KAWAN SETIA

KAWAN SETIA

Kawan,

Setiakah kau?

Menghalau gundah di sela nafasmu

Berselancar atas kekacauan harapanmu

Yang bertubrukan dengan gelak tawa di seberang jalan?

Kawan,

Setiakah kau?

Mengejar keinginan di antara tetesan keringatmu

Melaju melepas-tanggalkan pakaianmu

Demi ketulusan cintamu

Yang tak kau yakin benar-benar tak kan kau aliri airmata sesal…

Kawan,

Setiakah kau?

Membuangi ranjau-ranjau di halaman hatimu

Mengusir sepi yang lebih nyaring daripada pasar.

Air hujan mengabarimu berita gundah lagi,

Dan lagi,

Dan lagi…

Kawan,

Setiakah kau?

Pada ikrar di kala sepi

Batin di siang hari

Kedipan mata dalam kantuk

Lelap dalam jaga…

Setiakah kau?

Kawan,

Maafkan aku

Atas segala tanya hampa

Karena disana ada hati yang keruh:

Terselaputi pengkhianatan,

Tersaput penduaan,

Tersaruk kemarahan,

Terantuk kemayaan rasa,

Terhantam badai lagi,

Dan lagi,

Dan lagi…

Kawan setiakah kau?

Semarang – 26 September 26, 2011 – 9:10 malam – tentang kenangan segar

KEHIDUPAN YANG SEMPURNA

KEHIDUPAN YANG SEMPURNA

Pernahkah Anda merasa hidup ini kurang sempurna? Atau kurang dalam beberapa hal? Jika ya, kita sama… Pernah suatu saat saya sangat menyesali kelahiran saya, marah atas keberadaan saya, kesal karena saya “ada” dan yang terbesar saya berharap saya tidak pernah ada.

Mungkin tak banyak orang yang merasa seperti saya tapi itulah yang pernah kami share bersama dengan beberapa teman dengan pengalaman yang sama. Kami merasa dunia ini tidak adil dalam beberapa hal; kami punya ketidaknyamanan dalam hal yang berbeda. Ada yang merasa pekerjaannya kurang memadai, ada yang merasa pasangannya tidak cukup memenuhi criteria (setelah beberapa lama bersama), ada yang anaknya tidak sesuai dengan harapan mereka, ada yang merasa kurang cantik, ada yang merasa kepandaiannya tidak cukup untuk memperbaiki keadaan, yang pasti itulah ketidakberuntungan kami.

Setelah beberapa saat lamanya tak berjumpa dan tak curhat, kami sepakat reuni. Dengan kondisi yang berbeda kami bertemu. Yang kurang cantik (karena dulu kulitnya tidak putih), sekarang jadi cantik. Yang dulu kurang kaya sekarang jutawan. Yang dulu anaknya tidak sesuai harapan, sekarang anaknya sudah ok-ok saja. Yang dulunya tak berguna walau pintar, sekarang sudah jadi orang penting. Saya sendiri, masih seperti yang dulu… (lagunya Dian Pisesa).

Layaknya wartawan, saya penasaran tuh mengenai perubahan yang mereka alami. Maka satu per satu deh saya wawancarai.

Si Cantik

“Eh, kok kamu sekarang kelihatan cantik banget sih? Emang ada perawatan khusus?”

“Enggak juga… Biasa saja. Cukup dengan merawatnya.”

Si Miskin

“Kelihatannya kamu makin makmur juga ya? Mobilnya udah ganti yang lebih perkasa dan mengkilap…”

“Itu mobil yang dulu, didempul sedikit jadi kelihatan lebih kinclong.”

Si Emak Malang

“Mana anak-anakmu yang suka ngancurin pot-pot anggrekku? Apa mereka masih diiket tiap jalan-jalan keluar rumah?”

“Masih saja, sekarang mereka juga ngancurin motor, radio, . Itu kembar memang nggak bisa diem…”

Si Jenius

“Naik pangkat nih rupanya? Memang kalau kamu cerdik-cendekia dimana-mana juga kepakai ya…”

“Naik pangkatnya masih lama… Ini lagi sibuk banget ngelarin project yang ditinggal teman yang nggak bertanggung-jawab.”

Tak ada satu pun kabar gembira. Semua masih berkubang dalam Lumpur yang sama. Teman-temanku masih sama “menderitanya” seperti beberapa tahun lalu. Tapi kenapa mereka sudah tak lagi punya jawaban yang “menyakitkan” telinga saya. Kesan yang saya tangkap adalah mereka makin dewasa, makin bisa meninggalkan kekacauan yang belum tahu kacau atau sesungguhnya tidak kacau sama sekali.

Saya nggak berani nanya lagi; saya nggak mau rendezvous kami gatot alias gagal total hanya karena pertanyaan “kok kamu sekarang dewasa banget sih?”

Maka saya hanya mengamati saja gerak-gerik mereka.

Si Cantik itu tidak menjadi semakin terang kulitnya, hanya wajahnya memang berseri-seri tak ada jeda.

Si Miskin juga tak tampak semakin kaya; mobilnya memang makin berkilau yang katanya karena dempulan dan cat baru. Tetapi yang pasti wajahnya tak lagi muram. Keluarga yang kami kenal sejak awal juga menjadi makin ramah, percaya diri dan terbuka tanpa menutupi apa yang tak mereka miliki. Kami semua bersikap apa adanya.

Si Emak Malang masih datang dengan anak-anak yang beberapa tahun lalu bersikap menyebalkan karena merusak pot-pot anggrekku karena berusaha mencabutinya dan menukar posisi dari satu pot ke pot yang lain, sekarang mereka juga masih sibuk tapi mereka tidak lagi mengganggu tanamanku. Mereka sekarang sibuk dengan rubik dan sudoku yang dibawanya dari rumah. Sesekali mereka memotong obrolan kami untuk menunjukkan hasil permaninan mereka.

Si Jenius, satu-satunya orang pintar diantara kami yang dulu sekali paling banyak mengeluh karena IQ yang tinggi tak bisa sama sekali membantu hidupnya sekarang menunjukkan perbedaan cara pandang terhadap hidup. Dia bilang hanya sikap yang bisa membuat segalanya lebih baik. Kepandaian tak bisa menolong menjadi lebih sukses. Kini dia menelateni pekerjaan yang pernah dia sangka membosankan karena mesti disuruh-suruh melulu. Sekarang pun dia disuruh-suruh tapi dengan keikhlasan dia bisa mengatasi kegusaran lantaran diperintah-perintah.

Reuni tahun ini berhawa berbeda. Tak ada sesi curhat untuk membahas ketaksempurnaan hidup. Tak ada lagi helaan nafas panjang dan mengurut dada demi menahan kekesalan dan munurunkan tensi darah yang hampir muncrat dari jantung.

Saya sangat ingin menanyai mereka satu per satu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Saya pengen belajar “menguasai diri” tapi saya tak ingin juga terlalu ngelamak (lancang, Bahasa Jawa Timuran) mencampuri urusan pribadi mereka walau mereka sahabat dekat saya.

Maka saya hanya menunggu dan melanjutkan obrolan kami tentang kue nastar yang muncul di tiap pertemuan kami.

“Ini nastara enak juga ya… tapi buatku ini kurang manis. Mungkin tahu depan kamu pesan nastar yang gulanya punya derajat kemanisan lebih tinggi, Ke…”

“Hahaha… Malah menurutku nastar ini terlalu manis karena lihat deh ini nastar kan isinya kismis-almond-sukade bukan selai nanas. Seandainya gulanya dikurangi maka rasa kismis dan sukadenya akan lebih menonjol. Kalau almond-nya sih memang sudah pas. Top banget ini kue Lebaran…”

“Menurutku sih nastar memang seharusnya diisi dengan selai nanas karena namanya NAStar. Kalau begini kan namanya jadi KISUMONtar karena isinya kismis, sukade dan almond.”

“Lebaran tahun depan deh gue suguhkan semua jenis kue sesuai pesanan masing-masing tamu….”

“Wow…! Kalau ada seribu tamu apa kamu akan sediakan 1000 rasa kue pada mereka?”

“Mana mungkin…?”

“Oh, mungkin saja… Tahu nggak kalian, bahwa rasa apapun akan tetap terasa sama kalau kau makan makanan itu sambil menutup penciuman kalian.’

“Yakin lu?”

“Yakin…! Ayo lu pade coba deh…”

***

“Ehhhh… iya….”

Ternyata jika kita makan tanpa mengaktifkan indera penciuman maka rasa makanan akan tak berasa dan itu adalah cara terbaik daripada menyediakan 1000 rasa pada 1000 tamu. Lebih mudah kan? Ha ha ha…

Kami tertawa-tawa…

Saya rasa itulah yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabat saya itu: tidak merasakan ketidakenakan yang sedang dialaminya. Semua mereka selesaikan tanpa menghayatinya. Mereka menjalaninya dengan penuh kesadaran bahwa ada rasa yang tak enak tapi mereka tak mau mempermasalahkan rasa yang tak diharapkan itu. Cukup dengan berusaha “menghabiskan hidangan” maka semua akan beres.

Mungkin ini nggak make sense (masuk akal, Bahasa Inggris) dan tidak relevan tapi apa daya aku tak sanggup menanyakan langsung pada mereka. Biarlah saya memperkirakan sendiri apa yang telah mereka lakukan. Aku hanya cukup yakin bahwa temanku baik-baik saja dengan ketaksempurna
an mereka sehingga yang kutahu hidup mereka telah sempurna
.

Temasek: Ubi Avenue 4 – 5 September 5, 2011 – 1:43 siang yang ngaco J

MADRE

MADRE

Madre, buku yang berisi puisi dan prosa karya Dewi Lestari, telah habis saya baca dalam hitungan jam. Ada beberapa kisah (prosa) dan kontemplasi puisi dalam buku yang nggak terlalu tebal tersebut.

Secara umum, saya suka karena memang saya penyuka Dee’s work. Tapi secara kritis saya menyukai tidak semua karya yang ada disitu. Prosanya saya suka semua karena lebih mengena dalam artian lebih mudah bagi saya mencerna apa maksud Mbak Dee – walau tetap saja namanya Dee menyukai presentasi symbol dan analogi dalam karyanya.

Puisinya?
Sebenarnya bagi saya sangat lugas
Bahwa dia membicarakan cinta
Cinta terhadap soulmate-nya
Dan cinta pada source-nya
Itu sudah cukup
Tapi puisi yang ada beberapa itu terkesan mengulang apa yang sudah ada:
Kerinduan
Kebersatuan
Kesatuan
Keniscayaan
Kefanaan…

Itulah yang saya tangkap dari karya puisi Dee dalam bukunya “Madre”.

Ada lagi satu hal menarik yang selalu saya temukan di karya (prosa) Dee. Masukan baru tentang detil-detil kehidupan kita. Kali ini tentang “biang roti” bernama Madre yang muncul dalam cerpen berjulul “Madre”. Saya baru tahu bahwa dahulu kala roti itu dibuat dengan biang roti, sup juga ternyata bisa dibuat dengan biang-nya. Oalah… begitu memesonaku kau, Dee – dengan ilmu baru yang tak kusangka ada. Terima kasih ya, Dee…

Secara singkat itulah lebih kurang apa yang saya rasakan setelah membaca “Madre”. Semoga bermanfaat.

Sebagai spoiler, saya bubuhkan daftar isi buku “Madre”:
1. Madre
2. Rimba Amniotik
3. Perempuan dan Rahasia
4. Ingatan tentang Kalian
5. Have You Ever?
6. Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan
7. Wajah Telaga
8. Tanyaku pada Bambu
9. 33
10. Guruji
11. Percakapan di Sebuah Jembatan
12. Menunggu Layang-Layang
13. Barangkali Cinta

Tangerang – Cluster Asri – 1:42 siang

SERASA KEHILANGAN IDE

SERASA KEHILANGAN IDE

Dua hari ini saya ngomel terus gara-gara kerjaan yang nggak kelar-kelar padahal lebaran sudah menjelang dan walhasil saya memang nggak dapat lebaran libur untuk tahun ini. Kemarin (lebaran Muhammadiyah) saya seharian ngomel karena HSDPA XL dan 3 yang tidak bersahabat sehingga untuk revisi online saja nggak ngangkat untuk buka satu halaman. Seharian!!! Maka saya bertekat, saya akan pension-dinikan HSDPA XL dan 3 saya dan akan segera melamar smartfren karena menurut teman saya lancar jaya bow!

Hari ini (lebaran NU) saya otomatis nggak kerja karena mesti mberesin kerjaan yang nggak beres di lebaran Muhammadiyah kemarin itu. Syukurlah semua berjalan lancar walau ada sedikit gangguan kecil.

Sekarang karena kerjaan yang ngebetein itu sudah selesai maka saya merasa bebas merdeka! Entah kalau tiba-tiba ada kabar terkini yang membuat saya kerja lagi. L

Namun…. Ketika saya pengen nulis, ide itu tiba-tiba hilang.

Apa yang salah di otak saya? Kok tulisan nggak pernah kelar pada saat yang sudah saya tentukan? Itulah yang sedang terjadi pada saya. Saya hanya mampu menulis hal-hal kecil yang hanya penting untuk saya sendiri. Orang lain tidak akan merasakan manfaatnya. Apakah itu dosa?

Saya rasa nggak juga. Cuma agak sedikit membosankan juga nulis kok nggak rampung-rampung. Bayangkan ada tulisna yang isinya foto doing (POLY GUMMY) padahal draft-nya sudah ada di otak tapi kata-kata yang keluar sungguh tersendat dan bentuknya bengkong-bengkong tidak menarik.

Ya begitulah saudara. Biarkan saya bertapa sambil “blog walking”, ngintip tulisan Anda semua tanpa komen. Maafkan.

Serpong – 31 Agustus 2011 – 3:39 sore

DIMANA JIWAKU TERTAMBAT

DIMANA JIWAKU TERTAMBAT

Keadaan hati yang sesungguhnya kadang menjadi sangat. Asing bagi diri kita sendiri. Perasaan bisa menjadi seperti capung yang mengapung di udara tiba-tiba menclok (hinggap, Bahasa Jawa) di pucuk ilalang berbunga coklat lalu mengambang di permukaan air bagai avatar yang mampu berdiri diatas danau.

Inginnya aku mengenali hatiku sendiri yang membuatku sangat berharap andai aku tak bisa mati. Lekak-lekuk, lika-liku hatiku menjadikanku manusia bodoh yang tak mungkin memandai dengan sekolah. Yang kurasai sekedar “kenapa lagi ini hatiku”.

Pengetahuan dan ketahuan (atau bisa jadi hanya kerasatahuanku) yang dulu pernah kupegang sekarang bagai lenyap tak bersisa. Awalnya aku menganggap bahwa kesadaran adalah ini dan itu, ilmu adalah ini dan itu, kebijaksanaan adalah ini dan itu. Berbagai definisi dengan lancar kuderas. Pemahaman para penjaga ilmu dan bajik-bijak dengan mudah kukuasai lalu kulontarkan seperti lembing yang menancap atau martil yang terbenam atau cakram yang menghantam pada sasaran. Aku pernah mengerti.

Hingga aku merasakan ada sesuatu yang bernama hati yang keberadaannya tak kuselisihi namun penerimaan akan keberadaannya sangat menghendaki energi yang luar biasa. Jika kau punya hati…

Jiwa ini… Apakah dia tertambat pada hatiku? Ataukah terpisah? Ataukah hatiku yang tertambat pada jiwaku? Pertanyaan ini datang dari mana? Dari jiwa atau hatiku? Ditujukan pada siapa? Jiwa pada hati? Atau hati pada jiwa? Atau…

Aku ingin pulang. Pulang ke rumah yang entah dimana; jauhnya tak terkira, namun dekatnya tak kira-kira – panggilannya begitu lantang tetapi jaraknya adalah lelahnya diri.

Dimana jiwaku tertambat? Apakah aku telah sampai di dermaga? Atau aku baru akan meninggalkan dermaga?

Tangerang – 21 Agustus 2011 – 9:51 malam

QUESTIONS ON MOTIVATIONS

QUESTIONS ON MOTIVATIONS

Excerpted from the article written by Liz Brody

  1. Who am I? How do I think of myself? What are my strengths and weaknesses?

  1. Who do I want to be?

  1. Why am I here? Why am I important? What is my mission?

  1. What am I missing? The time to read a book? A close friendship?

  1. What’s my motivation for wanting to improve my food and exercise habits? If it’s to look better, do I expect favorable results to bring love?

  1. Am I afraid of making changes or of taking risks (quitting a boring job, getting out of a bad relationship)? Do I fear failure or the responsibility that could come with success? Could I embrace change instead as an adventure?

  1. What has stopped me from keeping resolutions in the past? Is the obstacle (or obstacles) still present in my life? If so, how will I navigate it this time?

  1. When I’m tempted to wander off track, what could I say to myself, or do, to stick with the original plan?

  1. How can I build in support for myself? Ask a friend to be a health buddy? Join a walking club?

  1. What am I doing in my life that’s hurting me? Smoking? Drinking too much? Letting work interfere with relationships?

  1. What are the sources of joy I need to feel whole?

  1. Am I happy?

Read more: http://www.oprah.com/spirit/How-to-Get-Motivated-to-Change-Your-Lifestyle-LLuminari-Guide#ixzz1V7DC3r9d

HIDUNG DAN KUPING BABI

HIDUNG DAN KUPING BABI

(negeri ini murah dan ramah)

Ketika saya berkunjung ke negeri Siam tidak ada satu pun ketakutan kecuali bahwa ada rasis disana mengingat daerah Pattani yang penuh konflik. Bahkan karena petugas imigrasi berwajah galak tanpa senyum dan kesan pertama driver kami yang kurang baik, sehari di Bangkok bagai merasa “ihhh… kayaknya nggak enak nih”. Yang bisa menghibur adalah hotel yang bagus dan petugasnya yang menyenangkan dan penolong.

Hari kedua saya bertemu teman seperguruan disana dan melakukan lawatan pertama. Suasana menjadi agak cair karena tuan rumah kami sangat baik dalam hal membantu penyelesaian tugas maupun dalam menjamu kami. Pekerjaan menjadi lancar dan tepat waktu walau saya harus membaca huruf semacam hanacaraka (abjad Jawa) dengan tahun yang berbeda sekitar 543. Tahun 2011 adalah tahun 2554 menurut hitungan Thailand. Amazing, kalau kata Mas Thukul Arwana. Saya juga makin senang karena disuguhi tomyam goong yang rasanya jauh lebih uenak (enak sekali, Bahasa Jawa dialek Timur) dibanding yang pernah saya makan dimana-mana. Ingat ya, saya bayar lho bukannya gratis… J

Hari kedua suasana menjadi makin asyik. Saya belajar bahwa orang-orang Thailand ini memang sangat toleran dan berhati hangat. Selama hampir dua minggu disana saya diperlakukan jauh lebih baik daripada saudara serumpun memperlakukan saya. Justru di negeri gajah itu saya merasa lebih aman dibanding ketika saya bertandang ke negeri tetangga lain yang muslimnya lebih banyak; disana saya merasakan ketidaknyamanan karena sebagian orang yang saya temui sombongnya minta ampun…

Tapi yang bikin saya selalu ingin tertawa adalah hidung dan telinga babi yang dengan mudah ditemukan bergelantungan di berbagai tempat. Di tiap jalan Anda bisa menemukan makanan haram. Saya mengatakan haram bukan karena saya menganggapnya buruk. Ini hanya semata mengacu pada agama Islam yang mempredikati beberapa jenis makanan dengan kata tersebut. Seringkali teman saya bilang “You don’t eat pork, right? So, I’ll order chicken for you.” Itu dia lakukan di restoran yang menjual babi. J

Ada lagi masa dimana saya melihat papan-papan petai bergelantungan lalu saya menarik tangan saudara seperguruan ke restoran itu hanya untuk menemukan bahwa hidung dan telinga itu berjajar rapi menunggu disajikan dalam berbagai masakan.

Seandainya saya bukan seseorang (yang mengaku) muslim mungkin saya sudah gemas ingin memakan hidung dan telinga itu. Atau bisa juga tidak karena saya bisa menjadi vegetarian. Tapi percaya atau tidak, selama saya di Thailand saya tidak pernah merasa tidak nyaman walau beberapa teman berpesan “awas makanan haram, Ke”. Saya tidak terganggu dengan keharaman yang ada di sekitar saya karena mudah penyelesaiannya: ya jangan dikonsumsi, toh bisa menggunakan studio (dapur kecil, Bahasa Inggris) di serviced hotel (hotel berfungsi ganda sebagai apartemen) tempat saya menginap untuk memasak apapun yang saya suka.

Di negeri yang penuh dengan hidung, telinga, kaki, perut, iso, usus dan semua organ binatang yang (nggak tahu kenapa dibilang) haram itu saya justru merasakan subhanallah (maha suci tuhan, Bahasa Arab) kehangatan berteman, keamanan bertetangga dan kelezatan makanan.

Semoga orang-orang yang berbuat baik dan berhati hangat senantiasa mendapatkan keberkahan hidup. Amin…

Temasek, 27 Juli 2011 – 2:35 sore

Tentang Thailand

TUHAN MAHATAHU DI SINGAPURA

TUHAN MAHATAHU DI SINGAPURA

(negeri seribu kamera)

Berada di negeri kecil bernama Singapura ini rasanya seperti dijagai malaikat bermata seribu yang bisa mengawasi tiap gerak-gerik seluruh titik emosi di tubuh. Mau begini, takut. Mau begitu, takut. Kenapa? Karena ternyata Tuhan Mahatahu dan akan memberitahukan kejahatan kita pada para polisi di negeri itu supaya segera diproses hukum.

Diawal kunjungan saya berpikir pantesan para koruptor kita merasa nyaman berada disini. Mungkin hanya sekian kemungkinan mereka tertangkap karena tak ada yang namanya polisi nyanggong di prapatan atau tikungan untuk nyari duit buat makan pagi atau makan siang atau setoran untuk istri atau pacar atau atasan. Semua belokan bersih dari “aksi” polisi. Pun tak ada tempelan-tempelan semacam “sedia tempat kost”, “sedot WC”, “guru privat hubungi nomer ini”, “badut ulang tahun”, apatah lagi “dicari koruptor dengan bayaran…”. Koruptor kita tak akan bisa dikenali karena fotonya nggak dipajang. Saya pikir di Singapura ini saya bisa berbuat seenak saya baik secara moral maupun personal.

Tapi pikiran saya bahwa orang berdosa bisa lepas begitu saja disini bisa saja salah besar. Anda mau nranyak (melanggar, Bahasa Jawa) garis kuning bisa langsung dapat panggilan surat tilang seharga SGD100 tanpa harus dikejar polisi. Silakan buang sampah di jalanan, lalu Anda akan dapat surat pemberitahuan. Silakan corat-coret di tiang listrik, nanti Anda akan ditatar masalah vandalisme. Bagaimana tidak: dimana-mana kamera boooow…

Maka seandainya para koruptor kita bebas berkeliaran di negeri kecil ini sebenarnya kecil kemungkinannya tidak tertangkap kecuali memang kamera-kamera itu “dibikin mandul” untuk kalangan tertentu yang sedang “dilindungi”. Tuhan Mahatahu di negeri ini bukan karena Dia tidak mahatahu di negeri lain; tapi bahwa Dia Mahatahu dan kemahatahuan itu diekspresikan secara elegan tanpa paksaan dalam kehidupan manusia itu lain maknanya. Tuhan Mahatahu di Indonesia tapi masih banyak yang bisa kita lakukan untuk membodohi kemahatahuan Tuhan dengan melakukan hal-hal bandel dalam kehidupan sehari-hari dengan segudang pemakluman mulai dari “lupa”, “tak paham” atau “apa boleh buat” yang lainnya. Kalau di Singapura ini manusia masih nakal dan orang jahat masih bergentayangan, alangkah kasihannya Tuhan. Disini Tuhan Mahatahu tapi diledek mati-matian bukan oleh rakyat Singapura yang lempeng-lempeng jasa melainkan justru oleh segelintir “suaka politik” (yang entah legal atau tidak) yang bernapas lega karena lepas dari tanggung-jawab menjalani proses hukum baik untuk dirinya sendiri maupun demi membuka borok kelompoknya atau juga rivalnya.

Negeri seribu kamera ini, dimana Tuhan Mahatahu, telah menjadi sarang warga negara tetangganya yang ingin terbebas dari penegak hukum yang merasa pantas mewakili kebenaran yang dijual dengan sekian digit. Disini juga beberapa orang belajar bahwa tak ada satupun yang bisa mengadili dirinya kecuali tuhan yang diwakili oleh malaikat bernama Seeseeteevee. Nah, bagaimana pendapat Anda?

Loyang – 27 Juli 2011 – 1:56

Kebelet pipis tapi nggak ada tempat cebok

Foto dipinjam dari http://fingerprint-security.net/tag/surveillance-cameras-tips2008/

[Haiku Biografi] – [Rike Jokanan]

[Haiku Biografi] – [Rike Jokanan]


evening star
bengawan Solo flushed a jar
of placenta away

a nine-month old gal
ran in a speed uncontrolled
ended in a shrub

a wagon full of stuffs
carried tears and friendship away
to another mountain

colorful ribbons fly
overhead of jumpy monkeys
welcoming campus life

wrinkle skin and falling hair

glowing eyes staring at the moon

never ending gratitude

=====

bintang senjakala

bengawan Solo menghanyutkan

sebokor ari-ari

balita sembilan purnama
berlari tanpa haluan
nyungsep di semak

bak mobil penuh barang
bawa sahabat dan air mata
ke gunung nan jauh

berwarna-warni pita
beterbangan di atas monyet
jelang dunia kampus

berubah kulit dan rambut

gerlap mata menatap bulan

syukur tiada akhir

Tangerang – Bandung, 21 Juni 2011 – lepas Isya hingga dini hari

 

500 JUTA UNTUK MENIKAHI WANITA WNI (belum selesai)

500 JUTA UNTUK MENIKAHI WANITA WNI

(indikasi woman trafficking?)

Punya suami bule mungkin menjadi semacam kesenangan tertentu bagi sebagian wanita Indonesia. Selain demi memperbaiki keturunan juga mungkin memperbaiki taraf hidup. Atau mungkin saja itu hanya semacam kesenangan atau selara belaka. Tapi kemudian ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan.

Seorang teman saya menjadi istri sirri seorang lelaki Eropa beberapa tahun belakangan. Sudah beberapa kali sebenarnya dia meminta dinikahi secara legal sehingga tidak ada ganjalan untuk melakukan perbuatan hukum seperti memiliki anak, membeli rumah dan lain-lain.

Tadi malam ketika ngobrol dengan beliau, tanpa sengaja saya meledek dia.

“Ah, kali aja suami elo nggak mau nikah legal karena nggak mau deposit 500 juta… Eh, atau jangan-jangan nggak punya duit dia ya? Kali ya…”

“What?!”

Saya terdiam. Waduh, tersinggung dah dia… Atau dia nggak tahu. Saya HHC (harap-harap cemas) menunggu apa reaksi dia selanjutnya. Bisa mati lah aku kalau dia marah.

“Lho emangnya kudu deposit duit?”

“Hoi! Jawab pertanyaan gue dong!”

“Iya, katanya sih 500 juta, Yul… Dan setornya musti ke bank syariah, bisa diambil setelah kurun waktu tertentu…”

“Ya ampun kenapa suami gue nggak bilang kalau ada ketentuan kayak begitu?”

“Tenang… aku belum fixed dengan UU ini. Kita cari info dulu aja…”

Sejak itu emoticon-emoticon yang dia kirimkan adalah L dan tanda menangis semua. Kasihan juga tapi kok ya gimana udah kadung saya membuatnya sedih.

Lalu saya browsing RUU atau UU atau apalah status aturan itu saat ini. Dan yang muncul adalah RUU dengan segudang protes dan cemooh menghiasi postingan yang diunggah di banyak blogs dan websites. Seseorang di kantor saya yang gape tentang aturan perundangan Indonesia juga telah menginformasikan hal tersebut beberapa bulan yang lalu ketika saya ngobrolin pernikahan kakak perempuannya dengan seorang warga negara Amerika Serikat.

Saya sedikit heran juga. Bisa-bisanya pemerintah punya rencana mengadopsi hukum positif di Mesir untuk diberlakukan di Indonesia.

BERSAMBUNG hi hi hi… *seringai ngeselin*

Serang – 15 Juni 2011 – 2:46 siang