MOTHER
Jadi gw udah jadi Online Seller? Ampun deh…
TITIK NOL DAN RESONANSI SCHUMANN

TITIK NOL DAN RESONANSI SCHUMANN
Ramalan kuno telah meramalkan. Tradisi dan budaya menghormatinya. Perubahan dalam Bumi sudah mempengaruhi pola tidur, hubungan, kemampuan untuk mengatur sistem kekebalan tubuh dan persepsi tentang waktu. Kita hidup dalam suatu proses inisiasi yang sudah terjadi sejak 2.000 tahun yang lalu, siap-siap untuk menerima perubahan yang sangat besar dalam tubuh kita.
Perubahan sedang terjadi sekarang
- Migrain sakit kepala dan kelelahan
- Sensasi Listrik di badan dan tulang belakang
- Kram pada jaringan otot
- Seperti gejala Flu
- Mimpi yang Intens .
Ini semua disebabkan oleh perubahan di Bumi yang terjadi sekarang!
* Tubuh manusia akan menjadi lebih sensitif sebagai akibat dari getaran baru.
* Resonansi Bumi (Schumann Resonance) konstam selama ribuan tahun di 7.8Hz. Sejak tahun 1980 telah meningkat menjadi lebih dari 12Hz. Hal ini berarti bahwa 16 jam sekarang sama dengan satu hari 24 jam. Waktu semakin mempercepat!
* Tubuh fisik sudah mulai berubah. Sebuah tubuh cahaya baru diciptakan.
* DNA kita sedang diprogram ulang oleh alam semesta (seperti yang diperkirakan dalam ramalan Maya). Kita akan berubah dari 2 untai kembali ke 12 untai DNA.
* Greater intuitif dan kemampuan penyembuhan akan muncul. Setiap tahun ini akan meningkat 10 kali lipat.
* Mata akan berubah dalam rangka untuk menyesuaikan diri dengan suasana baru dan
cahaya.
* Semua anak yang lahir setelah tahun 1998 mungkin akan mempunyai kemampuan telepati saat lahir.
Kondisi geofisika
Basis Frekuensi Bumi Meningkat : frekuensi dasar bumi, atau “detak jantung,” (disebut Schumann Resonance, atau SR) meningkat secara dramatis. Meskipun bervariasi disetiap wilayah geografis, selama beberapa dekade secara keseluruhan pengukuran adalah 7,8 siklus per detik. Hal ini pernah dianggap sebagai konstan, komunikasi militer global yang mengembangkan dalam pengukuran frekuensi ini. Laporan terbaru terukur di atas 11 siklus, dan terus naik. Para ilmuwan tidak tahu mengapa, atau apa yang membuat itu.
Apa yang dimaksud dengan Resonansi Schumann?
Percaya atau tidak, Bumi berperilaku seperti sebuah sirkuit listrik yang sangat besar.
Atmosfer sebenarnya adalah sebuah konduktor dan jika tidak ada sumber yang mengisi, muatan listrik yang ada akan berdifusi jauh di sekitar 10 menit. Ada ‘rongga’ yang didefinisikan oleh permukaan bumi dan ujung ‘Inner’ ionosfer sampai 55 kilometer. Setiap saat, total muatan yang berada dalam rongga ini adalah 500.000 coulomb. Ada arus vertikal yang mengalir antara tanah dan ionosfer dari 1 – 3 x 10 ^ -12 Ampere per meter persegi. Hambatan dari atmosfer adalah 200 Ohms.
Potensi tegangan 200.000 Volt. Ada sekitar 1000 badai petir pada saat tertentu di seluruh dunia. Masing-masing menghasilkan 0,5-1Ampere dan catatan kolektif untuk mengukur aliran arus di rongga “elektromagnetik” Bumi .
Schumann resonansi adalah gelombang elektromagnetik gelombang yang ada dalam rongga ini.
Di prediksi Resonansi Schumann akan terus meningkat dan pada 2012 akan menjadi 13 siklus perdetik, ini di sebut sebagai Zero Point, yaitu Bumi akan berhenti berputar sesaat dan akan memulai lagi putaran barunya.
Dapat di bayangkan apa yg terjadi jika Bumi berhenti berputar?
Di-share dari: http://www.facebook.com/#!/groups/soulstarindonesia/permalink/203469206399740/
Today I throw one star – Let’s see if there is one falling to me, or for me…
THE FELINES (MASYARAKAT SINGA)
THE FELINES (MASYARAKAT SINGA)
Orangtua ras Manusia
The Felines adalah salah satu dari dua ras utama di alam semesta kita. Mereka tiba di sini dengan undangan dari The Founders. Setelah berhasil menyelesaikan Universal Game mereka dan menyelesaikan semesta mereka, kelompok 45 Felines secara sukarela datang ke alam semesta ini untuk membantu setup dan mengawasi permainan yang sama di sini.
The Felines adalah ras bipedal yang berdiri 12 sampai 16 meter. Kulit mereka ditutupi oleh semacam bulu yang lembut, mereka memiliki surai dan baik laki-laki dan perempuan memiliki rambut panjang.
Mata berwarna biru dan menjadi emas ketika mereka dewasa. Mereka juga berubah dari warna cokelat keemasan menjadi putih.
Secara keseluruhan temperamen Feline hangat, optimis dan intelektual. Ketika mereka dewasa, mereka akan terlihat serius, introspektif dan lembut. Para tetua dihormati untuk belas kasih, kebijaksanaan dan wawasan.
Sebagai ras mereka sangat dekat dan memiliki rasa fair play. Para wanita dihormati dan dihargai dalam status yang sama dengan laki-laki. Dan benar dengan cara Feline, mereka semua sangat ingin tahu dan penasaran.
Sebagai bagian dari Universal Game, The Founders memberi Feline sebuah planet baru di Constellation Lyra untuk rumah mereka. Para Feline menamakannya Avyon. Sekarang ini tidak ada pengucapan yang tepat, atau ejaan, tapi itu cukup dekat. Nama yang sebenarnya tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Avyon adalah sebuah planet surga dengan pegunungan, danau, sungai dan lautan. Planet biru ini sangat persis seperti bumi kita sekarang dalam bentuk dan ragam vegetasi dan bentuk kehidupan.
Ketika Feline tiba, mereka dalam bentuk eterik, dan karena itu, masuk melalui tahap evolusi tubuh fisik di mana untuk menetap di planet ini. Setelah jutaan tahun mereka berevolusi menjadi singa dan kucing lainnya dan mulai inkarnasi menjadi bentuk-bentuk lain.
Sebagai bagian dari rencana, sebagian dari Feline asli tinggal dalam bentuk eterik untuk memberikan bimbingan kepada inkarnasi tersebut. Ingat, ini adalah sebuah planet 3D dan sekali Feline eterik menjelma, mereka akan jatuh di bawah selubung amnesia yang merupakan bagian dari kerja kehendak bebas sebuah planet 3D.
Seiring waktu berlalu, dan melalui siklus inkarnasi yang tak terhitung, felines berevolusi menjadi kucing yang berjalan tegak dan mempertahankan kesadaran eterik berkat rekan-rekan mereka yang secara periodik inkarnasi dari beberapa felines eterik,dan DNA dari bipedal mamalia mirip kera , yang berkembang di planet ini juga.
Dengan DNA seperti mamalia kera pada felines mampu mengambil tubuh lebih mirip manusia yang sementara tetap mempertahankan sebagian besar fitur wajah dan karakteristik dari kucing tersebut. Persilangan ini mencapai tahap tertentu garis genetik yang dikenal sebagai Garis Kerajaan Avyon, atau House of Avyon, muncul menjadi ada.
Para felines eterik akan terus bergiliran menjelma untuk menyediakan tidak saja upgrade DNA, tetapi pengajaran dan pelatihan dalam dimensi yang lebih tinggi agar planet mereka tetap terikat dalam siklus inkarnasi non-hidup hewan. Seperti yang
dapat Anda lihat, felines berevolusi di Avyon dalam banyak cara yang sama seperti Manusia berevolusi di Bumi. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa Manusia tidak terjebak dalam siklus binatang
Pada waktu kesadran felines tumbuh cukup besar jumlahnya saatnya untuk mengambil tanggung jawab penjaga planet dunia rumah mereka. Mereka terus berkembang dan akhirnya mengembangkan teknologi untuk perjalanan ruang angkasa dan kemudian teknologi warp. Saudara dan saudari eterik mereka terus bertindak sebagai pemandu mereka.
Banyak di antara mereka menjadi ahli genetika (spesialisasi Feline) dan mulai membantu mengembangkan bentuk kehidupan diberbagai jenis planet dan bintang-bintang di alam semesta. Beberapa di antara mereka menjadi penjelajah ruang angkas yang hebat dan ilmuwan dari berbagai ilmu.
Selama tahap ini dalam perkembangan mereka, felines mengalihkan perhatian mereka dengan mamalia bipedal, dan mulai program persilangan dan upgrade genetik dalam proses menciptakan sebuah spesies baru yang akan menjadi dikenal sebagai Manusia.
Setelah banyak persilangan dan upgrade genetik, Human Adam dibuat. Ada dua strain, strain berambut merah menjadi lebih terbuka dan energik, dan pirang platinum menjadi lebih lembut-hati dan introspektif.
Setelah ribuan tahun terus melakukan pemuliaan persilangan dengan hati-hati, hibrida Feline /Manusia mulai menjadi lebih umum di garis kerajaan kucing, Rumah Avyon, daripada ras kucing sendiri. Tapi, memang itu rencana nya.
Pada waktunya ras kucing akan menjadi leluhur kuno Manusia dengan hanya menyisakan sifat genetik mereka sebagai pengingat dari koneksi antara mereka. Dan meskipun hubungan genetik antara kucing dan Manusia telah dilupakan oleh manusia modern, kucing tetap dalam kesadaran kita sebagai makhluk agung, patut dihormati dan kasih kita.
Para kucing tetap mencintai, mendukung dan penjaga keturunan genetik mereka, Manusia. Mereka terus dalam peran ini melalui waktu dan semua dimensi Universal Game.
Devin (Feline) adalah pemimpin pemerintah dari Royal House 9D dari Avyon, dan Anu (Manusia) adalah pemimpin pemerintah dari Royal House 5D dari Avyon saat ini.
* * * *
“Universal Races” by Jelaila Starr
from Nibiruan Council
RENUNGAN INDAH (puisi terakhir W. S. Rendra)

RENUNGAN INDAH
W.S. Rendra (Alm)
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-NYA
Bahwa rumahku hanyalah titipan-NYA
Bahwa hartaku hanyalah titipan-NYA
Bahwa putraku hanyalah titipan-NYA
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-NYA itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-NYA harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-NYA yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”.
(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas ranjang RS)
Senam pertama setelah 3 tahun nggak senam * ngos-ngosan
mumpung libur, gw mau olahraga aja…
hore…! aku masih hidup!
IT IS DECEMBER AND ALMOST JANUARY (Indonesian version)

IT IS DECEMBER AND ALMOST JANUARY
(yang tersisa dari 2011)
Uh, judul diatas serasa membegokan diri. Ya jelas habis Desember pasti Januari kecuali kalau nama-nama bulan bisa di-mixandmatch-kan dengan system kalender lain.
Tahun 2011 hampir habis dan ternyata jauh lebih cepat dan mudah daripada yang kuproyeksikan di tahun 2010. Cepat karena memang nyatanya sekarang udah Desember 2011. mudah karena beberapa hal yang kusangka akan menjeratku dalam keperihan abadi nyatanya terlewati begitu saja; dengan airmata tapi nggak pakai darah segala. Saya selamat hingga saat ini minus beberapa kecemasan yang memang harus kulewati seperti penagih hutang dari instansi tertentu yang memang harus menunaikan tugasnya menyuruhku membayar cicilan yang sering telat bayar karena di rantau orang saya nggak nemu ATM bersama buat mbayar kartu kredit bow!
Yang menjadi catatan untuk satu bulan ini adalah bahwa aku tak boleh lagi membuat resolusi tahun baru yang tidak make sense (masuk akal, Bahasa Inggris) seperti “lunas utang tahun ini”. Itu nggak mungkin karena memang KPR masih panjang jangkanya. Duuuh! Atau menikah tahun ini karena memang dulu calon saya ogah-agahan dan apalagi sekarang nggak ada calon. Beuh! Atau “terbit buku tahun ini” karena nulis aja males. Huh!
Makanya it is December and almost January membuat saya mikir ulang mengapa gol-gol besar atau paling tidak yang saya anggap bedar justru nggak bisa saya sarangkan bola disana? Mengapa gol-gol seiprit (kecil, bahasa gaul) yang bisa saya tembus?
Mungkin justru gol-gol kecil itulah yang harus saya rintis ya? Mungkin…
Ok, then… Saya akan membuat resolusi yang kecil tapi pedes misalnya…
1. Diet, sebulan turun sekilo…
2. Nulis, sehari sekalimat…
3. Bayar utang, sebulan nyicil asal ajeg…
4. Cari cowok, satu-satu aja sebulan satu…
5. Ganti areng anggrek, sebulan satu pot…
6. Baca buku, sehari satu halaman…
7. Dll, yang melangkah pasti
Rasanya niscaya kok kalau ada kemauan. Semua hanya 2 langkah saja dari target: selangkah kaki kanan, selangkah lagi kaki kiri. Dan bisa dilakukan satu waktu juga yakni sekarang dan satu tempat saja yaitu disini.
Oh, it is December and almost January membuat saya bersemangat meniti saat ini disini. Berharap semua mimpi baik yang besar atau kecil menjadi kenyataan sebelum mati menjemput usia.
Tangerang – 1 Desember 2011 – 12:43 siang
Foto dipinjam dari http://en.wikipedia.org/wiki/December
PENCENG

PENCENG
Kata penceng berasal dari kamus bahasa Jawa yang berarti miring. Jadi kalau Anda saya bilang penceng itu artinya ada yang miring di diri Anda. Bisa jadi yang penceng adalah cara memakai jilbab Anda atau cara memakai baju lainnya. Tapi bisa juga saya mengacu pada pikiran Anda yang sedang tidak karuan sehingga tidak bisa nyambung dengan akal sehat. Bisa juga kata penceng ini kita kaitkan dengan kesadaran seseorang yaitu: mabuk atau lupa atau gila.
Tapi kalau gubug penceng… Itu adalah sebuah rasi bintang yang sebenarnya berbentuk salib yang dijadikan patokan arah selatan. Dalam bahasa Ingris rasi ini dinamakan Crux. Dinamakan gubug penceng adalah karena konon kabarnya nenek moyang kita melihatnya sebagai titik-titik yang jika dihubungkan lebih menyerupai gubug miring. Gubug dalam bahasa Jawa adalah bangunan sederhana yang jika di sawah tidak memiliki dinding atau bisa juga mewakili deskripsi rumah sangat sederhana yang biasanya dimiliki oleh orang miskin.
Dasar penceng!
Tangerang – 30 November 2011 – 5:55 sore
TIME TO DECIDE
mari kita saling men-support teman-teman kita. kalau ada yang sedih, jangan dimarahin… kalau ada yang marah-marah, jangan dimarahin – lebih baik ditenangkan… kalau ada yang sedang mengeluh, jangan dimarahin – lebih baik kita tenangkan… itulah gunanya teman… love you all temanku… :-)
membangun jaringan baru…
WHEN THE SOUL FEELS WEARY

WHEN THE SOUL FEELS WEARY
It doesn’t matter how I overcome my sadness but what is happening to me now is more than sadness I’ve ever undergone. It is just like a state of mind in which I can’t understand but I can feel the existence.
That person’s energy crash on my soul membrane and cause a trauma. What energy? It is a kind of collision among different ideas that might have caused negative impact on daily interaction. Is it serious? Not really for me but for the relationship between me and that person it may be an inconvenience especially for that person. The person is so sensitive about one thing: what to believe.
For me to befriend, you should not ask whatever you believe in life as long as the friendship bears one thing: trust not to betray each other. Once someone asks me what I believe, it is a sign that that person likes to judge, deep down in one’s heart. One may say one doesn’t judge but it is likely to experience judgment from one. It won’t be really good… It won’t.
Do you believe in something? Yes, you should.
But do you have to proclaim what you believe in front of people you are interacting with? No, you don’t.
Let’s socialize in this very small world in elegant way. What is elegance in friendship? That is to believe that whatever your friends believe, make sure that your belief is not your basis to judge them.
Have a safe journey of life, my dear friends. It is an honor to be with you in this very now and here. J
Tangerang – November 27, 2011 – 9:00pm
When the soul feels weary…
I am grounded tomorrow… hik…
Apa yang bisa kulakukan bahwa ternyata otakku kosong begini? Hik hik hik
Being original is more important than being perfect. I love you all, my friends…
banyak yang lagi galau di MP… termasuk Bunda Julie… semoga segera tenang… amin… :-)
meditasi bersama… mulai jam 22:00 :-)
Ayo ndang adus, gek ndang ngrampungke report kareben Setu Minggu iso nyante…
setandan pisang suluh di pohon condong alam berbagi
LAYANG-LAYANG

LAYANG-LAYANG
Layang-layang putus benang
Mengembara mengawal angin.
Angin ke barat aku mbandhang ke barat.
Angin ke timur kulepas ke timur.
Jika angin utara bertiup,
Kencang keterbang ke selatan;
Jika angin dari selatan datang,
Mengembara ku ke utara…
Penerbang layang-layang tak kuasa menggapai
Layang-layang yang melambung dibawa sang bayu.
Hujan segera tiba,
Apakah layang-layang akan menjadi bubur?
Penerbang layang-layang gundah-gulana
Diterpa badai kebingungan kalah lomba-
Lomba main layangan tanpa putus benang…
Layangan tak kuasa berhenti
Meluncur terus ke arah padang hijau
Yang berbatas hutan hijau nan gelap
Kanopi itu pasti banyak monyetnya
Apakah mereka akan merobeki tubuhnya?
Jika ya, tamatlah riwayat layangan bernama
Aku…
Kugesekkan badan pada deburan angin
Supaya tertahan perjalananku
Lalu segera jatuh ke bumi
Dan ditemukan anak-anak yang polos
Yang bersorak-sorai mengharapkan kejatuhanku
Mereka gembira
Karena aku goncang dan oleng
Tak lalgi ngebut menghantam rimba…
Tapi aku masih belum dalam jangkauan tangan-tangan mungil itu
Aku merendah
Merendah
Makin merendah
Hap!
Tangan kecil, lembut dan dingin
Menangkapku
Melindungiku
Dari rebutan teman-temannya
Yang menyeringai seperti buta
Lalu dibawanya aku pulang
Ke rumah
Tempatnya menyimpan benang…
Tangerang – 1 Oktober 2011 – 8:00 malam
AKU YANG EGOIS DAN BOB KUCINGKU YANG DIBERKATI
AKU YANG EGOIS DAN BOB KUCINGKU YANG DIBERKATI
Beberapa waktu lalu saya pernah menulis dalam bahasa Inggris tentang seekor kucing bernama Bob yang telah menjadi teman setia saya. Saya menganggap diri saya setia padanya karena telah membuat kucing itu jarang kekurangan makanan dibanding kucing kampong lain yang suka sekali berjejer di luar pintu depan menunggu saya membagi sisa makanan Bob atau makanan baru yang rela saya berikan.
Bob setia.
Saya tak ragu dengan kesetiaan Bob menunggu saya pulang, menemani saya bikin report hingga malam sambil dia klekaran (berbaring santai, Bahasa Jawa) di depan pintu kamar atau tepat di telapak kaki saya. Bob yang telah siap duduk di atas pagar tembok ketika saya diantar pulang oleh Pak Usup atau Pak Usen atau Pak Udin atau Pak Iis. Dengan kaki-kakinya yang jinjit Bob akan mengejarku lincah sambil mengeong manja.
“Aku sudah menunggumu. Aku lapar.”
Oh, Bob lapar maka itu dia menantiku dengan setia karena dia tahu aku yang memberinya makan dan minum walau kadang membuatnya bosan dan hanya bisa menikmatinya sedikit lalu minta dibukakakn pintu atau tidur sambil memperhatikan saya.
Seringkali saya merasa Bob telah mendapatkan yang terbaik dari saya. Makanan yang cukup sehat dan menyehatkannya, tempat tidur yang nyaman (bantal saya), badan yang selalu dibersihkan dari debu dan kutu-kutu, elusan lembut dan obrolan ringan (orang gila) atau kadang dituruti apapun maunya. Tahu nggak sih kucing saya ini biarpun jam 1:00 pagi kalau pengen pulang yang pulang saja – saya tidur di kamar belakang maka dia memanggil-manggil saya dari atas trails dapur.
Menurut ilmu perkucingan, saya merasa telah memberikan yang terbaik.
Makanan sehat, tempat tinggal yang cukup bersih, kasih sayang yang memadai, waktu bermain yang tak terikat, dll
Tapi…
… baru-baru ini saya merasa bahwa saya sesungguhnya belum atau malah tidak pernah memberikan yang terbaik pada Bob. Apa yang saya lakukan hanya sekedar best practice yang menurut manusia adalah perlakuan terbaik pada kucing. Manusia telah merasa optimal ngopeni ingon-ingone (merawat hewan piaraannya, Bahasa Jawa).
Ketika Bob mengeong-ngeong minta keluar, biasanya saya akan menunggunya setengah jam.
1. Jika dia mengeong terus hingga lebih dari 30 menit maka saya akn mengeluarkannya karena dia memang serius pengen sesuatu: kawin atau eek.
2. Jika dia tak pulang maka akan saya cari dia hingga keliling RT (serius ini) dan lalu menggiringnya pulang dan tidak melepasnya kecuali yang terjadi adalah nomer 1 di atas.
3. Jika badan dia kotor maka saya akan segera menyediakan air hangat dan shampoo kemudian mengelapnya dengan kain handuk kecil hingga bulunya tampak tidak dekil.
4. Jika kutu-kutu terlihat gembira di sela-sela rambutnya, saya akan memeluk Bob lalu memunguti kutu-kutu dan telur-telur kutu yang suka mendekam di sela telinga lalu membasminya dengan kuku jempol tangan.
5. Jika dia diam sambil memperhatikan saya, kuciumi hidungnya sampai dia merem-merem.
6. Jika Bob begini maka aku begitukan.
7. Jika Bob begitu maka aku beginikan.
Ilmu saya sebagai seorang biyung (ibu, Bahasa Jawa) bagi Bob saya anggap paripurna dan tidak akan saya dengarkan orang-orang diluar sana yang memberikan pitutur (nasehat, Bahasa Jawa) yang niscaya akan membuat Bob lebih sehat sebagai seekor kucing bukan sebagai seekor hewan piaraan.
Saya tidak menyadari bahwa bisa saja Bob mati karena saya perlakukan terlalu istimewa sesuai buku-buku perkucingan yang saya baca atau nasehat-nasehat dokter hewan yang selama ini kupercaya. Oh, alangkah malangnya Bob kucingku ini.
Saya manyun lama, duduk di depan jendela yang menghadap Simpang Lima sambil membayangkan Bob yang gembira karena saya tinggal pergi. Dia bersuka ria karena bisa tidur di alam bebas walau harus berkalang debu. Bisa jadi dia juga jalan-jalan malam mencari pacar dengna leluasa tanpa harus membangunkan mommy Rike untuk dibukakan pintu depan. Dia juga dengan riang-ria mengejar tikus-tikus usil yang membuatnya gemas sekaligus penasaran. Bob oh Bob… Mungkin kau punya hal lain yang menggembirakan…
Saya berpikir, apakah aku masih mampu menjadi sangat posesif terhadap Bob sedangkan aku seharusnya tidak terlalu yakin bahwa ilmu perkucingan yang kuyakini benar itu bisa saja masih bisa dikritisi…
Bob, besok aku sampai rumah jam 9:00 malam… Kalau bisa kau tunggu aku di rumah ya atau di atas pagar tembok. Biar aku bisa memandang matamu yang selalu menggemaskan itu, biar aku tahu apa sebenarnya maumu… Mau jadi kucing liar saja atau jadi kucing rumah yang kalem atau fifty-fifty kayak sekarang? Terberkatilah kau Bob karena telah menjadi bulan-bulanku selama hampir tiga tahun ini. I love you so much… Let’s realize that our bond is unbreakable…
(lihatlah saya masih ngeyel mencintainya)
Semarang – R1222 – 12:18 pagi – kangen Bob
KAWAN SETIA

KAWAN SETIA
Kawan,
Setiakah kau?
Menghalau gundah di sela nafasmu
Berselancar atas kekacauan harapanmu
Yang bertubrukan dengan gelak tawa di seberang jalan?
Kawan,
Setiakah kau?
Mengejar keinginan di antara tetesan keringatmu
Melaju melepas-tanggalkan pakaianmu
Demi ketulusan cintamu
Yang tak kau yakin benar-benar tak kan kau aliri airmata sesal…
Kawan,
Setiakah kau?
Membuangi ranjau-ranjau di halaman hatimu
Mengusir sepi yang lebih nyaring daripada pasar.
Air hujan mengabarimu berita gundah lagi,
Dan lagi,
Dan lagi…
Kawan,
Setiakah kau?
Pada ikrar di kala sepi
Batin di siang hari
Kedipan mata dalam kantuk
Lelap dalam jaga…
Setiakah kau?
Kawan,
Maafkan aku
Atas segala tanya hampa
Karena disana ada hati yang keruh:
Terselaputi pengkhianatan,
Tersaput penduaan,
Tersaruk kemarahan,
Terantuk kemayaan rasa,
Terhantam badai lagi,
Dan lagi,
Dan lagi…
Kawan setiakah kau?
Semarang – 26 September 26, 2011 – 9:10 malam – tentang kenangan segar
LANGIT RETAK
KEHIDUPAN YANG SEMPURNA

KEHIDUPAN YANG SEMPURNA
Pernahkah Anda merasa hidup ini kurang sempurna? Atau kurang dalam beberapa hal? Jika ya, kita sama… Pernah suatu saat saya sangat menyesali kelahiran saya, marah atas keberadaan saya, kesal karena saya “ada” dan yang terbesar saya berharap saya tidak pernah ada.
Mungkin tak banyak orang yang merasa seperti saya tapi itulah yang pernah kami share bersama dengan beberapa teman dengan pengalaman yang sama. Kami merasa dunia ini tidak adil dalam beberapa hal; kami punya ketidaknyamanan dalam hal yang berbeda. Ada yang merasa pekerjaannya kurang memadai, ada yang merasa pasangannya tidak cukup memenuhi criteria (setelah beberapa lama bersama), ada yang anaknya tidak sesuai dengan harapan mereka, ada yang merasa kurang cantik, ada yang merasa kepandaiannya tidak cukup untuk memperbaiki keadaan, yang pasti itulah ketidakberuntungan kami.
Setelah beberapa saat lamanya tak berjumpa dan tak curhat, kami sepakat reuni. Dengan kondisi yang berbeda kami bertemu. Yang kurang cantik (karena dulu kulitnya tidak putih), sekarang jadi cantik. Yang dulu kurang kaya sekarang jutawan. Yang dulu anaknya tidak sesuai harapan, sekarang anaknya sudah ok-ok saja. Yang dulunya tak berguna walau pintar, sekarang sudah jadi orang penting. Saya sendiri, masih seperti yang dulu… (lagunya Dian Pisesa).
Layaknya wartawan, saya penasaran tuh mengenai perubahan yang mereka alami. Maka satu per satu deh saya wawancarai.
Si Cantik
“Eh, kok kamu sekarang kelihatan cantik banget sih? Emang ada perawatan khusus?”
“Enggak juga… Biasa saja. Cukup dengan merawatnya.”
Si Miskin
“Kelihatannya kamu makin makmur juga ya? Mobilnya udah ganti yang lebih perkasa dan mengkilap…”
“Itu mobil yang dulu, didempul sedikit jadi kelihatan lebih kinclong.”
Si Emak Malang
“Mana anak-anakmu yang suka ngancurin pot-pot anggrekku? Apa mereka masih diiket tiap jalan-jalan keluar rumah?”
“Masih saja, sekarang mereka juga ngancurin motor, radio, . Itu kembar memang nggak bisa diem…”
Si Jenius
“Naik pangkat nih rupanya? Memang kalau kamu cerdik-cendekia dimana-mana juga kepakai ya…”
“Naik pangkatnya masih lama… Ini lagi sibuk banget ngelarin project yang ditinggal teman yang nggak bertanggung-jawab.”
Tak ada satu pun kabar gembira. Semua masih berkubang dalam Lumpur yang sama. Teman-temanku masih sama “menderitanya” seperti beberapa tahun lalu. Tapi kenapa mereka sudah tak lagi punya jawaban yang “menyakitkan” telinga saya. Kesan yang saya tangkap adalah mereka makin dewasa, makin bisa meninggalkan kekacauan yang belum tahu kacau atau sesungguhnya tidak kacau sama sekali.
Saya nggak berani nanya lagi; saya nggak mau rendezvous kami gatot alias gagal total hanya karena pertanyaan “kok kamu sekarang dewasa banget sih?”
Maka saya hanya mengamati saja gerak-gerik mereka.
Si Cantik itu tidak menjadi semakin terang kulitnya, hanya wajahnya memang berseri-seri tak ada jeda.
Si Miskin juga tak tampak semakin kaya; mobilnya memang makin berkilau yang katanya karena dempulan dan cat baru. Tetapi yang pasti wajahnya tak lagi muram. Keluarga yang kami kenal sejak awal juga menjadi makin ramah, percaya diri dan terbuka tanpa menutupi apa yang tak mereka miliki. Kami semua bersikap apa adanya.
Si Emak Malang masih datang dengan anak-anak yang beberapa tahun lalu bersikap menyebalkan karena merusak pot-pot anggrekku karena berusaha mencabutinya dan menukar posisi dari satu pot ke pot yang lain, sekarang mereka juga masih sibuk tapi mereka tidak lagi mengganggu tanamanku. Mereka sekarang sibuk dengan rubik dan sudoku yang dibawanya dari rumah. Sesekali mereka memotong obrolan kami untuk menunjukkan hasil permaninan mereka.
Si Jenius, satu-satunya orang pintar diantara kami yang dulu sekali paling banyak mengeluh karena IQ yang tinggi tak bisa sama sekali membantu hidupnya sekarang menunjukkan perbedaan cara pandang terhadap hidup. Dia bilang hanya sikap yang bisa membuat segalanya lebih baik. Kepandaian tak bisa menolong menjadi lebih sukses. Kini dia menelateni pekerjaan yang pernah dia sangka membosankan karena mesti disuruh-suruh melulu. Sekarang pun dia disuruh-suruh tapi dengan keikhlasan dia bisa mengatasi kegusaran lantaran diperintah-perintah.
Reuni tahun ini berhawa berbeda. Tak ada sesi curhat untuk membahas ketaksempurnaan hidup. Tak ada lagi helaan nafas panjang dan mengurut dada demi menahan kekesalan dan munurunkan tensi darah yang hampir muncrat dari jantung.
Saya sangat ingin menanyai mereka satu per satu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Saya pengen belajar “menguasai diri” tapi saya tak ingin juga terlalu ngelamak (lancang, Bahasa Jawa Timuran) mencampuri urusan pribadi mereka walau mereka sahabat dekat saya.
Maka saya hanya menunggu dan melanjutkan obrolan kami tentang kue nastar yang muncul di tiap pertemuan kami.
“Ini nastara enak juga ya… tapi buatku ini kurang manis. Mungkin tahu depan kamu pesan nastar yang gulanya punya derajat kemanisan lebih tinggi, Ke…”
“Hahaha… Malah menurutku nastar ini terlalu manis karena lihat deh ini nastar kan isinya kismis-almond-sukade bukan selai nanas. Seandainya gulanya dikurangi maka rasa kismis dan sukadenya akan lebih menonjol. Kalau almond-nya sih memang sudah pas. Top banget ini kue Lebaran…”
“Menurutku sih nastar memang seharusnya diisi dengan selai nanas karena namanya NAStar. Kalau begini kan namanya jadi KISUMONtar karena isinya kismis, sukade dan almond.”
“Lebaran tahun depan deh gue suguhkan semua jenis kue sesuai pesanan masing-masing tamu….”
“Wow…! Kalau ada seribu tamu apa kamu akan sediakan 1000 rasa kue pada mereka?”
“Mana mungkin…?”
“Oh, mungkin saja… Tahu nggak kalian, bahwa rasa apapun akan tetap terasa sama kalau kau makan makanan itu sambil menutup penciuman kalian.’
“Yakin lu?”
“Yakin…! Ayo lu pade coba deh…”
***
“Ehhhh… iya….”
Ternyata jika kita makan tanpa mengaktifkan indera penciuman maka rasa makanan akan tak berasa dan itu adalah cara terbaik daripada menyediakan 1000 rasa pada 1000 tamu. Lebih mudah kan? Ha ha ha…
Kami tertawa-tawa…
Saya rasa itulah yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabat saya itu: tidak merasakan ketidakenakan yang sedang dialaminya. Semua mereka selesaikan tanpa menghayatinya. Mereka menjalaninya dengan penuh kesadaran bahwa ada rasa yang tak enak tapi mereka tak mau mempermasalahkan rasa yang tak diharapkan itu. Cukup dengan berusaha “menghabiskan hidangan” maka semua akan beres.
Mungkin ini nggak make sense (masuk akal, Bahasa Inggris) dan tidak relevan tapi apa daya aku tak sanggup menanyakan langsung pada mereka. Biarlah saya memperkirakan sendiri apa yang telah mereka lakukan. Aku hanya cukup yakin bahwa temanku baik-baik saja dengan ketaksempurna
an mereka sehingga yang kutahu hidup mereka telah sempurna.
Temasek: Ubi Avenue 4 – 5 September 5, 2011 – 1:43 siang yang ngaco J
MADRE
MADRE
Madre, buku yang berisi puisi dan prosa karya Dewi Lestari, telah habis saya baca dalam hitungan jam. Ada beberapa kisah (prosa) dan kontemplasi puisi dalam buku yang nggak terlalu tebal tersebut.
Secara umum, saya suka karena memang saya penyuka Dee’s work. Tapi secara kritis saya menyukai tidak semua karya yang ada disitu. Prosanya saya suka semua karena lebih mengena dalam artian lebih mudah bagi saya mencerna apa maksud Mbak Dee – walau tetap saja namanya Dee menyukai presentasi symbol dan analogi dalam karyanya.
Puisinya?
Sebenarnya bagi saya sangat lugas
Bahwa dia membicarakan cinta
Cinta terhadap soulmate-nya
Dan cinta pada source-nya
Itu sudah cukup
Tapi puisi yang ada beberapa itu terkesan mengulang apa yang sudah ada:
Kerinduan
Kebersatuan
Kesatuan
Keniscayaan
Kefanaan…
Itulah yang saya tangkap dari karya puisi Dee dalam bukunya “Madre”.
Ada lagi satu hal menarik yang selalu saya temukan di karya (prosa) Dee. Masukan baru tentang detil-detil kehidupan kita. Kali ini tentang “biang roti” bernama Madre yang muncul dalam cerpen berjulul “Madre”. Saya baru tahu bahwa dahulu kala roti itu dibuat dengan biang roti, sup juga ternyata bisa dibuat dengan biang-nya. Oalah… begitu memesonaku kau, Dee – dengan ilmu baru yang tak kusangka ada. Terima kasih ya, Dee…
Secara singkat itulah lebih kurang apa yang saya rasakan setelah membaca “Madre”. Semoga bermanfaat.
Sebagai spoiler, saya bubuhkan daftar isi buku “Madre”:
1. Madre
2. Rimba Amniotik
3. Perempuan dan Rahasia
4. Ingatan tentang Kalian
5. Have You Ever?
6. Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan
7. Wajah Telaga
8. Tanyaku pada Bambu
9. 33
10. Guruji
11. Percakapan di Sebuah Jembatan
12. Menunggu Layang-Layang
13. Barangkali Cinta
Tangerang – Cluster Asri – 1:42 siang



You must be logged in to post a comment.