Flashback Cita-Citaku

FLASHBACK – CITA-CITAKU

Menelanjangi diri saya salah satunya adalah dengan merunut balik cita-cita saya waktu kecil hingga saya dewasa. Saya berusaha membuatnya kronologis, tentang umur silakan menebak dengan sukarela.

  1. Petani
  2. Guru
  3. Pedagang sayuran
  4. Penari Bali
  5. Dokter
  6. Mowgli (tokoh di The Jungle Book-nya Rudyard Kipling)
  7. Membunuh Count Dracula (setelah ditakut-takuti teman-teman kakak saya bahwa Count Cracula menculik anak kecil yang namanya berawalan huruf R yang suka ngusilin orang tua)
  8. Pemilik sirkus
  9. Perawat
  10. Pramugari
  11. Insinyur Pertanian
  12. Punya tanah luas untuk sekolah dan rumah sakit gratis, kebun binatang dan kebun raya
  13. Bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama
  14. Pemain bulutangkis
  15. Relawan
  16. Keliling dunia
  17. Penyanyi
  18. Guru
  19. Penulis
  20. Pelukis
  21. Guide
  22. Duta Besar negara-negara Eropa
  23. Professional Interpreter
  24. Pendakwah
  25. Aktivis NGO
  26. Wartawan
  27. Dosen
  28. Sekolah sampai botak
  29. Istri shalihah
  30. Orang kaya
  31. Orang sukses
  32. Orang beruntung

Mungkin ada juga serial cita-cita saya yang tak sempat terekam lama dan terlupakan begitu saja. Saya cukup senang ternyata saya memiliki jiwa kemaruk dan petualang sehingga “menjadi apapun” menjadi bagian dari hidup saya. Saya tidak tahu apakah hanya saya atau ada juga orang lain yang liar mengasah imajinasinya.

Saya tersenyum sendiri melihat bayangan saya dengan baju-baju profesi berganti-ganti bahkan ketika menjadi Mowgli mau tak mau harus berbaju minim dikelilingi teman-temannya Raksha (si ibu srigala), Father Wolf (si bapak srigala), Bagheera (si macan kumbang), Baloo (si beruang), Kaa (si ular piton), Hathi (si gajah), King Loui (si monyet).

Kalau saya perhatikan, makin kesini kok cita-cita saya makin abstrak, tak terdefinisikan. Sebotak apa? Se-shalihah apa? Sekaya apa? Sesukses apa? Seberuntung apa? Saya bertanya-tanya apakah teori yang mengatakan bahwa makin tua manusia tujuan hidupnya makin sederhana itu benar atau hanya masalah bahasa saja ya. Kalau ini masalah kesederhanaan berpikir, maka saya dilanda tanya mengapa jumlah orang tua yang stress lebih banyak dibanding anak-anak yang kelimpungan mikirin hidup di dunia?

30 hari rumah tuaku telanjang di hadapan Bulan Sang Pengelana

30 hari rumah tuaku telanjang di hadapan Bulan Sang Pengelana

Di masa terkering tahun bulan terhenyakku karena bebunyian yang sontak mengurut dada sunyiku. Mendobrak gudang tuaku memanggil-panggil nama diriku. Siapa diluar? Aku tak sedang mau menyambut tamu, seruku.

Wahai, tuan rumah, mana kesopanan dan adabmu? Malulah kau mengusirku. Aku lelah melewati tiap pintu dan mengetuk semuanya. Tidakkah kau punya tempat berteduh bagi bulan pengembara ini?

Hai, musafir. Rumahku tua dan tak terjaga. Untuk apa kutampung pengunjung yang akan menghinanya? Biarlah kau cari pintu yang lain dan mengetuknya tanpa kecewa.

Duhai, rumahmu renta. Wahai, pintumu lapuk. Adakah kau juga tak berbaju? Jika ya, aku tahu kau malu tanpa busana. Tak mengapa. Mataku buta, ku hanya ‘kan mengindera bisikan bayu, ku hanya ‘kan melihat kobaran pelita… di matamu.

Hai, pengelana. Masuklah. Rumah tuaku menerimamu, yang tahu aku tak punya apa-apa. Cuma percikan api mentari yang membungkusku. Berapa lama kau akan tinggal di rumah tuaku ini?

Terima kasih… 29 atau 30 hari lamanya. Biar kugelar tikar pandanku. Ku ‘kan duduk bersila menonton kau menari di rumah tuamu.

Amboi! Musim panasku membara di genggaman penguasa kemarau yang akan melihat rumah tuaku menari telanjang tak pedulikan jubahnya.

Marhabaan ya Ramadhaan…

TUMPENG, BUCENG, NASI BIASA YANG TIDAK BIASA

TUMPENG atau BUCENG

NASI BIASA YANG TAK BIASA

Akhirnya jadi juga… Tulisan ini saya persembahkan kepada Anda sekalian sebagai persembahan budaya yang masih butuh penambahan disana-sini dari Anda supaya sempurna. Secara khusus tulisan ini adalah tanda mata buat Tante Julie yang walaupun nun jauh disana tapi tetap nyengkuyung (men-support, Bahasa Jawa) lestarinya budaya nenek moyang. Semoga tulisan ini menyadarkan kita semua bahwa dibalik sesuatu yang maujud (nyata oleh mata) ada makna esensial yang tersimpan dan memancarkan kekuatan batin berupa doa.

Sudah berapa lama kita mengenal tumpeng atau buceng? Berapa banyak variasi tumpeng dan buceng yang kita pernah lihat dalam acara-acara adat dan nasional? Dan berapa besar rasa penasaran kita terhadap apa itu tumpeng atau buceng itu?

Tak dapat diketahui pasti sejak kapan tumpeng mengawali eksistensinya. Yang pasti tumpeng adalah salah satu perangkat sesaji yang cawis (tersaji, Bahasa Jawa) untuk keperluan selamatan alias upacara doa. Ada sebagian orang Jawa yang membuat kerata basa (singkatan kata, Bahasa jawa) bahwa tumpeng itu singkatan dari menute ben mempeng (keluarnya terus menerus, Bahasa Jawa) yang dikaitkan dengan keluarnya rejeki dan barokah Allah SWT yang terus-menerus mengucur pada manusia. Sedangkan buceng di-keratabasa sebagai sebute sing kenceng (doanya yang giat, Bahasa Jawa). Ada juga yang beranggapan tumpeng jika nasi kerucut tersebut ukurannya besar, sedangkan buceng jika kerucutnya kecil.

Tumpeng adalah nasi, baik nasi beras biasa maupun nasi ketan, yang dipadatkan menjadi bentuk kerucut. Ukuran kerucut itu bervariasi tergantung kebutuhan dan kemampuan pembuat atau yang berhajat. Konon semakin besar bentuk tumpeng, semakin baik. Nasi putih atau ketan putih adalah standar awal tumpeng. Dipilihnya bentuk kerucut juga bukan tanpa maksud. Bentuk kerucut membedakan tumpeng dengan ambeng. Ambeng adalah nasi yang tidak dibentuk kerucut alias rata-rata saja atau diceta bentuk lain. Proses pembuatan tumpeng dahulu dan sekarang berbeda. Dahulu nasi yang dikaron dimasukkan dan dipadatkan kedalam kukusan kebudia dimasak dan keluar dalam wujud tumpeng. Sedangkan sekarang tumpeng adalah nasi biasa yang dicetak kedalam cetakan setelah dimasak. Sebuah hal kecil yang apabila dikupas akan menghasilkan filosofi hidup yang berbeda pula.

Tumpeng sendiri mesti dilengkapi dengan piranti-piranti lain tergantung pula dengan tujuan doa tersebut. Yang baku, sayur-mayur (tertentu) dan lauk (tertentu) disajikan bersamanya. Komponen tumpeng semua ada makna doanya, yang akan dibahas dalam tulisan ini secara sederhana.

Menjulang bagai gunung yang utuh belum memelus, tumpeng adalah pusat doa, pusat semesta, penyeimbang dunia. Tumpeng dinisbahkan kepada manusia yang didoakan, sebagai gunung di bumi dan juga sebagai kehidupan ini sendiri. Manusia yang didoakan diharapkan menjadi orang yang kehidupannya menanjak naik, berpusat pada puncak kesuksesan lahir dan batin mulus tanpa liku-liku seperti mulusnya tumpeng berpuncak lancip. Diartikan pula sebagai gunung di daratan yang fungsinya adalah sebagai pasak bumi, menyeimbangkan pergerakan tanah dan batuan; jika kita kaikan dengan wayang, gunung(an) merupakan lambang kemakmuran karena daerah sekitar gunung pasti makmur walaupun resiko kena letusannya juga lebih besar.

Tumpeng juga perumpamaan kehidupan jiwa yang menanjak naik, mencapai kesadaran ilahi yang berpucak pada ma’rifat
ullah. Ketika tumpeng telah diiris puncaknya maka hidup ini diresmikan start-nya. Puncak kehidupan inilah tujuan kita, keikhlasan batin adalah hal yang utama. Selain itu, puncak tumpeng tidak akan pernah diberikan kepada orang yang tidak penting, pucuk kecil itu selalu dipersembahkan kepada orang yang (dianggap) spesial diantara semuanya.

Di sekitar tumpeng kita jumpai banyak sekali lauk-pauk dan sayuran rebus plus bumbu-bumbunya. Selain sebagai lauk, satu per satu diterjemahkan ke dalam doa juga.

Iwak pitik (ayam)

Ayam adalah lambang dari jiwa manusia yang sedang didoakan tersebut. Diharapkan object doa (yang dihajatkan) menjadi jiwa yang hidup dan berkarya. Bagian ayam yang utama adalah kepala, kaki dan sayap yang melambangkan baiknya kata-kata dan perilaku manusia.

Endhog pitik (telur ayam)

Telur adalah isyarat bahwa ada potensi yang harus selalu dikembangkan dari si object doa. Tidak boleh hanya diam sebagai telur, harus bisa mewujud menjadi ayam. Awalnya telur ini disajikan beserta kulitnya sebagai perlambang kesatuan wadah dan isi (badan dan jiwa) dan proses dari lahir sampai kemudian menjadi (sebelum makan harus dikupas dulu kaan…). Telur tidak selalu disajikan utuh; kadang dibelah dua namun kulit masih beserta. Dibelah tidaknya telur ini tergantung dari keperluan doa.

Iwak (ikan)

Iwak atau ikan melambangkan hewan air. Ikan lele, ikan yang hidupnya di dasar sungai, adalah pilihan utama karena selain mudah didapat di telatah tanah Jawa, dia juga melambangkan sifat andhap asor (merendah, Bahasa Jawa) yang sangat disarankan dalam budaya Jawa. Sikap andhap asor ini bukan berarti kita membiarkan dihina orang, ini adalah sikap hidup yang mengedepankan kelembutan dan kerendahhatian disertai ketulusan yang bisa membuat jiwa manusia menjadi subur untuk nilai-nilai kebajikan. Ada juga yang melengkapinya dengan ikan asin (gerih pethek atau gerih layur) yang melambangkan gotong royong, seperti kita ketahui ikan laut kecil itu biasanya hidup berkelompok. Sang object doa diingatkan tentang hidup bermsyarakat, senantiasa menjaga kerukunan dengan sesama. Insya Allah, amin…

Bayem (sayur bayam)

Sesuai dengan guru lagunya (suara terakhir) bayem yem yem, maka bayem ini melambangkan ayem tentrem. Doa kedamaian hati.

Kangkung (sayur kangkung)

Anda pasti tahu kangkung adalah tanaman yang dapat hidup di darat maupun di air. Manusia diharapkan bisa beradaptasi dimanapun dia berada. Bukannya disuruh menjadi Deni Manusia Ikan, tapi manusia bisa mempraktikkan “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Di Jakarta kek, di Bandung kek, di Surabaya kah, di Singapore or di Afsel… harus bisa menjadi jiwa yang hidup!!!

Capar/cambah (toge)

Lambang potensi hidup manfaat yang akan terus menerus berkembang hingga menjadi tunas, pohon, berbunga, berbuah dan menyebarkan manfaat kepada semesta. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama. Ayo berlomba-lomba menebarkan manfaat.

Kenikir (daun kenikir)

Kenikir kir kir… Selalulah berpikir. Berpikir tentang alam semesta sebagai ciptaan dan anugerahnya bagi kita semua, Sudara.

Godhong lembayung (daun lembayung, daun kacang panjang)

Lembayung, yung, yung… Mari kita nyengkunyung, mendukung bersama-sama pekerjaan ini supaya segera beressss… Berjamaah melakukan sesuatu.

Kacang lanjaran (kacang panjang)

Konon kabarnya kacang panjang sebagai komponen tumpeng tidak boleh dipotong-potong. Lanjaran berarti panjang merambat tak terputus. Jangan dipotong-potong, biar rejekinya tak terputus. Amin. Ja
ngan lupa, kacang panjang ini juga perwujudan dari kerunutan dan panjangnya berpikir, tak tergesa memutuskan sesuatu. Serta, manusia tidak akan keluar dari lanjaran (jalurnya), tidak keluar dari rel sebagai manusia. Dulu kacangnya direbus saja, sekarang seiring dengan berkembangnya kreativitas pemasak tumpeng, kacang panjang dijadikan hiasan yang dipilin, dikepang, merambat menaiki tumpeng atau mengitarinya. Cantik…

Kluwih (buah timbul)

Sebagian dari kita mungkin bingung mana ya buah kluwih ini? Buah berbentuk bulat, dengan kulit lancip-lancip tapi tidak tajam berwarna hijau. Pohonnya hampir sama dengan pohon buah sukun. Di Jawa orang biasanya memasaknya sebagai sayur lodeh atau dikeringkan santannya. Kluwih wih wih, dadia wong kang linuwih. Jadilah orang yang lebih: lebih baik, lebih bijak, lebih kaya, lebih sukses, lebih cantik, lebih ini, lebih itu dalam kerangka positif dan manfaat bagi semesta.

Samir godhong gedhang (alas daun pisang)

Alas tumpeng semestinya adalah daun pisang. Daun pisang disini mewakili kompenen pisang beserta pohonnya. Pohon pisang hanya hidup sekali dan pasti berbuah sebelum akhirnya mati mengering atau ditebang. Maka hidup sekali ini, alangkah baiknya jika manusia benar-benar optimal menjalankan kehiduan hingga akhirnya ditebang setelah berbuah – mempersembahkan manfaat bagi semesta.

Ok, sekarang kita beralih ke jenis-jenis tumpeng sesuai fungsi upacara doa. Jenis-jenis yang saya sampaikan ini hanya beberapa yang bisa saya dapatkan dari nara sumber dan karena keterbatasan saya maka saya tidak mampu memberikan sebanyak yang saya terima dari para pinisepuh yang saya jadikan nara sumber. Masih ada jenis lain yang bermacam-macam.

  1. Tumpeng Putih

Ini adalah tumpeng yang dilengkapi dengan urapan dibumbui tidak pedas. Jenis sayuran harus ganjil (7, 9 atau 11 jenis) ditata mengelilingi tumpeng. Lauk-pauk standar tersebut diatas adalah standar minimal.

  1. Tumpeng Robyong

Tumpeng ini puncaknya diberi telur rebus tak dikupas, diatas telur ditaruh terasi bakar, bawang merah utuh dan paling atas adalah cabe merah besar. Disekeliling tumpeng ditancapkan berbagai sayuran berbumbu yang ditusuki seperti sate. Tumpeng ini disebut robyong sebagai perlambang bahwa agar banyak orang mengeelilingi dan menyukai orang yang didoakan tersebut. Tumpeng ini dipasang untuk hajatan mantu, khitanan yang sifatnya berbagi kebahagiaan.

  1. Tumpeng Robyong Gundhul

Ujung tumpeng ini diberi seperti tusukan Tumpeng Robyong namun tumpengnya sendiri tidak diberi sayuran. Biasanya dibuat kembar dua tumpeng; yang satu ditancapi telur, yang lain tidak ditancapi telur hanya disyarati dengan ayam hidup. Ayam hidup ini nanti diberikan kepada yang memimpin doa.

  1. Tumpeng Megana

Tumpeng ini dalamnya dibuang kemudian lubang tersbut diisi dengan sayuran yang telah dibumbu megana. Disekeliling tumpeng diberi urapan bumbu megana, ikan asin (gereh) dan bumbunya harus pedas. Tumpeng ini dipasang ketika sedang memperingati weton (hari kelahiran versi Jawa).

  1. Tumpeng Urubing Damar

Wah, yang ini khusus buat Ratu laut Selatan rupanya… tumpengnya kecil saja, puncaknya diberi colok (lampu) dari batang bambu yang ujungnya diberi kapas dan dinyalakan. Duh, Nyai… makan tumpeng lauk api he he he…

  1. Tumpeng Dhuplak

Tumpeng ini puncaknya dipencet lalu diletakkan telur diatasnya, telur rebus. Diberi urapan standar disekeliling tumpeng dan lauk standar ditambah dengan tempe
, tahu dimasak. Tumpeng ini untuk keperluan sesaji.

  1. Tumpeng Kendhit

Tumpeng putih yang tengahnya diberi kendhit (ikat pinggang) yang terbuat dari parutan kunyit. Kendhit ini maksudnya adalah sabuk kuning di pinggang tumpeng. Ada juga yang kendhitnya berwarna hitam.

  1. Tumpeng Panggang

Tumpeng biasa, hanya ditambah ayam ingkung (ayam utuh bakar bumbu Jawa tradisional)

  1. Rumpeng Ropoh

Tumpeng putih yang dialasi pisang raja dan pisang pulut 2 sisir. Tak ketinggalan bebunga juga disertakan. Tumpeng ini juga untuk keperluan sesaji.

  1. Tumpeng Kuning

Ini tumpeng yang bahannya nasi kuning. Boleh dibuat berasa gurih atau tidak. Lauk standar, hanya saja telurnya dibelah dua.

  1. Tumpeng Bango Tulak

Tumpeng ini dwi warna, Sudara-Sudara. Atasnya putih, bawahnya hitam. Gunanya untuk sesaji tulak bala. Hitam dikalahkan oleh putih, gitu maksudnya.

  1. Tumpeng Nila

Tumpeng ini warnanya nila (biru).

  1. Tumpeng Gundhul

Tumpeng ini sesuai namanya tidak disediakan bersama lauk dan sayur. Gundul saja gitu… tumpeng ini sebagai pelengkap doa orang yang pikirannya sedang semrawut. Jadi pikirannya perlu digunduli ha ha ha…

  1. Tumpeng Kencana

Tumpeng ini dibuat dari nasi ketan, lauknya telur dadar yang ditutupkan pada sayuran urap yang disajikan di sekeliling tumpeng. Lauk lain tidak disediakan di sekeliling tupeng.

  1. Tumpeng Pungkur

Tumpeng ini dipakai oleh orang Jawa yang mengadakan selamat kematina (surtanah). Warnanya putih, dibelah dua (secara vertikal) kemudian diletakkan saling membelakangi (tidak disatukan menjadi bentuk tumpeng lagi). Lauknya seperti tumpeng biasa. Melambangkan kehidupan yang telah terbelah antara jiwa dan raga.

  1. Buceng Kuwat

Tumpeng ini terbuat dari beras ketan. Tidak ada lauk yang disediakan. Namun ada kelapa parut yang dimasak dengan gula merah sehingga rasanya manis, sejenis dengan enten-enten untuk isi kue dadar gulung. Buceng kuat ini dijadikan pelengkap ketika oranga sedang berdoa supaya dia dan keluarga seger waras kuat slamet (segar-bugar, kuat dan selamat).

  1. Tumpeng Yuswa

Sebuah tumpeng besar yang dikelilingi dengan tumpeng-tumpeng kecil. Yuswa berarti umur atau usia, sehingga jumlah tumpeng-tumpeng kecil yang mengelilingi tumpeng besar tersebut disesuaikan dengan usia Sri Sultan yang dihitung dengan tarikh Jawa. Tumpeng Yuswa digunakan dalam upacara Tingalan Dalem (ulang tahun Sri Sultan). Makin tua, makin boros he he he…

  1. Tumpeng dll, saya udah kehabisan stok he he he…

Cara penyajian tumpeng juga telah bergeser dari pakemnya (kayak wayang aja ya…). Dahulu tumpeng selalu disajikan pada wadah bundar yang melambangkan orbit yang selalu berbentuk lingkaran (atau elips sejatinya) dan tumpeng sebagai pusatnya dikelilingi oleh berbagai pelengkap lainnya. Sekarang filosofi ini mungkin telah digeser oleh fungsi kreativitas dan keindahan sehingga bisa saja tumpeng diletakkan di wadah segitiga atau segi lainnya selain lingkaran.

Dulu, tidak sembarang orang mendapat ijin untuk memasak tumpeng. Bahkan tumpeng tidak dimasak setiap saat. Memasak tumpeng pun diawali dengan doa: jaman dulu disertai dengan membakar dupa sesuai kapercayaan nenek moyang dahulu. Sekarang cukup dengan keikhlasan dan bacaan Basmalah, Insya Allah doa dalam komponen tumpeng ini diijabah oleh Allah SWT. Amin.

Kabula kajate… (semoga hajatnya terkabul, Bahasa Jawa – ekspresi yang diucapkan tamu undangan upacara doa sembari menyalami pengundang sebelum mereka meninggalkan rumah pengundang dengan menenteng berkat berupa makanan yang dibagi-bagi rata dari tumpeng di tampah.)

Terima kasih kepada sumber info:

Ibuku sayang

Pakpuh Bandi

Majalah Panjebar Semangat – 27/2008

KENAPA DIA? INTERUPSI DISAAT SAYA ASYIK MENULIS

KENAPA DIA? INTERUPSI DISAAT SAYA ASYIK MENULIS

Saya sedang menyusun tulisan tentang tumpeng ketika belum selang satu jam lalu saya mendapati seorang sahabat yang sudah lama sekali “menghilang” dari status “invisible to everyone” di YM list saya tiba-tiba online. Dia ini salah satu sahabat dekat saya. Saya uluk salam, beberapa menit kemudian baru dia jawab salam saya. Kemudia saya bertanya dimana dia sekarang, dia menjawab di Aussie.

Kaget setengah mati karena dia tak pernah mengabari kalau jadi melanjutkan studinya disana. Selama ini yang saya tahu usaha-usaha dia untuk study overseas selalu kandas karena hal yang sangat menyebalkan, sampai-sampai hampir patah arang. Ketika saya tanya sejak kapan dan kenapa gak kabar-kabar, dia malah sign out.

Saya tahu sahabat saya ini hidupnya seakan diliputi ketakutan oleh sebentuk terror yang datangnya dari seorang penguasa media massa di pusat timur pulau ini. Hidupnya seakan terpasung hingga untuk bisa melanjutkan studinya pun dia harus jumpalitan gak karuan, sembunyi-sembunyi dari caplokan jahat itu. Padahal kalau dipikir dengan akal sehat, sahabat saya ini hanya semacam kambing hitam yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak percaya diri. Seandainya saja saya boleh, akan saya ceritakan semuanya. Tapi ini rahasia, yang mesti saya jaga demi kenyamanan dan (lebih-lebih) keselamatan sahabat tersayang saya ini.

Sahabatku, ayo semangat. Aku yakin kamu punya kekuatan yang tersembunyi dibalik kelembutanmu yang tak berdaya itu. Jangan pernah khawatir dengan apapun yang menghadangmu. Biarkan mereka berpesta-pora dibalik popularitas dan hegemoni mereka. Aku yakin kamu survive dan makin sukses.

Jangan pernah sembunyikan sesuatu dariku ya. Kamu tahu kan aku selalu mendukungmu. Ayo dong, isi juga Multiply-mu. Aku udah bikinin sesuai permintaanmu, masak sekarang dianggurin aja?

Ok, love you much… Good luck all the way to heaven.

Aku lanjutkan nulis tentang tumpeng dulu ya. Teman-teman kita di Multiply sudah menunggu. J

KATAK INGIN JADI KERBAU

Katak dalam tempurung…

Saya makhluk cebol bermata belok gaya mengantuk, berkulit licin berkutil-kutil, mulut dan kerongkongan lebar dan besar untuk kepentingan menyanyi dengan suara parau dan berkaki belakang panjang yang dirancang untuk keahlian melompat (yang belakangan menjadi kesenangan).

Menyanyi kencang tanpa malu membanggakan diri sendiri yang merajai dunia bawah kubah tempurung. Melompat girang bergeser kian kemari dalam tempurung tanpa tahu kemana bergeser. Sorong ke kanan, sorong ke kiri, tra la la la la la…

Adakah dunia yang terang dan luas diluar sana? Jika ya, datanglah wahai Kekuatan yang membebaskanku dari kubah kecilku ini. Jikalau nanti Kekuatan itu datang, akankah sang katak menjadi kerbau?

Frog under coconut shell…

I am a small creature with bulging sleepy eyes, slippery pimpled skin, big mouth and throat to sing in uncontrolled tunes and long back legs designed for hopping expertise (recently becoming hobby).

Singing loudly without shame blowing its own trumpet, ruling the kingdom beneath the coconut shell dome. Happily hopping moving the shell around not knowing where to go. Left, right, left, right, tra la la la la la…

Is there a bright and wide world out there? If yes, do come oye Power that release me out of this little dome of mine. And, if the Power comes, will it turn this frog to a buffalo?

Kodhok sajroning bathok murep

Aku ini kewan sing matane mlorok ngantuk, kulite lunyu kutilen, cangkem lan gorokane gedhe minangka kanggo lelagon kanthi swara glorok, lan sikil mburi dawa kang rinancang kanggo mlumpat kapinteran (sing keri-keri dadi kasenengan).

Lelagon ora eram bantere tanpa isin tansah gumedhe sombong, tumindak amindha raja sangisoring kubah bathok murep. Mlumpat kanthi seneng mrana mrene tanpa angerteni menyang endi lungane. Kiwa, tengen, kiwa, tengen, tra la la la la la…

Apa ana donya kang padhang njingglang lan amba ing njaba kana? Yen ana, tumekaa Daya kang isa mbebasake saka kubah cilikku iki. Lan yen wis teka, apa isa Daya iku ndadekake si kodhok malih kebo?

MEGENGAN DAN KUE APEM (adjusted & revised)

MEGENGAN DAN KUE APEM

Mendengar kata itu saya diingatkan kepada tradisi Jawa Islam (atau Islam Jawa?). Megengan ini biasanya dilakukan beberapa hari menjelang tanggal 1 Ramadhan tahun Hijriah. Megengan sendiri berasala dari kata megeng yang artinya menahan atau mengendalikan diri – berhubungan erat dengan tradisi puasa.

Pada saat megengan itu, kaum muslim di telatah tanah Jawa akan mengadakan sedekahan. Dulunya akan ada semacam undangan kepada para tetangga untuk menghadiri sekedar acara “makan-makan” yang dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh yang telah diminta oleh tuan rumah. Setelah berdoa bersama, akan dibagilah makanan yang telah didoakan tersebut kepada para hadirin.

Hidangan biasanya berupa nasi, urapan, ayam atau telur masak sebagai lauknya bisa juga ditambah sambal goreng kentang, kering tempe, mi kuning atau bihun goreng, pisang sebagai buahnya dan tak ketinggalan adalah kue apem. Bisa juga makanan telah disiapkan di wadah-wadah sehingga tidak perlu ada acara pembagian seusai doa. Semua terserah pada sang pengada acara.

Sebenarnya kue apem inilah kue khas megengan di telatah tanah Jawa. Apapun hidangannya, kue apem wajib ada.

Mengapa apem? Mengapa tidak yang lain? Semuanya ada filosofinya. Sedikit berbagi tentang kue apem ini supaya sebagian dari kita bisa lebih memahami orang-orang yang hidup dalam Islam yang tiba di tanah Jawa yang TIDAK PERNAH HAMPA BUDAYA.

Konon kabarnya, para wali kita tercinta sedang memikirkan bagaimana membuat para mu’alaf kuno makin bersemangat menunaikan ibadah puasa dan segala tetek bengek sebelum, selama dan sesudahnya. Seperti kita tahu, sebelum puasa ada anjuran kaum muslim saling memaafkan sesamanya sehingga puasanya bisa tenang dan berkah karena telah tak ada lagi ganjalan dari rasa bersalah berdosa kepada orang lain. Selama bulan Ramadhan ada juga ritualnya. Sesudahnya tentu ada juga.

Nah, orang-orang dulu yang kaya dan pekat budaya lokalnya tidak begitu saja bisa memahami konsep-konsep abstrak Islam Arab (maaf beribu maaf) miskin basa-basi. Para wali sangat memahami budaya Jawa yang kaya simbol sehingga para pemeluk baru Islam tersebut merindukan pengejawentahan konsep Islam Arab kedalam budaya mereka.

Walhasil para wali menganjurkan para warga untuk mengundang para tetangga, orang yang paling berpotensi “terluka” oleh sikap-sikap kita sekeluarga. Kemudian dalam acara undangan tersebut, para warga dianjurkan untuk menjamu mereka sebagai wujud pelaksanaan hadits “barangsiapa beriman pada hari akhir maka muliakanlah tetangga”. Dan, puncaknya mereka diminta untuk meminta maaf kepada para undangan yang notabene para tetangga tersebut.

Dalam budaya Jawa, meminta maaf secara langsung adalah sebuah “penemuan baru”. Tahukah Anda kenapa demikian? Karena dalam budaya Jawa, menyakiti juga merupakan barang mahal. Kalau “merasa” tidak menyakiti, mengapa kudu minta maaf? Dan, ini adalah kenyataan lain dari garapan para wali kita yang bijak bestari tersebut.

Maka para wali menganjurkan pada para warga untuk memasak kue yang bahannya adalah tepung beras, santan, gula dan garam secukupnya dan dimasak: dahulu kue apem hanya satu jenis yaitu apem yang dikukus dan cetakannya daun dibentuk kerucut.

Beras putih, makanan pokok penduduk melambangkan kesucian. Santan yang merupakan sari buah pohon yang manfaat semua bagiannya melambangkan sari atau ketulusan manusia. Gula dan garam melambangkan rasa hati. Daun yang dibentuk kerucut bermakna penerucutan semua kepada satu titik yaitu Allah SWT. Maka jika semua bahan itu dijadikan satu bunyinya adalah kesucian dan ketulusan rasa hati manusia yang ikhlas karena Allah semata.

Para warga penasaran apa nama kue resep wali tersebut?

Apem
adalah karena orang Jawa tidak memiliki konsonan “f” atau “v”. Para wali sendiri berkata demikian:

“Nama kue ini adalah afwun. Afwun artinya memaafkan. Kita orang Islam menyuguhkan kue afwun pada saat menyambut bulan puasa sebagai pernyataan permintaan maaf kita kepada para tetangga. Apa susahnya memberikan afwun ini kepada tetangga kita? Jika tak mau memberikan afwun, kita sendiri yang merugi. Hati gelisah, jiwa merana. Ingatlah Sudaraku, nama kue in adalah afwun.”

“Oh… kue apwun, Wali?”

“Ya. Afwun.”

“Oh ya, apwum ya, Wali?”

“Ya, ini kue apwem ya, Wali?”

“Ho-oh. Sebut saja ini kue apem. Buatlah apem pada saat megengan dan berikan kepada para saudaramu dan katakan maaf kalian kepada mereka dengan tulus ikhlas karena Gusti Allah.” Para wali sepakat menamakannya kue apem. Dasar orang Jawa ya manut saja sama orang bener he he he…

Nah, Sudara sekalian. Sekarang Anda telah memahami mengapa ada kue afwun di telatah tanah Jawa pada saat megengan atau disebut juga munggahan di daerah kulon?

Mohon maaf lahir batin. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Afwun. Apwun. Apwem. Apem.

HIDUP UNTUK MAKAN, MAKAN UNTUK HIDUP

HIDUP UNTUK MAKAN, MAKAN UNTUK HIDUP

Sering kali kita sangat gusar dalam keadaan lapar. Lapar menjadi sangat berharga sehingga apapun akan kita carikan alasan asalkan kita bisa mengusir rasa lapar tersebut.

Sejak usia es de saya telah terbiasa dengan ungkapan “makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan”. Ibu saya selalu berpean untuk makan secukupnya, tidak melebihi apa yang membuat saya cukup kenyang dan kuat untuk beraktivitas. Mulanya saya protes kira-kira sampai usia es em a. Setelah usia kuliah hingga saat ini, saya merasakan bahwa makan banyak tidak membuat saya makin kenyang tapi makin lapar.

Setelah bekerja apalagi. Makan minum sebebasnya gak masalah karena tidak minta siapa-siapa kecuali pada Allah untuk memberikan rejeki lebih. Namun itung punya itung bersikap ekonomis dalam makan lebih baik biar bisa beli lebih banyak buku atau bagi-bagi dikit pada yang butuh (Mang Kosim dkk sahabat saya euy).

Hari Kamis lalu di kantor saya berdebat kecil dengan seorang teman kerja “disaksikan” oleh teman-teman lain yang keheranan kenapa tumben-tumbennya saya mendebat beliau yang biasanya tidak digubris oleh siapapun kalau sudah ngomongin tentang hal ini.

Nes

:

Makan yuk.

Rike

:

Nanti.

Nes

:

Kamu kalau ditawari makan selalu nanti.

Rike

:

Iya. Ini kerjaan belum selesai.

Nes

:

Nanti aja lanjutkan lagi.

Rike

:

Kamu duluan aja ya.

Nes

:

By the way, ada tamu dari LA kok gak ada acara makan-makan sih?

Rike

:

Ya tanya aja sama boss ada lunch keluar gak.

Nes adalah seorang teman yang punya julukan rahasia “the maruk princess”. Cantik, sexy dan baik tapi kalau udah ada makanan tidak pernah ingat bahwa sesama cacing di perut teman-teman masih berdemonstrasi. Pernah suatu saat Pak Eko harus ngumpetin makanan setelah sang putri ngembat jatah dobel.

Nes

:

Gak lah. Tiap ada tamu biasanya kan lunch out kok sekarang gak. Payah.

Rike

:

Itu kamu juga udah bawa makan
an.

Nes

:

Ya kan apa salahnya makan keluar lagi.

Rike

(mulai gerah)

:

Aku sih Nes, kalau boleh minta sama Allah aku akan minta diberi satu kesempatan makan dan tidak perlu makan lagi. Sekali makan kenyang, sehat, puas selebihnya makan hanya untuk syarat aja.

Nes

:

Mana ada begitu? Kalau aku sih maunya makan terus biar bisa merasakan nikmat, enak. Rugi kamu hidup gak makan. Makanya aku kan suka banget pergi pesta. Makanannya enak-enak.

Rike

:

Aku makan untuk hidup bukannya hidup untuk makan.

Nes

:

Makan memang untuk hidup tapi hidup juga untuk makan. Bisa mati kalau gak makan.

Rike

:

Iya d
eh sana makan.

Nes

:

Kamu kalau makan sekali langsung kenyang seumur hidup berarti kamu bisa kayak dewa.

Saya diamkan saja karena ini bakal panjang seperti biasanya. Daripada kepala panas mendingan saya pura-pura budheg (Bahasa Jawa, tuli) saja.

Nes

:

Blah blah blah blah

Saya tidak menimpali sampai akhirnya saya keluar ruangan untuk menghirup udara segar karena memang ini bukan kali pertama saya harus menghadapi seseorang yang berceloteh manja memamerkan pengalaman makan enak dan banyak berlimpah di hotel mewah.

Saya ingat kata-kata ibu saya ketika dulu saya tidak mau berbagi dengan anak-anak tetangga yang perekonomiannya kurang sehingga untuk makan saja mereka harus membuat jadwal: nasi jagung – nasi beras – tiwul – ubi jalar – garut.

Sekarang saya tinggal jauh di ujung kulon berteman dengan orang-orang yang tidak pernah merasakan bagaimana susahnya menelan makanan sementara di sampingnya seorang teman kesulitan menelan ludah karena kelaparan. Saat-saat tertentu juga saya harus menikmati kelezatan dan keberlimpahan yang tak dapat ditolak; bukannya munafik tapi kadang saya tidak bisa benar-benar menikmati karunia ini.

Tiap pulang dari makan-makan dengan teman-teman atau client, saya selalu bercerita pada ibu saya dan mengatakan padanya bahwa saya ingat sama si ini dan si itu waktu makan tadi.

Ibu saya hanya tertawa lalu berujar, “Ya sudahlah, bersyukur saja, bahwa kita ini tidak dicoba dengan kelaparan. Kita dicoba dengan yang lain yang mereka tidak sempat memikirkan bahwa hal itu bisa menjadi cobaan hidup. Mungkin mereka juga gak nyangka bahwa kamu ketakutan juga kehilangan uang sedangkan mereka cuek saja wong gak punya duit. Yang penting berbagilah dengan ikhlash.”

Saya berpikir ulang bahwa rasa lapar teman saya Nes mungkin hanya sebatas rasa lapar tingkat rendah. Namun ada lagi rasa lapar species berbeda yang terselip di hati lain. Rasa lapar akan pujian, rasa lapar akan harta, rasa lapar akan kekuasaan dan rasa lapar terhadap hal-hal lain. Rasa lapar itu tak lagi menjadi rasa lapar namun telah menjelma menjadi keserakahan. Kalau Pak Eko bisa ngumpetin kue moci dari Nes, apa yang bisa kita umpetin dari orang-orang di sekitar kita yang ingin melahap pujian dari kita, harta kita, tenaga kita, kelemahan kita? Yang ada hanya rasa takut terjajah atau rasa muak atau bisa saja kita terinfeksi penyakit itu…

Semoga kita diberi kekuatan untuk mengatur kebutuhan kita dan memenuhinya sewajarnya. Jika lapar, makanlah secukupnya. Beri dan harapkan pujian secukupnya. Harta, miliki sewajarnya. Kekuasaan, jangan sampai membuat kita abusing others.

Apapun rasa lapar yang kita rasakan, niatkan pemenuhannya hanya untuk memuliakan hidup bukan untuk melanggengkan hidup.

NARWHAL, THE SEA UNICORN

NARWHAL

The Sea Unicorn

When you heard the word ivory or tusks, I bet you will imagine an elephant. You will think that the white tusk or ivory is what it means solely. And, if you hear the word horn, you will relate it to goat or cow. However, there is another animal that has it. Have you ever heard about unicorn? For Harry Potter’s movie watchers or fairy tales readers, they can figure it out easily. Unicorn is a horse with an ivory/tusk/horn grown on its forehead. Unicorn is never considered to actually exist. It might be a part of fairy tale, but it the unicorn as an animal came into being from narwhal.

Narwhal is a tusked-whale with compact size of 13 to 16 feet long living around the northern polar seas. Their tusks were linked to the legend of the unicorn and believed to have medicinal, even magical power. At its peak during the Middle Ages, “unicorn horn” was worth ten times its weight in gold. The allegendly unicorn horn in the Middle Ages was actually the narwhal’s ivory. The narwhal tusk is actually the left front tooth of the male which projects up to 3 meters; the length is dependant on the whale and the age.

The tusk of the narwhal was sold by Vikings and other northern traders as the horn of the legendary unicorn which were considered to have magic powers. Reportedly, during the sixteenth century, Queen Elizabeth purchased a narwhal tusk for the cost of ten thousand pounds – the cost of a castle. The tusk was used as her scepter.

The tusk is believed to be a integral part of the mating process, as the males have often been seen crossing tusks during mating season, as well as using them during fighting for dominance and the right to mate with the female narwhals. Female narwhals have a shorter, and straighter tusk.

Even though the tusks grow with age, there is currently no reliable way of determining the age of a narwhal. The spiral tusks are now high priced. Longer tusks fetch higher price: A nine-foot specimen in prime condition may earn $2,000 for a hunter, then $5,000 for a retailer.

The narwhal whale is able to produce a calf once every 3 years with a 15-month gestation period. Newborn calves are dark blue-gray, but as they mature the back transforms to an olive brown and begin to develop the spotting which is most often seen in adults narwhals. Narwhals calves are usually born in July and are rarely born outside deep bays and inlets and remain with the female narwhal for up to twenty months after they are born. As adults the calves can grow to become 4.6 meters and weigh up to 1600 kilograms, if male. The female of the species can grow up to 4 meters and weigh up to 1000 kilograms.

Narwhals are generally seen in groups of twenty to thirty with varying combinations of male, female, and claves. Narwhals can be mainly found in the Atlantic and Russian portions of the Antarctic. Individual narwhals are sometimes seen in the northern portions of the Hudson Bay and Strait, as well as the Baffin Bay, off of the eastern coast of Greenland, and in a relatively narrow area running along the northern end of Greenland to eastern Russia.

The narwhal whale population is estimated to be around 40,000, but has also been suggested to be as high as 50,000 individual whales.

Narwhals, being migratory, travel close to the coasts during the summer months, and travel farther away as the winder freeze starts to set in, and spend their winters in packed ice, and thrive in leads and small holes in the ice. Naturally, the return of the narwhal is a long-anticipated event in the Canadian Arctic. After months of darkness and temperatures as low as minus 40 degrees Fahrenhait, winter gives way to spring, and the sea ice covering Lancaster Sound begins to splinter. Open stretches of water, called leads, become travel lanes for the small whales as they follow the retreating sea ice toward their ancestral summering grounds around Baffin Island. Narwhals parade past in pods of eight or ten, then in grand procession of hundreds.

Narwhals became the part of Inuit hunting culture back to years ago. Now it is more of the social needs for food (its fat, flesh) and shelter (its skin), and trade (all parts including the precious tusks) since the consumptive way of life also spreads to the Inuit ice culture. But due to uncontrolled hunting these animals are endangered now.

(Various sources)

PENYIAR

PENYIAR

Sepulang kantor saya biasanya segera menghidupkan radio (maklum gak punya tivi) dan mendengarkannya sambil menyelesaikan tugas hari itu, mulai ganti baju hingga menyelesaikan pekerjaan kantor yang kadang harus diajak pulang sebagai teman ronda malam.

Ada seorang penyiar yang suaranya terdengar sangat merdu dan menenangkan. Dia seperti mempunyai sebuah power yang menarik hati pendengar untuk betah menjadi kambing congek hingga tengah malam saat dia mengucapkan kata “Bye-bye”.

Lagu-lagunya tidak terlalu spesial karena bisa didengarkan di stasiun manapun. Coba simak:

  1. Terbalik oleh Delon
  2. Sadis oleh Afgan
  3. Satu Jam Saja oleh Asti Asmodiwati
  4. Firasat oleh Marcel
  5. Cinta Sejati oleh Ari Lasso
  6. Kirana oleh Dewa

Biasa-biasa saja bukan? Memang kekuatannya adalah pada penyiar yang membawakan acara tersebut. Sehebat apapun lagunya kalau bukan dia penyairnya saya akan segera meninggalkan gelombang tersebut dan mencari “pengganti” yang benar-benar berbeda, bisa jadi malahan saya loncat ke radio yang sama sekali tidak berlagu kecuali jingle iklan.

Penyiar itu selalu sabar dan menguatkan mengomentari curhat-curhat para pendengar yang beragam; mulai dari kangen suami yang tugas jauh hingga dalam keadaan hamil ditinggal pacar yang ternyata punya istri.

Saya berpikir bahwa penyiar ini adalah orang ter-happy sedunia karena begitu sempurnanya petuah dan komentar yang dilontarkannya pada pendengar yang berinteraksi baik melalui telepon maupun sms dan email. Saya sangat terkesan pada penyiar terutama pada penyiar ini.

Saya juga pernah berpikir bahwa penyiar adalah selalu orang yang paling sedikit masalahnya sehingga bisa membantu orang lain menyelesaikan masalah atau paling tidak meringankan beban mental yang ditanggung oleh si pencurhat yang sedang on-air. Tahu tidak, saya dulu pernah bermimpi jadi penyiar ha ha ha… Namun, pikiran saya itu telah runtuh segera setelah mengetahui bahwa teman saya yang tak sedikit masalahnya menjadi penyiar di kota tempat saya sekarang bermukim.

Saya pernah diajak ikut siaran sebagai nara sumber pura-pura, daripada nggak ada teman ngobrol katanya. Saya mau, untuk menjawab mimpi saya yang pernah ada di masa lalu tersebut. J

Sekarang saya telah berubah pikiran. Mungkin justru dengan banyak masalah itulah teman saya ini menjadi penyiar. Untuk menghibur diri, untuk meratap tanpa terlihat bahwa dia sedang mengalami masalah itu atau apapun itu yang pasti saya berkesimpulan bahwa penyiar yang baik adalah yang dapat “menyimpan” perasaan pribadinya setiap sedang bertugas kendati hati rasanya mau meledak ketika pendengar ternyata curhat masalah yang sama dengan yang sedang dialaminya.

Penyiar, terima kasih telah menjadi teman saya. Semoga masalahmu juga segera terselesaikan dengan baik. Amin.

Mau tahu stasiun radio favorit bintang 5 versi saya:

  1. Female Radio (Mas Rudi Dahlan mantap deeeeh)
  2. Delta FM (Mas Farhan dan Mbak Shahnaz euy)
  3. Pesona FM (lagu-lagunya pas di hati saya…)
  4. Prambors (Ary Daging & Desta, kalian hebat!)
  5. RRI (Pro 1, Pro 2, Pro 3, Pro 4, Pro 5, Pro 6… Jaya selamanya)

MENAKAR KEPEKAAN HATI

MENAKAR KEPEKAAN HATI

Kepekaan hati adalah sebuah harta yang mahal harganya. Apalagi kalau carinya di kota besar, kepekaan hati seperti harta karun yang dicari oleh hanya segelintir orang lantaran hanya sedikit saja yang percaya dengan keberadaan kepekaan hati dan manfaatnya.

Menjabarkan arti kepekaan hati juga – buat saya – sulit. Memikirkannya saja agak berat apaplagi kalau mesti memahaminya. Uh! Buang-buang waktu aja!

Tapi tiba-tiba saya terpaksa mau memikirkannya ketika beberapa potongan kisah hidup saya dihampiri oleh manusia-manusia yang rupanya pada saat-saat tertentu dijadikan tamu untuk mengetuk kelembutan hati saya. Saya dengan terpaksa pula membiarkan hati saya digedor-gedor demi membuktikan hati saya masih mempan disebut peka.

Malam-malam tiap jam 10:00 WIB ada seorang lelaki usia paruh baya yang selalu lewat depan pagar. Dia berprofesi tukang pijat keliling yang membawa kaleng berisi entah kelereng entah kerikil sebagai tanda kedatangannya. Saya pernah meminjam jasanya keitika pergelangan kaki saya terkilir. Tetangga-tetangga saya juga. Sekali tugas beliau mendapat bayaran ala kadarnya. Tidak ada patokan harga; seikhlasnya saja: ada yang kasih 15ribu, 20ribu, yang paling sering 10ribu.

Lama-lama kami mengenalnya dengan cukup baik karena memang si bapak ini memiliki kepribadian yang cukup hangat. Beliau tidak banyak bicara tapi senyumnya selalu terpasang. Mata teduhnya – yang menurut saya merangkum kehidupan yang berat – membuat kami memandangnya dengan rendah hati juga. Dari seorang ibu kami tahu bahwa sebenarnya belaiu masih punya keluarga di kampung sekitar pantai selatan. Beliau harus meninggalkan mereka untuk “cari uang” demi anak dan cucunya yang masih juga tergantung padanya yang penghasilannya juga tak sampai sejuta sebulan.

Kata si ibu itu si bapak paruh baya sering berpuasa ketika uangnya hanya cukup untuk dikirim ke kampung. Beliau sendiri kontrak rumah ramai-ramai bersama tukang pijit lain yang umumnya masih jauh lebih muda. namun kami sering menjumpainya “pulang” ke mushola di ujung gang. Beliau tidur di teras masjid. Tiap ditanya beliau hanya menjawab,”Orang tua sih manja. Maunya tidur tenang. Makanya saya mengalah saja sama yang muda-muda. Biarkan mereka menikmati masa mudanya.”

Ada sebuah kebiasaan yang sangat saya perhatikan dari si bapak ini. Ada kalanya si bapak sudah lewat depan rumah saat jam mennunjukkan pukul 7:00 WIB. Rupanya itu terjadi apabila sepi pelanggan.

Sudah sebulan ini si bapak lewat depan rumah tiap jam 7:00 WIB, bahkan tak jarang saya lihat beliau bersila di mushola saat gerimis datang.

Saya ingat pada almarhum bapak saya yang pendiam, senyumnya hangat, matanya ramah. Si bapak ini makin kurus saja ya, kata ibu tetangga. Saya mendengar anak tetangga berujar bahwa bapak ini sedang banyak puasa karena sedang mengirit, yang pijit sudah makin berkurang.

“Tukang-tukang pijat yang muda-muda udah pada pulang kampung makanya dia gak punya kontrakan lagi. Katanya sih mau gabung sama mang Kosim dan tukang becak lain. Tapi gak tahu juga sih soalnya minat pijat makin rendah. Makin banyak panti pijat kali ya, Rik? Tahu sendiri di mal-mal ada kursi pijat bayar cuma 10ribu. Tapi kalau pulang kampung gimana, sawahnya udah digade, gak ada uang untuk nebus.”

Saya hanya tertegun. Dari arah mushola saya melihat si bapak bergegas akan melanjutkan pekerjaannya. Beliau berjalan melewati kami. Senyumnya tetap hangat. Matanya makin cekung karena kekurusan dan beban hidupnya. Saya tak tega melihatnya. Saya bingung mau bagaimana. Kalau hanya memberi uang atau sesuatu, saya takut beliau tak enak hati. Kalau minta pijat dulu, saya tidak sedang keseleo. Maka saya hanya melihatnya berlalu sembari menjawab salamnya.

“Pak!”

“Iya, Neng?”

“Dua hari lagi ke rumah saya ya.”

“Ada yang mau dipijit, Neng?”

“Mmm… enggak, Pak. Ada titipan dari bapak saya.”

“Baik, insya Allah.”

Saya tunggu-tunggu si bapak tak pernah datang ke rumah. Saya tidak tahu bagaimana kabar beliau. Yang saya rasakan hanya satu. Kepekaan hati saya masih terhalang rasa tak enak. Kepekaan hati saya belum hidup karena masih menerapkan alasan kepantasan. Kepekaan hati saya masih belum teruji karena masih menunggu 2 x 24jam.

Kepekaan hati ini ada dimana ya? Bagaimana bentuknya ya? Apakah masih ada yang memilikinya setiap saat? Tanpa menunggu 2 hari lagi? Masihkah aku terampuni…

Saya masih tetap berpesan kepada Mang Kosim supaya meminta si bapak tukang pijit untuk datang mengambil titipan dari bapak saya. Mungkin bapak saya marah-marah karena anaknya yang bodoh ini mencatut namanya. Ah, untuk melakukan hal baik saja saya harus mencatut nama, tak heran ya jika ada orang mencatut nama orang untuk berbuat jahat.

Saya memang berencana memberikan semua baju almarhum bapak kepada si bapak tukang pijit ini. Saya masih menyimpan beberapa lembar di lemari saya.

17 AGUSTUS 2008

17 AGUSTUS 2008

(tak terlalu penting, hanya omong kosong)

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang keberapa tahun ini? Mungkin masih cukup banyak yang menjawab pertanyaan ini tanpa harus berpikir. Namun ternyata tidak sedikit pula yang menjawab dengan menerawang menghitung dulu atau bahkan ada yang tertawa-tawa geli sambil menjawab “Aduh, gue lupa tuh, Rike. Keberapa sih? Enampuluhan gitu deeeeeh. Lu nasionalis banget sih??? Ha ha ha… Hari gini…”

Jujur saja, saya juga masih perlu menghitung; 2008 – 1945 = 63 tahun

63 tahun kita berjalan dari titik tolak yang disebut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustu 1945. Pada saat itu kata Indonesia telah diakui sebagai sebuah nama wilayah, bangsa, kesatuan kedaulatan yang diinterpretasikan sebagai negara. Patut bersyukur bahwa kita mendapatkannya. Masalah bagaimana ngramut (memelihara, Bahasa Jawa) itu urusan keri (belakangan, Bahasa Jawa).

Membincangkan kata merdeka bukan lagi hal menarik karena definisinya bisa panjang dari range yang paling positif sampai dengan negatif; dua ekstrim yang akan selamanya ada dan tidak perlu membuat kita risau. Saya ingin membicarakan sesuatu yang agak lain. Yaitu renungan saya.

Tadi malam saya menyempatkan diri mengadakan RENUNGAN PRIBADI setelah menyaksikan ke-63 tahunnya usia Republik ini. Saya melakukannya sebagai seorang yang TIDAK menguasai sejarah. Saya melakukannya sebagai seorang rakyat jelata yang memandang dirinya kurang beruntung hidup dalam alam politik yang agak kurang kondusif sekaligus sangat beruntung karena dilahirkan dalam kondisi yang biasa-biasa saja. Saya hidup di alam yang penuh bias namun tetap berjuang menetapkan keadilan bersikap yang dilandasi keseimbangan dalam berpikir.

Apa yang saya dapatkan dalam proses merenung tersebut Sudaraku tercinta?

Saya bersedih karena ternyata saya masih terjajah oleh keinginan yang sebenarnya bukan benar-benar dilandasi oleh semangat untuk menjadi melainkan oleh semangat untuk memiliki. Saya masih berharap ini dan itu karena semata-mata ingin, bukan karena butuh. Saya berdoa karena menganggap bahwa keinginan saya belum terakomodir oleh Sang Murbeng Dumadi (Sang Pencipta, bahasa Jawa). Saya juga menganggap bahwa para pemimpin (maksud saya POLITIKUS) Indonesia masih menganggap bahwa yang namanya pembangunan adalah terwujudnya ide-ide mereka walaupun sebenarnya TIDAK BERMANFAAT UNTUK KHALAYAK RAMAI DALAM JANGKA WAKTU YANG PANJANG.

Saya juga masih punya rasa malu dan gengsi menjadi warga negara kelas embuh (tidak tahu, Bahasa jawa), ini karena semata-mata saya minder mengetahui bahwa saya ini warga negara kelas bebek. Saya ngikut aja kemana arus mengalir. Bukan karena apa-apa Sudara-Sudara. Ini semata karena saya tak bisa berenang dengan baik. Saya ini hanya semacam buih yang kelihatan semarak namun mudah terombang-ambing oleh gelombang. Saya belum bisa menjadi gelombang. Alih-alih menentang arus, yang ada malah menjadi bahan tertawaan karena miskin ilmu dan miskin kepribadian.

Saya kemudian mulai berpikir ulang. Buat apa saya berdoa kalau ternyata doa saya bukan esensi dari kebutuhan jiwa saya yang jujur. Saya meminta karena saya ingin bukan karena tergerak oleh kearifan jiwa menyikapi kebutuhannya. Saya pernah berdoa “Ya Allah, saya mau kaya supaya bisa berbagi dengan keluarga dan orang-orang yang memerlukan” padahal saya tahu bahwa denganberamal dalam kondisi sekarang saya akan tetap miskin – tidak akan menjadi jatuh miskin – sebab sejatinya saya tidak punya apa-apa. Saya juga pernah berdoa “Ya Allah, menangkanlah partai politik ini biar negara ini diurus oleh orang-orang yang tepercaya. Kami sudah bosan dengan keadaan yang begini-begini saja” padahal saya juga justru BELUM tahu apakah memang mereka memiliki konsep yang jelas-jelas cocok dengan kebhinekaan kita. Mereka boleh mengatakan konsep mereka paling jempol tapi keadilan tidak diukur oleh konsep baku melainkan oleh konsep kejernihan berpikir.

Aduh, aduh… renungan saya membawa saya pada bagaimana kalau saya mati sebelum cita-cita saya tercapai padahal kenyataannya saya tidak pernah benar-benar punya cita-cita. Cita-cita saya hanyalah segumpal
kekecewaan yang harus saya balas dengan kutub sebaliknya. Saya bodoh, saya mau kuliah lagi. Saya miskin, saya pengen banyak uang. Saya jelek, saya pengen bisa beli alat dan jasa kecantikan. Saya belum punya ini, saya harus punya ini. Saya belum punya itu, saya harus punya itu. Semua dikendalikan oleh keinginan dalam diri saya.

Panjang sekali karena memang renungan saya berlangsung semalaman. Masih banyak yang harus saya sampaikan kepada Anda sebagai bentuk curhat dan sharing namun saya tidak mampu karena kemiskinan ilmu dan kepribadian itu tadi. Ilmu dan semesta ini terlalu luas untuk disombongkan. Airmata seringkali cukup untuk mengungkapkan rasa, termasuk rasa gembira sekalipun.

Hari ini saya kembali memelototi komputer saya. Kembali bekerja karena saya berjanji pada Account Representative saya di Hong Kong bahwa hari ini juga saya menyelesaikan pekerjaan yang mencapai deadline tanggal 21 Agustus dengan alasan “Selasa saya mau lihat lomba di sebuah sekolah kampung tempat teman saya ngajar dengan bayaran yang sangat minim”. Karena dia oke, maka saya harus menepati janji.

Ok, Sudara-Sudara. Apakah Anda punya pekerjaan yang harus segera dikerjakan? Jika ya, segera tuntaskan. Jika tidak segera dituntaskan, Anda tidak akan segera merdeka.

Allahu Akbar! Merdeka!!!

KELINCI UCUL KI NARTO SABDO

Kelinci Ucul

Artist: Ki Narto Sabdo

ngubengi kutho sateruse,
ing ndeso ndeso
mergo aku anggoleki sing tak tresnani,
kelinciku ucul

lungo mengetan, suroboyo,
terus nyang mbali,
mengulon lungo nyang mbandung,
ora ketemu,
terus aku nyang jakarta,

jebul ora ketemu,
adhuh kelinciku,
ojo mbletho aku,
terus bali, nyang semarang,
kelinciku wus ono kandang

lan jebulane grusa grusu,
keburu nepsu,
wekasane montang manting,
ragade akeh,
aku dhewe kang kebanting

—————————————————————————————————————————————

Saya sempat bingung kok Ki Nato Sabdo bicara tentang kelinci beliau yang ucul (lepas dari kandang). Saya bertanya-tanya kok Ki Dalang ini juga suka miara kelinci. Eh, eh, eh… dipikir-pikir ternyata kelinci yang itu to??? He he he…

Intermezzo kelinci ya Sudara

SWADESI

SWADESI

Pertama kali saya kenal kata swadesi adalah ketika saya berusia SD, berpuluh tahun yang lalu. Seingat saya ketika saya mendengar kata swadesi maka saya langsung ingat atasan batik dan bawahan putih bersaku dua. Saya ingat sekali penampilan saya sangat lucu. Batik saya berwarna biru cenderung abu-abu dengan warna-warna ceria kecil-kecil. Bawahan putih saya sangat kekanak-kanakan karena alih-alih memakai rok lipit seperti teman-teman lain, saya malah dipakaikan rok gelembung dengan dua saku kiri kanan yang punya tali hias. Tapi saya enjoy saja karena kata Pak Budi (guru Kesenian kami yang galak tapi menyenangkan) asal batik itu sudah swadesi. Katanya lagi manfaatnya besar untuk kecintaan kita pada Indonesia. Kami hanya bengong saja, namanya juga anak kelas dua es de kampung (SDN Sugihwaras 3, Kec. Sugihwaras Kab. Bojonegoro Prov. Jawa Timur).

Bertahun kemudian saya memahami arti kata Swadesi ternyata tak terbatas pada batik.

Swa artinya mandiri; desi artinya desa alias negeri sendiri. Maka swadesi adalah gerakan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri secara mandiri, sedapat mungkin tidak tergantung pada pihak lain terutama yang memiliki pretensi kurang mulia dibalik kebaikannya. Swadesi dipelopori oleh Mahatma Karamchand Gandhi, seorang bijak bestari asal India yang menjadi pemimpin non-formal rakyat India pada masa pendudukan Inggris.

Sedikit dari pelajaran Sejarah Dunia yang pernah saya dapat dari Ibu guru tercinta Bu Kus, Gandhi memang benar-benar mencukupi kebutuhannya secara mandiri: bercocok-tanam dan beternak sendiri, memasak sendiri bahkan menenun sendiri kain yang dipakaikan kepada tubuhnya. Gandhi benar-benar ber-swadesi dengan kesederhanaannya di belantara kemodernan penjajah Inggris. Orang seperti Gandhi Insya Allah tidak akan mati tubuh maupun jiwanya hanya karena embargo ekonomi karena dia telah tahu apa arti pemenuhan kebutuhan yang sebenarnya. Beliau telah menemukan dirinya tanpa harus takut kehilangan lagi karena orang lain mengambilnya karena sejatinya soliditas kepribadian yang mandiri tidak bisa direbut oleh siapapun.

Adakah saya memiliki semangat swadesi yang dulu pernah digembar-gemborkan pada masa kecil? Bagaimana seandainya saya terpaksa tidak bisa lagi makan kecuali makan singkong bakar? Bagaimana kalau ternyata suatu saat saya tidak bisa lagi makan Australian beef? Bagaimana seandainya Brazil tak bisa lagi menyuplai kebutuhan kedelai kita? Bagaimana jika suatu saat film-film Hollywood tak lagi diputar? Bagaimana kalau suatu saat saya memang harus bekerja untuk kebutuhan sendiri? Sudah siapkah saya menyandang predikat swa? Kita pernah berhasil dengan swasembada beras bertahun lalu. Kita pernah berhasil dengan swadaya masyarakat sebagai perwujudan gotong-royong. Kita pernah nyaris dapat mempertahankannya sebagai karakter sampai akhirnya kita tersadar bahwa telah melupakan sebuah “baut kecil” yang hilang dalam semangat swadesi kita yaitu: tidak selaras dengan alam.

Kita ber-swa dengan cara mengeksploitasi alam. Kita ber-swa dengan cara memaksa makhluk NON-MANUSIA untuk mencukupi kita. Belum berswadesi. Kita tak bisa berbagi dengan sesama ciptaan.

Kembali lagi kepada swadesi masa kecil saya. Mengapa batik? Apa bedanya batik dulu dan batik sekarang? Mari kita renungkan bersama.

Pada saat itu saya tidak pernah menyadari bahwa batik adalah “milik saya”. Batik adalah semangat saya sehingga perlu saya pakai sebagai seragam sekolah. Batik adalah identitas saya sebagai orang Indonesia. Saya masih ingat juga Dik Nanik dan Dik Tutik memakai batik hasil JAHITAN TANGAN emaknya yang bahan bajunya adalah KAIN PANJANG embahnya. Subhanallah. Itulah batik kami di masa lalu.

Batik masa kini? Saya ikut berbahagia karena batik menjadi semacam produk yang fashionable. Bahkan Nelson Mandela pun menggemarinya dan memakainya pada acara-acara penting. Namun saya ragu apakah kita masih mau berpikir tentang sebuah esensi memakai batik dan bukan pakaian lain. Masihkah kita mau memakai batik jikalau batik tak lagi menjadi trend sekalipun. Masihkah kita makan nasi Padang atau nasi timbel Sunda atau nasi pecel Madiun yang sehat jika ternyata makanan cepat saji ala barat lebih mudah dan tidak ribet?

Saya ingat Muhammad di Jazirah Arab, Mahatma di India, para sunan yang berkelana di tanah Jawa, Dalai Lama di Tibet, Romo Mangun di Jogja, Pak Joko dosen HI Unair yang kendaraannya adalah sepeda mini sederhana, Pak Budidharma dosen Filsafat Unair yang sangat bersahaja, Pak Sumitro dan pak Shahab dosen Sastra Unair yang lebih memilih kereta daripada mobil untuk berkendara. Mereka pengusung swadesi di tiap-tiap masa dan area
nya. Saya tidak tahu apakah saya terlalu mengada-ada. Yang saya rasakan saat ini adalah bahwa saya sangat rindu hidup secara bersahaja namun penuh harga diri baik sebagai seorang pribadi maupun sebagai anggota keluarga yang bernama Nusantara.

PRABU JAYABAYA

PRABU JAYABAYA

Sesuai dengan janji saya kepada seorang teman, Madelyncute, saya berusaha membuat posting tentang Prabu Jayabaya. Niat saya hanya satu: menawarkan kekayaan ilmu Allah yang terserak dimanapun itu. Akurat tidaknya informasi tentang Prabu Jayabaya ini jangan membuat kita mayang mentoleh (ragu, bahasa Jawa) terhadap niatan kita untuk mengambil hikmah sejarah apapun yang melintasi hidup kita. Semoga bermanfaat.

Tidak banyak sumber yang bercerita tentang raja yang satu ini. Ramalan Jayabaya lebih terkenal daripada sang pemilik nama itu sendiri.

Prabu Jayabaya atau Ratu Jayabaya atau Sri Mapanji Jayabaya atau Sri Aji Jayabaya atau Sri Jayabhaya (buah cinta dari kisah romantis Raden Panji Inukertapati dan Dewi Galuh Chandra Kirana) memerintah Kerajaan Kediri di Jawa Timur dari tahun 1135 sampai 1157 Masehi. Raja Jawa yang satu ini disebut juga sebagai ahli nujum selain sebagai pemimpin yang mumpuni. Dia telah meramalkan keruntuhan kerajaannya sekaligus berjayanya kembali kerajaan tanah Jawa di masa depan. Disinyalir kedatangan Belanda dan Jepang telah ada di “penglihatan” sang raja.

Prabu Jayabaya mempersatukan kembali tanah Jawa yang sebelumnya terpecah belah sejak masa pasca mangkatnya Prabu Airlangga. Ratu Jayabaya terkenal karena keadilan dan kemakmuran Kerajaan Kediri dibawah pemerintahannya. Dia juga disinyalir sebagai perwujudan Batara Wishnu, dewa yang dipercayai sebagai pengatur alam semesta dalam kepercayaan Hindu. Dia dimasukkan dalam jajaran Ratu Adil yang dilahirkan dalam masa gelap pada tiap akhir perputaran jaman – Ratu Adil diidentikkan dengan tokoh yang tugasnya mengembalikan keadilan tatanan sosial negeri Jawa sekaligus harmonisasi seluruh alam semesta.

Pada jaman Ratu Jayabaya, sastra Jawa berkembang pesat didukung oleh situasi sosial, politik, dan ekonomi yang cukup kondusif. Mpu Sedah dan Mpu Panuluh merupakan dua mpu sastra tersohor yang hidup di jaman raja tersebut (julukan mpu diberikan pada para ilmuwan Jawa kuno tanpa memandang ilmu yang dikuasainya; bisa ilmu sastra, ilmu perang, ilmu pertanian, dll). Mereka menulis serat Kakawin Bharatayudha yang diadaptasi dari kisah dari India.

Jangka Jayabaya sendiri (sekarang lebih dikenal dengan Ramalan Jayabaya) merupakan sebuah karya yang dinisbatkan kepada sang raja oleh sebagian orang menilik bahwa beliau hidup di jaman yang “kaya sastra” atau bahkan lantaran dialah tokoh dibalik berkembangnya sastra Jawa saat itu. Golongan ini meyakini bahwa semua “ramalan” yang terdapat dalam jangka Jayabaya tersebut adalah ide dan vision sang raja yang didiktekan kepada para juru tulisnya kemudian dirangkum dalam sebuah serat yang diberi pengantar termasuk cuplikan tentang sebagian karakter dan kisah hidup sang raja.

Ada lagi yang berpendapat bahwa Ramalan Jayabaya itu sesungguhnya bukanlah karya sang maharaja melainkan karya orang lain yang kemudian dianggap sebagai karya Jayabaya. Dikisahkan dalam Jangka Jayabaya bahwa Raja Jayabaya pernah berguru kepada seorang ulama terkemuka dari jazirah Arab yang sedang mengembara ke Asia Tenggara. Ulama itu bernama Syech Ali Syamsu Zein, dalam ‘Jangka Jayabaya musabar’ disebut Ngali Samsujen dan adapula yang menyebutnya Maulana Ali Syamsu Zein. Jadi menurut golongan ini, Jangka Jayabaya “hanya” meminjam nama sang raja sebagai judul saja sekaligus mengisahkan sekelumit perjalanan sang saja.

Dipercaya bahwa Ratu Jayabaya tidak pernah meninggal melainkan moksa atau hilang jiwa dan raga dari dunia begitu saja tanpa melewati proses kematian normal sebagai manusia biasa. Analogikan dengan Nabi Isa yang diangkat ke langit. Moksa hanya dicapai oleh orang-orang pinilih (pilihan) menurut ajaran Hindu. Desa Menang Kec. Kab. Kediri Prov. Jawa Timur dipercaya sebagai tempat moksa Sri Aji Jayabaya (sekarang menjadi kunjungan wisata bernama Petilasan Sri Aji Joyoboyo).

PANCASILA, YANG RINGAN-RINGAN SAJA

PANCASILA

  1. Ketuhanan Yang Mahaesa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah skebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Jika Pancasila bisa bicara, maka dia akan menjerit-jerit pada manusia Indonesia bahwa dia dirumuskan bukan untuk tujuan yang tidak baik. Siapa tahu dia juga menyesal karena telah ada? Dia tidak merasa sempurna. Dia sendiri tidak pernah merasa sakti. Dia juga tak pernah merasa menjadi ideologi. Kita hanya berlebihan memandang Pancasila baik dari kutub positif maupun negatif. Yang bisa saya terima secara netral adalah bahwa Pancasila adalah sebuah tanda mata, pencapaian kebijaksanaan para fouding fathers kita yang dengan sukarela berpikir, berjuang mengorbankan banyak hal untuk manusia-manusia yang kelak (mereka sangka) akan melanjutkan perjuangan mereka menjaga keutuhan negara yang disatukan semata untuk kesejahteraan BUKAN untuk saling menguasai antar kelompok satu terhadap kelompok lain.

Pernahkan Anda mendengar sebuah atau banyak pertengkaran yang terjadi karena meributkan Pancasila? Pancasila yang jumlahnya hanya lima saja dan tidak terlalu berbahaya jika hanya ditulis sebagai dasar perjalanan sebuah usaha dagang telah menjadi (atau tepatnya dijadikan) kambing hitam kebangkrutan bangsa. Berapa banyak organisasi yang harus terbelah karena Pancasila? Berapa orang harus adu jotos diawali dengan perdebatan tentang Pancasila?

Bagi saya Pancasila bukan sebuah kredo yang menjerat kemerdekaan saya dalam menjalankan tugas saya sebagai apapun. Sebagai warga negara, saya tidak pernah dites untuk membuktikan kesetiaan saya. Sebagai pegawai, saya tidak pernah dipajaki karena tidak mengerti kandungan Pancasila. Sebagai pemeluk agama tertentu saya juga tidak dipantau karena tidak menamakan diri saya pemeluk agama dengan embel-embel Pancasila atau beribadah di masjid Pancasila. Saya hanya belajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang selalu dengan gemilang menyumbangkan nilai 9 selama saya sekolah dan A saat kuliah. Saya hanya pernah diwajibkan untuk mengikuti Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dulu sekali dan tidak pernah sedikitpun rasa benci atau suka saya pada Pancasila bertambah atau berkurang. Pancasila ya Pancasila, dasar negara Indonesia.

Saya mungkin terlalu ignorant terhadap Pancasila. Atau mungkin terlalu berani menerima Pancasila tanpa reserve. Saya hanya menganggap Pancasila sebagai satu-satunya oleh-oleh utuh yang diberikan founding father saya selain teks proklamasi.

(August 7, 2008)

AGUSTUSAN, MERDEKA SEHARI SAJA

MERDEKA SEHARI SAJA

AGUSTUSAN

Orang Indonesia mana yang tidak kenal kata Agustusan? Istilah yang identik dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini hampir pasti akrab dengan telinga mereka. Dan, tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa Agustusan adalah hari yang paling ditunggu-tungu kehadirannya setelah Hari Raya Besar keagamaan semacam Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Nyepi dan Waisak.

Anda sendiri, apa yang paling Anda rindukan dari hari jadi bangsa kita ini? Upacaranya? Sirine tepat jam 10 pagi sebagai tanda waktu Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno didampingin Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945 silam? Renungan? Atau acara-acara seru di RT/RW, desa, komplek perumahan, kecamatan, kabupaten, provinsi atau nasional? Atau yang lain? Bagus jika ternyata Anda masih memilih salah satunya. Mari kita hayati kemerdekaan walau cuma setahun sekali dan dengan cara yang sangat sederhana.

Agustus dinobatkan menjadi bulan merdeka disini.

Kapan lagi bapak-bapak bisa bebas pakai daster batik sambil main bola di lapangan?

Kapan murid-murid bisa liar bercita-cita selain lewat karnaval yang memungkinkan mereka menjadi apapun atau siapapun di hari itu? Fyi, saya pernah dengan inisiatif sendiri minta berdandan jadi perawat perang, penari Bali, R.A. Kartini, wartawan, dll. Saya juga pernah menghias sepeda saya gila-gilaan saat pawai sepeda.

Kapan lagi juga ibu-ibu da mbak-mbak bisa tarik tambang atau balapan karung tanpa bingung masalah setrikaan, cucian atau pekerjaan rumah lainnya?

Dan, kapan lagi anak-anak bisa berbaur dalam acara yang tidak benar-benar diatur untuk menunjukkan keahlian mereka? Dulu waktu masih kecil tiap Agustusan (ada acara semacam pasar malam 16, 17, 18 Agustus di lapangan sepakbola dekat sekolah) saya dan teman-teman pergi kesana sehabis Maghrib daftar main judi yang bervariasi mulai dari lempar kalung rotan ke leher bebek, lempar bola tenis ke hadiah yang kita inginkan, juga judi tebak gambar dengan hadiah telur ayam. Asyik…

Agustusan mewakili kesyukuran akan adanya kemerdekaan. Biarkan jiwa Anda berpawai dengan bergabung dalam lomba-lomba yang pada hari biasa dianggap tidak wajar. Kenalilah bahwa jiwa lain juga ingin merdeka paling tidak pada hari itu. Mungkin kita bisa bercengkerama bersama tetangga-tetangga ngobrolin para pahlawan yang mungkin namanya tak kita temukan di memori kita. Dan bisa juga memberikan kesempatan pada anak-anak yang ingin sekali bergabung dengan tetangga-tetangga yang mungkin tidak mereka kenal dengan baik; mereka butuh support supaya tidak malu atau gengsi berlomba konyol. Kapan lagi wahai orang tua, kalian membiarkan anak-anak bebas sejenak dari persaingan akademis atau prestise demi membiarkan mereka menikmati kemenangan dan kekalahannya dengan cara yang sama: tertawa bersama. Ayo, Ibu-Ibu, Mbak-Mbak, Adik-Adik, ikut lomba senam, merangkai bunga, hias tumpeng, dandan tanpa cermin, pasang dasi, dll.

Agustusan milik kita, Sudara. Siapa yang akan memperingatinya kalau bukan pemiliknya? Ayo lepas egomu. Merdekakan dia sehari saja.

Merdeka!

GOOGLE EARTH…

EALAAAH… GOOGLE EARTH…

Google Earth saya kenal lewat seorang rekan yang putranya bersekolah di STAN yang kelak apabila lulus akan bekerja sebagai pegawai yang tugasnya menaksir harga tanah dan lain sebagainya (saya tidak begitu mengenal profesi ini).

Google Earth telah membuka mata saya lebar alias terbelalak karena saya bisa melihat atap rumah orangtua saya yang jaraknya berkilo-kilometer dari tempat saya sekarang. Satu lagi, saya bisa memberi tanda pada peta dunia dimana letak rumah keluarga saya. Hebat! Rumah ibu saya masuk peta! Saya gembira naudzubillah ketika untuk kesekian kalinya berhasil membantu teman-teman saya menandai rumah-rumah mereka dan tempat-tempat “penting” atas rekomendasi mereka. Coba bayangkan, apakah Anda bisa membeli peta yang memuat tulisan “SD Jatimulyo 3” atau “Agus Mulyana’s Residence” atau “LIA Taruna” atau “Dalemipun Bu Bidan Dajah Jabon” atau tulisan konyol lainnya? Anda bisa “membantu pembuat peta melengkapi karyanya” lewat Google Earth. Subhanallah.

Dengan peta global hasil pencitraan satelit NASA ini, saya bisa melihat bentuk besar Waduk Gajah Mungkur yang menurut saya tidak mirip gajah yang berdiri membelakangi saya. Sekarang bentuk tampak atas Penjara Laki-laki Dewasa Tangerang juga tidak membuat banyak orang di sekitar saya penasaran. Dan, begitu luas air laut menyelimuti daratan kita. Kami sungguh-sungguh merasakan benar betapa kecilnya kami ini.

Saya kemudian mulai berpikir bagaimana seandainya dengan layanan ini seorang pencuri bisa melihat rumah mana di komplek mana yang bisa secara optimal dirampok dan rumah mana yang perlu ditinggalkan saja karena minim properti. Konon, teman kantor saya tahu bahwa tetangganya di kawasan Halim, Jakarta memiliki kolam renang yang biru mendayu juga dari Google Earth. Tetangga yang tinggal berdampingan bertahun-tahun baru diketahui memiliki kolam renang setelah dia mengenal Google Earth.

Itu Google Earth standar. Untuk Google Earth Advance, kita harus bayar. Wah, saya hanya bisa membayangkan apa saja yang bisa saya tandai dengan Google Earth Advance ini. Apakah saya bisa melihat jalan-jalan tikus di seluruh dunia? Ataukah teman saya bisa melihat orang yang sedang berenang di kolam renangnya? Ataukah saya bisa mencari harta karun? Atau saya bisa juga melihat apa yang konon dilihat oleh para ahli strategi militer Amerika Serikat di daerah Irak jika mereka ternyata mampu mengambangkan penginderaan satelit yang jauh lebih advanced daripada layanan ini?

Saya tidak tahu apakah Google Earth edisi lengkap juga dapat saya optimalkan sehingga menyaingi Friendster atau Facebook demi menemukan teman-teman lama saya yang saya rindukan kehadirannya.

Teknologi semakin canggih. Manusia semakin dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang memungkinkkan mereka untuk membuat pekerjaan dan kegiatan lain jauh lebih efektif dan efisien. Namun ada pertanyaan yang mengganggu benak saya sendiri: apakah manusia bisa tetap mengendalikan diri dalam menggunakan teknologi sehingga teknologi tetap menjadi alat yang (idealnya) ada dan hanya ada demi membuat hidup SEMUA orang menjadi lebih damai?

Kadang kemudahan dan kecanggihan justru membawa efek kengerian yang tak terkira.

Belajar Numerik Al Quran

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al Qamar 22, 32, 40)

chipping in

Listen, and keep it clean

Shanmugam's Blog

Articles on Spirituality. Psychology, Mindfulness, Spiritual Enlightenment & a Collection of my Poems.

niaART

If you are always trying to be normal, you will never know how amazing YOU can be. Maya Angelou

WordPress.com Apps

Apps for any screen

Poetry and Prose

From soul to soul

Eden Hills

My Life on the Farm

Mlathi Wulung

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Dread Poets Sobriety

Irreverence's Glittering New Low!

Asosiasi Mahasiswa Pecinta Literasi Islami (AMPLI)

Nge-literasi atau terjajah selama-lamanya?

Alifis@Corner

Dinamisasi Otak dan Hati dengan berbagi informasi, ilmu dan pengetahuan

bibilintikan

just a little nod in the ocean

Chez Lorraine

A journal of an Indonesian in The Netherlands

My First Orchid

LEARNING TO CARE FOR YOUR FIRST ORCHID

DBR Foundation Blog

Coming together to solve global problems

Lukecats

About cats and man

%d bloggers like this: