
SUN
The giant star of my soul
Is calling me to travel in
Not out anymore
Since
The realm
Is
Not
The
One
I have been reaching out…
Barito, 19 November 2010 – 2:48 pm
graphs of my Universe

SUN
The giant star of my soul
Is calling me to travel in
Not out anymore
Since
The realm
Is
Not
The
One
I have been reaching out…
Barito, 19 November 2010 – 2:48 pm

UNDER COVER
Getting tortured
Because of being under cover
From everything true but denied
Hurts more than
Being under pressure
Because of telling the truth
Coming from a standardized source?
Shrugging are they.
It hurts when you can’t even answer your very simple question,
While time is about to chime warning you a fleet of planes are heading to you,
Needing confirmation with which one you will go.
Help!
Barito, 19 November 2010 – 2:31pm

PAHLAWAN KESIANGAN
(pahlawan yang kurang suka bangun siang tapi tetap semangat)
Kenalan saya yang ini sangat unik. Dia sangat suka bangun siang atau tepatnya tidak bisa bangun pagi dengan banyak sekali alasan: tidur telat lah, kecapekan lah, nggak dengar suara weker lah, udah bangun tidur lagi lah, hari libur lah, dll. Yang pasti satu: tidak pernah dalam seminggu dia bangun pagi lebih dari dua kali dan paling pagi dia bangun jam 7. Tapi kalau dalam hal menolong teman, jangan diragukan. Biarpun bangun siang tetap saja dia bersedia membantu dengan syarat temannya sanggup menunggu paling cepat jam 11 baru bisa terbantu. Pahlawan kesiangan? J
Saya sendiri nggak begitu mengerti kenapa ada sebutan pahlawan kesiangan karena biarpun kesiangan tetep saja jika seseorang berjasa maka ada nilai lebih yang patut disematkan bintang jasa.
Saya tak hendak bicara tentang asal mula pahlawan kesiangan karena belum pernah ada cerita tentang pahlawan kemerdekaan/nasional/revolusi/dll yang bangun siang. Yang saya tahu ada yang bergelar pahlawan tapi alasannya tidak masuk akal. Contohnya: seseorang diberikan tanda jasa (hanya) karena dia pernah mengantarkan surat perintah; selain itu ya nggak pernah muncul di medan perang atau medan negosiasi dengan pihak musuh. Ada juga pahlawan yang nggak jelas perannya padahal (mungkin) sangat berjasa dan tanda di kuburannya hanya sepotong bambu runcing dan bendera merah-putih dari seng.
Tidak ada maksud buruk me-ngenyek (menganggap rendah, Bahasa Jawa) pahlawan tak dikenal atau melecehkan pahlawan yang teregistrasi di dokumen negara. Saya cuma ingin menekankan pada diri saya sendiri bahwa jasa yang disematkan kepada seseorang ternyata tidak berbanding lurus dengan apa yang telah dilakukannya selama hidup. Bisa saja seseorang bermanfaat justru setelah matinya.
Bermanfaat setelah matinya itu bisa saja berarti dua hal:
Mana yang Anda pilih bagi hidup Anda? Dikenang setelah mati karena ketika hidup Anda terlupakan? Atau disubya-subya (dipuji-puja, Bahasa Jawa) orang sejak hidup hingga mati?
Anda yang menentukan. Jangan biarkan orang lain menyetir hidup Anda.
SELAMAT HARI PAHLAWAN!!!
Salam,
Rike
Semarang, Jl. Majapahit di masa rehat – 10 November 2010, 3:36 sore

KOSONG TAK BISA DIMENGERTI
(untukku yang tak juga bersiap menuju Bahtera Nuh)
Tak ingin bicara
Kecuali tentang hari-hari yang sibuk
Dengan peluh dan kesigapan
Untuk bertahan hidup.
Bercakap dengan diri sudah cukup;
Memadukan penasaran dengan jawaban.
Usah ragu memilih yang tepat,
Berat tak dirasa berat karena semua ringan
Karena jika berbicara tak bisa dimengerti,
Jika menulis tak cukup mewakili isi,
Hanya dapat dibaca lewat mata batin,
Hanya cocok diramaikan dalam perenungan.
Lumbung telah dipenuhi
Labu-labu air telah terisi
Pundi telah diikat tali
Hanya satu: kurungan tak dipunyai guna membawa makhluk di pangkuan.
Segeralah!
Perahu Nuh mengarungi samudera untuk yang mau berpasangan.
Berpasanganlah, maka bahtera itu menampungmu.
Jika tidak, kau mesti berlayar sendiri…
Satu, dua, …
Hitungan makin naik
Rapatkan keberanian
Lalu bergegas menjemput kemenangan;
Atau tidak sama sekali memiliki nyali
Lalu tenggelam atas nama kelalaian.
Keramat – 7 November 2010, 10:06 pagi
PERSIAPAN BENCANA
(sekedar persiapan sebagai langkah bijak)
Semoga berguna untuk siapa saja yang membaca dan tolong sebarluaskan, terutama yang (masih) tinggal (di dekat) daerah bencana dan belum mengungsi.
Persiapan dan Sikap Mental
Barang-barang yang harus dibawa/ disiapkan
Sebaiknya semua itu dikemas dengan ringkas, yang berat di bawah, yang ringan di atas…
Memang benar, di pengungsian nantinya mendapat bantuan makanan minuman, obat, tempat berlindung tapi ada baiknya berjaga-jaga dan tidak terlalu bergantung/merepotkan orang lain
**repost dari seorang teman Multiplier yang tinggal di Jogja (Mas Tampah)
Keramat, 6 November 2010 – 9:53 malam
MENDENGAR YANG TAK TERDENGAR TELINGA
Kalau kudengar lagi
Maka yang kudengar adalah yang tak terdengar.
Telingaku bukan telinga yang dulu lagi:
Yang kudengar adalah yang dulu tak dapat kudengar
Yang hanya bias ditangkap oleh makhluk berbulu yang tidur di pangkuanku…
Apakah yang kudengar sungguh ada?
Atau hanya ilusi yang menampar lamunan?
Juga mungkin angin yang terkesiap ranting pepohonan?
Haruskah kujalin cerita untuk menghibur diri?
Supaya hatiku tenang tanpa perubahan?
Rentang waktu seperti rentangan tali
Yang makin kentang terpancang,
Makin kempling suaranya…
Jadi waktuku sedang riuh…
Kubungkam waktu yang bergerak memutar ini.
Hmm…
Diam –
Bisu sesaat
Namun sesaat rasanya sejuta tahun… cahaya…
Terlalu cepat
Menembus realitas,
Mengakhiri keresahanku;
Terpaksa atau tidak
Kuterima suara-suara itu
Sebagai anugerah rumah laba-laba semesta raya.
Taruna, 6 November 2010 – 5:42 sore

SEMOGA TAK TERTUNDA YANG HARUS TERJADI
(tidak bermaksud menyinggung siapapun)
Kalau dihitung-hitung banyak kejadian atau fase dalam hidup saya yang datangnya terlambat atau katakanlah terntunda dalam rangka pendewsaan atau penyiapan yang dikaruniakan Tuhan bagi saya. Setahun, dua tahun atau satuan waktu lain menjadi sebuah waktu tenggang yang biasa bagi saya. Misalnya saya lulus uMPTN setelah 2 kali mencobanya. Saya mendapat kesempatan kerja “enak” setelah bekerja di dua tempat. Tujuan saya mendapatkan kerjaan yang sekarang juga mesti menuggu 3 tahun setelah sebelumnya digembleng untuk bersiap.
Saya terbiasa dengan sesuatu yang tidak tepat waktu.
Namun, kali ini saya benar-benar berharap bahwa keinginan saya untuk melihat Indonesia yang lebih baik tidak tertunda lagi. Telah berkali rakyat dibohongi. Para pejabat yang awalnya bermulut manis hanya menjadi semacam garda depan tapi tanpa fungsi maksimal karena hanya semacam bumper mobil berbahan plastic.
Lihatlah keadaan para korban bencana alam. Pada kemana itu orang-orang yang kala kampanye senyumnya selebar daun pintu? Ngomongnya aja manis kayak gula tapi hanya pada saat mereka sedang menjaring massa demi kepentingan politik (baca: kepentingan perut) saja!!!
Nggak nyadar bahwa perut kenyang dan kemewahan (yang masih belum juga cukup buat hidup tenang) adalah hasil dari kebohongan yang memurukkan rakyat yang pernah nyontreng atau nyoblos muka mereka.
Ternyata kesadaran tempatnya tidak pada orang yang sudah pernah melanglang-buana ke negeri orang atau berprestasi dengan setumpuk penghargaan. Kesadaran adalah milik manusia-manusia biasa yang berani menjelajahi kekerdilan dirinya seperti Werkudara yang mampu menyelam dalam samudera dan masuk ke dalam kuping Dewa Ruci. Kesadaran tidak pilih kasih tapi dia tidak sudi memalsukan diri menjadi kedermawanan sekejap yang lagi-lagi tujuannya untuk mencetak pahala berupa kesuksesan besar di kemudian hari.
Mari kita bina kesadaran dalam diri tanpa memikirkan bingkisan dan bungkusan apa yang akan kita dapatkan setelahnya.
Wahai para pejabat, orang kaya dan orang yang masih selamat dari bencana,
Mari kita mengasah diri kita dengan senantiasa berbuat baik pada manusia dan alam sekitar kita. Tinggalkan alas kaki, berjalanlah tanpanya, merasakan panas dan dingin mereka lalu membaur untuk kedamaian bumi.
Duh, Mbok Dewi Sri… Kala mana yang telah menusuk tubuh sucimu?
Keramat, 27 Oktober 2010 – 2:25 siang

SEKELUMIT PELAJARAN TENTANG KTP
Angin Minggu berhembus, kayuhan pedal memberat.
Martha menawarkan bergantian mbonceng tapi gadis itu selalu bilang,”Nanti saja pulangnya Mbak Tata mboncengin aku.”
Di sebuah gedung mereka berhenti. Martha melompat dari sepeda, berpamitan ke dalam. Sepupunya menjagang jengki biru di luar pagar karena parkiran penuh. Tak disadarinya seorang satpam menghampiri.
“Dik, ngapain disini?”
“Menunggu saudara.”
“Saudaranya dimana?”
“Di dalam situ.”
“KTP?”
“Belum punya, Pak.”
“Menunggu di seberang saja, Dik.”
Dia kebingungan. Bagaimana kalau sepupunya mencari? Tapi Pak Satpam mengingatkan lagi; dia menuntun sepeda, susah payah menyeberang.
Satu setengah jam dia berjaga, takut sepupunya luput dari pandangan. Dia lambaikan tangan demi melihat Martha tengak-tengok. Martha menghampiri tanpa tolah-toleh – tak kenal jalan yang biasa dilewati manusia pembalap.
BRAK!
Jilbab coklat Pramuka teriak, menangis sejadi-jadinya. Lirih ia menyesal menunggu di seberang. Dengan pilu ditatapnya satpam yang tadi menanyakan KTP.
Martha, yang sedang menikmati libur pasca-skripsi di rumah paklik, ditabrak motor.
Di bayangan si gadis Martha mati, dia dipersalahkan. Dunia runtuh!
20 tahun.
Martha masih hidup. Jemaat gereja yang menolongnya menjadi sahabat keluarga sepupunya. Dan, Pak Satpam tak lagi bertanya konyol.
Gadis itu? Dia setia berkeyakinan bahwa manusia tak dinilai dari fisik dan KTP-nya.
Kediri – 14 Oktober 2010 – 8:36 malam
http://lombaffblogfammpid.multiply.com/
Gambar diunduh dari: http://fentyasdramaqueen.blogspot.com

PUISI BINGUNG WAKTUKU
Jam di tangan berdetak-detik
Mengancam kelambananku
Jika tak juga pergi maka dia kan mati
Jadi?
Jam di dinding berdentang-denting
Bertanya kapan ku berangkat
Jika berlambat-lambat, dia mau minggat
Jadi?
Jam di awang-awang terbang santai
Melirikku dengan mesra
Tak apa, luangkan saja, tak akan lari gunung dikejar
Jadi?
Gunung merapi terbotak-batuk
Mengintaiku dari balik gantungan mendung
Berdehem, sekelebat kurasa dia bergeser beberapa senti entah ke kiri atau kanan
Jadi?
Waktu berlalu
Agak cepat
Kadang sangat lambat atau terlalu cepat
Jadi?
Jadi apa?
Mau tak beringsut?
Gunung tak berlari tapi dia ngesot pelan
Pertanda ada pergerakan
Entah kemana dia mau bergerak
Yang pasti
Alam ini tak boleh berhenti
Begitu juga aku
Jadi?
Ayo lariiiiii!
Jam-jam terakhir di GQH Jogja – 2:55 siang – selesai packing sebelum berangkat

ada
ada
diurug
dibawah bebatu
membisu
sesekali
turut pada akar
menyela tanah
lalu tidur lagi
hatiku
GQH – 13 oktober 2010 – 6:46 pagi

NOTHING TO WRITE ANYMORE
This is
That is
These are
Those are
It is
That’s it
This’s it
Nothing more
…
Just like that
Can’t describe it
Anymore
‘Coz
All is revealed.
nowhere
Description:
– Pedas adalah sensasi yang tercipta dari kombinasi jahe, lengkuas dan cabe yang dihaluskan.
– Buah apel bisa digantikan dengan buah dan sayur yang lainnya.
– Cumi bisa diganti dengan produk seafood lain juga.
Ingredients:
Bahan:
• 2 cumi-cumi dibersihkan kulit dan tintanya lalu potong-potong cincin selebar 2 cm
• ½ buah apel Sunmoon kupas dan potong-potong lebar 2 cm
• 2 daun bawang diiris 2 cm
Bumbu yang dihaluskan:
• 2 cm jahe
• 1 lembar daun salam (boleh tidak dihaluskan)
• 1 cm lengkuas muda
• 2 cabe merah keriting
• 2 siung bawang putih
• 2 sdt gula jawa
• Penyedap rasa jika suka
Minyak atau margarine untuk menumis
Air secukupnya
Directions:
Cara memasak:
– Tumis bumbu yang dihaluskan sampai harum
– Masukan cumi lalu aduk hingga rata
– Masukkan apel, aduk hingga rata
– Tambahkan air sesuai selera
– Masak hingga matang benar
– Masukkan daun bawang iris
– Hidangkan
AKU ANAK PANAH TAJAM
Lepas dari busur, aku terbang melesat menuju sebuah titik. Aku meluncur ke tujuan yang menyatu denganku dan sang pemanah. Perjalanan tanpa jeda, menyimpangi burung-burung yang terbang entah kemana, hanya tahu bersuka-ria; lalu aku merasa malang dan sial tak bebas seperti mereka.
Apa daya, aku tak bisa berhenti hingga benar-benar tertanam di tempat yang dituju pemanahku. Kusibak dinding angin yang berjuang keras melawan daya dorongku. Angin, kau tak mungkin bisa menghentikanku dengan kekuatan yang disalurkan padaku oleh pelontar dibelakang sana. Jika kau amuk maka aku kan hancur dan itu tak meninggalkan kepedihan apapun buatnya karena dia akan tetap memanah seumur hidupnya. Kau tahu dia tak bisa mati bukan?
Tak hanya burung dan angin kulalui. Awan dan matahari. Bulan, bintang dan malaikat bersimpangan dengan tubuhku. Awan lembut membelai dan membuatku tergoda untuk berhenti, menyandarkan kelelahanku padanya. Tapi matahari membuatku bergegas melupakan saat ini karena yang di depan sana lebih sejuk dan menenangkan. Bulan dan bintang merayuku sejenak menikmati malam. Tapi malaikat kemudian menggendongku melewati gangguan demi gangguan. Perjalanan…
Tubuh, jiwa dan semangatku diringkas oleh sang pemanah dalam satu pandangan matanya yang tak lelah meyakini satu titik di akhir pengembaraan.
Makin jauh aku meluncur, makin dekat aku pada titik yang diingini sang pemanah. Sebuah lingkaran berlapis-lapis ada didepan menghadangk. Entah dimana dia berencana menancapkanku. Entah di titik terluar atau terpusat. Yang kutahu mataku sangat tajam. Jika mengenai yang terluka tak bisa sembuh dalam sesaat. Tak ada harap aku terpusat atau dimana. Yang kuinginkan adalah sampai pada tujuanku: menancap dengan segenap ketajaman.
Sang pemanah, busur, aku dan sasaran adalah tubuh-tubuh dalam satu jiwa yang jika satunya tiada, kematianlah perdana menterinya.
Grand Quality Hotel, DIY – 25 September 2010 – 10:23 pagi
BERKISAH TENTANG YANG TAK BERSUARA
Kemarin saya ketemu petani yang sedang panen di area Kalasan, Sleman. Diantara sekian banyak petani ada seorang petani muda yang menurut saya menyebalkan karena begitu melihat aku datang dia langsung dengan sangat menantang sesumbar tentang segala hal yang nantinya akan kami tanyakan. Rupanya dia sudah dapat bocoran bahwa kami datang untuk memeriksa apakah beberapa praktik lapangan sesuai dengan juklak yang berlaku.
Petani yang lain cenderung diam, beberapa takut-takut menyingkir mungkin terprovokasi oleh si muda bermulut lantang tadi.
Si mulut lantang terus-terusan “merangsek” seakan menarik perhatianku supaya dia kami pilih menjadi yang diwawancara hari ini supaya nanti bisa memberikan masukan (yang saya curigai) tidak valid dan tidak jujur. Maka dengan berani pula saya tidak melirik dia sama sekali dan mengabaikan dia sampai akhirnya dia diam. Sampai akhirnya partner kerja saya bergabung saya tak sudi mengangkat si mulut lantang sebagai topic diskusi kami. Si mulut lantang terlalu murah buat kujadikan bahan laporan.
Para petani lain masih diam dan menatap penuh kepolosan. Merekalah para petani yang ingin kuajak cerita. Cerita tentang mengapa kami datang. Mereka juga yang ingin kami dengarkan yaitu orang-orang yang hatinya bicara dengan lembut, yang jiwanya tidak kasar, yang tujuan hidupnya bukan untuk memperkosa tujuan hidup orang lain.
Kusapa mereka dengan ramah, sehangat yang saya ikhlaskan. Dan, mereka pun dengan sangat terbuka menghampiri kami, menghapus takut dan curiga yang tadinya menggantung di bawah mendung yang memuntahkan air hujan.
Dan, benar saja: informasi yang mereka berikan sangat lugu, sedikit distorsinya, tidak seperti yang sudah diisyaratkan oleh si mulut lantang yang masih juga menarik perhatian dengan mengendarai motornya sambil menarik gas keras-keras. Go to hell you f**king young man!
Ah, hidup membuatku makin bersyukur ketika bisa berkisah tentang yang tak bersuara, orang-orang polos yang tak bertendensi atau berpretensi. Maafkan aku wahai Tuhan karena kejahatan ini tapi kadang hidup jadi tenang jika berhasil menguak kebusukan manipulator!
Tanda terima kasih kepada para petani di daerah Kalasan. Semoga tahun depan panennya bagus, Pak, Bu…
Jl. Adisucipto DIY – 23 September 2010 – 7:25 malam

UNTUK SIAPA MENULIS
Dulu sekali saya pernah ngobrol dengan seorang teman tentang tulisan dan pembaca. Temanku ini gemar facebooking; dia juga punya Multiply account. Kuperhatikan dia suka menulis tapi tak banyak tulisan yang dipublikasikannya. Mungkin beliau terlalu sibuk bekerja.
Sekarang saya tahu buatnya menulis adalah salah satu kepuasan jika tulisannya telah memberikan manfaat bagi orang lain dengan kata lain jika tulisannya dibaca orang dan makin banyak yang membaca makin bermanfaatlah dia dan tulisannya. Jadi, dia akan menimbang-nimbang dulu apakah tulisannya akan dibaca orang atau tidak. jika ya, di-share. Jika tidak, simpan. Awalnya saya terdiam dan terpaku setelah beliau dengan wajar bertanya bagaimana jika tulisanku di facebook note dan di Multiply atau di tempat-tempat lain ternyata tak banyak pembaca atau bahkan tak ditengok sama sekali.
Saya terpaku bukan karena disadarkan akan begitu percaya dirinya saya dengan tulisan dan kegiatan menulis padahal tidak ada yang sudi membaca. Saya justru keheranan karena tak sedikitpun terbersit sebelumnya bahwa beliau akan menanyakan hal itu. Buat saya menulis adalah sebuah kegiatan yang personal mungkin hampir sepadan dengan kegiatan saya beragama. Tak ada yang bisa menyuruh dan/atau meminta saya untuk memulai dan/atau berhenti menulis. Tidak juga jika tak ada yang menggemari tulisan saya.
Tak sedikit celaan dan kritikan saya tuai karena menulis. Dan itu tak pernah membuat saya surut belajar menulis. Hanya diri saya sendiri yang bisa memutuskan kapan melalukannya atau tidak. Tuhan telah memberikan privilege pada saya untuk itu.
Maka saya jawab dengan percaya diri juga,”Nggak papa, Mbak… Nggak ada yang baca bukan masalah. Karena toh itu untuk bahan perenunganku. Atau kalau boleh agak kerennya porto folio yang tidak laku ha ha ha…”
Beliau hanya ber-hmmmmm panjang entah apa artinya.
Itu tak berpengaruh karena sampai saat ini saya masih menulis baik ada atau tidak yang mengomentarinya.
Salam batin untuk saudariku yang telah menyadarkanku bahwa ternyata niat benar-benar membuat suatu kegiatan yang sama menjadi sangat berbeda.
Jogja – September 18, 2010 – 5:48 sore
MENELPON MACAN
Saya dan ibu bukan ibu-anak yang sangat dekat. Saya lebih dekat dengan almarhum bapak; ibu lebih dekat dengan kakak lelaki saya. Sering juga kami cek-cok gara-gara hal yang menurut saya bisa diomongin kalau dengan orang lain. Dengan ibu lebih banyak yang enak diperdebatkan daripada dikompromikan J
Dulu pernah saya dan beliau berantem dan akhirnya saling menahan diri untuk tidak bicara satu sama lain. Bahasa Jawanya satru… anak durhaka? Ya, mungkin tapi saya dan beliau mengenangnya dengan tawa dan canda. Kadang saya meledek beliau dengan “aaah… kalau ada ibu durhaka mungkin banyak juga yang masuk, Bu… banyak ibu yang memaksakan kehendak pada putranya dan akhirnya sang anak merasa salah jalan dan menyesali langkah hidupnya he he he” dan beliau pun mengatakan “bisa jadi… orang tua kan manusia, bisa juga salah langkah”.
Ibu saya galak? Tidak. Beliau hanya over-protective pada putra-putranya. Ibarat macan dia sangat marah jika ada pihak yang mengganggu gogor-nya (gogor: anak macan, Bahasa Jawa). Macan makan daging, memang itu sudah dari sononya. Macan bertaring, itu memang sudah takdirnya. Tapi siapa yang mau memperhatikan bahwa macan sangat bersih, seperti kucing. Macan juga pemberani, ingin tahu, cepat beradaptasi dengan lingkungan, menghormati teritori sesama dan yang paling membuatku terkesan adalah rasa sayang yang luar biasa pada gogor-gogornya.
Dan, secara fisik mereka juga kuat, seimbang dan cantik… Kuat? Tentu saja, harimau adalah yang terkuat diantara jenis kucing yang ada. Seimbang? Menurut literature yang kubaca macan memakai ekor sebagai penyeimbang tubuh terutama ketika melompat. Cantik? Ya iya laaah… Lihatlah warna lorengnya. Perfecto!
Itulah ibuku. Membandngkannya dengan macan tidak sama halnya menganggapnya garang. Ibuku adalah macan dengan segala kelebihan dan kelemahanannya. Rasa sayangnya tetap memancar dalam keadaan marah sekalipun. Dan, itu akan kuhargai selalu. Biarpun kadang aku melarikan diri darinya, itu hanya untuk sementara karena aku juga perlu mandiri sebagai gogor yang nantinya jadi macan juga… J
Ibuku, tak bosan rasanya menelponmu tiap hari. Love, love…
Jogja – September 19, 2010 – 4:57 sore
SEDANG TIDAK PUNYA IDE JITU UNTUK BERBAGI
Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menulis ide yang brilian dengan lancar buat seseorang yang suka menulis. Mampetnya saluran ide membuat orang tersebut tersiksa seakan merasakan nyerinya bisul yang tak kunjung meletus.
Sudah dipaksa ditulis tetap saja tak tertuliskan dengan manis. Alih-alih yang dating hanya rasa bete dan kemudian mengkambinghitamkan kesibukan yang menumpuk sebagai penyebab ketidakproduktifannya. Kasihan.
Saya juga begitu. Yang diatas itu memang tentang saya.
Bagaimana kalau menulis sesuatu yang enteng dan bikin orang terinspirasi? Ya memang itu yang kumau. Ok, mari kita coba!
Puisiku ini tentang tersumbatnya idea-pipeline di sistem mentalku.
KOSONG
Kucoret
Kuhapus
Kucoret lagi
Kuhapus lagi
Lagi-lagi nulis
Lagi-lagi kuhapus
Mau apa otakku
Ada ide tak bisa mengungkapkan
Mau apa tanganku
Mau bersaksi
Tapi tak juga menuliskan yang disaksikan
Jika waktu tetap berputar
Tanganku tetap menuliskan kejujuran
Bahkan ketika tak ada apapun yang bisa diungkapkan.
Keramat
8 Agustus 2010 – 9:27 malam
You must be logged in to post a comment.