TUA TANPA BERBANGGA

TUA TANPA BERBANGGA

Ada beberapa hal yang dulu pernah saya suka akan diri sendiri; salah satunya adalah kepekaan pada penderitaan orang lain. Kalau sudah berhubungan dengan kesusahan orang, saya akan menyingsingkan lengan baju. Apa yang bisa dilakukan akan saya lakukan karena secara financial tidak mampu.

Ternyata akhir-akhir ini saya merasa makin tua malahan diri tidak punya apapun yang bisa dibanggakan. Secara fisik semakin tidak mampu membantu orang lain sedangkan secara materi masih orang yang miskin.

Hari ini ada tetangga yang meninggal dunia. Rumahnya tepat di depan mushola yang ada tepat di sebelah kanan rumah. Karena dalam budaya lokal yang membantu di dapur adalah ibu-ibu, maka saya tidak terpakai disana. Karena yang meninggal lelaki maka yang menyelenggarakan jenazah harus lelaki, saya pun tak bisa berbuat apa-apa. Karena uang tak punya maka saya tak bisa menyumbang yang sedang kesripahan (mendapat musibah, Bahasa Jawa).

Dan, saya pun diam di rumah menikmati akhir pekan bersama Bob, kucing yang menjadi sahabat selain Bob yang satu lagi yang durasi dan frekuensi pertemuannya sangat terbatas.

Saya mulai berpikir bahwa bertambahnya usia tidak otomatis membuat seseorang makin berisi seperti biji padi yang siap dipanen walaupun gerakan merunduk bisa saja menyamai pohon padi. Kalau pohon padi merunduknya karena berisi, kalau badan renta merunduk karena lemah ditarik gravitasi.

Apakah mesti disesali proses yang tak terhindarkan ini? Rasanya justru akan tidak menyenangkan jika tidak bersikap bijak menghadapi pelemahan dan pengurangan dalam fase tenggelamnya masa kegemilangan ini.

Ya sudahlah. Tua dan tak berbangga mungkin telah menjadi jatah saya.

Tapi ada satu hal yang masih membuat harapan tak pernah redup dalam menerangi perjalanan ini: bahwa aku masih bisa membedakan yang tulus dan yang hanya di pelupuk mata.

Keramat – 28 November 2010 – 4:04 sore

BERGERAK MENYUDUT

BERGERAK MENYUDUT

Ke sudut aku berlari

Menanti datangnya matahari

Yang bergelung lama di kehangatan

Dan keegoisan para penguasa dunia.

Lemah rasanya.

Bersandar kini ku pada sudut

Yang entah melindungi ataukah

Membuatku makin ringkas.

Remah-remah perjalanan

Berkedut mencari satu sama lain

Lalu

Menyambungkan diri.

Tersasarkah aku? Atau—

Hanya beristirahat sementara

Di sebuah sudut

Yang tanpa rasa…

Kelima indera

Mengembara,

Belum kembali

Kesini:

Tempat berkemas;

Walau kehabisan ruang.

Masihkah yang keenam? Atau—

Tak disisakan apa-apa?

Sudut ini:

Pilihan hamba

Karena dialah yang belum pernah kupilih,

Pasti akan membuatku berbeda.

November 26, 2010 – Indra Puri Lampung – 10:33 malam

BERAPA

BERAPA?

(hitungan mundur)

Menghitung itu seperti menghimpun pasukan, sekelompok prajurit yang dibariskan menunggu teriakan komandan. Tanpa tawaran mereka bergerak, maju ke medan perang. Jika mati, hitungan dimulai lagi dan sekelompok besar atau lebih besar lagi tiba: datang menumpas musuh yang bisa menang bisa juga kalah jika sandi komandan tak tepat.

Dan,

Sempalnya satu angka pasti akan mengakhiri hitungan. Prajurit kelak berhenti menyerbu, tak ada lagi yang datang oleh panggilan komandan. Niscaya dunia terasa damai…

Sebentar lagi

Hitungan itu berakhir

Menyudahi kelengangan ruang aula raksasa.

Apa yang bakal terjadi?

Berapapun harganya komandan akan menutup mulutnya, membuang peluit dan tongkat komandonya lalu menanggalkan lencana. Duduk di kursi goyang, menikmati godaan kopi pahit dan sepiring pisang rebus…

Hitunglah

Mundur.

Indra Puri Lampung – 26 November 2010 – 10:56 malam

UNDER COVER

UNDER COVER

Getting tortured

Because of being under cover

From everything true but denied

Hurts more than

Being under pressure

Because of telling the truth

Coming from a standardized source?

Shrugging are they.

It hurts when you can’t even answer your very simple question,

While time is about to chime warning you a fleet of planes are heading to you,

Needing confirmation with which one you will go.

Help!

Barito, 19 November 2010 – 2:31pm

PAHLAWAN KESIANGAN

PAHLAWAN KESIANGAN

(pahlawan yang kurang suka bangun siang tapi tetap semangat)

Kenalan saya yang ini sangat unik. Dia sangat suka bangun siang atau tepatnya tidak bisa bangun pagi dengan banyak sekali alasan: tidur telat lah, kecapekan lah, nggak dengar suara weker lah, udah bangun tidur lagi lah, hari libur lah, dll. Yang pasti satu: tidak pernah dalam seminggu dia bangun pagi lebih dari dua kali dan paling pagi dia bangun jam 7. Tapi kalau dalam hal menolong teman, jangan diragukan. Biarpun bangun siang tetap saja dia bersedia membantu dengan syarat temannya sanggup menunggu paling cepat jam 11 baru bisa terbantu. Pahlawan kesiangan? J

Saya sendiri nggak begitu mengerti kenapa ada sebutan pahlawan kesiangan karena biarpun kesiangan tetep saja jika seseorang berjasa maka ada nilai lebih yang patut disematkan bintang jasa.

Saya tak hendak bicara tentang asal mula pahlawan kesiangan karena belum pernah ada cerita tentang pahlawan kemerdekaan/nasional/revolusi/dll yang bangun siang. Yang saya tahu ada yang bergelar pahlawan tapi alasannya tidak masuk akal. Contohnya: seseorang diberikan tanda jasa (hanya) karena dia pernah mengantarkan surat perintah; selain itu ya nggak pernah muncul di medan perang atau medan negosiasi dengan pihak musuh. Ada juga pahlawan yang nggak jelas perannya padahal (mungkin) sangat berjasa dan tanda di kuburannya hanya sepotong bambu runcing dan bendera merah-putih dari seng.

Tidak ada maksud buruk me-ngenyek (menganggap rendah, Bahasa Jawa) pahlawan tak dikenal atau melecehkan pahlawan yang teregistrasi di dokumen negara. Saya cuma ingin menekankan pada diri saya sendiri bahwa jasa yang disematkan kepada seseorang ternyata tidak berbanding lurus dengan apa yang telah dilakukannya selama hidup. Bisa saja seseorang bermanfaat justru setelah matinya.

Bermanfaat setelah matinya itu bisa saja berarti dua hal:

  1. lebih baik dia mati daripada hidup nyusahin orang; bisa secara mental, spiritual, fisik, social dan metafisikal
  2. jasa-jasanya baru dirasakan atau disadari setelah dia mati

Mana yang Anda pilih bagi hidup Anda? Dikenang setelah mati karena ketika hidup Anda terlupakan? Atau disubya-subya (dipuji-puja, Bahasa Jawa) orang sejak hidup hingga mati?

Anda yang menentukan. Jangan biarkan orang lain menyetir hidup Anda.

SELAMAT HARI PAHLAWAN!!!

Salam,

Rike

Semarang, Jl. Majapahit di masa rehat – 10 November 2010, 3:36 sore

KOSONG TAK BISA DIMENGERTI

KOSONG TAK BISA DIMENGERTI

(untukku yang tak juga bersiap menuju Bahtera Nuh)

Tak ingin bicara

Kecuali tentang hari-hari yang sibuk

Dengan peluh dan kesigapan

Untuk bertahan hidup.

Bercakap dengan diri sudah cukup;

Memadukan penasaran dengan jawaban.

Usah ragu memilih yang tepat,

Berat tak dirasa berat karena semua ringan

Karena jika berbicara tak bisa dimengerti,

Jika menulis tak cukup mewakili isi,

Hanya dapat dibaca lewat mata batin,

Hanya cocok diramaikan dalam perenungan.

Lumbung telah dipenuhi

Labu-labu air telah terisi

Pundi telah diikat tali

Hanya satu: kurungan tak dipunyai guna membawa makhluk di pangkuan.

Segeralah!

Perahu Nuh mengarungi samudera untuk yang mau berpasangan.

Berpasanganlah, maka bahtera itu menampungmu.

Jika tidak, kau mesti berlayar sendiri…

Satu, dua, …

Hitungan makin naik

Rapatkan keberanian

Lalu bergegas menjemput kemenangan;

Atau tidak sama sekali memiliki nyali

Lalu tenggelam atas nama kelalaian.

Keramat – 7 November 2010, 10:06 pagi

PERSIAPAN BENCANA

PERSIAPAN BENCANA

(sekedar persiapan sebagai langkah bijak)

Semoga berguna untuk siapa saja yang membaca dan tolong sebarluaskan, terutama yang (masih) tinggal (di dekat) daerah bencana dan belum mengungsi.

Persiapan dan Sikap Mental

  1. Meskipun masih dinyatakan dalam batas zona aman dan belum ada tanda bahaya atau perintah evakuasi, sebaiknya segera mulai “packing”, mengemas barang- barang yang amat diperlukan. Sehingga ketika perintah evakuasi ataupun situasi memburuk dengan tiba-tiba, anda bisa langsung mengungsi tanpa harus (panik) direpotkan untuk menyiapkan bawaan/perlengkapan anda
  2. Jangan PANIK !… ketika situasi darurat tiba… meskipun anda takut, tetaplah berpikir jernih untuk menghindari hal-hal buruk yang tidak perlu.
  3. Hindari membawa bawang yang tidak perlu, karena nanti malah merepotkan
  4. Letakkan kunci kendaraan bermotor dan kunci rumah/kamar di tempat yang mudah digapai/dicari
  5. Jangan lupa mengunci rumah/kamar dan memadamkan listrik/lampu, televisi, alat elektronik lainnya dan gas/kompor

Barang-barang yang harus dibawa/ disiapkan

  1. Air minum, (susu bagi balita)
  2. Makanan kering seperti biskuit, coklat,permen, sereal, gula, garam, sardine kaleng dan makanan berkalori tinggi lainny (mie instan tidak berkalori tinggi, tapi lumayan buat ganjel perut)
  3. Pakaian kering secukupnya, jaket
  4. masker, pelindung muka/mata
  5. peralatan makan (sebaiknya yang ringan); sendok, piring/gelas plastik
  6. kantung tidur (sleeping bag) bagi yang punya… bagi yang ga punya jaket juga ga apa-apa
  7. peralatan mandi (handuk kecil, sikat gigi, sabun mandi, sampo kemasan kecil)
  8. obat-obatan dan P3K (obat merah, plester, obat flu, dsb) dan obat tertentu bagi yang memiliki penyakit khusus (seperti obat asma, jantung, diabetes dsb).
  9. lampu senter, lilin,korek api (tapi hati-hati mengunakannya/bahaya kebakaran) amat berguna bila listrik padam
  10. pisau lipat dan tali
  11. kopi bubuk, teh celup, gula, garam (opsional/boleh dibawa ataupun tidak)
  12. kompor gas portabel /parafin, kompor “survival” (opsional)

Sebaiknya semua itu dikemas dengan ringkas, yang berat di bawah, yang ringan di atas…

Memang benar, di pengungsian nantinya mendapat bantuan makanan minuman, obat, tempat berlindung tapi ada baiknya berjaga-jaga dan tidak terlalu bergantung/merepotkan orang lain

**repost dari seorang teman Multiplier yang tinggal di Jogja (Mas Tampah)

Keramat, 6 November 2010 – 9:53 malam

MENDENGAR YANG TAK TERDENGAR TELINGA

MENDENGAR YANG TAK TERDENGAR TELINGA

Kalau kudengar lagi

Maka yang kudengar adalah yang tak terdengar.

Telingaku bukan telinga yang dulu lagi:

Yang kudengar adalah yang dulu tak dapat kudengar

Yang hanya bias ditangkap oleh makhluk berbulu yang tidur di pangkuanku…

Apakah yang kudengar sungguh ada?

Atau hanya ilusi yang menampar lamunan?

Juga mungkin angin yang terkesiap ranting pepohonan?

Haruskah kujalin cerita untuk menghibur diri?

Supaya hatiku tenang tanpa perubahan?

Rentang waktu seperti rentangan tali

Yang makin kentang terpancang,

Makin kempling suaranya…

Jadi waktuku sedang riuh…

Kubungkam waktu yang bergerak memutar ini.

Hmm…

Diam –

Bisu sesaat

Namun sesaat rasanya sejuta tahun… cahaya…

Terlalu cepat

Menembus realitas,

Mengakhiri keresahanku;

Terpaksa atau tidak

Kuterima suara-suara itu

Sebagai anugerah rumah laba-laba semesta raya.

Taruna, 6 November 2010 – 5:42 sore

SEMOGA TAK TERTUNDA YANG HARUS TERJADI

SEMOGA TAK TERTUNDA YANG HARUS TERJADI

(tidak bermaksud menyinggung siapapun)

Kalau dihitung-hitung banyak kejadian atau fase dalam hidup saya yang datangnya terlambat atau katakanlah terntunda dalam rangka pendewsaan atau penyiapan yang dikaruniakan Tuhan bagi saya. Setahun, dua tahun atau satuan waktu lain menjadi sebuah waktu tenggang yang biasa bagi saya. Misalnya saya lulus uMPTN setelah 2 kali mencobanya. Saya mendapat kesempatan kerja “enak” setelah bekerja di dua tempat. Tujuan saya mendapatkan kerjaan yang sekarang juga mesti menuggu 3 tahun setelah sebelumnya digembleng untuk bersiap.

Saya terbiasa dengan sesuatu yang tidak tepat waktu.

Namun, kali ini saya benar-benar berharap bahwa keinginan saya untuk melihat Indonesia yang lebih baik tidak tertunda lagi. Telah berkali rakyat dibohongi. Para pejabat yang awalnya bermulut manis hanya menjadi semacam garda depan tapi tanpa fungsi maksimal karena hanya semacam bumper mobil berbahan plastic.

Lihatlah keadaan para korban bencana alam. Pada kemana itu orang-orang yang kala kampanye senyumnya selebar daun pintu? Ngomongnya aja manis kayak gula tapi hanya pada saat mereka sedang menjaring massa demi kepentingan politik (baca: kepentingan perut) saja!!!

Nggak nyadar bahwa perut kenyang dan kemewahan (yang masih belum juga cukup buat hidup tenang) adalah hasil dari kebohongan yang memurukkan rakyat yang pernah nyontreng atau nyoblos muka mereka.

Ternyata kesadaran tempatnya tidak pada orang yang sudah pernah melanglang-buana ke negeri orang atau berprestasi dengan setumpuk penghargaan. Kesadaran adalah milik manusia-manusia biasa yang berani menjelajahi kekerdilan dirinya seperti Werkudara yang mampu menyelam dalam samudera dan masuk ke dalam kuping Dewa Ruci. Kesadaran tidak pilih kasih tapi dia tidak sudi memalsukan diri menjadi kedermawanan sekejap yang lagi-lagi tujuannya untuk mencetak pahala berupa kesuksesan besar di kemudian hari.

Mari kita bina kesadaran dalam diri tanpa memikirkan bingkisan dan bungkusan apa yang akan kita dapatkan setelahnya.

Wahai para pejabat, orang kaya dan orang yang masih selamat dari bencana,

Mari kita mengasah diri kita dengan senantiasa berbuat baik pada manusia dan alam sekitar kita. Tinggalkan alas kaki, berjalanlah tanpanya, merasakan panas dan dingin mereka lalu membaur untuk kedamaian bumi.

Duh, Mbok Dewi Sri… Kala mana yang telah menusuk tubuh sucimu?

Keramat, 27 Oktober 2010 – 2:25 siang

Tulisan Nggak Jelas Tentang Connecting Door

TULISAN NGGAK JELAS TENTANG CONNECTING DOOR

(semoga Tuhan ampuni dosa orang yang tidak mau menutup telinganya ini)

J

Pernah menjadi penghuni tetap selama 2 bulan di sebuah hotel dekat bandara Adi Sucipto, Jogja membuat saya membayang-bayangkan kegiatan apa saja yang biasa dilakukan oleh para tamu utamanya ketika di dalam kamar. Kalau saya sih udah jelas selain makan, internetan (yang lambatnya alamakjan), bikin report kerjaan, ngemil gratis tiap jam 5 sampai jam 7 petang. Tamu-tamu ada yang kalau jam segitu ndengerin gamelan di lobi, karaokean di pub, pijitan di basement, renang di pool, makan di restoran, ngelayap atau apalah. Entahlah tak jelas… yang lebih nggak jelas adalah kegiatan tamu kamar sebelah.

Saya tergolong kurang beruntung karena tinggal di kamar yang ada connecting door-nya. Jadi… kalau tamu sebelah ngorok, saya denger. Kalau bawa anak-anak, ya ramenya naudzubillah. Kalau nonton TV, ya saya ikutan ndengerin acaranya apa. Kalau mereka membicarakan rahasia negara, saya juga pernah dengar ha ha ha…

Tapi yang paling menarik adalah kalau mereka bawa “teman”, saya juga grisenen (bukan bahasa Belanda, ini adalah kata dalam bahasa jawa yang artinya terganggu). Ya bagaimana tidak… wong tamunya itu tamu spesial… pakai cekikikan, merayu-rayu, trus pakai mengeluarkan suara-suara misteri yang kalau saya belum dewasa maka saya pasti penasaran ngintip.

Nah… ada satu yang jadi bahan diskusi saya dan teman ngobrol. Kok suara misteri itu seperti dihasilkan oleh satu orang yang sama. Nada suara dan pitch-control-nya sama buanget… Padahal tamu di kamar sebelah itu ganti-ganti lho… (maaf tidak menerima protes karena kami udah konfirmasi dengan kru hotel tentang itu).

Dalam seminggu saya bisa mendengar suara misteri itu 1 – 3 kali. Bayangkan gimana nggak hapal.

Saya heran:

  1. Kenapa hotel sebesar itu dindingnya tidak kedap suara?
  2. Kenapa kamar itu apes disewakan pada orang-orang yang mengeluarkan suara misteri?
  3. Kenapa mesti ada connecting door?
  4. Dll keheranan yang hanya akan memperpanjang tulisan nggak jelas ini…

Ya sudahlah…

Tapi kenapa hari ini saya mampir di hotel yang sama? Dan ditempatkan di kamar yang sama? Dan… sedang ada suara misteri dari nada dan pitch-control yang sama? Teman sekamar saya kali ini bukan yang dulu lagi. Tanpa basa-basi dia hidupkan televisi dengan volume yang cukup tinggi untuk bisa membangunkan orang budheg tidur. Lalu kami tertawa bersama.

Oalah… connecting door… Barusan saya menikmati cemilan gratis dan konfirmasi apakah “orang itu” adalah orang yang sama. Mereka bilang “iya, udah biasa disini, Mbak. Kalau nggak di lantai tujuh ya di lantai lapan”. Pantesan…

Jogja, 25 Oktober 2010 – 7:07 sore

SEKELUMIT PELAJARAN TENTANG KTP

SEKELUMIT PELAJARAN TENTANG KTP

Angin Minggu berhembus, kayuhan pedal memberat.

Martha menawarkan bergantian mbonceng tapi gadis itu selalu bilang,”Nanti saja pulangnya Mbak Tata mboncengin aku.”

Di sebuah gedung mereka berhenti. Martha melompat dari sepeda, berpamitan ke dalam. Sepupunya menjagang jengki biru di luar pagar karena parkiran penuh. Tak disadarinya seorang satpam menghampiri.

“Dik, ngapain disini?”

“Menunggu saudara.”

“Saudaranya dimana?”

“Di dalam situ.”

“KTP?”

“Belum punya, Pak.”

“Menunggu di seberang saja, Dik.”

Dia kebingungan. Bagaimana kalau sepupunya mencari? Tapi Pak Satpam mengingatkan lagi; dia menuntun sepeda, susah payah menyeberang.

Satu setengah jam dia berjaga, takut sepupunya luput dari pandangan. Dia lambaikan tangan demi melihat Martha tengak-tengok. Martha menghampiri tanpa tolah-toleh – tak kenal jalan yang biasa dilewati manusia pembalap.

BRAK!

Jilbab coklat Pramuka teriak, menangis sejadi-jadinya. Lirih ia menyesal menunggu di seberang. Dengan pilu ditatapnya satpam yang tadi menanyakan KTP.

Martha, yang sedang menikmati libur pasca-skripsi di rumah paklik, ditabrak motor.

Di bayangan si gadis Martha mati, dia dipersalahkan. Dunia runtuh!

20 tahun.

Martha masih hidup. Jemaat gereja yang menolongnya menjadi sahabat keluarga sepupunya. Dan, Pak Satpam tak lagi bertanya konyol.

Gadis itu? Dia setia berkeyakinan bahwa manusia tak dinilai dari fisik dan KTP-nya.

Kediri – 14 Oktober 2010 – 8:36 malam

http://lombaffblogfammpid.multiply.com/

Gambar diunduh dari: http://fentyasdramaqueen.blogspot.com

PUISI BINGUNG WAKTUKU

PUISI BINGUNG WAKTUKU

Jam di tangan berdetak-detik

Mengancam kelambananku

Jika tak juga pergi maka dia kan mati

Jadi?

Jam di dinding berdentang-denting

Bertanya kapan ku berangkat

Jika berlambat-lambat, dia mau minggat

Jadi?

Jam di awang-awang terbang santai

Melirikku dengan mesra

Tak apa, luangkan saja, tak akan lari gunung dikejar

Jadi?

Gunung merapi terbotak-batuk

Mengintaiku dari balik gantungan mendung

Berdehem, sekelebat kurasa dia bergeser beberapa senti entah ke kiri atau kanan

Jadi?

Waktu berlalu

Agak cepat

Kadang sangat lambat atau terlalu cepat

Jadi?

Jadi apa?

Mau tak beringsut?

Gunung tak berlari tapi dia ngesot pelan

Pertanda ada pergerakan

Entah kemana dia mau bergerak

Yang pasti

Alam ini tak boleh berhenti

Begitu juga aku

Jadi?

Ayo lariiiiii!

Jam-jam terakhir di GQH Jogja – 2:55 siang – selesai packing sebelum berangkat