MENANGIS SAMBIL TERTAWA

MENANGIS SAMBIL TERTAWA

Rasanya kok nggak ada energy untuk menuliskan perjalanan saya ke Dhaka tanggal 16 – 21 April 2012 lalu. Banyak sekali yang bisa saya bagi dengan sudara sekalian namun butuh waktu yang cukup untuk mengendapkan kekeruhan yang saya tangguk dari kunjungan ke sana dan perlu penjagaan jarak yang cukup sebelum tertuang apa yang perlu dipetik sebagai hikmah diantara sekian ribu peristiwa dalam hitungan hari itu.

Ada satu hal yang biasa tapi jadi membekas sebagai kenangan yang luar biasa bagi saya selama berkunjung ke negeri yang sebagian besar terhimpit oleh India dan oleh Myanmar di bagian tenggara. Bangladesh, sebuah negara yang tak saya sangka-sangka akan saya kunjungi. Mungkin sudah lebih dari 100 tenaga kerja Bangla yang pernah saya ajak berbincang tentang nasib yang membawa mereka ke negeri Malaysia namun tak sekalipun saya membayangkan bisa menginjakkan kaki saya di negeri kecil itu. Rasa haru ada walau tak saya wujudkan dalam setitik air matapun.

Negeri ini adalah tempat orang dengan daya survival tinggi. Apakah Anda kuat bertahan hidup dengan hanya USD30 per bulan? Mereka para buruh di Bangladesh bisa!!! Mungkin ada yang bertanya berapa harga sekilo telur disana? Sama dengan harga di Indonesia. Jadi bayangkan keluarga mereka akan memasukkan telur ke dalam daftar makanan mewah. Konon kalau mereka mau makan ikan maka mereka harus memancing sendiri. Kalau mereka mau makan ayam, mereka harus menunggu hingga ada kesempatan khusus semacam selamatan atau perayaan. Teman-teman saya mengatakan bahwa banyak sekali orang miskin papa di Bangladesh tapi ada juga orang kaya yang tak peduli dengan nasib saudara yang kemalangan.

Yah sudahlah tak kan habis kesedihan yang saya ingat dari kunjungan saya yang singkat tapi penuh makna itu.

Ada pengalaman menarik yang tak akan saya lupa.

Ketika sore telah menjelang maka empat teman saya: Nawrin, Fahrin, Faiz dan Barik berniat mengantar saya kembali ke hotel tempat saya nginep di daerah Gulshan. Saya sudah dinaikkan rickshaw berangkatnya; maka pulangnya mereka akan mengajak saya bertualang naik CNG – bajaj yeeeeeaaaahhhh!!!

Tak disangka mereka bilang bahwa CNG tak mudah didapat maka mau tak mau kita naik satu CNG berlima. Serius looooo?

Jadi pembagiannya adalah sebagai berikut: Barik di depan bersama pak supir.

Nawrin masuk dulu ke bangku belakang lalu saya, menyusul kemudian Fahrin dan terakhir Faiz.

Oh teman… kau tak akan bisa melakukannya di Jakarta karena supir bajaj belum-belum sudah menolaknya. Taxi pun tak mau jika harus mengangkut lima orang dengan perawakan bongsor ini (kecuali Fahrin kami semua L dan XL sizes). Nyatanya pak supir senang hati melakukannya bahkan dia mengobrol dengan Barik yang duduk bersamanya. Kami terbahak sepanjang jalan saling meledek pantat siapa yang paling makan tempat. Tak peduli lagi keringat siapa yang paling menyengat. Bisakah kalian bayangkan mengendara bajaj (yang punya pintu jeruji dan ditutup rapat) selama 30 menit dalam kondisi tersebut jika tidak bersama teman yang hatinya luas dan bening?

Oh, Bangladesh… How kind you are.

Aku masih ingat ucapan salah satu dari mereka. “Rike, we are poor but we are doing our best to serve our friend, you…”

Thank you, sambut saya dengan mata berkaca.

Duh, alangkah mulianya hati kalian. Jika kalian berkunjung ke Jakarta akan kujamu kalian dengan tulus hatiku. Doakan aku punya kendaraan yang cukup besar untuk emngangkut kalian semua tanpa harus dusel-duselan (berdesakan, Bahasa Jawa) seperti ayam mau diberangkatkan ke RPA ya….

Suatu saat nanti saya ‘kan berkunjung kesana lagi dalam kondisi saya yang lebih siap dan lebih bermanfaat.

Rumah kecilku di bantaran kali Cisadane – 29 April 2012 – 11:44 malam

Gambar CNJ (bajaj) dipinjam dari: http://jen2bangladesh.wordpress.com/

KARTINI OH KARTINI

http://id.m.wikipedia.org/wiki/Berkas:Raden_Adjeng_Kartini.jpg

KARTINI OH KARTINI

(pergeseran esensi itu halal)

Di beranda teman-teman facebook dan beberapa postingan teman-teman multiply bertemankan Hari Kartini. Saya baru inget kalau hari ini tanggal 21 April, tanggal lahir Kartini ya? Dulu heboh sangat mengucapkan selamat hari Kartini pada teman-teman perempuan dan ibuku dan ibu pacarku dan ibu teman-teman dekatku. Sekarang kok rasanya agak ampang (hambar, Bahasa Jawa).

Esensi peringatan Hari Kartini kan katanya emansipasi wanita Indonesia. Itu esensi yang saya pahami dari interpretasi para sejarawan terhadap aktivitas hidup kartini yang pernah jadi perempuan Jawa kuno, anak bupati ningrat, sekolahnya nggak tutug (selesai hingga tuntas, Bahasa Jawa), pertemanannya dengan para orang Belanda membuahkan publisitas yang bisa jadi tidak pernah dia sangka lalu menjadi isitri bupati juga. Yang saya tangkap adalah sebuah empati para sahabat Belanda terhadap Kartini yang kayaknya sih pengen sekolah ke Belanda sehingga bisa bebas dari kungkungan budaya.

http://edyraguapo.blogspot.com/2012/04/mengelilingi-jepara-bumi-kartini.html

KARTINI BISA JADI BETE

Nah, sekarang para wanita Jawa yang telah lepas dari kungkungan budaya Jawa kuno (pingitan, diskriminasi, pelecehanan, dll) mau apa? Apakah Hari Kartini ini sekedar merayakan kemenangan nilai baru ini? Atau sebenarnya hanya sekedar peringatan sejarah yang tercipta karena kepentingan politis saja?

Kalau mau sih bisa saja saya mengucapkan Hari Kartini pakai sms kayak beberapa tahun lalu kepada semua teman perempuan di daftar kontak saya. Makan pulsa juga nggak apa-apa. Tapi kemudian terjadi pergeseran esensi dalam diri saya sendiri. Saya menjadi lebih cuek terhadap peringatan yang katanya untuk ini dan itu. Hari Kartini kek, Hari Ibu kek, Hari Wanita kek, mbuh sak karepmu…. itu adalah sebuah diskriminasi positif saya tahu tapi saya tidak mau membiarkan diri saya lupa bahwa esensi dari peringatan itu adalah supaya tidak lupa bersikap baik seperti seorang Kartini, bersikap hormat kepada ibu (refleksi Hari Ibu), menghormati hak-hak wanita (Hari Wanita), dll. Kalau hanya terpaku pada peringatan yang ternyata hanya setahun sekali apalagi kalau diidentikkan dengan para siswa berpakaian tradisional terutama pakaian adat Jawa kok rasanya Ibu Kartini akan merasa bersalah namanya kena catut para sejarawan politis tersebut.

Kata Kartini, “Buset dah, mereka yang mau hura-hura nyuruh perempuan kerja lebih keras dan tertipu eh nama gue yang dikata emansipasi… Suwek dah gue”.

http://tutinonka.wordpress.com/2011/04/21/kartini-siapakah-dirimu/

KARTINI DAN AGAMA

Saya tidak suka mengaitkan Kartini dengan agama apapun baik Islam maupun Kristen. Saya sudah membaca ulasan orang-orang yang menganggap Kartini adalah milik Islam, saya juga membaca buku Pram “Panggil Aku Kartini Saja” yang ada sebagian di dalamnya mengatakan bagaimana Kartini tertarik pada Kristen. Buat saya orang yang suka mengklaim “Oh, ini punya gue. Oh itu punya kita…” adaalh termasuk kaum miskin ilmu karena justru dengan mengatakan demikian akan terlihat jelas biasnya.

Kenapa harus mengaitkan emansipasi dengna agama tertentu? Kalau mau mengulas tentang woman liberation (kemerdekaan wanita) nggak usah deh pakai dalil kitab-kitab suci. Itu hanya komoditi agama saja akhirnya. Coblah baca buku Kebebasan Wanita semua jilid 1 – 6. Buku ini ditulis oleh Abdul Halim Abu Syuqqah dan kesimpulan saya adalah semua peristiwa tentang wanita yang diulas oleh Abu Syuqqah tersebut menjadi sangat penting bukan karena wanita-wanita itu orang Islam. Para wanita tersebut dihargai oleh sudut pandang Abu Syuqqah yang menghargai wanita dengan lebih baik.

Pada dasarnya Abu Syuqqah adalah ilmuwan yang sangat menguasai bahasa Arab dan tahu bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang MAU TIDAK MAU, SETUJU TIDAK SETUJU adalah bahasa yang BIAS GENDER. Ada benda perempuan dan lelaki; dan “jenis kelamin” kata itu bisa berubah berdasarkan situasinya. Kalau Anda mau masuk ke pesantren-pesantren yang masih saklek dalam menafsirkan kitab Uqud Al-Jain (uquddulujain) bisa saja Anda bilang bahwa pada dasarnya Islam tidak begitu, itu hanya penafsiran yang salah. Oooh jangan salah ya… Orang di Arab juga banyak yang salah dalam menafsirkan perbudakan – pada kenyataannya para TKW kita dianggap hamba sahaya (budak) di negeri tujuan ibadah terspektakuler dan termenguntungkan di seluruh dunia ini – ibadah hajji.

http://www.navila.co.id/2010/04/kartini-mati-dibunuh-membongkar.html

PERINGATAN DAN TAFSIR

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa apapun yang kita rayakan tidak kemudian menjadi sangat penting untuk kita klaim sebagai milik satu kelompok saja; bahwa kemudian ada esensi yang berbeda yang dipahami oleh orang lain itu juga bukan merupakan penyimpangan nilai. Yang sangat baku adalah bahwa wanita tidak dihormati oleh (penafsiran) agama tertentu adalah karena ada sekelompok manusia yang ingin mengambil keuntungan dengan menawarkan tafsir terhadap agama tersebut sehingga secara sadar atau tidak, rela atau tak rela pengikutnya menginternalisasinya menjadi sebuah kebenaran nilai dan nilai kebenaran tanpa mau berpikir dan bersikap kritis terhadapnya.

Kalau Anda muslim dan mengatakan bahwa Kartini begini-begitu karena dia memahami Al Quran dengan baik, that’s fine. Bisa jadi itu benar asal itu Anda pahami tidak dengan ego yang mendominasi. Tidak berarti seseorang yang sedang belajar Al Quran kemudian mendapatkan 100% pemahaman benarnya dari Al Quran yang dia baca. Bisa saja dia memang sudah memahami nilai kebenaran itu sejak awal. Al Quran bisa saja dijadikan sebagai penopang atau justifikasi sosial sehingga seseorang tidak menanggung malu atau tak nyaman jika orang-orang bertanya mengapa dia berpikiran demiki
an. Apakah itu kebenaran Al Quran? Belum tentu… Benar atau tidak benar adalah kekuatan tafsir.

Jika Anda orang Kristen dan berpikir bahwa Kartini juga pernah mendatangi gereja dan mengagumi ajarannya tentang kasih itu juga tidak menjadi masalah asalkan Anda tidak memaksakan kehendak bahwa kemudian Kartini bisa saja menyembunyikan kekristenannya karena ketakutan pada budaya di masanya. Jika saja itu benar, tidak juga menjadikan masyarakat menyebutnya Kartini yang baru.

Pendekatan Anda terhadap peristiwa di sekitar Anda adalah bentuk kesepakatan Anda terhadap apa yang Anda yakini. Anda sepakat bahwa tuhan itu satu? Anda sepakat tuhan itu banyak? Itu karena Anda sepakat terhadapnya – tidak menjadikan itu benar atau salah. Bahkan ketika Anda sepakat bahwa tuhan itu tidak dikenal; itu juga kesepakatan Anda terhadap eksistensi tuhan.

Jadi Hari Kartini sebagai peringatan dan bagaimana Anda menyikapinya adalah kesepakatan Anda terhadap keyakinan Anda. Dan itu bebas.

YANG TIDAK BENAR

Yang tidak benar adalah ketika klaim datang dan menyebabkan kekritisan menjadi bias, kesepakatan menjadi kekuasaaan dan chaos (kekacauan, mbuh bahasa opo) muncul dan manusia saling membunuh baik membunuh kemerdekaan berpikir maupun menghilangkan nyawa sesama manusia.

Rumah kecilku di bantaran kali Cisadane – 21 April 2012 – 4:14 sore

Igauan karena galau nggak bisa nonton konser Dream Theater

Gambar diambil dari lama-lama yang tertulis di bawahnya

THE KINGDOM WAS ONCE UNKINGED

THIS KINGDOM WAS ONCE UNKINGED

The king walks down along the woods;

Though heat and snow disturb his moods.

The cart and horses are so slow.

The king don’t care and still he’d go.

Kingdom is left by the king.

Oh no, please go back our King–

That has gone away and away

In sway…

How long will the kindom empty?

The thrown now looks so dusty,

The prime minister goes dizzy,

And all the soldiers are hungry.

One invitation flies through sills,

Opened and read and welcomed well,

Prime minister announced in thrill

Telling that the king goes out of hell.

Hell? Really hell?

The king goes to hell?

Why doesn’t she choose heaven?

Or is she trapped by raven?

The king walks down in her own

The town becomes so colourful.

The king writes that she wants a throne

Since crown’s no longer useful.

People, soldiers, prime minister,

The cook, the clown, all are caring —

Bowing to King that’s now lighter.

Birds, fish, cat and all are cheering.

Ah, the kingdom was unkinged so long

After the king went out to hell

And now she’s present as a monk

There’s nothing more that I can tell.

Dhaka – April 18, 2012 – 10:05 evening

Someone is not so much interested in a crown anymore. She wants peace in her kingdom.

Picture is taken from http://ndesign-studio.com/portfolio/illustration/abstract-phoenix

LOWONGAN KERJA DI GOOGLE *ngiler

GOOGLE BUKA KANTOR DI INDONESIA

(ada lowongan nggak buat gw? – jawabnya tidak ada)

Saya dengar sih Google buka kantor di Indonesia – notabene di Jakarta dong. Nah, ada nggak yang lowongan pekerjaan yang cocok untuk diriku ni? Tentunya yang tidak berhubungan dengan IT. Maksudnya sih yang berhubungan dengan CSR aja gitu… Soalnya orang gaptek kayak saya apa iya mau kerja di bagian IT?

Lhah tapi masak Google mempekerjakan orang gaptek? Malu-maluin ha ha ha…

Lhah kalau bagian CSR kan gaptek tidak terlalu masalah karena kalau harus belajar dikit-dikit tentang penggunaan program yang berhubungan dengan Microsoft Office saja mau dan mampu deh.

Kenapa tiba-tiba saya membahas lowongan pekerjaan di (bakal) kantor Google Indonesia ya? Apa karena batin udah menuntun saya untuk meninggalkan pekerjaan yang sekarang. Nothing wrong dengan pekerjaanku sebenernya hanya kok kantorku ini terlalu ceriwis dengan masalah keyakinan seseorang. Saya penasaran apakah teman-teman lapangan lain juga ditegur kalau nggak sembahyang atau nggak membaca buku agama? Apakah mereka ditegur kalau emosinya diekspresikan di wall pribadinya (Facebook, Blackberry, Multiply)? Apakah persentase kenaikan gaji gw yang (disinyalir) selalu paling kecil adalah hasil dari evaluasi sholat dan ibadah ritual yang dimasukkan ke dalam KPI (Key Performance Indication)? Ironisnya… Oh, seharusnya gw berpikir bahwa memang kerjaan gw nggak beres selain sholatnya nggak bener.

Kalau ibuku marah karena sesuatu hal yang berhubungan dengan pribadiku itu wajar tapi kalau orang kantor marah karena aku nggak taat pada jadwal ibadah, masak sih urusan dia segitunya… kalaupun negur mbok yao sebagai teman bukan nglungguhne (mendudukkan, Bahasa Jawa) saya di kursi berhadap-hadapan. Oh, alangkah banyaknya kerjaan orang kantor gw: selain ngurusin kerjaan juga ngurusin urusan pribadi karyawannya.

Lho… Maaf melenceng… In short kalau ada lowongan di kantor manapun yang penawaran gajinya cocok, saya mau tuh. Sepertinya saya sekarang kurang cocok dengan lingkungan yang relijius; cuma bikin bodoh dan salah fokus…

Rumah kecil di bantaran sungai Cisadane – 14 April 2012 – 8:30 pagi

Lowongan kerja di Google Indonesia bisa ditengok di http://www.google.co.id/jobs/adsales/index.html

Gambar dipinjam dari http://www.home-designing.com/2008/10/seriously-cool-workplaces

NEGERI NYIUR HIJAU

NEGERI NYIUR HIJAU

(kekayaan yang bisa hilang)

Roti kelapa… Hmm.. sedap joooo. Rasanya gurih dan aroma kelapanya membuat lidah so bergoyang.

Tanggal 5 dan 6 April 2012 saya akhirnya menikmati indahnya Manado. Ee… dodo ee… Walau hanya mampu memandangi pulau Bunaken dari seberang lautan, rasanya sudah tergetar hati ini. Tersepona eh terpesona… Pagi jam 6:30 saya udah siap gerak ke arah Tumpaan dari Novotel Grand Kawanua setelah sarapan sedikit. Pak Joly, driver yang semalam sebelumnya mengantar saya dari bandara Sam Ratulangi juga telah nyanggong di parkiran sejak jam 6.

Sepanjang jalan ke tujuan, saya yang rencananya mau tidur malah melek sak jam (terbuka mata lebar-lebar ibarat jam dinding bulat, Bahasa Jawa Timuran). Jeprat-jepret tak peduli kecepatan tinggi mobil lari gambar gambar fokus jadi nggak fokus teap saja tak jepreti… Pohon kelapa yang jangkung menjulang tinggi semacam pengingat bahwa saya sedang menuju sebuah fasilitas pengolah kelapa.

Sampai tempat, saya diajak keliling-keliling area. Tumpukan kelapa tanpa serabut bertumpukan menanti diproses. Pabrik ini mengolah kelapa menjadi tepung (desiccated coconut) untuk diekspor ke negara-negara yang nggak punya kelapa atau nggak punya cukup kelapa untuk diolah.

Kemarinnya baru saja tercitra bahwa kelapa itu barang sepele; sejak melihat pemroses kelapa di Tumpaan itu berubahlah pikiran kerdil ini. Kelapa kita bisa menjadi sangat berharga seberharga kepala. Mana pernah terpikir sebelumnya bahwa orang-orang manca negara itu sangat bergantung pada kita dalam pembuatan sekeping kue kelapa. Tanpa tepung kelapa dari negara-negara seperti Indonesia ini lidah mereka tak kaya rasa.

Sedangkan kita disini? Tidak sedetik pun menyadari kekayaan alam yang nelecek (bertebaran, Bahasa Jawa) di lingkungan kita. Secuil syair lagi Koes Plus “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” sangat tepat menggambarkan kekayaan alam Indonesia. Apa yang nggak tumbuh kalau ditancapkan atau dilemparkan ke tanah? Singkong, ubi jalar, talas, pisang, pepaya, beluntas, dll… Kalau mau menggarap kekayaan alam yang berlimpah ini tak mustahil kita kaya tanpa harus meniru rencana industri negara lain yang basisnya memang bukan kekayaan alamnya.

Saya membayangkan negeri ini menjadi negeri agraris yang tumbuh menjadi negara industri berbasis agraris bukan negeri agraris yang bergerak menjadi ladang subur pabrik para investor asing dengan bisnis garment, elektronik, footwear, dll sejenis produk yang tidak berkaitan langsung dengan agrikultur dan sebenarnya ditancapkan di Indonesia hanya dengan alasan harga tenaga manusia disini sangat murah. Ditambah lagi bahan mentah semua didatangkan dari negeri seberang, fasilitas pembantu juga merupakan pabrik-pabrik yang dimiliki oleh orang sono yang mencari tenaga terampil dengan harga murah.

Ayo dong… Anak bangsa… Mari dengan semangat cinta dan hati bahagia menggali potensi negeri indah permai kaya tapi kurang makmur ini; kalau kesannya terlalu cinta pada negeri sendiri kenapa tidak? Kalau orang RRC (Republik Rakyat Cina) boleh bangga setengah mati dengan budaya dan sejarahnya, kita juga bisa. Ayo mari bekerja. Jangan berpangku tangan, jangan bikin kecewa orang tua yang pernah nggadhang-nggadhang (menimang dengan penuh harapan, Bahasa Jawa) kita menjadi kebanggaan mereka.

Negeri ini kaya tapi kekayaan ini mulai ke
ropos karena tak dikenali oleh pemiliknya sendiri. Kekayaan alam ini sangat niscaya akan direnggut atau bahkan ditumpas oleh orang lain karena dianggap kurang berguna jika ada di tangan pemiliknya.

Putar otak, ayo putar otak biar jangan karatan. Kepala kita sangat berharga seperti juga kelapa yang diproses menjadi tepung lalu diekspor ke negara “miskin” sana.

Rumah kecil di bantaran kali Cisadane – 7 Maret 2012 – 2:30 siang

Oleh-oleh dari bumi Kawanua

MENGERUK LUMPUR, MENGERUK UANG

MENGERUK LUMPUR, MENGERUK UANG

(sekelumit kulit industri pertambangan)

Timah menjadi primadona sejak dulu hingga sekarang sebagai komponen alat elektronik yang kian hari kian digemari – atau tepatnya dibutuhkan – oleh manusia di belahan bumi manapun. Walhasil pengusaha timah bertambah banyak dalam berbagai skala. Idealnya para penambang timah tradisional (artisanal miner) seharunya menjadi pihak yang diuntungkan dalam hal ini tetapi pada kenyataannya para penambang itu tetap menjadi rakyat miskin karena lumpur mengandung bijih timah yang mereka jual kepada pengepul atau kepada pabrik pengolah bijih timah memberikan harga yang sangat murah dengan berbagai alasan.

Ada beberapa alasan yang bisa jadi benar bisa jadi tidak diungkapkan kebenarannya alias direkayasa supaya pembeli lumpur itu bisa membelinya dengan harga murah.

1. Assay (persentase kandungan timah) rendah

2. Lumpur masih mengandung banyak air

3. Harga timah sedang turun di pasaran

4. Dll

Saya sangat bersyukur karena telah diberi kesempatan mengunjungi salah satu tin smelter (pabrik pengolah bijih timah atau timah mentah) terbesar di dunia.

DRC – Democratic Republic of Congo – (Republik Demokrasi Kongo, Bahasa Indonesia) adalah salah satu area tambang timah terkaya di dunia; kandungan timahnya besar dan harga timahnya miring. Saya sendiri nggak tahu berapa sekilonya, soalnya katanya sih… Cuma ya percaya aja soalnya infonya dari orang yang tepercaya.

Para penambang tradisi
onal seperti juga di Indonesia menjual lumpurnya kepada pengepul atau kepada pabrik yang terdekat dengan lokasi tambang mereka atau rumah mereka. Kasus di DRC adalah sebagian penambang tradisional menjual kepada sementara pihak dalam keadaan di bawah tekanan dalam hal ini tekanan kekuatan senjata. Rakyat kecil bisa apa? Digertak pakai bedil dan diancam keluarganya dihabisi pasti sudah menciut nyali dan udelnya….

Parahnya ada praktik kejam yang dilakukan oleh kekuatan bersenjata dengan cara mempekerjakan penambang secara paksa tanpa dibayar untuk menggali lumpur bertimah yang dijual kepada pembeli oleh kekuatan bersenjata tersebut. Uangnya? Ya buat membiayai gerakan mereka. Duh….!

Bisa kita bayangkan alangkah sengsaranya hidup teman-teman kita di tambang daerah konflik sana. Sudah capek, nggak dapat duit pula. Bayaran yang hanya berupa “dapat melanjutkan hidup susah bersama keluarga dalam kondisi minim” berubah menjadi semacam kemewahan dan membuat teman-teman kita ini “berlomba-lomba” menambang di bawah tekanan senjata.

Bergelimang dengan tanah dalam kondisi sangat teraniaya sungguh membuat manusia-manusia itu makin kuat emosinya. Tak terbayangkan jika kemarahan mereka ungkapkan dalam kekerasan. Jangan salahkan, jangan salahkan… Maklumi saja peerjalanan jiwa mereka.

Eh, eh apa dong yang bsia kita lakukan untuk membantu mereka? Jawabnya adalah” please jangan beli timah dari daerah konflik. Please jangan beli alat-alat elektronik murah yang bahan timah di dalamnya kemungkinan didapat dari daerah konflik dengan harga murah. Mengirimkan energy doa untuk mereka yang teraniaya supaya mereka segera terbebas dari tekanan apapun dalam hidup mereka.

Kesannya saya ngebelain merk-merk dagang gede? Iya juga sih soalnya mereka adalah pihak yang sadar akan hal-hal “kecil” dalam supply chain (rantai penyedia, Bahasa Inggris) walau kesannya reseh.

Ok, Sudara… Inilah sekelumit tentang kenyataan industri pertambangan. Eh, eh bicara tentang mineral dunia, apa kabar emas di Freeport dan tembaga di New Mont?

Cluster Asri – 7 April 2012 – 11:54 pagi

Gambar dipinjam dari http://money.cnn.com/2009/03/27/news/international/congo.fortune/

HORE… ASYIK…

HORE… ASYIK…

Kata hore dan asyik mungkin jadi favorit saya. Siapa sih yang asing dengan kata-kata tersebut? Dua kata yang sarat dengan kegembiraan. Saya memang lagi gembirasehingga apapun yang diberikan pada saya hanya akan menggali kegembiraan saya makin dalam dan ternyata pusat kegembiraan adalah penerimaan terhadap realitas hidup termasuk kemarahan.

Minggu lalu saya pulang kampung. Sekalipun hanya dua hari berjumpa ibu dan dua kakak perempuan saya, saya merasa sangat lega karena telah menunaikan kerinduan saya pada orang-orang yang hatinya tulus itu. Yang membuat saya benar-benar lega adalah bahwa kami berempat telah mampu berkomunikasi dengan baik tanpa salah paham atau menyimpan ketakutan.

Hati saya gembira karenanya. Kata hore dan asyik menjadi sangat berharga untuk mengungkapkan kesyukuran saya.

Itu tentunya berpengaruh pada kerjaan saya. Walau jadwal luar biasa mobilitasnya, saya tidak merasakan kegundahan yang membuat saya berkata “aduh”. Pendeknya sih ayo aja deh mau disuruh kemana juga oke…

Menerima kemarahan sebagai bagian dari hidup saya adalah salah satu kunci juga seperti saya sebutkan diatas. Ada suatu waktu dalam hidup saya ketika kemarahan hanya saya pendam atau redam dan akhirnya menjadi semacam borok dan kebencian dalam hati. Sekitar enam bulan terakhir ini saya jadikan kemarahan sebagai ungkapan baik di status Faceboook, Blackberry ataupun QN di Multiply. Rasanya lega deh… Tapi itu tak boleh lama-lama. Kemarahan harus saya lelehkan dan cetak menjadi sebuah karya seni yang indah.

Kemarahan adalah energei seperti juga kegembiraan adlah energi. Kalau dengan gembira saya bisa berkata hore atau asyik amka dengan rasa marah seharusnya bisa tercipta kata yang lebih membangun. Apa dong?

Belum ketemu kata yang tepat karena sementara ini saya hanya memakai asem, asyu dan bete sebagai ungkapan utama kemarahan saya.

Rasanya sih nggak ada kata yang tepat untuk mewakili kemarahan berenergi positif. Lebih baik saya ungkapkan dalam semangat hidup saja ah….

Ok, saya mau mandi dulu.

Ini tulisan ndhak penting jadi nggak usah diambil pusing…

Tulisan penting akan tiba setelah ini, setelah saya beli meja buat laptop saya…

Tangerang, 4 Maret 2012 – 10:35 pagi

Sindrom pagi menganggur

Gambar dipinjam dari http://greenenergyv.com/

KEMATIAN

KEMATIAN

(kewajaran yang perlu persiapan)

Anak teman kantor saya – berusia belum genap 2 bulan – meninggal karena sakit. Informasi akurat tentang sakit apa si kecil ini tidak kami ketahui; si ibu mengabarkan kepada saya awalnya dia sakit batuk pilek hingga dinebulasi lalu didiagnosis paru-paru tapi terakhir dia bilang kelainan jantung. Saya mendoakan si kecil melanjutkan perjalanan dalam cahaya dalam keadaan diikhlashkan.

Doa saya untuk yang meninggal tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang: semoga perjalanannya disertai kerlip cahaya. Indahnya… Silakan mengartikan sendiri. Toh saya juga hanya asal mengucap apa yang ingin terucap sebagai doa. Daripada kumengatakan “bersatu dengan Rabb-nya” padahal nggak mudeng apa artinya kata-kata itu. Menurut pemahaman saya kalau meninggal itu kan terbang bersama malaikat nah malaikat itu kan materinya cahaya. Udah titik.

Mati adalah kewajaran yang tak disukai. Siapapun akan menghindari mati kecuali orang-orang putus asa. Orang bunuh diri putus asaterhadap keadaan yang tidak kunjung membaik. Bahkan saya beranggapan para martyr (orang yang mati karena berkorban demi ideologi yang diyakini, Bahasa Inggris) adalah orang-orang yang telah tak punya harapan terhadap hidupnya di bumi ini.

Orang-orang yang mati karena usia uzur dianggap “ya, memang sudah sepantasnya yang tua meninggalkan kita”. Jadi orang tua yang emninggal – walau tetap diratapi – tidak terlalu menjadikan yang ditinggalkannya menjadi sangat berduka kecuali jika sepeninggal si mati masalah jadi bertambah banyak. Masalah warisan baik berupa harta yang banyak dijadikan rebutan atau tidak adanya harta yang bikin keluarganya sengsara sepeninggalnya.

Lain lagi kalau Anda mati muda. Kematian Anda akan dianggap sesuatu yang mengagetkan dan memilukan. Jika Anda mati dalam keadaan meninggalkan nama baik maka Anda akan disubyo-subyo (diangkat-angkat namanya, Bahasa Jawa) oleh sebagian orang yang menganggap amalan Anda adalah kebaikan dan bermanfaat. Kalau si mati meninggalkan anak istri yang masih butuh nafkahnya maka akan masih ada tangan-tangan beruluran membantu. Namun jangan tanya kalau Anda hanya sekedar pecundang dalam hidup Anda maka tak banyak yang mengenang Anda kecuali keluarga dan sebagian kecil teman yang pernah Anda bikin tertawa. Dan kalau si buruk mati meninggalkan seonggok tanggungan maka hanya orang-orang yang luar biasa saja yang punya kekuatan untuk sudi menolongnya.

Bagaimana kalau yang meninggal adalah seorang anak kecil atau katakanlah bayi seperti anak teman saya? Maka tak bisa dipungkiri duka-cita itu akan semakin dalam. Si bayi yang digadhang-gadhang (diharapkan, Bahasa Jawa) menjadi seorang mulia yang berguna bagi nusa dan bangsa dan membanggakan orang tua dan keluarga ternyata tak berusia panjang. Akan lebih banyak yang menyayangkan kematian itu; menyesali pendeknya umur dan mengasihani yang ditinggalkannya. Si anak itu seharunya punya kesempatan untuk dididik menjadi orang yang lebih baik daripada orang tuanya atau saudara-saudara atau teman-temannya. Andaikan hidup maka anak itu bisa saja menjadi anak yang mencerahkan dunia dengan kesegaran dan keceriaannya. Seandainya dia tak mati maka hati orangtuanya tak hancur karena waktu tunggu kehadiran anak itu juga telah cukup lama. Alangkah sedihnya…

Tapi kematian tak memilih selalu berdasarkan usia kita. Kematian bagai arisan yang kalau dikocok bisa saja mengalahkan kekuatan ilmu tak kasat mata sekalipun. Kematian adalah seperti ruangan gelap ditutup oleh berlapis tingkap (jendela) yang jika dibuka masih harus dibuka lagi pintu misteri. Kematian adalah ketidakpastian yang pasti datang yang oleh karenanya saya tak berani menyebutnya kepastian atau ketidakpastian. Kematian adalah enigma. Kematian adalah yang datang dan tak pernah pergi hingga membawaku bersamanya nanti.

Semoga kematian itu datang ketika aku telah jatuh cinta padanya walau aku tak mengenalnya…

Penang – 16 Maret 2012 – 7:08 waktu Malaysia

Gambar dipinjam dari http://serenadevi.wordpress.com/2012/01/21/dance-of-cherry-blossoms/

Dan http://www.eso.org/public/news/eso1049/

BERMALASAN DI RUMAH

BERMALASAN DI RUMAH

Sejak tinggal di rumah sendiri bersama kucingku tersayang aku merasakan kenapa banyak orang selalu ingin nginep di rumah saja daripada nginep di tempat orang atau di hotel walau kondisi rumahnya jauh kurang lengkap fasilitas kenyamanannya. Ada sentuhan hawa yang membuat orang merasa betah dan merasa terangkum jika pulang.

Hari ini saya belum keluar rumah sama sekali walaupun kulkas saya kosong hanya berisi bahan masakan plus sebungkus pasta. Tigak mangkuk kecil yoghurt sudah habis untuk sarapan. Rasa lapar menjadi rasa perih di lambung dan aku masih saja malas karena rasa kerasan di rumah ini memelukku. Kucingku pun akhirnya hanya bisa menikmati kepala lele goring sisa sarapannya. Tapi dia juga sekarang nggloso (telungkup antara duduk dan berbaring, Bahasa Jawa) di depan kulkas. Berarti dia kerasan di rumh.

“Bob, nanti malam makan lele lagi ya, ntar agak sorean Mbak Rike keluar beli makan ya…”

Meong….

Akhir pekan menjadi hari “stay home’ lantaran hari lain kaki ini tak pernah berhenti. Rasa nikmat tinggal di rumah mengalahkan rasa lapar sekalipun. Sesungguhnya nggak baik sih tapi mau gimana lagi kan aku mau menuruti kata hati.

Kalau dulu saya suka sekali memasak kok sekarang jadi berkurang kerajinan memasak itu ya? Sekarang sih enaknya jajan aja. Dan jajannya lagi dan lagi ya yang dekat-dekat aja. Lele goreng buat Bob dan buat saya apa aja yang penting enak di lidah dan di kantorng.

Eh, nanti malam makan apa ya enaknya? Masak nasi bebek lagi sih? Ntar kalau kolesterol gimana dong?

Ok deh, malam ini mau makan seafood aja… Aduh tapi tempatnya jauh, males jalannya… Ah, sudahlah yang penting belikan makanan dulu buat si Bob, aku urusan belakangan.

Tangerang – 10 Maret 2012 – 3:29 sore

Lagi mumet sirahe ning pengen nulis ya kaya ngene iki dadine…

Gambar dipinjam dari: http://coconutbou.deviantart.com/art/cat-and-dog-on-a-chair-105487540