN ME

I feel it gets stronger

The sensitivity in me

How I feel hurt to see animals slaughtered for fun, for consumption, for pride

How I feel hurt to see those creatures without defense accept whatever humans want them to be.

Is it after I dig the love between my Bob cat and me?

Or, is it just because it is time when I unseal the hidden key?

Or, is it just an accidental sensitivity in me?

Just now I mistakenly switched on TV to a channel showing a tortoise slaughtered alive! The guilt lingers and tortures my sleeping time. No sleep then. Then it reminds me to topeng monyet that comes to exploitation rather than animal training. Also it drives me crazier when I remember how Kebun Binatang Surabaya animal “collections” get weaker and weaker because the care takers do not care about the animals. They said they lack of money? Then just send those animals to other zoos rather than selfishly claim the poor responsibility of national asset. God damn animals are not national! It is global asset! Once they are distinct, the mankind should mourn!

I go too far… I am being sensitive. I am missing a thing, Bob Kucing. He’s been my savior in my bad times; he’s been alarm of consciousness of oneness. It is too far. I am not supposed to talk about sensitivity. It is merely about my dear cat… Is it?

HHIpoh – December 23, 2011 – 9:00pm

KEMELEKATAN

KEMELEKATAN

(obrolan ringan tentang Bob kucing)

Beberapa orang merasa bahwa cintanya pada dunia tidak sebesar cintanya pada Tuhan. Mereka mengklaim diri bahwa mereka mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Saya meragukan diri saya dalam hal tersebut karena nyatanya memang tidak demikian yang saya alami.

Saya masih belum menikah tapi saya punya kemelekatan yang tak kalah lekat dibanding dengan kemelekatan antara dua pasangan atau anak dan ibunya atau anak dan bapaknya. Saya sangat lekat dengan kucing saya yang saya namai Bob. Kata kuncinya adalah sangat. Sangat adalah kata keterangan yang membuat kata sifat yang mengikutinya berlipat. Kemelekatan saya pada kucing saya berlipat beberapa kali dibanding dengan kemelekatan kepada kucing lain atau hal lain, tentunya kecuali orang-orang yang memang mendapatkan tempat istimewa yang sama dengan si Bob Kucing ini.

Saya tidak menyesal memiliki Bob. Tetapi kata kunci memiliki itulah yang membuat saya agak merasa bersalah. Seharusnya saya tidak pernah mendeklarasikan diri bahwa saya adalah pemilik kucing yang buat saya bagai guardian angel ini. Dengan memiliki Bob saya terbukti tidak siap meninggalkan dia atau ditinggalkan dia. Tiap saya akan dinas ke luar kota, saya selalu berharap saya tidak perlu menginap sehingga tidak perlu meninggalkan dia sendiri atau jikalau sore hingga petang sahabat saya Nining dengan telaten dan sabar menemani piaraan saya itu maka malamnya si meong mesti bobo di luar rumah dan menurut saya itu kurang menyenangkan.

Bob Kucing ini kucing lokal sehingga ada sementara orang yang menganggap saya berlebihan. Sebagian orang Indonesia menganggap bahwa hanya kucing ras-lah yang mesti disayangi dengan cara special seperti: membelikan makanan khusus feline (kucing) dan vitamin segala ubarampen (perlengkapan) kucing, mengobatkannya seperti manusia jika sakit, membiarkannya menikmati rumah seperti anak-anak atau ponakan-ponakan mengharu-biru rumah, menjaganya selayaknya menjaga diri kita… Tidak mengapa karena pendapat boleh berbeda.

Saya tidak sedikitpun merisaukan diri saya kecuali satu: bahwa saya dan Bob mulai saling terikat. Akhir-akhir ini dia sangat dekat dengan saya baik secara fisik maupun batin. Kalau saya di rumah dia ngikut kemana pun saya bergerak bahkan kalau saya mandi dia nggeluntung (berbaring telungkup, Bahasa Jawa) di keset depan kamar mandi. Kalau saya sedang bekerja malam, dia nongkrong diatas tumpukan kertas atau kalau sedang kesal dia nangkring diatas laptop saya, kadang dia menggoda melompat ke atas TV dan menjatuhkan antene sambil mengeong manja. Kalau saya tidur dia biasanya akan melompat keatas selimut tebal saya: dia tidak pernah mau masuk ke bawah selimut dalam waktu lama karena mungkin merasa panas. Dan, masih banyak lagi kegiatan dia yang menunjukkan keakraban dan kenyamanan kami bersama.

Ada satu lagi: dia mulai bisa merasa tidak suka kalau saya tugas keluar kota dan menginap. Sehari sebelum saya berangkat dia sudah ngroweng (rewel, Bahasa Jawa), nempel-nempel ke kaki atau badan saya, meang-meong kesana-kemari, pura-pura sesak napas dan yang biasanya Cuma mau digendong dalam hitungan 3 – 5 detik jadi bertahan sampai satu menit dan sambil mendekur-dekur pula.

Kemelekatan pada kucing saya sungguh kadang membuat saya bertanya-tanya: pantas saja ada ibu yang akhirnya malas bekerja meninggalkan rumah lha wong ada yang nggondheli di rumah dan mengurus anak tentunya menyebabkan stress yang lebih rendah daripada harus berinteraksi dengan macetnya jalanan dan kompetisi dalam karir (bisa saja saya salah tapi paling tidak inilah kesimpulan saya melihat para ibu yang kadang nggak masuk kerja karena “nggak tega ninggal anak”).

Kemelekatan ini harus saya atasi karena kalau tidak membuat saya tidak produktif dan cenderung menuruti kemalasan. Tentunya Bob Kucing tahu bahwa dia disayang sehingga dia punya strategi untuk “tidak ditinggalkan” atau “tidak diabaikan” karena pa
sti kalau saya pergi orang lainlah yang mengurus dia yang notabene tidak se-rempong saya. Saya selalu memastikan bahwa air minum dia baru dan dari gallon atau direbus dulu (kadang dioplos dengan air hangat), vitamin juga selalu saya takar, makanan saya pastikan dihabiskan sesuai porsi, kaki-kaki saya lap dan dubur & alat vital saya lap, telinga dan gigi saya periksa, hidung saya bersihkan, cek bulu dan ekor dari kutu dan serangga, sering kali juga saya ajak ngobrol sekaligus saya ciumin hidungnya dan adu dahi ha ha ha…

Kemelekatan itu tidak boleh terjadi walau saya sangat menyayangi makhluk yang oleh tetangga sebelah saya dibiling “Halah, cuma kucing aja segitunya”. Bodo ammmmaaaat, kata saya tak kalah bangga ha ha ha…

Begitulah kemelekatan itu begitu besar sehingga pernah saya memimpikan Bob Kucing mati dan paginya saya menangis dan menggendong-gendong dia dan saya ciumi.

“Kamu jangan mati dulu ya, Bob… Paling tidak kau hidup 12 tahun bersamaku; tapi kau boleh mati sebelum aku, biar kau tetap ada yang mengurus…”

Kucingku tadi malam menemaniku mencuci. Dia meringkuk di atas keset kamar mandi sambil mengikuti gerakan saya mencuci. Sesekali dia meang-meong tiap saya panggil namanya. Pagi ini dia memanggil saya, minta keluar. Untungnya saya jug sedang ada acara keluar rumah, jadi kami berangkat bersama.

“Nanti malam pulang jam 7 ya, Bob…”

“Meooooong….” Entah apa artinya, yang pasti rasa sayang kami ada dan saya belajar membuang kemelekatan.

Lia Taruna – Tangerang – 4:12 sore

Kenangan Manis Bernama Masa Kanak-Kanak

Kenangan Manis Bernama Masa Kanak-Kanak

Dalam keadaan setengah hidup setengah tidak mati begini rasanya sangat hidup setiap saat saya terbang kembali ke masa usia sekolah dasar. Tak ada kategori jahil atau terang saat itu. Semua saya lakukan penuh keikhlasan.

Dulu saya suka sekali main sepeda sampai ke daerah-daerah berjalan tanah dan berpagar hutan dan lembah. Sepeda saya mini warna merah, berkerangjang putih, sadelnya sudah somplak sehingga hanya tinggal plastik putih keras sehingga pantaat harus diangkat saat melewati daerah bergelombang atau terjal untuk menghindari sakit pantat ha ha ha…

Saya juga suka bermain masak-masakan di petak tanah kering di musim tembakau. Masih teringat saya seorang junior bernama Astutik yang kerap kami panggil Timbul karena bentuk mukanya yang bulat montok dan putih menjadi koki pasangan masak saya. Dengan dia saya membawa kaleng bekas minyak goreng cap Ikan Dorang untuk memasak sayur dan nasi bergantian, seikat bayam, pepaya muda, bumbu sayur menir, dan beras. Kami memasak berharap berbuka saat bedug dhuhur tiba tapi ternyata kami makan sebelum dhuhur tiba. Lalu kami saling memarahi karena batal puasa.

Saya suka mengumpulkan makanan sebelum berbuka. Ketika bedug Maghrib tiba, makanan itu tidak terjamah karena kekenyangan. Kolak, komot, cenil, gethuk, jambu biji, jeruk bali, dll tak termakan tanpa penyesalan.

Saya juga suka “mengganggu” Yu Yatini (asisten di keluarga kami) yang sedang membuat penganan untuk kami: kalau beliau sedang membuat nagasari atau lemet atau apapun yang berbungkus daun atau plastik atau kertas, maka saya membuat versi mininya; kalau beliau membuat kue semprit, saya membuat versi luar angkasanya; saat beliau membuat cake ban (karena bentuknya seperti ban), saya hanya bisa membantunya mencurahkan warna coklatnya lalu mengaduknya dengan lidi sehingga tercipta corak batik diantara adonan kuning yang sudah dimasukkan sebelumnya; kalau beliau sedang memarut kelapa, saya membantunya dan menyerahkan cikalan (daging kelapa) kecil lantaran saya takut jari saya keparut.

Saya suka sekali melewatkan liburan saya di kampung asal asisten keluarga kami. Saya bermain dengan keponakannya, Nining Catur Utami yang sering diledek “cekot” karena tangannya panjang sebelah akibat lapraktik dokter. Dialah sahabat saya sampai saat ini.

Saya gemar memanjat berbagai macam pohon kecuali pohon jenis palem termasuk pohon nyiur karena tidak memiliki dahan yang memungkinkan saya berpijak dengan mudah.

Saya suka nonton Acara Untuk Keluarga di TVRI yang tak jarang menyajikan cara membuat boneka dari kaos kaki, cara merangkai bunga Ikebana, cara membuat bunga kering, cara membuat batik jumputan, cara membuat bunga dari sedotan plastic, cara membuat patchwork, cara merajut, cara memanfaatkan kaleng bekas, dan berbagai macam ketrampilan yang tak jarang saya praktikkan tanpa arahan siapapun kecuali ingatan saya tentang arahan para ibu trampil yang kadang-kadang membawa serta anak-anak perampuannya saat syuting; dan saya iri karena anak-anak seusia saya tahu berbagai ketrampilan dan bisa masuk tivi ha ha ha…

Saya suka meminta bapak dan ibu saya menggambar bunga untuk saya. Ibu saya gemar menggambar bunga mawar yang terdiri dari mawar yang mekar sempurna, setengah mekar, kuncup, daun dan tangkai berdurinya. Bapak saya tidak pernah tidak menggambar bunga melati bergerombol dengan daunnya yang bulat-bulat. Saya tak bosan walaupun mereka mungkin bosan melihat saya tak bosan-bosan meminta mereka melakukan hal yang sama yang bagi mereka membosankan dan buang waktu saja.

Saya juga suka menabung uang-uang logam sepuluh dan lima rupiahan dalam cepuk (wadah plastic serupa mangkuk) sabun krim Wing’s yang sebenarnya bisa saya buka kapan saja tapi tetap saja saya lubangi tutup atasnya supaya saya “merasa” benar-benar nyelengi.

Saya gemar berenang di kali dekat stren (tanah lapang berumput yang diselingi pohon kelapa) walaupun saya hanya bisa naik punggung Yu Suminah Sugeng, kakak Kang Slamet – lelaki sabar yang tugasnya mendampingin bapak kami dan saat senggang momong adik lelaki saya.

Saya suka bertualang bersama teman-teman saya. Saya pernah menginap di rumah Dik Rosi (putra pak Kakandep) lalu pagi-pagi menyelinap keluar rumah berlagak menculik si pemilik rumah lalu menyanderanya di rumah yang lain (tempat tinggal Eyang Putri si anak tersebut ha ha ha). Saya, Dik Nana, Ana, Dik Rosi dan Lestari.

Saya suka pergi ke langgar (mushola) walaupun saya tidak punya mukena sendiri sampai saya usia SMP. Saya membawa jarik (kain batik panjang) dan peniti lalu membuat mukena darinya dibantu oleh teman-teman saya yang telah memiliki mukena sendiri-sendiri walaupun tidak baru: bisa lungsuran kakak atau ibunya. Fadilah, Fadhilun, Muslihatin, Endar adalah nama-nama yang menginspirasi religiusitas masa kecil saya. Saya belajar mengaji pada mereka.

Saya suka makan didih (darah ayam yang dibekukan) goreng. Padahal didih itu adalah bagian yang tak diinginkan, ditampung di mangkuk daun pisang saat ayam disembelih oleh Mbak Bayan lanang (laki-laki) lalu digoreng oleh Mbak Bayan wedok (perempuan) untuk dinikmati bersama. Mbak Bayan lanang dianggap tahu doa Islam dalam menyembelih ayam. Beliau rajin puasa dan sholat lima waktu. Beliau tahu kapan beliau akan meninggal dan mempersiapkan diri dengan berbaring di pembaringannya, memanggil anak-anaknya, menyuruh mereka tahlilan dan malam itu juga beliau meninggal. Setelah Mbak Bayan lanang meninggal saya tidak pernah makan didih lagi karena ayam yang akan dimasak disembelih oleh anak lelaki Mbak Bayan yaitu Pak Bayan dan beliau membuang darah ayam di lubang tanah. Aku dan anak-anak kecewa.

Hampir sama dengan Sherina dalam Petualangan Sherina ketika dia akan pindah ke kota lain, saya menangis diatas mobil los bak yang membawa saya ke terminal karena saya harus pindah ke kota lain. Saya meninggalkan sebuah rumah kayu jati pondasi batu dan semen, bertegel traso putih bersih, berhalaman depan dan samping sangat luas penuh pohon dan bebungaan. Di rumah itu aku pernah sakit dan senang, disana aku pernah menikmaati setiap detik keceriaan dan kepolosan. Di halaman depannya saya pernah bermain pasir bersama teman-teman ngobrol ngalor ngidul a la anak kecil yang penuh imajinasi. Dan halaman sampingnya pernah menjadi arena pertunjukan ludruk dan kethoprak yang diadakan oleh Mas Herin dan Mbak Yuda, kakak-kakakku yang idenya spektakuler tak terjangkau oleh kelompok bermainku yang hanya dijadikan cantrik dan penggulung layar saat pertunjukan.

Teman-teman saya menangis, melambaikan tangan dan ada seorang dari mereka yang tak kuat dan berbalik lari sambil tergugu. Dik Nanik, Dik Luluk, Dik Lilik, Timbul, Mu Kancil, Udin, Dwi, Dik Tina, Dik Nana… I love you all.

Saya suka melewatkan waktu saya di gubug tengah sawah yang kadang membuat pemilik sawahnya iri karena saya lebih dulu menempatinya. Alangkah baiknya bapak tua itu. Semoga dia diberkahi. Amin. Saya bawa buku-buku yang saya baca hingga menetes air mata saya. Buku-buku petualagan anak yatim piatu dan buku-buku cerita Indian.

Saya suka melewatkan siang saya di gudang samping rumah Budhe Rodiyah karena disitu tersimpan bertumpuk-tumpuk majalah Jayabaya dan Panjebar Semangat. Istana bacaan mewah bagiku yang sedang musim paceklik jauh dari orang tua.

Saya suka bermain di kali dekat sawah dan membuat dempu (bola tanah) dari pasir kali. Dempu paling besar dan tahan pecah adalah yang terbaik. Susanti adalah pembuat dempu terhabat sepanjang sejarah perdempuan kami. Dempunya mulus bisa sebesar bola volley dan tidak retak dalam waktu yang lebih lama daripada dempu kami yang lebih kecil dan kasar.

Saya juga suka naik sepeda turangga milik Budhe Rodiyah, ipar ibu saya. Saya pernah keliling kampong ditugasi menagih hutang ibu-ibu PKK oleh beliau. Saya ditemani Poningah. Kami tertawa-tawa menghapalkan kalimat yang harus kami ucapkan pada penghutang dan kata-kata tangkisan yang harus kami ucapkan jika mereka meminta tempo. Sekarang Poningah menjadi orang kaya di kampungku, suaminya adalah seorang TKI di USA. Kabarnya suaminya bekerja di bagian administrasi sebuah dermaga ikan disana.

Saya suka mencuri… Saya dan teman-teman adalah pencuri buah-buahan di kampong. Jambu monyet, jambu batu, mangga manalagi, mangga Bu Guru (beliau adalah pensiunan guru jaman dulu yang wibawanya masih dibawa sampai beliau berusia delapan puluhan, pohon mangga di halaman depannya yang sangat luas terkenal khas manisnya), nangka Mbah Bin (nenek ini tinggal tepat di depan rumah kami, nangka yang saya curi ternyata sebenernya akan dipersembahkan pada ibuku yang selalu rela memberikannya soft loan tiap minggu karena orang tua malang ini kekurangan uang), anggur hijau, dll.

Saya suka berburu sesaji padi. Tiap musim panen banyak petani yang mengadakan upacara methik (menyediakan sesaji bagi Dewi Sri pada saat pohon padi berusia hamper panen). Sesaji yang tersiri dari setakir (mangkuk dari daun pisang) urap, sebutir telur mentah ayam kampong, sepotong ayam bumbu bali, ati ampela goreng dan beberapa makanan kecil lain serta tak ketinggalan kemenyan, bunga setaman dan boreh (kapur lunak yang diberi wewangian). Kami berlomba mendapatkannya karena sesaji itu ditempatkan di sudut-sudut petak sawah tertentu. Sehingga kami harus mengikuti si pembawa sesaji. Biasanya si pembawa sesaji sengaja mempermainkan kami supaya kami kebingungan dan kelelahan. Kalau sudah begitu kami akan bubar satu per satu dan si pembawa sesaji itu dengan aman meletakkan takir-takirnya dengan aman. Jika sudah usai, dia akan berteriak,”Hooooooooeeeeeeeeeeeeeeee… Wis kene gagak-ono!!!” (Hoy, nih silakan kalian ambil dan makan). Acara ini terkenal dengan sebutan “nggagak-i wong methik”. Saya, Nining dan Kandung & his gang berkejaran tarik-menarik baju berebut jalan menuju sesaji terbesar.

Saya suka belajar bersama. Ada sebuah gubug kecil di belakang rumah Pakpuh Bandi (kakak ibuku yang ketiga) yang setiap siang menjadi tempat saya, Nining dan Mas Ongko (putra bungsu pakpuh saya yang sekarang menjadi kepala desa kampong saya) belajar sambil bercanda. Di samping kandang itu ada sebuah rumah yang tak sepi dari irama kendang atau seruling bamboo karena Mas Tri dan Pristiawan adalah kaka beradik seniman desa kami yang terkenal halus cita rasa musiknya. Tak jarang kami bertiga terbuai alunan kendang dan seruling mereka sampai surup (waktu Asar hamir Maghrib).

Saya suka mengelana saat kemarahan saya memuncak. Saya akan bersepeda ke arah daerah pegunungan lalu berlabuh di rumah kakak sulung ibu saya. Disana saya bertemu sepupu-sepupu saya yang sangat menyayangi saya. Mereka akan membawa saya ke sungai besar berbatu besar, ke mbelik (telaga kecil) untuk mandi, ke kebun jeruk untuk luru (memunguti buah yang jatuh secara natural karena angin atau tangkainya rapuh) jeruk. Setelah menginap semalam saya akan pulang dengan membawa setas plastik jeruk dan uang lima ratus rupiah yang pada saat itu sangat berharga. Malam harinya kami biasanya mendengarkan sandiwara radio horor berjudul Bahu Laweyan. Televisi tak selalu bagus gambarnya karena tiang antene yang kurang memadahi panjangnya atau karena accu yang harus di-seterek (di-recharge). Saya, Mas Erik dan Mbak Ida berdesak-desakan ketakutan sambil tertawa-tawa karena musik horor dan percakapan-percakapan pemain yang seakan nyata.

Saya suka mengunjungi Pakpuh Seno, kakak kedua ibu saya, supaya saya bisa melayani para pembeli di toko beliau. Budhe Ti, istri beliau, mengelola sebuah toko kelontng terbesar di desanya. Saya sangat gemar duduk di kursi dekat etalase belakang lalu membantu mengambilkan sabun, shampo, minyak wangi, kartu remi, tali rafia, bedak, lipstik, jarum, benang, gula, kopi dan apa saja yang dibutuhkan pembeli. Mbak Tantri, putri bungsu mereka yang sebaya saya, adalah partner dagang saya. Dia yang bertugas menjadi kasir karena saya tidak pernah mau berurusan dengan uang yang lepek karena dipegang para pedagang yang sedang kulakan (membeli untuk dijual lagi) di toko itu. Dia suka sekali berteriak jenaka “Dik Rike…enek tikuuuuus!!!” Saya pun berteriak-teriak sambil mengibas-kibaskan rok saya karena jijik. Setelah sadar itu tipuan kami tertawa-tawa berdua. Biasanya Budhe Ti akan protes “Heeeeh… Ojo guyon ae. Ngageti wong turu!” (Hey jangan bercanda saja. Ngagetin orang tidur!”)

Saya suka menangis sendiri… Saya mengadu pada-Nya saat sendiri. Saat saya mengayuh sepeda, saat saya tiduran di gubug, saat saya luru jeruk di sudut terujung kebun jeruk Pakpuh Pur, saat saya di kamar mandi, saat saya slulup (menyelam) di kali, saat saya mengendap-endap sebelum mencuri buah-buahan, saat saya menyulam sendiri si kamar, saat saya membaca kisah Peter dan Anna, saat saya benar-benar sendiri… Kenapa saya tak bisa menikmati keakraban san kehangatan itu dengan orang tua saya… Mereka yang begitu gigih memperjuangkan nasib kami. Mereka yang harus rela berjauhan dengan kami demi menghidupi kami. Mereka tak takut menghadapi kerasnya hidup untuk kebahagiaan hidup anak-anaknya.

Saya menyukai masa kanak-kanak saya. Saya teramat merindukannya.