TUHAN MAHATAHU DI SINGAPURA

TUHAN MAHATAHU DI SINGAPURA

(negeri seribu kamera)

Berada di negeri kecil bernama Singapura ini rasanya seperti dijagai malaikat bermata seribu yang bisa mengawasi tiap gerak-gerik seluruh titik emosi di tubuh. Mau begini, takut. Mau begitu, takut. Kenapa? Karena ternyata Tuhan Mahatahu dan akan memberitahukan kejahatan kita pada para polisi di negeri itu supaya segera diproses hukum.

Diawal kunjungan saya berpikir pantesan para koruptor kita merasa nyaman berada disini. Mungkin hanya sekian kemungkinan mereka tertangkap karena tak ada yang namanya polisi nyanggong di prapatan atau tikungan untuk nyari duit buat makan pagi atau makan siang atau setoran untuk istri atau pacar atau atasan. Semua belokan bersih dari “aksi” polisi. Pun tak ada tempelan-tempelan semacam “sedia tempat kost”, “sedot WC”, “guru privat hubungi nomer ini”, “badut ulang tahun”, apatah lagi “dicari koruptor dengan bayaran…”. Koruptor kita tak akan bisa dikenali karena fotonya nggak dipajang. Saya pikir di Singapura ini saya bisa berbuat seenak saya baik secara moral maupun personal.

Tapi pikiran saya bahwa orang berdosa bisa lepas begitu saja disini bisa saja salah besar. Anda mau nranyak (melanggar, Bahasa Jawa) garis kuning bisa langsung dapat panggilan surat tilang seharga SGD100 tanpa harus dikejar polisi. Silakan buang sampah di jalanan, lalu Anda akan dapat surat pemberitahuan. Silakan corat-coret di tiang listrik, nanti Anda akan ditatar masalah vandalisme. Bagaimana tidak: dimana-mana kamera boooow…

Maka seandainya para koruptor kita bebas berkeliaran di negeri kecil ini sebenarnya kecil kemungkinannya tidak tertangkap kecuali memang kamera-kamera itu “dibikin mandul” untuk kalangan tertentu yang sedang “dilindungi”. Tuhan Mahatahu di negeri ini bukan karena Dia tidak mahatahu di negeri lain; tapi bahwa Dia Mahatahu dan kemahatahuan itu diekspresikan secara elegan tanpa paksaan dalam kehidupan manusia itu lain maknanya. Tuhan Mahatahu di Indonesia tapi masih banyak yang bisa kita lakukan untuk membodohi kemahatahuan Tuhan dengan melakukan hal-hal bandel dalam kehidupan sehari-hari dengan segudang pemakluman mulai dari “lupa”, “tak paham” atau “apa boleh buat” yang lainnya. Kalau di Singapura ini manusia masih nakal dan orang jahat masih bergentayangan, alangkah kasihannya Tuhan. Disini Tuhan Mahatahu tapi diledek mati-matian bukan oleh rakyat Singapura yang lempeng-lempeng jasa melainkan justru oleh segelintir “suaka politik” (yang entah legal atau tidak) yang bernapas lega karena lepas dari tanggung-jawab menjalani proses hukum baik untuk dirinya sendiri maupun demi membuka borok kelompoknya atau juga rivalnya.

Negeri seribu kamera ini, dimana Tuhan Mahatahu, telah menjadi sarang warga negara tetangganya yang ingin terbebas dari penegak hukum yang merasa pantas mewakili kebenaran yang dijual dengan sekian digit. Disini juga beberapa orang belajar bahwa tak ada satupun yang bisa mengadili dirinya kecuali tuhan yang diwakili oleh malaikat bernama Seeseeteevee. Nah, bagaimana pendapat Anda?

Loyang – 27 Juli 2011 – 1:56

Kebelet pipis tapi nggak ada tempat cebok

Foto dipinjam dari http://fingerprint-security.net/tag/surveillance-cameras-tips2008/

Negara Cilik Bikin Mrekitik

NEGARA CILIK BIKIN MREKITIK

(desahan dari Temasek)

Begitu mendengar kabar penugasan ke Temasek untuk yang pertama kali yang muncul tentu suka cita karena pasti ada pengalaman berharga yang akan saya tangguk. Kehidupan di negeri kecil mungil diujung Semenanjung Malaka ini (walau tak pernah menjadi magnet kuat bagiku) menjadi salah satu tujuan pergiku suatu saat nanti. Tetapi ada juga rasa “ealaaaah” begitu acara booking hotel dimulai. Nilai uang yang di negeri lain bisa menyewa kamar yang “layak” hanya bisa membeli kamar standard di red district wilayah Geylang. Belum lagi pemberitahuan “breakfast not included”.

Bagaimanapun rasa syukur harus kupanjatkan kepada Alam Raya yang telah berbaik hati menggratiskan wisata saya sembari kerja (atau kerja sembari wisata). Tak henti aku memuja kemalangan dan keberuntunganku yang tak didapatkan oleh orang lain saat ini.

Tanggal 25 Juli 2011 saya terbang bersama Air Asia menyeberangi langit menuju Changi. Sampai daratan itu masih pagi sekitar pukul 9:57. dengan taksi Comfort saya menuju Hotel 81 Princess di 21 Lorong 12 Geylang. Di kamar 615 twin bed saya diinapkan. Karena masih sangat awal maka saya yakin masih bisa berkunjung ke beberapa tempat. Pertama yang saya cari adalah brosur. Berbagai brosur yang dipajang di lobi hotel saya comotin lalu saya bacain secara menggila. Dan pilihan jatuh pada brosur yang menawarkan “naik kereta tanpa tut tut tut”.

MRT Singapura ternyata lebih baik daripada yang Malaysia punya. Penumpangnya juga lebih beradab, mereka tak mau mendesak-desak penumpang lain yang sedang kejepit ketek orang seperti di KL. Jika kereta penuh maka mereka tak akan naik (mungkin kecuali diburu waktu).

Saya juga membeli ez-link card: kartu abunemen MRT yang berlaku hingga 5 tahun jadi kalau nanti saya ditugaskan lagi kemari, saya bisa naik kereta pakai ez link tanpa harus repot-repot beli lagi.

Kemanapun Anda pergi, jangan takut kesasar karena Singapura ini kecil Saudara-Saudara. Kecil banget hingga saya pernah nyasar dari Esplanade hingga ke City Hall karena “keenakan” jalan kaki di bawah tanah. Tahu-tahu lho kok udah diarahakan ke City Hall ha ha ha…

Makanan?

Mau halal, mau haram ada semua. Di ujung Lorong 7 Geylang ada sebuah resto Thai Muslim yang ternyata pedagangnya orang India. Makanan yang disediakan nggak masuk lambung saya: curry… Restoran Chinese food pating blader (berserakan, Bahasa Jawa) menggantung bebek-bebek berlapis angkak merah. Tak seperti di Thailand, hidung dan kuping celeng tak terlihat mencolok.

Makanan disini mahal, Saudara. Kalau mau murah makan saja roti prata tanpa isi. Otomatis badan bisa kurus dengan sendirinya. Tapi saya nggak tega membeli roti yang bikinnya dicemek-cemek tangan Tuan Takur yang hitam ha ha ha… Sekali makan yang layak terjang sediakanlah sekitar Rp. 70.000 plus minum. Jadi kalau Anda makan tiga kali ya kalikan saja. Dijamin sangu dari kantor habis sebelum sampai rumah ha ha ha…

Ada satu lagi, telekomunikasi. Internet lancar walau di hotel murah sekalipun; hanya saja satu kamar satu username/password jadi kalau mau nge-Net kami berdua mesti bergantian. Jadi kalau mau ngempi atau fesbukan dan check email kantor kami mesti bagi waktu sebelum menikmati kebersamaan dengan berbincang tentang kampung halaman masing-masing dan pekerjaan. Tapi jangan harap handphone bawaan dari luar Singapura bisa dipakai sesuai fungsinya. Handphone saya hanya bisa SMS dan nelpon dengan memakai “M1” GSM SIM card. Padahal dua hari pertama saya sempat pakai Star Hub teman yang dipinjamkan pada saya. Yah sudahlah memang nasib orang miskin dolan-dolan di negeri kaya. Jadi tak ubahnya Kabayan saba kota (Kabayan berkunjung ke kota, Bahasa Sunda).

Hari ini tanggal 27 Juli 2011 saya mengarah ke daerah Loyang dekat Changi, ke sebuah pabrik percetakan yang prestasinya ngedap-edapi (mengagumkan, Bahasa Jawa). Naik taksi pastinya. Kan mahal? Ya, untuk apa kartu kredit kantor kalau tak digunakan untuk memudahkan urusan kerja. Mumpung kerja sambil wisata, mari kita gunakan fasilitas ini dengan baik. Bukankah demikian?

Ok, Saudara… Semoga perjalanan saya berkah. Penuh dengan kebahagiaan dan hikmah. Amin. Eit… Maaf kali ini tak ada buah tangan. Harga menjadi pertimbangan utama. Daripada dibelikan oleh-oleh mending saya pakai jalan-jalan kan… J

27 Juli 2011 – 1:00 siang tepat setelah makan siang yang tak mengenyangkan

[Haiku Biografi] – [Rike Jokanan]

[Haiku Biografi] – [Rike Jokanan]


evening star
bengawan Solo flushed a jar
of placenta away

a nine-month old gal
ran in a speed uncontrolled
ended in a shrub

a wagon full of stuffs
carried tears and friendship away
to another mountain

colorful ribbons fly
overhead of jumpy monkeys
welcoming campus life

wrinkle skin and falling hair

glowing eyes staring at the moon

never ending gratitude

=====

bintang senjakala

bengawan Solo menghanyutkan

sebokor ari-ari

balita sembilan purnama
berlari tanpa haluan
nyungsep di semak

bak mobil penuh barang
bawa sahabat dan air mata
ke gunung nan jauh

berwarna-warni pita
beterbangan di atas monyet
jelang dunia kampus

berubah kulit dan rambut

gerlap mata menatap bulan

syukur tiada akhir

Tangerang – Bandung, 21 Juni 2011 – lepas Isya hingga dini hari

 

500 JUTA UNTUK MENIKAHI WANITA WNI (belum selesai)

500 JUTA UNTUK MENIKAHI WANITA WNI

(indikasi woman trafficking?)

Punya suami bule mungkin menjadi semacam kesenangan tertentu bagi sebagian wanita Indonesia. Selain demi memperbaiki keturunan juga mungkin memperbaiki taraf hidup. Atau mungkin saja itu hanya semacam kesenangan atau selara belaka. Tapi kemudian ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan.

Seorang teman saya menjadi istri sirri seorang lelaki Eropa beberapa tahun belakangan. Sudah beberapa kali sebenarnya dia meminta dinikahi secara legal sehingga tidak ada ganjalan untuk melakukan perbuatan hukum seperti memiliki anak, membeli rumah dan lain-lain.

Tadi malam ketika ngobrol dengan beliau, tanpa sengaja saya meledek dia.

“Ah, kali aja suami elo nggak mau nikah legal karena nggak mau deposit 500 juta… Eh, atau jangan-jangan nggak punya duit dia ya? Kali ya…”

“What?!”

Saya terdiam. Waduh, tersinggung dah dia… Atau dia nggak tahu. Saya HHC (harap-harap cemas) menunggu apa reaksi dia selanjutnya. Bisa mati lah aku kalau dia marah.

“Lho emangnya kudu deposit duit?”

“Hoi! Jawab pertanyaan gue dong!”

“Iya, katanya sih 500 juta, Yul… Dan setornya musti ke bank syariah, bisa diambil setelah kurun waktu tertentu…”

“Ya ampun kenapa suami gue nggak bilang kalau ada ketentuan kayak begitu?”

“Tenang… aku belum fixed dengan UU ini. Kita cari info dulu aja…”

Sejak itu emoticon-emoticon yang dia kirimkan adalah L dan tanda menangis semua. Kasihan juga tapi kok ya gimana udah kadung saya membuatnya sedih.

Lalu saya browsing RUU atau UU atau apalah status aturan itu saat ini. Dan yang muncul adalah RUU dengan segudang protes dan cemooh menghiasi postingan yang diunggah di banyak blogs dan websites. Seseorang di kantor saya yang gape tentang aturan perundangan Indonesia juga telah menginformasikan hal tersebut beberapa bulan yang lalu ketika saya ngobrolin pernikahan kakak perempuannya dengan seorang warga negara Amerika Serikat.

Saya sedikit heran juga. Bisa-bisanya pemerintah punya rencana mengadopsi hukum positif di Mesir untuk diberlakukan di Indonesia.

BERSAMBUNG hi hi hi… *seringai ngeselin*

Serang – 15 Juni 2011 – 2:46 siang

Calonarang

CALONARANG

(ocehan kemarahan dalam kejujuran)

Selamat datang di daerah terlarang. Terlarang karena khusus untuk orang-orang yang menghargai keburukan. Calonarang yang terkenal dengan kesaktian hitamnya menjadikanku terinspirasi dalam nyondro (mendeskripsikan, bahasa Indonesia) diri sendiri. Waktu kecil dulu aku mendengar cerita Calonarang dari Mbah Bayan. Beliau adalah tetangga kami ketika kami masih tinggal diantara hutan jati di kawasan Bojonegoro. Tiap sore saya akan bergabung dengan Mbah Bayan putri yang nggelar kloso (menghampar tikar, Bahasa Jawa) di halaman depan tempat beliau dikerumuni cucu-cucu yang berteman denganku. Salah satu cerita yang beliau ceritakan adalah Simbok Calonarang – tentunya cerita ini versi bersambung karena terlalu panjang jika dikisahkan dalam semalam.

Setelah dewasa, saya baca Calonarang-nya Pramoedya Ananta Toer yang membuat pemahaman saya tentang Simbok Calonarang ini makin berwarna.

Ada satu hal yang sedang saya hubungkan dengan diriku.

Aku ini Calonarang.

Yang menari dikerubuti pengikut setia,

Entah setia entah hanya karena tak ada yang diikuti,

Yang pasti mereka jejingkrakan menari mengitari Simbok Calonarang.

Mengorbankan manusia tanpa dosa,

Entah tak berdosa atau hanya karena dibandingkan dengan pengorbanan

Yang tak ada hubungannya dengan kesalahan korban selama hidupnya,

Yang pasti dia harus mati demi upacara Simbok Calonarang.

Simbok Calonarang melakukan kejahatan-kejahatan itu disebabkan oleh kemarahan yang dipendamnya lantaran memang tak ada pilihan lain kecuali memendamnya sedalam dan serapat mungkin. Kadang manusia tak mampu menghadapi kenyataan selain dalam dinding hatinya sendiri. Masalah yang membuatnya marah menjadi semacam magma yang bergejolak dalam jiwa dan menjadi bahan bakar hidupnya. Her anger is her survival. Jika dipadamkannya kemarahan dalam hati maka tamatlah riwayatnya.

Kemarahan inilah yang rupanya juga ada di diriku. Tadinya tak kusangka aku ini semacam Simbok Calonarang. Ada kemarahan yang berkobar-kobar dan di inti kobaran itu ada bara yang kujaga agar abadi. Aku tidak membunuhi orang-orang dan memakai darahnya untuk keramas. Aku juga tidak mau diikuti orang-orang yang menari-nari mengelilingiku sambil ikut-ikutan keramas darah korban tapi aku seperti tidak rela jika ada orang yang mengutarakan kritiknya padaku. Pun jika sudah ada demdam pada orang, aku biasanya menyumpahi mereka (dalam kedalaman hati) supaya mereka sial seumur hidupnya karena kalau “hanya sekedar” mati alangkah beruntungnya. Pokoknya aku ini bener, yang lain bener biarin yang penting aku juga bener.

Sedikit demi sedikit kesadaran akan kemarahan ini mulai menguat dan keinginan untuk keluar dari kemarahan itu makin subur. Dan, aku makin marah. Ironis.

Ada satu orang yang sampai saat ini masih menjadi objek sumpah serapahku. Kusumpahi dia mendapatkan kesialan berupa masalah yang menimpa seseorang yang sampai saat ini tak bisa lepas dari dia. Anaknya. Kalau anak itu sial, aku yakin dia akan menderita seumur hidupnya. Kejadian yang membuatku membenci wanita itu memang cukup tak disangka. Bagaimana bisa Anda menyangka orang yang paling mendukung adalah orang yang paling menentang? Sungguh sebuah ironi, sebuah jebakan. Saya dijebak!!!

Yo wis lah… biarlah Simbok Calonarang itu bertahan untuk beberapa saat dalam jiwa saya. Biarlah kemarahan ini bercokol sebagai tanda bahwa aku juga manusia yang punya emosi negatif. Tapi aku tak mau musnah oleh api ini. Aku mau dong bahagia. Simbok Calonarang bisa saja berubah menjadi Putri Salju. Ya, mari kita mengunjungi negeri salju untuk menetralkan panas Dewa Agni ini.

Salam Calonarang.

Tangerang, 12 Juni 2011 – 9:09 malam

Gambar dipinjam dari http://www.bukucatatan-part1.blogspot.com

KLEPON

KLEPON

Sudah lama nggak makan klepon kok rasanya kangen ya dengan makanan Jawa ini. Makanan yang rasanya “explosive” kalau pinjam deskripsi Rachel Ray tentang rasa masakan yang hebat. Makanya hari Sabtu ini jadwal nulis report jadi prioritas kedua setelah nguleni (mengaduk memakai tangan, Bahasa Jawa) adonan kleponku.

Klepon pertama saya bikin bertahun lalu waktu masih kelas satu es em pe dan kebagian pelajaran Ketrampilan Memasak. Pelajaran Ketrampilan di sekolah saya dibagi dalam kelompok Menjahit, Mengetik dan Memasak. Saya bersyukur dimasukkan sebagai kelompok koki kecil. Sekarang masih terasa semangatnya kalau lihat bahan mentah dan ingat teman-teman yang pernah jadi tim di kelas Memasak.

Klepon adalah makanan yang (biasanya) diwarnai hijau dengan air daun suji, (aslinya) diisi gula Jawa dan ditaburi kelapa muda parut. Ada filosofi klepon yang saya urut sendiri.

Klepon diberi warna hijau sebagai perlambang warna dedaunan dan wakil dari jiwa muda (kalau ada yang bilang kita masih hijau berarti kita dianggap muda kalau bukan goblog he he…). Dalamnya gula Jawa, manis yang mewakili keceriaan dan rasa syukur. Sedangkan parutan kelapa adalah perlambang rasa (sedikit) gurih yang menambah “keriuhan” penampinan si hijau manis di dalm ini.

So….

Kalau mau makan klepon kita bisa serasa muda kembali dan bersyukur bahwa keceriaan dan rasa syukur masih terselip diantara keriuhan merasa muda itu. Tak mengapa sekedar merasa muda. Muda tak mesti dikaitkan dengan usia seseorang. Biar usia uzur tapi jiwa mesti tetap gembira, penuh rasa terima kasih pada alam semesta yang telah mengenalkan kita pada diri kita dan Cinta.

Oke, siapa yang mau klepon?

Ayo bikin sendiri.

Atau beli di pasar.

Klepon oh Klepon… J

Pinang, 2 Juni 2011 – 9:59 malam

Foto dipinjam dari http://lapar.com/makanplus/klepon

WC DAN RINDU RUMAH

WC DAN RINDU RUMAH

Ada semacam kepercayaan “kalau kita bisa buang hajat besar di suatu tempat dengan mudah maka artinya kita kerasan”. Rupanya ada indikasi kepercayaan itu berlaku bagi saya. Bagaimana bisa?

Beberapa minggu lalu saya ditugaskan ke daerah terpencil di provinsi Lampung. Sebuah pabrik pengolahan udang yang luasnya sekitar dua desa termasuk dengan tambak udang dan kawasan pengolahan serta sarana/prasarana untuk karyawan maupun tamu ada disana. Untuk saya dan seorang teman saya disediakan kamar di guesthouse yang menurut saya sih sekelas hotel bintang 3; satu kamar masing-masing tamu.

Saya merasa senang mengunjungi kawasan itu karena memang tak dinyana saya bisa ngambah (menginjakkan kaki, Bahasa Jawa) daerah se-mencil (pelosok, Bahasa Jawa) itu. Dari bandara Radin Inten, Bandar Lampung kami masih harus berkendara mobil hingga hamper empat jam disambung dengan menyeberang sungai sekitar sepuluh menit saja kemudian disambung lagi dengan mobil sekitar 30 menit barulah kami sampai di lokasi.

sampai sana saya kebelet ke WC tapi anehnya sudah beberapa kali nongkrong eh kok nggak terbuang juga sampah dalam perut ini. Akhirnya saya menyerah, menunggu hingga esok pagi tiba. Tapi ternyata sampah tak juga mau keluar; karena kata ibu saya kalau buang air besar tidak boleh dipaksa ya sudahlah saya mengalah saja.

Walhasil seharian kepala saya nyut-nyutan karena tubuh saya pebuh limbah yang tak keluar. Perut rasanya slemet-slemet (mules, Bahasa Jawa) namun apa daya tak kebelet.

Setelah tugas selesai kami berdua diantarkan ke kota Tanjung Karang untuk menginap di sebuah hotel di atas bukit menghadap lautan. kami terpaksa pulang ke kota karena jam 10:00 WIB keesokan harinya kami sudah haru terbang kembali ke Soekarno-Hatta. Kalau berangkat dari tambak wah bisa ketinggalan pak pilot…

Begitu menginjak pintu kamar hotel, perut saya langsung bereaksi dan alhamdulillah limbah yang menumpuk dan memadat tuntas sudah terbuang.

Saya heran mengapa disini saya bisa dengan lancar buang hajat sedangkan di guesthouse tambak saya “menderita”. Setelah beberapa mengingat-ingat, saya berkesimpulan bahwa saya memang tidak kerasan di daerah terpencil. Malamnya saya memang tidak bisa tidur karena suara-suara (misteri) yang entah cuma di pikiran atau memang menyelinap ke kuping saya.

Itu pertanda saya tidak merasa nyaman. Akhirnya metabolisme tubuh tidak normal dan tidak bisa e’ek dengan sukses. Paling tidak itulah penjelasan hubungan antara WC dan rindu rumah.

Cibaligo – Cimahi, 30 Mei 2011 – 1:46

FRIDAY THE 13TH

FRIDAY THE 13TH

Dulu waktu saya masih sekolah, ada film serial TV berjudul Friday the 13th; ada 2 tokoh utama pengelola sebuah took barang antic: Ryan (ponakan lelaki pemilik toko) dan Micki (ponakan perempuan). Tiap jumat ke-13 mereka selalu disibukkan dengan kegiatan menumpas “penghuni barang antik” tentu saja bersama dengan barang antiknya.

Ada sebuah boneka yang mengajari anak-anak yang pernah menjadi pemiliknya untuk berkata “I hate you” kemudian bisa membalaskan dendam sang pemilik kepada siapapun yang dibencinya. Pada akhirnya ketika pemilik sudah tak lagi mau menuruti permintaan si boneka, dia juga akan “tersedot” kea lam barzah dimana mereka mati tidak hidup juga tidak.

Satu-satunya jalan adalah mengalahkan perasaan benci tersebut dengan perasaan cinta. Jadi ketika Ryan dan Micki (eksekutor pemusnahan) menolong para korban boneka tersebut, mereka menebak-nebak apa yang harus dilakukan anak-anak itu untuk lepas dari rengkuhan pintu kematian.

Akhirnya Ryan dan Micki menyuruh mereka mneriakkan kalimat “I love you” kepada anak-anak itu. Bukan usaha yang mudah karena ternyata untuk mengatakan I love you rupanya menjadi kesulitan besar bagi anak-anak yang sudah kadung menanam kebencian.

Dengan segala usaha maka mereka dapat meneriakkan “I love you” dan setelah diulang-ualang berkali-kali kalimat itu seperti mantra… Mereka semua terlepas dari kutukan boneka pembenci. Lalu Ryan dan Micki memasukkan boneka iblis itu kedalam ruangan rahasia dimana mereka memenjara roh-roh jahat.

Friday the 13th atau Jumat ke-13 adalah semacam kepercayaan yang masih diyakini oleh sebagian orang sebagai waktu kesialan. Kalau ditanya percaya atau tidak, sulit untuk menjawabnya karena saya percaya bahwa kata “sial” itu ada karena manusia menciptakannya. Jadi saya rasa kesialan itu sendiri adalah buah perbuatan manusia. Apakah kesialan itu menimpa dia secara langsung atau harus menunggu beberapa saat maka itu hanya urusan timing saja.

Lepas dari Friday the 13th, saya hanya ingin mengatakan bahwa seperti boneka jahat itu, kesialan hanya tercipta karena ada bibit kebencian dalam suatu hati dan dipupuk dengan pembenaran diri yang tak terkendali dan tak berdasar. Entah ini hanya sebuah rumusna asal ngomong atau kengelanturan pikiran yang tak berdasar juga yang pasti kesialan pernah dirasakan oleh seluruh manusia; tinggal tingkat kekerapan atau ukurannya yang berbeda.

Maka serial TV Friday the 3th tentang boneka pembenci itu menjadi semacam pengingat buat saya bahwa membenci membuat saya sial. Apapun akan saya terima walau awalnya ada semacam “perasaan sebal akan apa yang menimpa saya”. Dengan cinta, saya akan terbebas dari kutukan apapun termasuk kutukan “mati tidak, hidup juga enggak”. Sebenarnya kalau kebencian saya hanya menimpa orang lain sih sebodo teuing (egois sekaleee…) tapi nyatanya kebencian selalu mengejar saya pada akhirnya atau malah dari awal hingga akhir. So… saya tak mau lagi membenci. Sebel dikit boleh lah… tapi sedikit pun hanya boleh sebentar saja. Atau kalaupun ada seseorang yang sedang membuat hidup resah dan sial selalu, baiknya berpikir positif “ya sudah, memang itu adalah kesialan dia yang menimpa kita juga”; biar kita nggak pusing-pusing amat mikirin susahnya hidup…

Jadi kalau boleh kusarankan, mencintalah tak perlu membenci biar tidak sial di Friday the 13th ini hi hi hi…

Tautan penting:


http://en.wikipedia.org/wiki/Friday_the_13th:_The_Series

http://en.wikipedia.org/wiki/Friday_the_13th

MENGGUGAT

MENGGUGAT

Berdiri

Di tengah khalayak

Pengadilan

Duhai

Aku menggugat

Atas sebuah keputusan

Ini aku terpuruk,

Katanya.

Cabut hukuman.

Hakim tersenyum.

Atau mungkin

Menahan tawa.

“Berapa?”

Kata wanita itu

“Aku tak ada harga untukmu duhai Hakim mata duitan!

Tak patut kau memutuskan karena kesepakatan.”

Hakim terhenyak.

“Hukuman dicabut.

Terdakwa tidak bersalah!”

Di bawah meja

Hakim membuang amplop

Setebal bantal.

Di kantornya

Segerombolan pasukan

Menunggu untuk segera menangkapnya.

Wanita itu

Tersenyum

Membawa segantang harapan

Dia hidup kembali…

Kramat, 5 Mei 2011 – 4:03 sore

KEMELEKATAN

KEMELEKATAN

(obrolan ringan tentang Bob kucing)

Beberapa orang merasa bahwa cintanya pada dunia tidak sebesar cintanya pada Tuhan. Mereka mengklaim diri bahwa mereka mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Saya meragukan diri saya dalam hal tersebut karena nyatanya memang tidak demikian yang saya alami.

Saya masih belum menikah tapi saya punya kemelekatan yang tak kalah lekat dibanding dengan kemelekatan antara dua pasangan atau anak dan ibunya atau anak dan bapaknya. Saya sangat lekat dengan kucing saya yang saya namai Bob. Kata kuncinya adalah sangat. Sangat adalah kata keterangan yang membuat kata sifat yang mengikutinya berlipat. Kemelekatan saya pada kucing saya berlipat beberapa kali dibanding dengan kemelekatan kepada kucing lain atau hal lain, tentunya kecuali orang-orang yang memang mendapatkan tempat istimewa yang sama dengan si Bob Kucing ini.

Saya tidak menyesal memiliki Bob. Tetapi kata kunci memiliki itulah yang membuat saya agak merasa bersalah. Seharusnya saya tidak pernah mendeklarasikan diri bahwa saya adalah pemilik kucing yang buat saya bagai guardian angel ini. Dengan memiliki Bob saya terbukti tidak siap meninggalkan dia atau ditinggalkan dia. Tiap saya akan dinas ke luar kota, saya selalu berharap saya tidak perlu menginap sehingga tidak perlu meninggalkan dia sendiri atau jikalau sore hingga petang sahabat saya Nining dengan telaten dan sabar menemani piaraan saya itu maka malamnya si meong mesti bobo di luar rumah dan menurut saya itu kurang menyenangkan.

Bob Kucing ini kucing lokal sehingga ada sementara orang yang menganggap saya berlebihan. Sebagian orang Indonesia menganggap bahwa hanya kucing ras-lah yang mesti disayangi dengan cara special seperti: membelikan makanan khusus feline (kucing) dan vitamin segala ubarampen (perlengkapan) kucing, mengobatkannya seperti manusia jika sakit, membiarkannya menikmati rumah seperti anak-anak atau ponakan-ponakan mengharu-biru rumah, menjaganya selayaknya menjaga diri kita… Tidak mengapa karena pendapat boleh berbeda.

Saya tidak sedikitpun merisaukan diri saya kecuali satu: bahwa saya dan Bob mulai saling terikat. Akhir-akhir ini dia sangat dekat dengan saya baik secara fisik maupun batin. Kalau saya di rumah dia ngikut kemana pun saya bergerak bahkan kalau saya mandi dia nggeluntung (berbaring telungkup, Bahasa Jawa) di keset depan kamar mandi. Kalau saya sedang bekerja malam, dia nongkrong diatas tumpukan kertas atau kalau sedang kesal dia nangkring diatas laptop saya, kadang dia menggoda melompat ke atas TV dan menjatuhkan antene sambil mengeong manja. Kalau saya tidur dia biasanya akan melompat keatas selimut tebal saya: dia tidak pernah mau masuk ke bawah selimut dalam waktu lama karena mungkin merasa panas. Dan, masih banyak lagi kegiatan dia yang menunjukkan keakraban dan kenyamanan kami bersama.

Ada satu lagi: dia mulai bisa merasa tidak suka kalau saya tugas keluar kota dan menginap. Sehari sebelum saya berangkat dia sudah ngroweng (rewel, Bahasa Jawa), nempel-nempel ke kaki atau badan saya, meang-meong kesana-kemari, pura-pura sesak napas dan yang biasanya Cuma mau digendong dalam hitungan 3 – 5 detik jadi bertahan sampai satu menit dan sambil mendekur-dekur pula.

Kemelekatan pada kucing saya sungguh kadang membuat saya bertanya-tanya: pantas saja ada ibu yang akhirnya malas bekerja meninggalkan rumah lha wong ada yang nggondheli di rumah dan mengurus anak tentunya menyebabkan stress yang lebih rendah daripada harus berinteraksi dengan macetnya jalanan dan kompetisi dalam karir (bisa saja saya salah tapi paling tidak inilah kesimpulan saya melihat para ibu yang kadang nggak masuk kerja karena “nggak tega ninggal anak”).

Kemelekatan ini harus saya atasi karena kalau tidak membuat saya tidak produktif dan cenderung menuruti kemalasan. Tentunya Bob Kucing tahu bahwa dia disayang sehingga dia punya strategi untuk “tidak ditinggalkan” atau “tidak diabaikan” karena pa
sti kalau saya pergi orang lainlah yang mengurus dia yang notabene tidak se-rempong saya. Saya selalu memastikan bahwa air minum dia baru dan dari gallon atau direbus dulu (kadang dioplos dengan air hangat), vitamin juga selalu saya takar, makanan saya pastikan dihabiskan sesuai porsi, kaki-kaki saya lap dan dubur & alat vital saya lap, telinga dan gigi saya periksa, hidung saya bersihkan, cek bulu dan ekor dari kutu dan serangga, sering kali juga saya ajak ngobrol sekaligus saya ciumin hidungnya dan adu dahi ha ha ha…

Kemelekatan itu tidak boleh terjadi walau saya sangat menyayangi makhluk yang oleh tetangga sebelah saya dibiling “Halah, cuma kucing aja segitunya”. Bodo ammmmaaaat, kata saya tak kalah bangga ha ha ha…

Begitulah kemelekatan itu begitu besar sehingga pernah saya memimpikan Bob Kucing mati dan paginya saya menangis dan menggendong-gendong dia dan saya ciumi.

“Kamu jangan mati dulu ya, Bob… Paling tidak kau hidup 12 tahun bersamaku; tapi kau boleh mati sebelum aku, biar kau tetap ada yang mengurus…”

Kucingku tadi malam menemaniku mencuci. Dia meringkuk di atas keset kamar mandi sambil mengikuti gerakan saya mencuci. Sesekali dia meang-meong tiap saya panggil namanya. Pagi ini dia memanggil saya, minta keluar. Untungnya saya jug sedang ada acara keluar rumah, jadi kami berangkat bersama.

“Nanti malam pulang jam 7 ya, Bob…”

“Meooooong….” Entah apa artinya, yang pasti rasa sayang kami ada dan saya belajar membuang kemelekatan.

Lia Taruna – Tangerang – 4:12 sore