TO KILL A MOCKING BIRD

Read in December, 2008, read count: 1

I like this book. It has brought me to my childhood memory. Scout’s story makes me miss many things.

I miss my adventures.
I miss my strange neighbours. They were people who once made me think that without them I could never survive my school, my hobby, my religion, my family and all in all my life.

I miss my maid who — I strongly think — was closer to me than my mother was. If I may say, I has been raised by a maid ha ha…

I miss my courage to fight my brother, who is now becomes someone untouchable. I love my brother the way Scout loves Jem but we (Scout and I) realize that Jem is a boy and he is so annoyingly selfish sometimes.

I miss I miss to be hugged by my father. He is up there in heaven. I miss to draw jasmine with him. I also miss my mom who would draw roses for me. She is now waiting for me revisiting her after a long time absent.

I miss to be someone loving people without prejudice and without being negatively considered.

Your partner as your unconscious image of yourself (share dari Facebook temannya teman)

Your partner as your unconscious image of yourself

by Arum Indriasari on Friday, January 21, 2011 at 8:59am

Your partner is a mirror of your state of consciousness and through him you will be able to know yourself.

Love relationship has become something very interesting and yet complex issues in all human lives. Men and women are very different creature that tend to attracted each other when they have so much thing in differentiation. You tend to attract to someone that you think quite different compare to yourself. It creates a strange curiosity in you and slowly you develop interest on him. Interestingly, you will attract on someone with qualities that you don’t have yourself. The purpose of love relationship is the melting and union from two opposite becomes one, to complete the whole purpose of creation and perfection.

Many people don’t realize that our partner is the mirror of your state of consciousness at the moment. The universe works in a mysterious and funny way. Our purpose in life is to gain understanding about ourselves and to evolve as beings. Once you move into higher realm of your level of consciousness; you will attract the surrounding with same qualities around you. It could be new friends and new lover. You will attract a love partner that will mirror and challenge your inner quality.

Men and women have unconscious issues that sometimes have been overlooked or prefer not to be seen in the reality. An insecure woman will attract man with the same problem; maybe man with childish and immature behavior. Someone who has fear about intimacy will attract the other with same problem too, manifested by a person who has difficulties in commitment; either married person or just unavailable .

Look at your partner eyes, let your partner be your mirror, you will see your unconscious quality of you. You will see your fear, your hidden obsession, your desire, your sadness that has been suppressed for so long. You will see the ugliness of you and wondering if that your lover fault. Love relationship has opened us to the deeper level of our soul. Go beyond intimacy, layer by layer, you will reveal yourself. In the uneasiness process, you will start thinking and find something to blame outside. It must be your lover imperfection or your relationship doesn’t fit well, you don’t belong each other, and again the same repeating old cycle happen; you not happy and think maybe better you call this relationship off and find somebody more suitable for you. Sadly, this process will repeat again, until and only when you move together in deep meditative relationship, only compassion and awareness will stop you from this never ending circle.

Only in the love relationship, men and women will reveal their honest and truest quality. By time you will not be able to maintain your ‘want to be image’. The pain, the ugliness, the fear all will come up to the surface then you will start yelling each other and love turn to hatred.

Love and hatred are same actually; same intensity and quality. You wonder of why by being alone you such a cool person than suddenly , being with someone has turn you into a jealousy and obsessive person? Yes by being alone you don’t have a mirror to see your face. Being with someone and he is reflecting to your face, then you realize that you still have those things but only suppress them. Funny, a woman like this will attract a man who will always challenge her into jealousy and anger.

A man who fears intimacy because he doesn’t want getting hurt; he will seeks endlessly and involves in the love affairs. He is longing for love, to feel in love but when love finally arises surround him, he starts to freak out and put some distance. This kind of man will also attract a woman with similar problem about insecurity and their relationship will be vulnerable and lack of trust.

Just step out when all those feeling arises within you, observe and accept that you still have fear, anger, jealousy, pain etc. Don’t suppress that and feel guilty about neither yourself nor pointing the finger towards your lover and put the entire burden on him. Now it is time to be meditative and observe all those emotion. Be grateful for your partner since he is there to be your mirror.

Remember about law of attraction; you will attract a person with similar inner quality.

You will be surprise when you patient enough and observe all those things; then you will be able to detach between you and the emotion. More you observe more you detach and suddenly in the beautiful morning you will see your partner eyes to find nothing but love, and compassion there. You will see your face reflected there; pure, glowing, beautiful without any stains of those old things that has been burdening you.

And your partner; he sees nothing in your eyes only his purity and glowing face. The love relationship has evolved and changes into the higher realm, more conscious with more loving quality.

COURAGE !

MORE CHEAPER

MORE CHEAPER

(ekspresi tata bahasa kurang tepat yang terjadi tidak hanya di Indonesia)

Sebagai orang yang suka memperhatikan interlocutor yang sedang bicara, saya sering mendapati hal-hal lucu yang tidak semestinya terjadi semacam ekspresi tubuh yang tidak kompak dengan ucapan, senyum yang salah tempat dan tentunya pemakaian kata atau tata bahasa yang tidak benar. Contohnya adalah yang akan saya bahas hari ini.

Selama dua pekan ini saya ada kerjaan bersama seorang kolega dari daratan Tiongkok yang bahasa Inggrisnya sama bejatnya dengan bahasa Inggris saya. Alangkah lucunya jika tiap hari harus bilang “Excuse me, do you mean blah blah blah?” di akhir ungkapan interlocutor di depan kita. Tetapi ada satu frasa yang tidak dinyana disangka eksis juga di daratan dia. Tiap bilang “lebih murah” dia selalu mengatakan more cheaper sebagai ganti cheaper. Awalnya saya pikir itu kesalahan sesekali saja tetapi lama-lama saya ngeh bahwa yang dia maksud more cheaper itu ya artinya lebih murah.

Waktu saya tanya apakah more cheaper jamak diucapkan disana, dia bilang “yes, it means it is not expensive and even less expensive, right?” dengan percaya diri tingkat tinggi. Tanpa bermaksud berlagak bodoh saya diam saja, berpikir ulang apakah frasa more cheaper itu dikukuhkan di daratan sana karena maksudnya “banget-banget lebih murahnya” atau memang tata bahasa teman saya ini memble.

Ya apapun itu saya tidak terlalu mempermasalahkan kecuali jika nanti dia menulis laporan dengan mencantumkan kalimat “The food in Central Java area is more cheaper than the one in Jakarta”.

Pak Sarinten klelekan anda, cekap semanten atur kawula.

Bandara Ahmad Yani, Semarang

21 Januari 2011 – 3:14 sore

SEMBUNYI

SEMBUNYI

Bergelung

Di bawah kolong langit

Hingga hujan menyibak keberadaannya

Lalu menggenangi lubuk jiwanya

Dengan keramaian yang tulus

Dan ketulusan yang ramai.

Jika hidup hanya untuk sembunyi,

Carilah tempat lain

Selain kolong langit.

Yogyakarta, 18 Januari 2011 – 11:35

KALEIDOSKOP PENCERAHAN

KALEIDOSKOP PENCERAHAN

Sinar berpendar

Melolosi keakuan yang pernah mengasah kemarahan

Dan menajamkan lidah.

Burung-burung bercericit di tangkai-tangkai bunga menur

Mendamu bunganya agar wanginya terbang ke hidung

Lalu menyelusup ke seluruh urat wadag manusia.

Kadang desir getir masih menyerang.

Sesekali.

Lantas pergi seperti pemilik sayap syurga, nanti datang kembali.

Negeri antah berantah menjadi tempat pelarian sempurna

Menjadikan Alice bukan satu-satunya orang asing.

Pulangnya beroleh-oleh senyum atau airmata yang meringankan perjalanan.

Rangkaian listrik bersambung-sambung tanpa sela

Mengantar pijar-pijar gairah sepanjang milyaran syaraf.

Bersiap-sedia tanpa tidur. Tiada kantuk, meniru Tuhan.

Teriakan di gendang telinga seakan bisikan dari seberang benua.

Yang ditangkap syaraf adalah kehidupan nyata yang muncul di awang-uwungl.

Sekilas tak teraba. Demi waktu, yang tak tampak terbukti nyata.

Setetes demi setetes impian itu mendanau, merembesi daratan dan menyuburkannya.

Benih yang pernah beku menjadi gembur bersama tanah;

Alunan nada kehidupan bersiap menumbuhkan pohon raksasa bernama sejarah baru.

Kejujuran berkata-kata bukan lagi kejujuran yang terukur

Karena ternyata kamus bisa direvisi, makna bisa bertelur menetas dan beranak-pinak atau bercabang seperti akar-akar yang merasuki kewarasan bumi.

Kaleidoskop bukan lagi sejarah pendek yang ditakar dengan dacin 12 bulan.

Dia ulangan kejadian yang minta tempat di negeri kesetiaan manusia

Untuk menjadi dirinya yang sadar akan ketiadaannya.

Kelana jiwa,

Memberitakan perjalanannya kepada pribadi yang meringkuk dalam telinga

Sang dewa samudera.

Salam kepada warsa.

Bergulirlah

Bawa sungai ini ke lautan pencerahan.

Keramat, 1 Januari 2011 – 11:11 malam

ternyata di masyarakat kita ini perempuan belum dipercaya bahkan oleh sesama perempuan sekalipun… bukti nyata: seseorang pernah berkata “nggak usah rekrut perempuan lagi, ribeut urusannya”. itu yang bilang lelaki. kalau yang perempuan bilang “gw kalau urusan sama sesama perempuan males. ribeut”. dasar perempuan….!

IBUKU DI HARI IBU

IBUKU DI HARI IBU

Tadi kutelpon ibuku, menyampaiakan kabar baikku dan mendengarkan suaranya yang merdu. Ternyata beliau juga ingat hari ini Hari Ibu. Ketika kuucapkan “Selama Hari Ibu ya, Bu…”, beliau serta-merta berterima-kasih dan lalu mendendangkan doa-doa untukku.

Wanita itu, ibuku.

Selalu ramah menyambutku dengan suaranya yang mendayu dan syahdu. Sabar bikin musuh gentar tetapi tetap lembut mengurai ruwetnya akar-akar syaraf anaknya ini.

Apa yang mesti kuucapkan padanya, sudah kulakukan pagi tadi. Tapi apa yang mesti kuberikan kepadanya sebagai bingkisan Hari Ibu? Entah… Sesuatu tidak cukup membayar kenangan hidupku denganya karena dia lebih dari segalanya yang kupunya.

Mata uang yang kutawarkan adalah cinta baktiku. Bisa saja dia tak cocok dengan bentuk kebaktianku, tapi akan selalu kulihat ketulusannya menerima laku doaku.

Oh, Ibuku…

Selamat Hari Ibu

Kupohonkan sejuta kemuliaan bagimu.

Salam cinta dan bakti…

LIA Taruna – 22 Desember 2010 – 1:25 siang

DAWAI KETIADAAN

DAWAI KETIADAAN

Dawai sukma bergetar anteng mengalunkan tembang termuram yang perlahan memekatkan hawa sudut tiap partikel pembentuk wadag.

Dimana lagi nada-nada menyebar?

Usah ditanya, mereka menggapai segala arah yang ada untuk menjadi alpa, tiada.

Panji perdamaian mengurai angin membelai mata angin yang berjumlah tak hingga.

Serba-neka perasaan terpusat di titik tiada. Rapat dengan kesirnaan yang berat dibaluh ruang dan waktu.

Niscaya…

Pinang – 21 Desember 2010 – 10:07:05 malam

OSENG PEPAYA MUDA

Description:
Semua bahan dan bumbu silakan ditentukan berapa banyaknya. Jika tidak suka udang, silakan diganti yang lain atau ditiadakan saja…

Ingredients:
Bahan:
– Buah pepaya muda
– Petai
– Udang pancet (bisa diganti ebi kering)
– Daun so (bila suka)

Bumbu:
– Bawang putih
– Bawang merah
– Cabai rawit
– Daun salam
– Lengkuas
– Garam
– Gula
– Penyedap rasa jika suka
– Minyak untuk mengoseng

Directions:
Cara memasak:
– Iris-iris papaya memanjang tipis, cuci sambil remas-remas memakai garam lalu tiriskan.
– Kupas petai, belah dua.
– Bersihkan udang.
– Haluskan bawang putih, bawang merah, cabai rawit, garam dan lengkuas.
– Panaskan minyak lalu masukkan bumbu halus. Lalu cemplungkan udang.
– Masukkan irisan pepaya muda, aduk hingga merata dengan bumbunya.
– Taburkan daun salam dan gula. Tutup masakan beberapa saat.
– Jika sudah cukup empuk, masukkan daun so.
– Taburkan bawang merah goreng ketika menyajikan.

Mengenali Cakrawala Yang Melintas

MENGENALI CAKRAWALA YANG MELINTAS

Kukira cakrawala berhenti

Ternyata dia melintas

Seperti burung-burung yang berderet membentuk huruf V

Mencari tujuan yang telah ditemukan sebelum beranjak pergi.

Cakrawala itu

Itu? Jauhkah kau sebut itu?

Atau cakrawala ini?

Yang dekat bersanding dengan aliran jiwa

Yang memusat di jantung yang terus berdetak.

Cakrawala mengintip langit

Membuka jalan yang dipasangi rantai seperti

Yang dilintasi para bintang diatas karpet merah,

Indahnya….

Cakrawala itu perlahan kuluaskan agar napasku lebih lega

Tanpa mesti memakai topeng penyaring udara.

Lebih cepat cakrawala kudorong,

Makin lega rasa yang kusimpan.

Agaknya niscaya.

Cakrawala menjadi kebaikan

Yang tak pernah terbayang sebelum kumati dalam tubuhku ini.

Rasanya semacam onggokan jiwa yang siap meledak

Dan mendobrak jalan ke surga.

Cakrawala ini

Cakrawala itu

Tak ada pemisah antaranya.

Penautnya adalah jantungku

Yang tak hendak mengungsi

Biarpun bencana menguntiti.

Pinang, 12/12/10 – 2:52 siang

SUP SPAGHETTI KACANG HIJAU

Description:
Saya memasak hidangan ini karena cuma itu saja yang bisa saya temukan di kulkas he he he… Selamat mencoba. Jika Anda ingin membuat variasi untuk resep ini, sepertinya akan semakin lezat memikat. Selamat mencoba…

Ingredients:
Bahan:
– 1 genggam spaghetti
– ½ genggam kacang hijau
– Wortel
– Air secukupnya

Bumbu:
(ukuran secukupnya sesuai intuisi memasak Anda he he…)
– bawang putih
– merica
– garam
– gula
– perasa jikau suka

Directions:
1. Rebus kacang hijau hingga cukup matang tetapi tidak sampai empuk atau hacur sekali.
2. Masukkan spaghetti dan bumbu yang telah dihaluskan. Kemudian tambahkan wortel.
3. Angkat jika spaghetti telah masak (empuk).
4. Sajikan dengan saos sambal.

TIDAK

TIDAK

Berhentilah berdetak

Wahai, jantung yang menguntit bayanganku.

Pijakan di bawahku mulai berderak

Tak mengijinkan lagi penumpang tambahan

Yang niscaya meruntuhkan perahu

Lalu menenggelamkanku

Bahkan sebelum ujung pulau tertangkap.

Atau

Jika kau masih ingin hidup,

Segeralah ambil dayung di bawah lantai geladak

Kemudian sawuklah gelombang

Menjalankan bahtera

Menuju persinggahan terdekat.

Pinang, 11 Desember 2010 – 8:15 malam

TUA TANPA BERBANGGA

TUA TANPA BERBANGGA

Ada beberapa hal yang dulu pernah saya suka akan diri sendiri; salah satunya adalah kepekaan pada penderitaan orang lain. Kalau sudah berhubungan dengan kesusahan orang, saya akan menyingsingkan lengan baju. Apa yang bisa dilakukan akan saya lakukan karena secara financial tidak mampu.

Ternyata akhir-akhir ini saya merasa makin tua malahan diri tidak punya apapun yang bisa dibanggakan. Secara fisik semakin tidak mampu membantu orang lain sedangkan secara materi masih orang yang miskin.

Hari ini ada tetangga yang meninggal dunia. Rumahnya tepat di depan mushola yang ada tepat di sebelah kanan rumah. Karena dalam budaya lokal yang membantu di dapur adalah ibu-ibu, maka saya tidak terpakai disana. Karena yang meninggal lelaki maka yang menyelenggarakan jenazah harus lelaki, saya pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena uang tak punya maka saya tak bisa menyumbang yang sedang kesripahan (mendapat musibah, Bahasa Jawa).

Dan, saya pun diam di rumah menikmati akhir pekan bersama Bob, kucing yang menjadi sahabat selain Bob yang satu lagi yang durasi dan frekuensi pertemuannya sangat terbatas.

Saya mulai berpikir bahwa bertambahnya usia tidak otomatis membuat seseorang makin berisi seperti biji padi yang siap dipanen walaupun gerakan merunduk bisa saja menyamai pohon padi. Kalau pohon padi merunduknya karena berisi, kalau badan renta merunduk karena lemah ditarik gravitasi.

Apakah mesti disesali proses yang tak terhindarkan ini? Rasanya justru akan tidak menyenangkan jika tidak bersikap bijak menghadapi pelemahan dan pengurangan dalam fase tenggelamnya masa kegemilangan ini.

Ya sudahlah. Tua dan tak berbangga mungkin telah menjadi jatah saya.

Tapi ada satu hal yang masih membuat harapan tak pernah redup dalam menerangi perjalanan ini: bahwa aku masih bisa membedakan yang tulus dan yang hanya di pelupuk mata.

Keramat – 28 November 2010 – 4:04 sore

BERGERAK MENYUDUT

BERGERAK MENYUDUT

Ke sudut aku berlari

Menanti datangnya matahari

Yang bergelung lama di kehangatan

Dan keegoisan para penguasa dunia.

Lemah rasanya.

Bersandar kini ku pada sudut

Yang entah melindungi ataukah

Membuatku makin ringkas.

Remah-remah perjalanan

Berkedut mencari satu sama lain

Lalu

Menyambungkan diri.

Tersasarkah aku? Atau—

Hanya beristirahat sementara

Di sebuah sudut

Yang tanpa rasa…

Kelima indera

Mengembara,

Belum kembali

Kesini:

Tempat berkemas;

Walau kehabisan ruang.

Masihkah yang keenam? Atau—

Tak disisakan apa-apa?

Sudut ini:

Pilihan hamba

Karena dialah yang belum pernah kupilih,

Pasti akan membuatku berbeda.

November 26, 2010 – Indra Puri Lampung – 10:33 malam

BERAPA

BERAPA?

(hitungan mundur)

Menghitung itu seperti menghimpun pasukan, sekelompok prajurit yang dibariskan menunggu teriakan komandan. Tanpa tawaran mereka bergerak, maju ke medan perang. Jika mati, hitungan dimulai lagi dan sekelompok besar atau lebih besar lagi tiba: datang menumpas musuh yang bisa menang bisa juga kalah jika sandi komandan tak tepat.

Dan,

Sempalnya satu angka pasti akan mengakhiri hitungan. Prajurit kelak berhenti menyerbu, tak ada lagi yang datang oleh panggilan komandan. Niscaya dunia terasa damai…

Sebentar lagi

Hitungan itu berakhir

Menyudahi kelengangan ruang aula raksasa.

Apa yang bakal terjadi?

Berapapun harganya komandan akan menutup mulutnya, membuang peluit dan tongkat komandonya lalu menanggalkan lencana. Duduk di kursi goyang, menikmati godaan kopi pahit dan sepiring pisang rebus…

Hitunglah

Mundur.

Indra Puri Lampung – 26 November 2010 – 10:56 malam