SERASA KEHILANGAN IDE

SERASA KEHILANGAN IDE

Dua hari ini saya ngomel terus gara-gara kerjaan yang nggak kelar-kelar padahal lebaran sudah menjelang dan walhasil saya memang nggak dapat lebaran libur untuk tahun ini. Kemarin (lebaran Muhammadiyah) saya seharian ngomel karena HSDPA XL dan 3 yang tidak bersahabat sehingga untuk revisi online saja nggak ngangkat untuk buka satu halaman. Seharian!!! Maka saya bertekat, saya akan pension-dinikan HSDPA XL dan 3 saya dan akan segera melamar smartfren karena menurut teman saya lancar jaya bow!

Hari ini (lebaran NU) saya otomatis nggak kerja karena mesti mberesin kerjaan yang nggak beres di lebaran Muhammadiyah kemarin itu. Syukurlah semua berjalan lancar walau ada sedikit gangguan kecil.

Sekarang karena kerjaan yang ngebetein itu sudah selesai maka saya merasa bebas merdeka! Entah kalau tiba-tiba ada kabar terkini yang membuat saya kerja lagi. L

Namun…. Ketika saya pengen nulis, ide itu tiba-tiba hilang.

Apa yang salah di otak saya? Kok tulisan nggak pernah kelar pada saat yang sudah saya tentukan? Itulah yang sedang terjadi pada saya. Saya hanya mampu menulis hal-hal kecil yang hanya penting untuk saya sendiri. Orang lain tidak akan merasakan manfaatnya. Apakah itu dosa?

Saya rasa nggak juga. Cuma agak sedikit membosankan juga nulis kok nggak rampung-rampung. Bayangkan ada tulisna yang isinya foto doing (POLY GUMMY) padahal draft-nya sudah ada di otak tapi kata-kata yang keluar sungguh tersendat dan bentuknya bengkong-bengkong tidak menarik.

Ya begitulah saudara. Biarkan saya bertapa sambil “blog walking”, ngintip tulisan Anda semua tanpa komen. Maafkan.

Serpong – 31 Agustus 2011 – 3:39 sore

DIMANA JIWAKU TERTAMBAT

DIMANA JIWAKU TERTAMBAT

Keadaan hati yang sesungguhnya kadang menjadi sangat. Asing bagi diri kita sendiri. Perasaan bisa menjadi seperti capung yang mengapung di udara tiba-tiba menclok (hinggap, Bahasa Jawa) di pucuk ilalang berbunga coklat lalu mengambang di permukaan air bagai avatar yang mampu berdiri diatas danau.

Inginnya aku mengenali hatiku sendiri yang membuatku sangat berharap andai aku tak bisa mati. Lekak-lekuk, lika-liku hatiku menjadikanku manusia bodoh yang tak mungkin memandai dengan sekolah. Yang kurasai sekedar “kenapa lagi ini hatiku”.

Pengetahuan dan ketahuan (atau bisa jadi hanya kerasatahuanku) yang dulu pernah kupegang sekarang bagai lenyap tak bersisa. Awalnya aku menganggap bahwa kesadaran adalah ini dan itu, ilmu adalah ini dan itu, kebijaksanaan adalah ini dan itu. Berbagai definisi dengan lancar kuderas. Pemahaman para penjaga ilmu dan bajik-bijak dengan mudah kukuasai lalu kulontarkan seperti lembing yang menancap atau martil yang terbenam atau cakram yang menghantam pada sasaran. Aku pernah mengerti.

Hingga aku merasakan ada sesuatu yang bernama hati yang keberadaannya tak kuselisihi namun penerimaan akan keberadaannya sangat menghendaki energi yang luar biasa. Jika kau punya hati…

Jiwa ini… Apakah dia tertambat pada hatiku? Ataukah terpisah? Ataukah hatiku yang tertambat pada jiwaku? Pertanyaan ini datang dari mana? Dari jiwa atau hatiku? Ditujukan pada siapa? Jiwa pada hati? Atau hati pada jiwa? Atau…

Aku ingin pulang. Pulang ke rumah yang entah dimana; jauhnya tak terkira, namun dekatnya tak kira-kira – panggilannya begitu lantang tetapi jaraknya adalah lelahnya diri.

Dimana jiwaku tertambat? Apakah aku telah sampai di dermaga? Atau aku baru akan meninggalkan dermaga?

Tangerang – 21 Agustus 2011 – 9:51 malam

QUESTIONS ON MOTIVATIONS

QUESTIONS ON MOTIVATIONS

Excerpted from the article written by Liz Brody

  1. Who am I? How do I think of myself? What are my strengths and weaknesses?

  1. Who do I want to be?

  1. Why am I here? Why am I important? What is my mission?

  1. What am I missing? The time to read a book? A close friendship?

  1. What’s my motivation for wanting to improve my food and exercise habits? If it’s to look better, do I expect favorable results to bring love?

  1. Am I afraid of making changes or of taking risks (quitting a boring job, getting out of a bad relationship)? Do I fear failure or the responsibility that could come with success? Could I embrace change instead as an adventure?

  1. What has stopped me from keeping resolutions in the past? Is the obstacle (or obstacles) still present in my life? If so, how will I navigate it this time?

  1. When I’m tempted to wander off track, what could I say to myself, or do, to stick with the original plan?

  1. How can I build in support for myself? Ask a friend to be a health buddy? Join a walking club?

  1. What am I doing in my life that’s hurting me? Smoking? Drinking too much? Letting work interfere with relationships?

  1. What are the sources of joy I need to feel whole?

  1. Am I happy?

Read more: http://www.oprah.com/spirit/How-to-Get-Motivated-to-Change-Your-Lifestyle-LLuminari-Guide#ixzz1V7DC3r9d

HIDUNG DAN KUPING BABI

HIDUNG DAN KUPING BABI

(negeri ini murah dan ramah)

Ketika saya berkunjung ke negeri Siam tidak ada satu pun ketakutan kecuali bahwa ada rasis disana mengingat daerah Pattani yang penuh konflik. Bahkan karena petugas imigrasi berwajah galak tanpa senyum dan kesan pertama driver kami yang kurang baik, sehari di Bangkok bagai merasa “ihhh… kayaknya nggak enak nih”. Yang bisa menghibur adalah hotel yang bagus dan petugasnya yang menyenangkan dan penolong.

Hari kedua saya bertemu teman seperguruan disana dan melakukan lawatan pertama. Suasana menjadi agak cair karena tuan rumah kami sangat baik dalam hal membantu penyelesaian tugas maupun dalam menjamu kami. Pekerjaan menjadi lancar dan tepat waktu walau saya harus membaca huruf semacam hanacaraka (abjad Jawa) dengan tahun yang berbeda sekitar 543. Tahun 2011 adalah tahun 2554 menurut hitungan Thailand. Amazing, kalau kata Mas Thukul Arwana. Saya juga makin senang karena disuguhi tomyam goong yang rasanya jauh lebih uenak (enak sekali, Bahasa Jawa dialek Timur) dibanding yang pernah saya makan dimana-mana. Ingat ya, saya bayar lho bukannya gratis… J

Hari kedua suasana menjadi makin asyik. Saya belajar bahwa orang-orang Thailand ini memang sangat toleran dan berhati hangat. Selama hampir dua minggu disana saya diperlakukan jauh lebih baik daripada saudara serumpun memperlakukan saya. Justru di negeri gajah itu saya merasa lebih aman dibanding ketika saya bertandang ke negeri tetangga lain yang muslimnya lebih banyak; disana saya merasakan ketidaknyamanan karena sebagian orang yang saya temui sombongnya minta ampun…

Tapi yang bikin saya selalu ingin tertawa adalah hidung dan telinga babi yang dengan mudah ditemukan bergelantungan di berbagai tempat. Di tiap jalan Anda bisa menemukan makanan haram. Saya mengatakan haram bukan karena saya menganggapnya buruk. Ini hanya semata mengacu pada agama Islam yang mempredikati beberapa jenis makanan dengan kata tersebut. Seringkali teman saya bilang “You don’t eat pork, right? So, I’ll order chicken for you.” Itu dia lakukan di restoran yang menjual babi. J

Ada lagi masa dimana saya melihat papan-papan petai bergelantungan lalu saya menarik tangan saudara seperguruan ke restoran itu hanya untuk menemukan bahwa hidung dan telinga itu berjajar rapi menunggu disajikan dalam berbagai masakan.

Seandainya saya bukan seseorang (yang mengaku) muslim mungkin saya sudah gemas ingin memakan hidung dan telinga itu. Atau bisa juga tidak karena saya bisa menjadi vegetarian. Tapi percaya atau tidak, selama saya di Thailand saya tidak pernah merasa tidak nyaman walau beberapa teman berpesan “awas makanan haram, Ke”. Saya tidak terganggu dengan keharaman yang ada di sekitar saya karena mudah penyelesaiannya: ya jangan dikonsumsi, toh bisa menggunakan studio (dapur kecil, Bahasa Inggris) di serviced hotel (hotel berfungsi ganda sebagai apartemen) tempat saya menginap untuk memasak apapun yang saya suka.

Di negeri yang penuh dengan hidung, telinga, kaki, perut, iso, usus dan semua organ binatang yang (nggak tahu kenapa dibilang) haram itu saya justru merasakan subhanallah (maha suci tuhan, Bahasa Arab) kehangatan berteman, keamanan bertetangga dan kelezatan makanan.

Semoga orang-orang yang berbuat baik dan berhati hangat senantiasa mendapatkan keberkahan hidup. Amin…

Temasek, 27 Juli 2011 – 2:35 sore

Tentang Thailand

TUHAN MAHATAHU DI SINGAPURA

TUHAN MAHATAHU DI SINGAPURA

(negeri seribu kamera)

Berada di negeri kecil bernama Singapura ini rasanya seperti dijagai malaikat bermata seribu yang bisa mengawasi tiap gerak-gerik seluruh titik emosi di tubuh. Mau begini, takut. Mau begitu, takut. Kenapa? Karena ternyata Tuhan Mahatahu dan akan memberitahukan kejahatan kita pada para polisi di negeri itu supaya segera diproses hukum.

Diawal kunjungan saya berpikir pantesan para koruptor kita merasa nyaman berada disini. Mungkin hanya sekian kemungkinan mereka tertangkap karena tak ada yang namanya polisi nyanggong di prapatan atau tikungan untuk nyari duit buat makan pagi atau makan siang atau setoran untuk istri atau pacar atau atasan. Semua belokan bersih dari “aksi” polisi. Pun tak ada tempelan-tempelan semacam “sedia tempat kost”, “sedot WC”, “guru privat hubungi nomer ini”, “badut ulang tahun”, apatah lagi “dicari koruptor dengan bayaran…”. Koruptor kita tak akan bisa dikenali karena fotonya nggak dipajang. Saya pikir di Singapura ini saya bisa berbuat seenak saya baik secara moral maupun personal.

Tapi pikiran saya bahwa orang berdosa bisa lepas begitu saja disini bisa saja salah besar. Anda mau nranyak (melanggar, Bahasa Jawa) garis kuning bisa langsung dapat panggilan surat tilang seharga SGD100 tanpa harus dikejar polisi. Silakan buang sampah di jalanan, lalu Anda akan dapat surat pemberitahuan. Silakan corat-coret di tiang listrik, nanti Anda akan ditatar masalah vandalisme. Bagaimana tidak: dimana-mana kamera boooow…

Maka seandainya para koruptor kita bebas berkeliaran di negeri kecil ini sebenarnya kecil kemungkinannya tidak tertangkap kecuali memang kamera-kamera itu “dibikin mandul” untuk kalangan tertentu yang sedang “dilindungi”. Tuhan Mahatahu di negeri ini bukan karena Dia tidak mahatahu di negeri lain; tapi bahwa Dia Mahatahu dan kemahatahuan itu diekspresikan secara elegan tanpa paksaan dalam kehidupan manusia itu lain maknanya. Tuhan Mahatahu di Indonesia tapi masih banyak yang bisa kita lakukan untuk membodohi kemahatahuan Tuhan dengan melakukan hal-hal bandel dalam kehidupan sehari-hari dengan segudang pemakluman mulai dari “lupa”, “tak paham” atau “apa boleh buat” yang lainnya. Kalau di Singapura ini manusia masih nakal dan orang jahat masih bergentayangan, alangkah kasihannya Tuhan. Disini Tuhan Mahatahu tapi diledek mati-matian bukan oleh rakyat Singapura yang lempeng-lempeng jasa melainkan justru oleh segelintir “suaka politik” (yang entah legal atau tidak) yang bernapas lega karena lepas dari tanggung-jawab menjalani proses hukum baik untuk dirinya sendiri maupun demi membuka borok kelompoknya atau juga rivalnya.

Negeri seribu kamera ini, dimana Tuhan Mahatahu, telah menjadi sarang warga negara tetangganya yang ingin terbebas dari penegak hukum yang merasa pantas mewakili kebenaran yang dijual dengan sekian digit. Disini juga beberapa orang belajar bahwa tak ada satupun yang bisa mengadili dirinya kecuali tuhan yang diwakili oleh malaikat bernama Seeseeteevee. Nah, bagaimana pendapat Anda?

Loyang – 27 Juli 2011 – 1:56

Kebelet pipis tapi nggak ada tempat cebok

Foto dipinjam dari http://fingerprint-security.net/tag/surveillance-cameras-tips2008/

Negara Cilik Bikin Mrekitik

NEGARA CILIK BIKIN MREKITIK

(desahan dari Temasek)

Begitu mendengar kabar penugasan ke Temasek untuk yang pertama kali yang muncul tentu suka cita karena pasti ada pengalaman berharga yang akan saya tangguk. Kehidupan di negeri kecil mungil diujung Semenanjung Malaka ini (walau tak pernah menjadi magnet kuat bagiku) menjadi salah satu tujuan pergiku suatu saat nanti. Tetapi ada juga rasa “ealaaaah” begitu acara booking hotel dimulai. Nilai uang yang di negeri lain bisa menyewa kamar yang “layak” hanya bisa membeli kamar standard di red district wilayah Geylang. Belum lagi pemberitahuan “breakfast not included”.

Bagaimanapun rasa syukur harus kupanjatkan kepada Alam Raya yang telah berbaik hati menggratiskan wisata saya sembari kerja (atau kerja sembari wisata). Tak henti aku memuja kemalangan dan keberuntunganku yang tak didapatkan oleh orang lain saat ini.

Tanggal 25 Juli 2011 saya terbang bersama Air Asia menyeberangi langit menuju Changi. Sampai daratan itu masih pagi sekitar pukul 9:57. dengan taksi Comfort saya menuju Hotel 81 Princess di 21 Lorong 12 Geylang. Di kamar 615 twin bed saya diinapkan. Karena masih sangat awal maka saya yakin masih bisa berkunjung ke beberapa tempat. Pertama yang saya cari adalah brosur. Berbagai brosur yang dipajang di lobi hotel saya comotin lalu saya bacain secara menggila. Dan pilihan jatuh pada brosur yang menawarkan “naik kereta tanpa tut tut tut”.

MRT Singapura ternyata lebih baik daripada yang Malaysia punya. Penumpangnya juga lebih beradab, mereka tak mau mendesak-desak penumpang lain yang sedang kejepit ketek orang seperti di KL. Jika kereta penuh maka mereka tak akan naik (mungkin kecuali diburu waktu).

Saya juga membeli ez-link card: kartu abunemen MRT yang berlaku hingga 5 tahun jadi kalau nanti saya ditugaskan lagi kemari, saya bisa naik kereta pakai ez link tanpa harus repot-repot beli lagi.

Kemanapun Anda pergi, jangan takut kesasar karena Singapura ini kecil Saudara-Saudara. Kecil banget hingga saya pernah nyasar dari Esplanade hingga ke City Hall karena “keenakan” jalan kaki di bawah tanah. Tahu-tahu lho kok udah diarahakan ke City Hall ha ha ha…

Makanan?

Mau halal, mau haram ada semua. Di ujung Lorong 7 Geylang ada sebuah resto Thai Muslim yang ternyata pedagangnya orang India. Makanan yang disediakan nggak masuk lambung saya: curry… Restoran Chinese food pating blader (berserakan, Bahasa Jawa) menggantung bebek-bebek berlapis angkak merah. Tak seperti di Thailand, hidung dan kuping celeng tak terlihat mencolok.

Makanan disini mahal, Saudara. Kalau mau murah makan saja roti prata tanpa isi. Otomatis badan bisa kurus dengan sendirinya. Tapi saya nggak tega membeli roti yang bikinnya dicemek-cemek tangan Tuan Takur yang hitam ha ha ha… Sekali makan yang layak terjang sediakanlah sekitar Rp. 70.000 plus minum. Jadi kalau Anda makan tiga kali ya kalikan saja. Dijamin sangu dari kantor habis sebelum sampai rumah ha ha ha…

Ada satu lagi, telekomunikasi. Internet lancar walau di hotel murah sekalipun; hanya saja satu kamar satu username/password jadi kalau mau nge-Net kami berdua mesti bergantian. Jadi kalau mau ngempi atau fesbukan dan check email kantor kami mesti bagi waktu sebelum menikmati kebersamaan dengan berbincang tentang kampung halaman masing-masing dan pekerjaan. Tapi jangan harap handphone bawaan dari luar Singapura bisa dipakai sesuai fungsinya. Handphone saya hanya bisa SMS dan nelpon dengan memakai “M1” GSM SIM card. Padahal dua hari pertama saya sempat pakai Star Hub teman yang dipinjamkan pada saya. Yah sudahlah memang nasib orang miskin dolan-dolan di negeri kaya. Jadi tak ubahnya Kabayan saba kota (Kabayan berkunjung ke kota, Bahasa Sunda).

Hari ini tanggal 27 Juli 2011 saya mengarah ke daerah Loyang dekat Changi, ke sebuah pabrik percetakan yang prestasinya ngedap-edapi (mengagumkan, Bahasa Jawa). Naik taksi pastinya. Kan mahal? Ya, untuk apa kartu kredit kantor kalau tak digunakan untuk memudahkan urusan kerja. Mumpung kerja sambil wisata, mari kita gunakan fasilitas ini dengan baik. Bukankah demikian?

Ok, Saudara… Semoga perjalanan saya berkah. Penuh dengan kebahagiaan dan hikmah. Amin. Eit… Maaf kali ini tak ada buah tangan. Harga menjadi pertimbangan utama. Daripada dibelikan oleh-oleh mending saya pakai jalan-jalan kan… J

27 Juli 2011 – 1:00 siang tepat setelah makan siang yang tak mengenyangkan

[Haiku Biografi] – [Rike Jokanan]

[Haiku Biografi] – [Rike Jokanan]


evening star
bengawan Solo flushed a jar
of placenta away

a nine-month old gal
ran in a speed uncontrolled
ended in a shrub

a wagon full of stuffs
carried tears and friendship away
to another mountain

colorful ribbons fly
overhead of jumpy monkeys
welcoming campus life

wrinkle skin and falling hair

glowing eyes staring at the moon

never ending gratitude

=====

bintang senjakala

bengawan Solo menghanyutkan

sebokor ari-ari

balita sembilan purnama
berlari tanpa haluan
nyungsep di semak

bak mobil penuh barang
bawa sahabat dan air mata
ke gunung nan jauh

berwarna-warni pita
beterbangan di atas monyet
jelang dunia kampus

berubah kulit dan rambut

gerlap mata menatap bulan

syukur tiada akhir

Tangerang – Bandung, 21 Juni 2011 – lepas Isya hingga dini hari

 

500 JUTA UNTUK MENIKAHI WANITA WNI (belum selesai)

500 JUTA UNTUK MENIKAHI WANITA WNI

(indikasi woman trafficking?)

Punya suami bule mungkin menjadi semacam kesenangan tertentu bagi sebagian wanita Indonesia. Selain demi memperbaiki keturunan juga mungkin memperbaiki taraf hidup. Atau mungkin saja itu hanya semacam kesenangan atau selara belaka. Tapi kemudian ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan.

Seorang teman saya menjadi istri sirri seorang lelaki Eropa beberapa tahun belakangan. Sudah beberapa kali sebenarnya dia meminta dinikahi secara legal sehingga tidak ada ganjalan untuk melakukan perbuatan hukum seperti memiliki anak, membeli rumah dan lain-lain.

Tadi malam ketika ngobrol dengan beliau, tanpa sengaja saya meledek dia.

“Ah, kali aja suami elo nggak mau nikah legal karena nggak mau deposit 500 juta… Eh, atau jangan-jangan nggak punya duit dia ya? Kali ya…”

“What?!”

Saya terdiam. Waduh, tersinggung dah dia… Atau dia nggak tahu. Saya HHC (harap-harap cemas) menunggu apa reaksi dia selanjutnya. Bisa mati lah aku kalau dia marah.

“Lho emangnya kudu deposit duit?”

“Hoi! Jawab pertanyaan gue dong!”

“Iya, katanya sih 500 juta, Yul… Dan setornya musti ke bank syariah, bisa diambil setelah kurun waktu tertentu…”

“Ya ampun kenapa suami gue nggak bilang kalau ada ketentuan kayak begitu?”

“Tenang… aku belum fixed dengan UU ini. Kita cari info dulu aja…”

Sejak itu emoticon-emoticon yang dia kirimkan adalah L dan tanda menangis semua. Kasihan juga tapi kok ya gimana udah kadung saya membuatnya sedih.

Lalu saya browsing RUU atau UU atau apalah status aturan itu saat ini. Dan yang muncul adalah RUU dengan segudang protes dan cemooh menghiasi postingan yang diunggah di banyak blogs dan websites. Seseorang di kantor saya yang gape tentang aturan perundangan Indonesia juga telah menginformasikan hal tersebut beberapa bulan yang lalu ketika saya ngobrolin pernikahan kakak perempuannya dengan seorang warga negara Amerika Serikat.

Saya sedikit heran juga. Bisa-bisanya pemerintah punya rencana mengadopsi hukum positif di Mesir untuk diberlakukan di Indonesia.

BERSAMBUNG hi hi hi… *seringai ngeselin*

Serang – 15 Juni 2011 – 2:46 siang

Calonarang

CALONARANG

(ocehan kemarahan dalam kejujuran)

Selamat datang di daerah terlarang. Terlarang karena khusus untuk orang-orang yang menghargai keburukan. Calonarang yang terkenal dengan kesaktian hitamnya menjadikanku terinspirasi dalam nyondro (mendeskripsikan, bahasa Indonesia) diri sendiri. Waktu kecil dulu aku mendengar cerita Calonarang dari Mbah Bayan. Beliau adalah tetangga kami ketika kami masih tinggal diantara hutan jati di kawasan Bojonegoro. Tiap sore saya akan bergabung dengan Mbah Bayan putri yang nggelar kloso (menghampar tikar, Bahasa Jawa) di halaman depan tempat beliau dikerumuni cucu-cucu yang berteman denganku. Salah satu cerita yang beliau ceritakan adalah Simbok Calonarang – tentunya cerita ini versi bersambung karena terlalu panjang jika dikisahkan dalam semalam.

Setelah dewasa, saya baca Calonarang-nya Pramoedya Ananta Toer yang membuat pemahaman saya tentang Simbok Calonarang ini makin berwarna.

Ada satu hal yang sedang saya hubungkan dengan diriku.

Aku ini Calonarang.

Yang menari dikerubuti pengikut setia,

Entah setia entah hanya karena tak ada yang diikuti,

Yang pasti mereka jejingkrakan menari mengitari Simbok Calonarang.

Mengorbankan manusia tanpa dosa,

Entah tak berdosa atau hanya karena dibandingkan dengan pengorbanan

Yang tak ada hubungannya dengan kesalahan korban selama hidupnya,

Yang pasti dia harus mati demi upacara Simbok Calonarang.

Simbok Calonarang melakukan kejahatan-kejahatan itu disebabkan oleh kemarahan yang dipendamnya lantaran memang tak ada pilihan lain kecuali memendamnya sedalam dan serapat mungkin. Kadang manusia tak mampu menghadapi kenyataan selain dalam dinding hatinya sendiri. Masalah yang membuatnya marah menjadi semacam magma yang bergejolak dalam jiwa dan menjadi bahan bakar hidupnya. Her anger is her survival. Jika dipadamkannya kemarahan dalam hati maka tamatlah riwayatnya.

Kemarahan inilah yang rupanya juga ada di diriku. Tadinya tak kusangka aku ini semacam Simbok Calonarang. Ada kemarahan yang berkobar-kobar dan di inti kobaran itu ada bara yang kujaga agar abadi. Aku tidak membunuhi orang-orang dan memakai darahnya untuk keramas. Aku juga tidak mau diikuti orang-orang yang menari-nari mengelilingiku sambil ikut-ikutan keramas darah korban tapi aku seperti tidak rela jika ada orang yang mengutarakan kritiknya padaku. Pun jika sudah ada demdam pada orang, aku biasanya menyumpahi mereka (dalam kedalaman hati) supaya mereka sial seumur hidupnya karena kalau “hanya sekedar” mati alangkah beruntungnya. Pokoknya aku ini bener, yang lain bener biarin yang penting aku juga bener.

Sedikit demi sedikit kesadaran akan kemarahan ini mulai menguat dan keinginan untuk keluar dari kemarahan itu makin subur. Dan, aku makin marah. Ironis.

Ada satu orang yang sampai saat ini masih menjadi objek sumpah serapahku. Kusumpahi dia mendapatkan kesialan berupa masalah yang menimpa seseorang yang sampai saat ini tak bisa lepas dari dia. Anaknya. Kalau anak itu sial, aku yakin dia akan menderita seumur hidupnya. Kejadian yang membuatku membenci wanita itu memang cukup tak disangka. Bagaimana bisa Anda menyangka orang yang paling mendukung adalah orang yang paling menentang? Sungguh sebuah ironi, sebuah jebakan. Saya dijebak!!!

Yo wis lah… biarlah Simbok Calonarang itu bertahan untuk beberapa saat dalam jiwa saya. Biarlah kemarahan ini bercokol sebagai tanda bahwa aku juga manusia yang punya emosi negatif. Tapi aku tak mau musnah oleh api ini. Aku mau dong bahagia. Simbok Calonarang bisa saja berubah menjadi Putri Salju. Ya, mari kita mengunjungi negeri salju untuk menetralkan panas Dewa Agni ini.

Salam Calonarang.

Tangerang, 12 Juni 2011 – 9:09 malam

Gambar dipinjam dari http://www.bukucatatan-part1.blogspot.com