Category: Learning
HIDUNG DAN KUPING BABI
HIDUNG DAN KUPING BABI
(negeri ini murah dan ramah)
Ketika saya berkunjung ke negeri Siam tidak ada satu pun ketakutan kecuali bahwa ada rasis disana mengingat daerah Pattani yang penuh konflik. Bahkan karena petugas imigrasi berwajah galak tanpa senyum dan kesan pertama driver kami yang kurang baik, sehari di Bangkok bagai merasa “ihhh… kayaknya nggak enak nih”. Yang bisa menghibur adalah hotel yang bagus dan petugasnya yang menyenangkan dan penolong.
Hari kedua saya bertemu teman seperguruan disana dan melakukan lawatan pertama. Suasana menjadi agak cair karena tuan rumah kami sangat baik dalam hal membantu penyelesaian tugas maupun dalam menjamu kami. Pekerjaan menjadi lancar dan tepat waktu walau saya harus membaca huruf semacam hanacaraka (abjad Jawa) dengan tahun yang berbeda sekitar 543. Tahun 2011 adalah tahun 2554 menurut hitungan Thailand. Amazing, kalau kata Mas Thukul Arwana. Saya juga makin senang karena disuguhi tomyam goong yang rasanya jauh lebih uenak (enak sekali, Bahasa Jawa dialek Timur) dibanding yang pernah saya makan dimana-mana. Ingat ya, saya bayar lho bukannya gratis… J
Hari kedua suasana menjadi makin asyik. Saya belajar bahwa orang-orang Thailand ini memang sangat toleran dan berhati hangat. Selama hampir dua minggu disana saya diperlakukan jauh lebih baik daripada saudara serumpun memperlakukan saya. Justru di negeri gajah itu saya merasa lebih aman dibanding ketika saya bertandang ke negeri tetangga lain yang muslimnya lebih banyak; disana saya merasakan ketidaknyamanan karena sebagian orang yang saya temui sombongnya minta ampun…
Tapi yang bikin saya selalu ingin tertawa adalah hidung dan telinga babi yang dengan mudah ditemukan bergelantungan di berbagai tempat. Di tiap jalan Anda bisa menemukan makanan haram. Saya mengatakan haram bukan karena saya menganggapnya buruk. Ini hanya semata mengacu pada agama Islam yang mempredikati beberapa jenis makanan dengan kata tersebut. Seringkali teman saya bilang “You don’t eat pork, right? So, I’ll order chicken for you.” Itu dia lakukan di restoran yang menjual babi. J
Ada lagi masa dimana saya melihat papan-papan petai bergelantungan lalu saya menarik tangan saudara seperguruan ke restoran itu hanya untuk menemukan bahwa hidung dan telinga itu berjajar rapi menunggu disajikan dalam berbagai masakan.
Seandainya saya bukan seseorang (yang mengaku) muslim mungkin saya sudah gemas ingin memakan hidung dan telinga itu. Atau bisa juga tidak karena saya bisa menjadi vegetarian. Tapi percaya atau tidak, selama saya di Thailand saya tidak pernah merasa tidak nyaman walau beberapa teman berpesan “awas makanan haram, Ke”. Saya tidak terganggu dengan keharaman yang ada di sekitar saya karena mudah penyelesaiannya: ya jangan dikonsumsi, toh bisa menggunakan studio (dapur kecil, Bahasa Inggris) di serviced hotel (hotel berfungsi ganda sebagai apartemen) tempat saya menginap untuk memasak apapun yang saya suka.
Di negeri yang penuh dengan hidung, telinga, kaki, perut, iso, usus dan semua organ binatang yang (nggak tahu kenapa dibilang) haram itu saya justru merasakan subhanallah (maha suci tuhan, Bahasa Arab) kehangatan berteman, keamanan bertetangga dan kelezatan makanan.
Semoga orang-orang yang berbuat baik dan berhati hangat senantiasa mendapatkan keberkahan hidup. Amin…
Temasek, 27 Juli 2011 – 2:35 sore
Tentang Thailand
TUHAN MAHATAHU DI SINGAPURA
TUHAN MAHATAHU DI SINGAPURA
(negeri seribu kamera)
Berada di negeri kecil bernama Singapura ini rasanya seperti dijagai malaikat bermata seribu yang bisa mengawasi tiap gerak-gerik seluruh titik emosi di tubuh. Mau begini, takut. Mau begitu, takut. Kenapa? Karena ternyata Tuhan Mahatahu dan akan memberitahukan kejahatan kita pada para polisi di negeri itu supaya segera diproses hukum.
Diawal kunjungan saya berpikir pantesan para koruptor kita merasa nyaman berada disini. Mungkin hanya sekian kemungkinan mereka tertangkap karena tak ada yang namanya polisi nyanggong di prapatan atau tikungan untuk nyari duit buat makan pagi atau makan siang atau setoran untuk istri atau pacar atau atasan. Semua belokan bersih dari “aksi” polisi. Pun tak ada tempelan-tempelan semacam “sedia tempat kost”, “sedot WC”, “guru privat hubungi nomer ini”, “badut ulang tahun”, apatah lagi “dicari koruptor dengan bayaran…”. Koruptor kita tak akan bisa dikenali karena fotonya nggak dipajang. Saya pikir di Singapura ini saya bisa berbuat seenak saya baik secara moral maupun personal.
Tapi pikiran saya bahwa orang berdosa bisa lepas begitu saja disini bisa saja salah besar. Anda mau nranyak (melanggar, Bahasa Jawa) garis kuning bisa langsung dapat panggilan surat tilang seharga SGD100 tanpa harus dikejar polisi. Silakan buang sampah di jalanan, lalu Anda akan dapat surat pemberitahuan. Silakan corat-coret di tiang listrik, nanti Anda akan ditatar masalah vandalisme. Bagaimana tidak: dimana-mana kamera boooow…
Maka seandainya para koruptor kita bebas berkeliaran di negeri kecil ini sebenarnya kecil kemungkinannya tidak tertangkap kecuali memang kamera-kamera itu “dibikin mandul” untuk kalangan tertentu yang sedang “dilindungi”. Tuhan Mahatahu di negeri ini bukan karena Dia tidak mahatahu di negeri lain; tapi bahwa Dia Mahatahu dan kemahatahuan itu diekspresikan secara elegan tanpa paksaan dalam kehidupan manusia itu lain maknanya. Tuhan Mahatahu di Indonesia tapi masih banyak yang bisa kita lakukan untuk membodohi kemahatahuan Tuhan dengan melakukan hal-hal bandel dalam kehidupan sehari-hari dengan segudang pemakluman mulai dari “lupa”, “tak paham” atau “apa boleh buat” yang lainnya. Kalau di Singapura ini manusia masih nakal dan orang jahat masih bergentayangan, alangkah kasihannya Tuhan. Disini Tuhan Mahatahu tapi diledek mati-matian bukan oleh rakyat Singapura yang lempeng-lempeng jasa melainkan justru oleh segelintir “suaka politik” (yang entah legal atau tidak) yang bernapas lega karena lepas dari tanggung-jawab menjalani proses hukum baik untuk dirinya sendiri maupun demi membuka borok kelompoknya atau juga rivalnya.
Negeri seribu kamera ini, dimana Tuhan Mahatahu, telah menjadi sarang warga negara tetangganya yang ingin terbebas dari penegak hukum yang merasa pantas mewakili kebenaran yang dijual dengan sekian digit. Disini juga beberapa orang belajar bahwa tak ada satupun yang bisa mengadili dirinya kecuali tuhan yang diwakili oleh malaikat bernama Seeseeteevee. Nah, bagaimana pendapat Anda?
Loyang – 27 Juli 2011 – 1:56
Kebelet pipis tapi nggak ada tempat cebok
Foto dipinjam dari http://fingerprint-security.net/tag/surveillance-cameras-tips2008/
Siap2: Temasek 10 hari
[Haiku Biografi] – [Rike Jokanan]
[Haiku Biografi] – [Rike Jokanan]
evening star
bengawan Solo flushed a jar
of placenta away
a nine-month old gal
ran in a speed uncontrolled
ended in a shrub
a wagon full of stuffs
carried tears and friendship away
to another mountain
colorful ribbons fly
overhead of jumpy monkeys
welcoming campus life
wrinkle skin and falling hair
glowing eyes staring at the moon
never ending gratitude
=====
bintang senjakala
bengawan Solo menghanyutkan
sebokor ari-ari
balita sembilan purnama
berlari tanpa haluan
nyungsep di semak
bak mobil penuh barang
bawa sahabat dan air mata
ke gunung nan jauh
berwarna-warni pita
beterbangan di atas monyet
jelang dunia kampus
berubah kulit dan rambut
gerlap mata menatap bulan
syukur tiada akhir
Tangerang – Bandung, 21 Juni 2011 – lepas Isya hingga dini hari
mau jalan-jalan lagi kok sikile penceng….
Sarapan di Bangkok: ham, pork, ham, pork, chicken, pork ha ha ha… Wis go veggies wae lah…
Si Bob kucing serasa jadi anak buat gw… Oalah simboke menungso, anake kucing :-)
Cengeng!
Sotoy….
Mencari makanan “enak” di negeri orang susah, dimana-mana kari, kari dan kari… Indonesia, I love you 100% dah…
Packing: arep dadi TKW ning negeri tetangga… Ketoke kok menyenangkan. Sayang, sangune sithil dadi ora wani werno2 wiwiwiwiiiiiii….
Bob needs a nanny next week.
500 JUTA UNTUK MENIKAHI WANITA WNI (belum selesai)
500 JUTA UNTUK MENIKAHI WANITA WNI
(indikasi woman trafficking?)
Punya suami bule mungkin menjadi semacam kesenangan tertentu bagi sebagian wanita Indonesia. Selain demi memperbaiki keturunan juga mungkin memperbaiki taraf hidup. Atau mungkin saja itu hanya semacam kesenangan atau selara belaka. Tapi kemudian ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan.
Seorang teman saya menjadi istri sirri seorang lelaki Eropa beberapa tahun belakangan. Sudah beberapa kali sebenarnya dia meminta dinikahi secara legal sehingga tidak ada ganjalan untuk melakukan perbuatan hukum seperti memiliki anak, membeli rumah dan lain-lain.
Tadi malam ketika ngobrol dengan beliau, tanpa sengaja saya meledek dia.
“Ah, kali aja suami elo nggak mau nikah legal karena nggak mau deposit 500 juta… Eh, atau jangan-jangan nggak punya duit dia ya? Kali ya…”
“What?!”
Saya terdiam. Waduh, tersinggung dah dia… Atau dia nggak tahu. Saya HHC (harap-harap cemas) menunggu apa reaksi dia selanjutnya. Bisa mati lah aku kalau dia marah.
“Lho emangnya kudu deposit duit?”
…
“Hoi! Jawab pertanyaan gue dong!”
“Iya, katanya sih 500 juta, Yul… Dan setornya musti ke bank syariah, bisa diambil setelah kurun waktu tertentu…”
“Ya ampun kenapa suami gue nggak bilang kalau ada ketentuan kayak begitu?”
“Tenang… aku belum fixed dengan UU ini. Kita cari info dulu aja…”
Sejak itu emoticon-emoticon yang dia kirimkan adalah L dan tanda menangis semua. Kasihan juga tapi kok ya gimana udah kadung saya membuatnya sedih.
Lalu saya browsing RUU atau UU atau apalah status aturan itu saat ini. Dan yang muncul adalah RUU dengan segudang protes dan cemooh menghiasi postingan yang diunggah di banyak blogs dan websites. Seseorang di kantor saya yang gape tentang aturan perundangan Indonesia juga telah menginformasikan hal tersebut beberapa bulan yang lalu ketika saya ngobrolin pernikahan kakak perempuannya dengan seorang warga negara Amerika Serikat.
Saya sedikit heran juga. Bisa-bisanya pemerintah punya rencana mengadopsi hukum positif di Mesir untuk diberlakukan di Indonesia.
BERSAMBUNG hi hi hi… *seringai ngeselin*
Serang – 15 Juni 2011 – 2:46 siang
Topeng Monyet
Gak Ada Sinyal
MP MENYEBALKAN TIAP HARI KENA VERIFICATION CODE PALING TIDAK 2 KALI. Najiiiiiissszzzz!!! Apanya yang makin baik??? Mau pindah ke blog lain aja!!!
Kung kong… Kung kong… Kung kong…
Balaraja di Jumat pagi
KLEPON
KLEPON
Sudah lama nggak makan klepon kok rasanya kangen ya dengan makanan Jawa ini. Makanan yang rasanya “explosive” kalau pinjam deskripsi Rachel Ray tentang rasa masakan yang hebat. Makanya hari Sabtu ini jadwal nulis report jadi prioritas kedua setelah nguleni (mengaduk memakai tangan, Bahasa Jawa) adonan kleponku.
Klepon pertama saya bikin bertahun lalu waktu masih kelas satu es em pe dan kebagian pelajaran Ketrampilan Memasak. Pelajaran Ketrampilan di sekolah saya dibagi dalam kelompok Menjahit, Mengetik dan Memasak. Saya bersyukur dimasukkan sebagai kelompok koki kecil. Sekarang masih terasa semangatnya kalau lihat bahan mentah dan ingat teman-teman yang pernah jadi tim di kelas Memasak.
Klepon adalah makanan yang (biasanya) diwarnai hijau dengan air daun suji, (aslinya) diisi gula Jawa dan ditaburi kelapa muda parut. Ada filosofi klepon yang saya urut sendiri.
Klepon diberi warna hijau sebagai perlambang warna dedaunan dan wakil dari jiwa muda (kalau ada yang bilang kita masih hijau berarti kita dianggap muda kalau bukan goblog he he…). Dalamnya gula Jawa, manis yang mewakili keceriaan dan rasa syukur. Sedangkan parutan kelapa adalah perlambang rasa (sedikit) gurih yang menambah “keriuhan” penampinan si hijau manis di dalm ini.
So….
Kalau mau makan klepon kita bisa serasa muda kembali dan bersyukur bahwa keceriaan dan rasa syukur masih terselip diantara keriuhan merasa muda itu. Tak mengapa sekedar merasa muda. Muda tak mesti dikaitkan dengan usia seseorang. Biar usia uzur tapi jiwa mesti tetap gembira, penuh rasa terima kasih pada alam semesta yang telah mengenalkan kita pada diri kita dan Cinta.
Oke, siapa yang mau klepon?
Ayo bikin sendiri.
Atau beli di pasar.
Klepon oh Klepon… J
Pinang, 2 Juni 2011 – 9:59 malam
Foto dipinjam dari http://lapar.com/makanplus/klepon
WC DAN RINDU RUMAH
WC DAN RINDU RUMAH
Ada semacam kepercayaan “kalau kita bisa buang hajat besar di suatu tempat dengan mudah maka artinya kita kerasan”. Rupanya ada indikasi kepercayaan itu berlaku bagi saya. Bagaimana bisa?
Beberapa minggu lalu saya ditugaskan ke daerah terpencil di provinsi Lampung. Sebuah pabrik pengolahan udang yang luasnya sekitar dua desa termasuk dengan tambak udang dan kawasan pengolahan serta sarana/prasarana untuk karyawan maupun tamu ada disana. Untuk saya dan seorang teman saya disediakan kamar di guesthouse yang menurut saya sih sekelas hotel bintang 3; satu kamar masing-masing tamu.
Saya merasa senang mengunjungi kawasan itu karena memang tak dinyana saya bisa ngambah (menginjakkan kaki, Bahasa Jawa) daerah se-mencil (pelosok, Bahasa Jawa) itu. Dari bandara Radin Inten, Bandar Lampung kami masih harus berkendara mobil hingga hamper empat jam disambung dengan menyeberang sungai sekitar sepuluh menit saja kemudian disambung lagi dengan mobil sekitar 30 menit barulah kami sampai di lokasi.
sampai sana saya kebelet ke WC tapi anehnya sudah beberapa kali nongkrong eh kok nggak terbuang juga sampah dalam perut ini. Akhirnya saya menyerah, menunggu hingga esok pagi tiba. Tapi ternyata sampah tak juga mau keluar; karena kata ibu saya kalau buang air besar tidak boleh dipaksa ya sudahlah saya mengalah saja.
Walhasil seharian kepala saya nyut-nyutan karena tubuh saya pebuh limbah yang tak keluar. Perut rasanya slemet-slemet (mules, Bahasa Jawa) namun apa daya tak kebelet.
Setelah tugas selesai kami berdua diantarkan ke kota Tanjung Karang untuk menginap di sebuah hotel di atas bukit menghadap lautan. kami terpaksa pulang ke kota karena jam 10:00 WIB keesokan harinya kami sudah haru terbang kembali ke Soekarno-Hatta. Kalau berangkat dari tambak wah bisa ketinggalan pak pilot…
Begitu menginjak pintu kamar hotel, perut saya langsung bereaksi dan alhamdulillah limbah yang menumpuk dan memadat tuntas sudah terbuang.
Saya heran mengapa disini saya bisa dengan lancar buang hajat sedangkan di guesthouse tambak saya “menderita”. Setelah beberapa mengingat-ingat, saya berkesimpulan bahwa saya memang tidak kerasan di daerah terpencil. Malamnya saya memang tidak bisa tidur karena suara-suara (misteri) yang entah cuma di pikiran atau memang menyelinap ke kuping saya.
Itu pertanda saya tidak merasa nyaman. Akhirnya metabolisme tubuh tidak normal dan tidak bisa e’ek dengan sukses. Paling tidak itulah penjelasan hubungan antara WC dan rindu rumah.
Cibaligo – Cimahi, 30 Mei 2011 – 1:46
Pagi-pagi nyetrika baju | Diluar rumah ramai petasan |Mari semua bergerak maju | Keluar dari gelap kemalasan (pantun Indonesia)
FRIDAY THE 13TH

FRIDAY THE 13TH
Dulu waktu saya masih sekolah, ada film serial TV berjudul Friday the 13th; ada 2 tokoh utama pengelola sebuah took barang antic: Ryan (ponakan lelaki pemilik toko) dan Micki (ponakan perempuan). Tiap jumat ke-13 mereka selalu disibukkan dengan kegiatan menumpas “penghuni barang antik” tentu saja bersama dengan barang antiknya.
Ada sebuah boneka yang mengajari anak-anak yang pernah menjadi pemiliknya untuk berkata “I hate you” kemudian bisa membalaskan dendam sang pemilik kepada siapapun yang dibencinya. Pada akhirnya ketika pemilik sudah tak lagi mau menuruti permintaan si boneka, dia juga akan “tersedot” kea lam barzah dimana mereka mati tidak hidup juga tidak.
Satu-satunya jalan adalah mengalahkan perasaan benci tersebut dengan perasaan cinta. Jadi ketika Ryan dan Micki (eksekutor pemusnahan) menolong para korban boneka tersebut, mereka menebak-nebak apa yang harus dilakukan anak-anak itu untuk lepas dari rengkuhan pintu kematian.
Akhirnya Ryan dan Micki menyuruh mereka mneriakkan kalimat “I love you” kepada anak-anak itu. Bukan usaha yang mudah karena ternyata untuk mengatakan I love you rupanya menjadi kesulitan besar bagi anak-anak yang sudah kadung menanam kebencian.
Dengan segala usaha maka mereka dapat meneriakkan “I love you” dan setelah diulang-ualang berkali-kali kalimat itu seperti mantra… Mereka semua terlepas dari kutukan boneka pembenci. Lalu Ryan dan Micki memasukkan boneka iblis itu kedalam ruangan rahasia dimana mereka memenjara roh-roh jahat.
Friday the 13th atau Jumat ke-13 adalah semacam kepercayaan yang masih diyakini oleh sebagian orang sebagai waktu kesialan. Kalau ditanya percaya atau tidak, sulit untuk menjawabnya karena saya percaya bahwa kata “sial” itu ada karena manusia menciptakannya. Jadi saya rasa kesialan itu sendiri adalah buah perbuatan manusia. Apakah kesialan itu menimpa dia secara langsung atau harus menunggu beberapa saat maka itu hanya urusan timing saja.
Lepas dari Friday the 13th, saya hanya ingin mengatakan bahwa seperti boneka jahat itu, kesialan hanya tercipta karena ada bibit kebencian dalam suatu hati dan dipupuk dengan pembenaran diri yang tak terkendali dan tak berdasar. Entah ini hanya sebuah rumusna asal ngomong atau kengelanturan pikiran yang tak berdasar juga yang pasti kesialan pernah dirasakan oleh seluruh manusia; tinggal tingkat kekerapan atau ukurannya yang berbeda.
Maka serial TV Friday the 3th tentang boneka pembenci itu menjadi semacam pengingat buat saya bahwa membenci membuat saya sial. Apapun akan saya terima walau awalnya ada semacam “perasaan sebal akan apa yang menimpa saya”. Dengan cinta, saya akan terbebas dari kutukan apapun termasuk kutukan “mati tidak, hidup juga enggak”. Sebenarnya kalau kebencian saya hanya menimpa orang lain sih sebodo teuing (egois sekaleee…) tapi nyatanya kebencian selalu mengejar saya pada akhirnya atau malah dari awal hingga akhir. So… saya tak mau lagi membenci. Sebel dikit boleh lah… tapi sedikit pun hanya boleh sebentar saja. Atau kalaupun ada seseorang yang sedang membuat hidup resah dan sial selalu, baiknya berpikir positif “ya sudah, memang itu adalah kesialan dia yang menimpa kita juga”; biar kita nggak pusing-pusing amat mikirin susahnya hidup…
Jadi kalau boleh kusarankan, mencintalah tak perlu membenci biar tidak sial di Friday the 13th ini hi hi hi…
Tautan penting:
MENGGUGAT
MENGGUGAT
Berdiri
Di tengah khalayak
Pengadilan
Duhai
Aku menggugat
Atas sebuah keputusan
Ini aku terpuruk,
Katanya.
Cabut hukuman.
Hakim tersenyum.
Atau mungkin
Menahan tawa.
“Berapa?”
Kata wanita itu
“Aku tak ada harga untukmu duhai Hakim mata duitan!
Tak patut kau memutuskan karena kesepakatan.”
Hakim terhenyak.
“Hukuman dicabut.
Terdakwa tidak bersalah!”
Di bawah meja
Hakim membuang amplop
Setebal bantal.
Di kantornya
Segerombolan pasukan
Menunggu untuk segera menangkapnya.
Wanita itu
Tersenyum
Membawa segantang harapan
Dia hidup kembali…
Kramat, 5 Mei 2011 – 4:03 sore
Pagi-pagi Kukuruyuk-kukuruyuk Suara ayam jantan berkokok Wati sudah bangun Budi juga sudah bangun Iwan masih tidur Bapak menimba air di sumur Ibu memasak di dapur Selamat pagiii!!!
Besok seharian mrantasi sembarang kerjaan, Minggune lodhaaang wayahe menyendiri tanpa terikat jadwal… Asyiiik!
Pengen punya Doraemon…
Bikin QN di MP sama saat oni lebih asyik daripada bikin status di FB.
Hari ini ke Paris Van Java… Semoga selesai tepat waktu biar pulang ke Tangerang gak kena macet…
BERAPA TULISAN?

BERAPA TULISAN?
Berapa tulisan yang telah kau baca? Kata Bu Guru.
Mengapa dia menghitung tulisan?
Sedangkan ibuku sering bertanya “Berapa buku yang telah kau baca, Nak?”
Aku kesulitan
Kesulitan menjawabnya;
Kesulitan menghitungnya.
“Bu Guru, kalau berapa buku yang saya tlah baca saya bisa tahu. Kalau tulisan, saya tak mampu menyediakan jumlahnya.”
“Rasanya tak sulit kau menghitungnya. Katakan saja apa yang kau punya”.
Bu Guru kami sangat manis, jarang memaksa.
Namun hari itu beliau menjadi raksasa
Yang suka memangsa anak-anak yang ketakukannya nampak sangat.
Aku tersenyum kecut lalu menyelinap diantara bayangan teman-teman yang aman karena tak menerima giliran ditanya.
“Ayo… Jangan lama-lama menghitungnya. Bu Guru sudah tak punya banyak waktu. “Berapa kata yang pernah kau baca?”
“Sejuta, Bu,” teriak temanku.
“Semilyar, Bu,” teriak temanku yang lain tak kalah riangnya.
“Setrilyun, Bu,” teriak yang lain lagi tak kalah bangga.
“Lengkap, Bu,” teriak sisa penghuni kelas kecuali si kerdil aku.
Hingga kelas dibubarkan aku tak mampu.
Aku termangu,
Diantara sorak-sorai teman yang dapat memenuhi permintaan guru.
Aku curiga,
Jangan-jangan ini persekongkolan
Mempermalukan aku.
Bertahun kemudian setelah aku tua,
Ibu guru kami berpulang ke rahmatullah,
Aku masih sesekali menyelidiki
Menghitung berapa kata yang telah kubaca.
Sedikit ekonomi dan politik
Cerita pendek, setengah panjang dan bersambung.
Bergambar atau tidak,
Resep menggiurkan,
Humor segar yang kadang lebih serius daripada filsafat dan kewenangan berpikir.
Ini dan itu, bermanfaat atau hanya membunuh waktu.
Semua indah, hanya sedikit kegetiran.
Indah.
Sungguh indah.
Kemudian terdengar kata-kata ibu guruku “Sudah kau hitungkah tulisan yang telah kau baca, Nak?”
Berakhir sudah mimpi panjangku.
“Ampun, Ibu Guru. Hamba hanya membaca satu tulisan. Satu saja.
Dan itu telah cukup untuk selamanya.
Tulisan itu adalah sastra.
Tulisan yang indah.
Tulisan yang su.
Su adalah indah
Sastra adalah tulisan
Tulisan yang indah.
Terima kasih Bu Guru, telah memberikanku sebuah pertanyaan
Yang berhasil membuatku berpikir tak berkesudahan
Untuk sebuah kata:
Susastra.
Tangerang, 24 Maret 2011 jam 9:46 malam







You must be logged in to post a comment.