Dove

I opened my card –

Dove….

White dove.

Serenity, being calm all over the breath, no hustle, no rush, just loyalty and sweetness of being love inside and outside.

Dove is here now, calming down my anger uproar.

Thanks…

Please be here as long as you’d like to.

Please be here as long as you’d think I need you.

So white, so dove, so serene……..

Pause a while….. In the middle of the haste – before gliding through a peaceful passage of unseen orbit.

Singapore – November 20, 2013 – 23:31

Image

Picture borrowed from http://www.ejcr.org/teaching-sets/teaching-sets/White_Dove/manuscriptreviewhistory_whitedove.html

Gate

Image

 

When you are already standing in front of the door, please don’t stop too long doing nothing. Pray, do knock on it or just go away because someone behind you wants to get in or somebody is going to go out from behind the door in front of you.

 

Life is just like going into different doors – never ending chains until finally the ultimate gate is welcoming you at the end of this big journey – just to start the new bigger one. So, don’t doubt. Go in or just go away.

 

The door is yours, the journey is yours, the decision is yours so never bother to think of others’ approval anymore.

 

 

Singapore – November 16, 2013 – 16:25

  • picture of gate of 23 Love Lane – a boutique hotel in 23 Love Lane, Georgetown, Penang, Malaysia (taken just on November 13, 2013 by myself)

Challenges from A Friend

I have a new friend that has given me a lot of inputs about what I should do in my spiritual journey. She supports me with her reading the clues around me and finds solutions for not a few of my problems and several times provides me with challenges.

Once she told me to thank myself for having been supporting me all this ups and downs. She told me to love myself more than I do others – I’d been so exhausted, she said which is true. She also taught me a therapy to face myself – mirror therapy.

Image

http://agenesiscorpuscallosum.blogspot.sg/2009/05/reflections.html

In mirror therapy, I should look at my reflection on the mirror and talk to her. Oh my… It is just like I am having split personality. Yeah…. I was talking like crazy: I expressed my bad emotions at the beginning. Anger, disappointment, shame, fright,   humiliation, lonely, all those kinds of negativities bounced at me. By times, I got better – I said “I love you” to my reflection. Isn’t it to my self? Oh yeah… Yes, it works wonder.

Last night we chatted in whatsapp. This time she brought me one more therapy. It is calligraphy.

I was a bit stunned. It reminded me to a lot of forgotten hobbies. Talking to my self, standing in front of the mirror, saying thank you without reasons. And now calligraphy.

Image

http://www.studioarts.net/calligraphy/c2.htm

She said I need it to stabilize my inner power. My energy is balancing and my body should support it by harmonizing the inner waves. The idea of practicing calligraphy helps us pay attention on stable physical results by controlling emotion inside. I notice my handwriting becomes worst and worst, kinda scribbling rather than writing. Yes, it is time to go back to nature.

Once in elementary school I experimented using my own “font” when writing the a, b, c, d, e up to z in a test to match words and their meanings. And, my grade ended up at 70 while actually I got all correct. It failed in peer correction – my friends did not understand my font.

In junior high, I tried to join calligraphy class where we were taught how to handwrite words taken from Holy Koran. I got good grades. Oh my, I didn’t even know the meaning…. So interesting!

In senior high, we competed to have beautiful yet readable handwriting. And I was one of the best. Oh yeah!

In college I was even crazier…. I memorized by writing all the words…. Beautifully….

Yes, yes…. I am showing off….

Ha ha ha…. What I was trying to underline is calligraphy has been part of mine. I just forgot it some time. My friend came and offered me a new challenge and I love it not because I love the challenge itself but because it brings me to my own self.

Oh, I love this. Really. I am walking into my inner self and I am really happy. Like going back home….

Thank you, Tristi.

Singapore – October 21, 2013 – 21:51

 

Kambing Muda Coklat Tua

Tangan ini mengisahkan seekor kambing muda coklat  yang menghampiriku dalam teduh khusyu doa. Senyumnya tulus, matanya teduh, hatinya penuh keheningan  dan kepasrahan…

“Aku tak punya pilihan lain, harus mati dikurbankan di hari rayamu.” Tak ada lagi kalimat lain, hanya senyum dan kemudian menjauh tanpa amarah padaku.

Tertangkup tangan hangat memancarkan cahaya merah jambu… bola merah jambu berpusar mengitari jagat, cinta kasih dan kedamaian menyelimuti udara…

“Wahai malaikatku, tidurkanlah dia dan kawan-kawannya saat sebelum disembelih hingga dia mati… Taburkanlah wewangian pada sekujur jiwanya… Bawalah jiwa-jiwa merdeka itu dalam bokor-bokor emas bertahtakan permata menuju istana… Di sanalah tempat mereka yang selayak-layaknya…”

Jiwa ini bergelung bak trenggiling kedinginan… Sungai air mata deras menggelontor kepedihan; menyapu debu dan angin yang melekat di tubuh ini, mengantarkan kambing muda coklat tua menghadap cintanya…

Singapura – 14 oktober 2013, malam yang penuh dengan kekhawatiran dan kegalauan karena mengingat kambing, sapi, kerbau, onta yang akan dikurbankan….

MUSIC

kutemukan musik dalam hidup
aliran udara dan tekanan angin yang berbeda menjadi musik
gemericik air dan gulungan debu menjadi nada
tarikan dan hembusan nafas yang satu-satu lembut, sedang, memburu, sesak… tempo…

musik,
jiwa yang berirama,
kehidupan yang berpola,
nuansa yang menggema beribu tahun, kembali mengingatkanku pada alunan musik

terlupa sejenak lalu ingat ketika terpanggil oleh kerinduan….
akan masa-masa yang penuh cinta…

musik selalu menggugah emosi,
menelusuri rasa,
membangkitkan keimanan akan pertemuan dengan yang sejati

dengan YangSejati….

Yio Chu Kang Road, 28 Agustus 2013 – 21:30

BERKISAH TENTANG…

Berkisahku tentang
Sesuatu yang nisbi ada
Yang berkelindan dalam rangkaian rantai hidup
Jika terputus bukan karena patah melainkan karena terhalang kabut….

Tiada yang kuragukan
Hanya sebatas diselubungi lupa dan alpa.
Jikalau ada waktu ku ‘kan temukan pintu, semua pintu
Menuju surga….

Kita berkisah ku
Tentang semua yang pasti… Di siang hari
Di bawah temaram matahari disaput mega,
Yang ada adalah cerita….

Berkisah ku tentang balada anak manusia
Yang tak kunjung siap meninggalkan mimpinya,
Menuju tikungan terakhir….
Menuju kekasihnya….

Changi – 11 Juni 2013 10:28 malam
Menanti Shanghai tiba

20130611-222939.jpg

INDIAN YANG MENERAWANG JAUH ITU

Di salah satu pencarian ke dalamku aku melihat seorang Indian berdiri di tanduk bukit dan menerawang jauh ke Padang rumput yang meluas dihuni oleh bison-bison yang tenang dan damai. Tidak bisa kuras akan apa yang sedang dia pikirkan, hanya menerawang jauh seperti mungkin…. Meragukan kelangsungan hidup dan kelangsungan bangsanya yang makin terdesak oleh sekelompok kulit pucat yang dengan tanpa belas-kasih merebut sepetak demi sepetak tanah ulayat yang mereka rawan dengan cinta dan kedamaian.

Apakah gerangan yang dapat dia lakukan sebagai anak muda yang telah dihina harga dirinya oleh penjajah berkedok modernisasi?

Apakah harus diam melihat bison makin terpojok dan akhirnya tinggal jadi pajangan di museum masa depan? Dan membiarkan serigala melolong lalu hilang dalam gelap lalu mati kehilangan semangat berkelana dan berburunya? Rajawali kehilangan rentang sayapnya dihajar asap kereta api? Cerpelai merana, kuda-kuda meringkik galau dan alam menangis…

Angin membelai rambut sang Indian muda. Matanya dirimbang air mata, sebentar lagi terjatuh membasahi pipi dan dagunya mengaliri leher jenjang dan mengering lagi diserap Jiwa Manitou yang Agung.

Telinganya menangkap kembali sebuah bisikan seorang dara yang baru kemarin memberinya senyuman. Bahwa perjuangan ini tak mungkin tanpa akhir. Mimpi ini harus diwujudkan. Semua kebimbangan harus diakhiri. Tiada yang boleh menghentikan lari jaman tapi tak ada yang mampu menggeser keteguhan jiwa….

Harus ada yang diterima sebagai tamu masa namun Jiwa Renta tetap harus jadi tuan rumahnya.

Singapore – Juni 9, 2013
11:57pm

20130610-000628.jpg

RESOLUSI 2013

WP_000054

Kiamat yang seperti dipikirkan berupa huru-hara tak berjalan sesuai ramalan maka resolusi menjadi hal yang cukup menarik untuk menyemai harapan.

Tahun 2013 adalah tahun yang penuh energi positif dimanapun aku berada. Cinta akan tiba dalam bentuk yang paling sesuai dengan kehidupanku saat ini. Keluarga dan sabahat makin memancarkan sinar kasihnya ke penjuru arah tujuanku. Kehidupan cita-citaku juga menjadi lentera bagiku dan orang-orang di sekitarku.

Tak ada yang tak mungkin dengan kekuatan positif yang selalu dipancarkan oleh jiwa. Kulakukan yang terbaik; jika bermanfaat bagi banyak manusia, kurela.

Oh Hidupku, ijabahlah doaku…

28 Desember 2012 – 9:09

Once Upon A Time When I Broke His Heart

WP_000016

24 hours
And he didn’t come home
Calls were shouted
“Man, please come to me. I miss you a lot.”
But no sign…
He didn’t think I was important.
He broke my heart.
Really.

36 hours
He gave me a ring.
“I’m coming. Do prepare, I miss home already. Don’t let me down.”
He knocked on the door.
I went out.
But three musketeers were before him.
They blocked his way home.
Those three delicate creatures were kinda telling me and him that we could not be together that day.

The light in his eyes faded
Like an electricity black out.
He scolded at me in his silence…
Then walked away.
Again he looked back staring at me full of hatred…
Then walked away.

That was just yesterday when I broke his heart.

This poem is for Bob Kucing that could not enter my house because of three cats sitting at the terrace, wanting to be fed by me. Oh, Bob please hold your jealousy. You are always my number one cat. The rest are just orphans needing our help. I love you, Bob Kucing… 🙂

December 25, 2012 – 11:18pm
My small hut at Cisadane river bank

Fyi, Bob went home then and ate with mounting jealousy though he he he…

HARI INI HARI BATIK

Tanggal 2 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Batik oleh pemerintah setelah UNESCO mengukuhkan batik kita sebagai kekayaan dunia dan seyogyanya kita menyokongnya dengan suka cita. Masih teringat bagaimana hingar-bingar pecinta batik kita berjuang dengan cara mereka sendiri ketika Malaysia mengklaim batik sebagai milik mereka.

Sekilas tentang batik
Batik adalah metode pembentukan motif pada media tertentu – awalnya hanya kain mori lalu berkembang hingga sekarang batik dapat diterapkan pada kulit, kayu, dll – dengan cara menutup bagian tertentu dengan lilin (malam) sebelum proses pewarnaan dilakukan. Awalnya batik memiliki motif tertentu yang dihubungkan dengan proses kontemplasi seniman batik pada jamannya yang biasanya menciptakan karyanya untuk kebutuhan kraton mengingat dulunya batik hanya bisa dijangkau oleh kaum ningrat. Maka terciptalah motif-motif batik seperti Wahyu Tumurun, Kawung, Klithik, Sido Mukti, Parang dengan berbagai variannya, Mega Mendung dll. Semua yang saya sebutkan adalah “batik pakem”
Di negeri kita ini hampir semua daerah utama memiliki batik dengan ciri khas tersendiri walaupun secara umum batik dibagi 2 kelompok besar: batik pesisiran (daerah pinggir laut) dan batik Jogja-Solo (pedalaman). Dua kelompok besar ini membuat khazanah batik Indonesia menjadi kaya luar biasa. Batik pesisiran biasanya menggunakan warna-warna terang dan aplikasi motif yang lebih ringan dan ceria serta menggambarkan objek secara gamblang dan nyata sedangkan batik pedalaman lebih didominasi oleh lebih banyak warna gelap yang lazim disebut sogan (coklat, hitam, kelabu) dan penggambaran objeknya lebih abstrak dan penuh simbol.

Batik Cirebonan adalah contoh batik pesisiran yang paling memasyarakat saat ini. Dengan warna yang gonjrengnya batik Cirebonan mampu menyelinap ke dalam hati para penggemar instan karena memungkinkan mereka untuk bergaya dengan batik secara lebih mudah. Ciri khas batik Cirebonan juga terletak pada objeknya: tanaman, burung-burung, langit berarak, matahari, dll dan satu lagi yaitu “tumpal”. Tumpal adalah aplikasi motif penyelaras di ujung kanan atau kiri kain yang biasanya diletakkan di depan ketika batik dipakai sebagai sarung.

Batik pedalaman atau Jogja-Solo lebih banyak bermain dengan simbol dan pemaparan ide secara abstrak dan mengedepankan kesan sakral dalam setiap motif pakemnya. Misalnya “jarik” Sido Mukti adalah ekspresi doa kebahagiaan, kemakmuran dan kelanggengan desainernya sehingga dipakailah batik ini sebagai salah satu pakaian pengantin. Sebaliknya batik bermotif Parang tidak direkomendasikan dikenakan dalam prosesi itu.

Proses dalam membatik
– memilih media
– memilih motif
– menggambar motif (mola)
– membatik (menutup bagian dengan lilin sesuai pola)
– mewarnai (nyelup)
– membuang lilin (nglorot) dengan cara merebus kain yang telah dicelup
– mengeringkan
– membersihkan batik dari sisa-sisa lilin yang menempel

Tidak terlalu sulit bukan? Tidak ada salahnya jika kita mau mencoba. Kalau ada waktu, silakan kunjungi Musium Tekstil di Jl. Karel Sasuit Tubun, Jakarta yang mengadakan kursus batik secara reguler. Anda akan bertemu dengan para seniman dan instruktur yang dengan suka rela berbagi ilmu, pengalaman dan kecintaan budaya.

Banyak istilah dalam dunia perbatikan yang mungkin tidak terlalu dikenal secara luas misalnya isen, semen, nitik, nyolet, dll. Namun itu bukan hal yang urgent bagi kita untuk mengetahuinya. Untuk saat ini mari kita mencintai dulu batik kita dengan cara memakainya baik setiap hari maupun pada acara-acara tertentu saja.

Kiranya tulisanku di Hari Batik ini cukuplah untuk memberikan penghargaan pada batik dan pelestarinya serta membagi sedikit pengetahuan bermanfaat.

Selamat Hari Batik
Mari pakai batik paling tidak sekali seumur hidup 🙂

Otw Blok M di Ekspres MC2636 – 7:45 pagi

JALAN LURUS INI

Berapa ratus kali dalam hidupku terderas ayat berisi Jalan Lurus ini? Shirotol mustaqim adalah konsep yang selama ini telah mengakar sebagai sebuah jalan yang sangat sulit dan kompleks membuat hidupku sangat berat. Jalan lurus adalah jalan yang jika tak ditempuh oleh orang yang benar maka akan tergelincir di jurang bernama neraka. Jalan yang terbentang setipis rambut dibelah tujuh dan setajam pisau berlian. Tak terbayangkan kecuali menimbulkan ketakutan.

Semakin saya telaah maka hasilnya hanya ketakutan dan penjauhan diri dari persyaratan-persyaratan demi keselamatan meniti jalan lurus itu. Hingga saya berjumpa dengan seseorang akhir pekan lalu.

Seorang wanita yang jika dia tak keberatan kuanggap sebagai salah satu dari guru-guru kehidupanku. Wanita sederhana yang jika orang bicara padanya maka meluncurlah deretan peluru-peluru penuh hikmah dari mulutnya.

Salah satunya adalah pemahamanku tentang Jalan Lurus.

“Jalan lurus itu ya jalan sederhana. Jalan yang nggak membingungkan kita. Lurus saja = sederhana saja. Jalan ini hanya perlu satu kemauan yaitu menjalani segalanya secara sederhana. Sederhana itu ya sederhana, simple nggak usah pusing-pusing. Sederhana dalam berpikir, menyederhanakan sama dengan menyempurnakan. Kau sederhanakan egomu maka sempurnalah pikirmu.”

Luar biasa!

Menyederhanakan.
Sedemikian rumitnya pikiranku dan menyederhanakannya adalah sebuah urgensi pribadi. Tidak ada orang lain yang bisa membantuku menyederhanakan pikiranku. Hanya aku dan aku saja.

Sederhana adalah kembali pada satu komponen terkecil yang sekecil kemampuan terkecilku yang kubutuhkan untuk memahami bahwa “segalanya hanya berdasarkan kesepakatan” maka jika tidak tercapai kesepakatan “jangan marah, diamlah dan nikmatilah hidupmu setiap detiknya”.

Hatiku tersentak dan tersentuh. Musik latar film masa kecilku “Little House in the Prairie” mengiringiku meneguhkan hati untuk menyederhanakan pikiran, tidak memperpanjangnya dengan emosi, menyempurnakannya dengan kemanusiaan. Sungguh kesederhanaan yang tak terlampaui rumitnya.

Jalan lurus adalah jalan sederhana.
Sesederhana keinginanku untuk tak peduli dengan apapun yang berbeda. Sesederhana kemauanku untuk berbahagia setiap saat. Sesederhana hari-hariku yang dimulai dengan ungkapan syukur dan ditutup dengan ungkapan syukur.

Jalan lurusku bukan jalan di mana sujud-sujud panjang menghitamkan dahi para pendoa, bukan jalan di mana dentingan koin emas merisaukan pada pensedekah, bukan jalan di mana rasa lapar dan dahaga ditaklukkan oleh para pelaku puasa. Jalan lurusku adalah sederhana saja: jangan marah dan maafkanlah…

Rumah kecil di bantaran Kali Cisadane
30September2012

RATU KEJAM ITU

Berkelana dari hati ke hati
Menilik mana hati yang sepi
Hati sepi bertahta kilau dunia
Maka bergeraklah dia
Membuai
Membujuk
Memuji
Mengukur kelemahannya
Merontokkan kilauannya
Satu per satu
Dan menendang semua sahabat
Mengusirinya
Demi duduk sendiri

Sungguh hati kosong itu
Makin kosong
Dijajah seorang ratu kejam
Yang bertahta di hati yang bukan miliknya dan
Berkuasa…

Untuk seorang teman yang agak aneh cara bertemannya
Cititel Midvalley – 24 September 2012

BOB

BOBPlease introduce my cat named Bob Kucing..
He is almost 5 years old and might have a lot of offsprings around my neighborhood.
He eats fish as main dish and cat bites for snack.
He spoils me with his purr and manipulates me with his sickness. Hey, he has space for fleas that I work on in my spare time.

He is an adorable cat at least for me. Have a look at his sleep…