Tulisan Nggak Jelas Tentang Connecting Door

TULISAN NGGAK JELAS TENTANG CONNECTING DOOR

(semoga Tuhan ampuni dosa orang yang tidak mau menutup telinganya ini)

J

Pernah menjadi penghuni tetap selama 2 bulan di sebuah hotel dekat bandara Adi Sucipto, Jogja membuat saya membayang-bayangkan kegiatan apa saja yang biasa dilakukan oleh para tamu utamanya ketika di dalam kamar. Kalau saya sih udah jelas selain makan, internetan (yang lambatnya alamakjan), bikin report kerjaan, ngemil gratis tiap jam 5 sampai jam 7 petang. Tamu-tamu ada yang kalau jam segitu ndengerin gamelan di lobi, karaokean di pub, pijitan di basement, renang di pool, makan di restoran, ngelayap atau apalah. Entahlah tak jelas… yang lebih nggak jelas adalah kegiatan tamu kamar sebelah.

Saya tergolong kurang beruntung karena tinggal di kamar yang ada connecting door-nya. Jadi… kalau tamu sebelah ngorok, saya denger. Kalau bawa anak-anak, ya ramenya naudzubillah. Kalau nonton TV, ya saya ikutan ndengerin acaranya apa. Kalau mereka membicarakan rahasia negara, saya juga pernah dengar ha ha ha…

Tapi yang paling menarik adalah kalau mereka bawa “teman”, saya juga grisenen (bukan bahasa Belanda, ini adalah kata dalam bahasa jawa yang artinya terganggu). Ya bagaimana tidak… wong tamunya itu tamu spesial… pakai cekikikan, merayu-rayu, trus pakai mengeluarkan suara-suara misteri yang kalau saya belum dewasa maka saya pasti penasaran ngintip.

Nah… ada satu yang jadi bahan diskusi saya dan teman ngobrol. Kok suara misteri itu seperti dihasilkan oleh satu orang yang sama. Nada suara dan pitch-control-nya sama buanget… Padahal tamu di kamar sebelah itu ganti-ganti lho… (maaf tidak menerima protes karena kami udah konfirmasi dengan kru hotel tentang itu).

Dalam seminggu saya bisa mendengar suara misteri itu 1 – 3 kali. Bayangkan gimana nggak hapal.

Saya heran:

  1. Kenapa hotel sebesar itu dindingnya tidak kedap suara?
  2. Kenapa kamar itu apes disewakan pada orang-orang yang mengeluarkan suara misteri?
  3. Kenapa mesti ada connecting door?
  4. Dll keheranan yang hanya akan memperpanjang tulisan nggak jelas ini…

Ya sudahlah…

Tapi kenapa hari ini saya mampir di hotel yang sama? Dan ditempatkan di kamar yang sama? Dan… sedang ada suara misteri dari nada dan pitch-control yang sama? Teman sekamar saya kali ini bukan yang dulu lagi. Tanpa basa-basi dia hidupkan televisi dengan volume yang cukup tinggi untuk bisa membangunkan orang budheg tidur. Lalu kami tertawa bersama.

Oalah… connecting door… Barusan saya menikmati cemilan gratis dan konfirmasi apakah “orang itu” adalah orang yang sama. Mereka bilang “iya, udah biasa disini, Mbak. Kalau nggak di lantai tujuh ya di lantai lapan”. Pantesan…

Jogja, 25 Oktober 2010 – 7:07 sore

SEKELUMIT PELAJARAN TENTANG KTP

SEKELUMIT PELAJARAN TENTANG KTP

Angin Minggu berhembus, kayuhan pedal memberat.

Martha menawarkan bergantian mbonceng tapi gadis itu selalu bilang,”Nanti saja pulangnya Mbak Tata mboncengin aku.”

Di sebuah gedung mereka berhenti. Martha melompat dari sepeda, berpamitan ke dalam. Sepupunya menjagang jengki biru di luar pagar karena parkiran penuh. Tak disadarinya seorang satpam menghampiri.

“Dik, ngapain disini?”

“Menunggu saudara.”

“Saudaranya dimana?”

“Di dalam situ.”

“KTP?”

“Belum punya, Pak.”

“Menunggu di seberang saja, Dik.”

Dia kebingungan. Bagaimana kalau sepupunya mencari? Tapi Pak Satpam mengingatkan lagi; dia menuntun sepeda, susah payah menyeberang.

Satu setengah jam dia berjaga, takut sepupunya luput dari pandangan. Dia lambaikan tangan demi melihat Martha tengak-tengok. Martha menghampiri tanpa tolah-toleh – tak kenal jalan yang biasa dilewati manusia pembalap.

BRAK!

Jilbab coklat Pramuka teriak, menangis sejadi-jadinya. Lirih ia menyesal menunggu di seberang. Dengan pilu ditatapnya satpam yang tadi menanyakan KTP.

Martha, yang sedang menikmati libur pasca-skripsi di rumah paklik, ditabrak motor.

Di bayangan si gadis Martha mati, dia dipersalahkan. Dunia runtuh!

20 tahun.

Martha masih hidup. Jemaat gereja yang menolongnya menjadi sahabat keluarga sepupunya. Dan, Pak Satpam tak lagi bertanya konyol.

Gadis itu? Dia setia berkeyakinan bahwa manusia tak dinilai dari fisik dan KTP-nya.

Kediri – 14 Oktober 2010 – 8:36 malam

http://lombaffblogfammpid.multiply.com/

Gambar diunduh dari: http://fentyasdramaqueen.blogspot.com

PUISI BINGUNG WAKTUKU

PUISI BINGUNG WAKTUKU

Jam di tangan berdetak-detik

Mengancam kelambananku

Jika tak juga pergi maka dia kan mati

Jadi?

Jam di dinding berdentang-denting

Bertanya kapan ku berangkat

Jika berlambat-lambat, dia mau minggat

Jadi?

Jam di awang-awang terbang santai

Melirikku dengan mesra

Tak apa, luangkan saja, tak akan lari gunung dikejar

Jadi?

Gunung merapi terbotak-batuk

Mengintaiku dari balik gantungan mendung

Berdehem, sekelebat kurasa dia bergeser beberapa senti entah ke kiri atau kanan

Jadi?

Waktu berlalu

Agak cepat

Kadang sangat lambat atau terlalu cepat

Jadi?

Jadi apa?

Mau tak beringsut?

Gunung tak berlari tapi dia ngesot pelan

Pertanda ada pergerakan

Entah kemana dia mau bergerak

Yang pasti

Alam ini tak boleh berhenti

Begitu juga aku

Jadi?

Ayo lariiiiii!

Jam-jam terakhir di GQH Jogja – 2:55 siang – selesai packing sebelum berangkat

CUMI APEL SENSASI PEDAS

Description:
– Pedas adalah sensasi yang tercipta dari kombinasi jahe, lengkuas dan cabe yang dihaluskan.
– Buah apel bisa digantikan dengan buah dan sayur yang lainnya.
– Cumi bisa diganti dengan produk seafood lain juga.

Ingredients:
Bahan:
• 2 cumi-cumi dibersihkan kulit dan tintanya lalu potong-potong cincin selebar 2 cm
• ½ buah apel Sunmoon kupas dan potong-potong lebar 2 cm
• 2 daun bawang diiris 2 cm

Bumbu yang dihaluskan:
• 2 cm jahe
• 1 lembar daun salam (boleh tidak dihaluskan)
• 1 cm lengkuas muda
• 2 cabe merah keriting
• 2 siung bawang putih
• 2 sdt gula jawa
• Penyedap rasa jika suka

Minyak atau margarine untuk menumis
Air secukupnya

Directions:
Cara memasak:
– Tumis bumbu yang dihaluskan sampai harum
– Masukan cumi lalu aduk hingga rata
– Masukkan apel, aduk hingga rata
– Tambahkan air sesuai selera
– Masak hingga matang benar
– Masukkan daun bawang iris
– Hidangkan

AKU ANAK PANAH TAJAM

AKU ANAK PANAH TAJAM

Lepas dari busur, aku terbang melesat menuju sebuah titik. Aku meluncur ke tujuan yang menyatu denganku dan sang pemanah. Perjalanan tanpa jeda, menyimpangi burung-burung yang terbang entah kemana, hanya tahu bersuka-ria; lalu aku merasa malang dan sial tak bebas seperti mereka.

Apa daya, aku tak bisa berhenti hingga benar-benar tertanam di tempat yang dituju pemanahku. Kusibak dinding angin yang berjuang keras melawan daya dorongku. Angin, kau tak mungkin bisa menghentikanku dengan kekuatan yang disalurkan padaku oleh pelontar dibelakang sana. Jika kau amuk maka aku kan hancur dan itu tak meninggalkan kepedihan apapun buatnya karena dia akan tetap memanah seumur hidupnya. Kau tahu dia tak bisa mati bukan?

Tak hanya burung dan angin kulalui. Awan dan matahari. Bulan, bintang dan malaikat bersimpangan dengan tubuhku. Awan lembut membelai dan membuatku tergoda untuk berhenti, menyandarkan kelelahanku padanya. Tapi matahari membuatku bergegas melupakan saat ini karena yang di depan sana lebih sejuk dan menenangkan. Bulan dan bintang merayuku sejenak menikmati malam. Tapi malaikat kemudian menggendongku melewati gangguan demi gangguan. Perjalanan…

Tubuh, jiwa dan semangatku diringkas oleh sang pemanah dalam satu pandangan matanya yang tak lelah meyakini satu titik di akhir pengembaraan.

Makin jauh aku meluncur, makin dekat aku pada titik yang diingini sang pemanah. Sebuah lingkaran berlapis-lapis ada didepan menghadangk. Entah dimana dia berencana menancapkanku. Entah di titik terluar atau terpusat. Yang kutahu mataku sangat tajam. Jika mengenai yang terluka tak bisa sembuh dalam sesaat. Tak ada harap aku terpusat atau dimana. Yang kuinginkan adalah sampai pada tujuanku: menancap dengan segenap ketajaman.

Sang pemanah, busur, aku dan sasaran adalah tubuh-tubuh dalam satu jiwa yang jika satunya tiada, kematianlah perdana menterinya.

Grand Quality Hotel, DIY – 25 September 2010 – 10:23 pagi

BERKISAH TENTANG YANG TAK BERSUARA

BERKISAH TENTANG YANG TAK BERSUARA

Kemarin saya ketemu petani yang sedang panen di area Kalasan, Sleman. Diantara sekian banyak petani ada seorang petani muda yang menurut saya menyebalkan karena begitu melihat aku datang dia langsung dengan sangat menantang sesumbar tentang segala hal yang nantinya akan kami tanyakan. Rupanya dia sudah dapat bocoran bahwa kami datang untuk memeriksa apakah beberapa praktik lapangan sesuai dengan juklak yang berlaku.

Petani yang lain cenderung diam, beberapa takut-takut menyingkir mungkin terprovokasi oleh si muda bermulut lantang tadi.

Si mulut lantang terus-terusan “merangsek” seakan menarik perhatianku supaya dia kami pilih menjadi yang diwawancara hari ini supaya nanti bisa memberikan masukan (yang saya curigai) tidak valid dan tidak jujur. Maka dengan berani pula saya tidak melirik dia sama sekali dan mengabaikan dia sampai akhirnya dia diam. Sampai akhirnya partner kerja saya bergabung saya tak sudi mengangkat si mulut lantang sebagai topic diskusi kami. Si mulut lantang terlalu murah buat kujadikan bahan laporan.

Para petani lain masih diam dan menatap penuh kepolosan. Merekalah para petani yang ingin kuajak cerita. Cerita tentang mengapa kami datang. Mereka juga yang ingin kami dengarkan yaitu orang-orang yang hatinya bicara dengan lembut, yang jiwanya tidak kasar, yang tujuan hidupnya bukan untuk memperkosa tujuan hidup orang lain.

Kusapa mereka dengan ramah, sehangat yang saya ikhlaskan. Dan, mereka pun dengan sangat terbuka menghampiri kami, menghapus takut dan curiga yang tadinya menggantung di bawah mendung yang memuntahkan air hujan.

Dan, benar saja: informasi yang mereka berikan sangat lugu, sedikit distorsinya, tidak seperti yang sudah diisyaratkan oleh si mulut lantang yang masih juga menarik perhatian dengan mengendarai motornya sambil menarik gas keras-keras. Go to hell you f**king young man!

Ah, hidup membuatku makin bersyukur ketika bisa berkisah tentang yang tak bersuara, orang-orang polos yang tak bertendensi atau berpretensi. Maafkan aku wahai Tuhan karena kejahatan ini tapi kadang hidup jadi tenang jika berhasil menguak kebusukan manipulator!

Tanda terima kasih kepada para petani di daerah Kalasan. Semoga tahun depan panennya bagus, Pak, Bu…

Jl. Adisucipto DIY – 23 September 2010 – 7:25 malam

UNTUK SIAPA MENULIS

UNTUK SIAPA MENULIS

Dulu sekali saya pernah ngobrol dengan seorang teman tentang tulisan dan pembaca. Temanku ini gemar facebooking; dia juga punya Multiply account. Kuperhatikan dia suka menulis tapi tak banyak tulisan yang dipublikasikannya. Mungkin beliau terlalu sibuk bekerja.

Sekarang saya tahu buatnya menulis adalah salah satu kepuasan jika tulisannya telah memberikan manfaat bagi orang lain dengan kata lain jika tulisannya dibaca orang dan makin banyak yang membaca makin bermanfaatlah dia dan tulisannya. Jadi, dia akan menimbang-nimbang dulu apakah tulisannya akan dibaca orang atau tidak. jika ya, di-share. Jika tidak, simpan. Awalnya saya terdiam dan terpaku setelah beliau dengan wajar bertanya bagaimana jika tulisanku di facebook note dan di Multiply atau di tempat-tempat lain ternyata tak banyak pembaca atau bahkan tak ditengok sama sekali.

Saya terpaku bukan karena disadarkan akan begitu percaya dirinya saya dengan tulisan dan kegiatan menulis padahal tidak ada yang sudi membaca. Saya justru keheranan karena tak sedikitpun terbersit sebelumnya bahwa beliau akan menanyakan hal itu. Buat saya menulis adalah sebuah kegiatan yang personal mungkin hampir sepadan dengan kegiatan saya beragama. Tak ada yang bisa menyuruh dan/atau meminta saya untuk memulai dan/atau berhenti menulis. Tidak juga jika tak ada yang menggemari tulisan saya.

Tak sedikit celaan dan kritikan saya tuai karena menulis. Dan itu tak pernah membuat saya surut belajar menulis. Hanya diri saya sendiri yang bisa memutuskan kapan melalukannya atau tidak. Tuhan telah memberikan privilege pada saya untuk itu.

Maka saya jawab dengan percaya diri juga,”Nggak papa, Mbak… Nggak ada yang baca bukan masalah. Karena toh itu untuk bahan perenunganku. Atau kalau boleh agak kerennya porto folio yang tidak laku ha ha ha…”

Beliau hanya ber-hmmmmm panjang entah apa artinya.

Itu tak berpengaruh karena sampai saat ini saya masih menulis baik ada atau tidak yang mengomentarinya.

Salam batin untuk saudariku yang telah menyadarkanku bahwa ternyata niat benar-benar membuat suatu kegiatan yang sama menjadi sangat berbeda.

Jogja – September 18, 2010 – 5:48 sore

MENELPON MACAN

MENELPON MACAN

Saya dan ibu bukan ibu-anak yang sangat dekat. Saya lebih dekat dengan almarhum bapak; ibu lebih dekat dengan kakak lelaki saya. Sering juga kami cek-cok gara-gara hal yang menurut saya bisa diomongin kalau dengan orang lain. Dengan ibu lebih banyak yang enak diperdebatkan daripada dikompromikan J

Dulu pernah saya dan beliau berantem dan akhirnya saling menahan diri untuk tidak bicara satu sama lain. Bahasa Jawanya satru… anak durhaka? Ya, mungkin tapi saya dan beliau mengenangnya dengan tawa dan canda. Kadang saya meledek beliau dengan “aaah… kalau ada ibu durhaka mungkin banyak juga yang masuk, Bu… banyak ibu yang memaksakan kehendak pada putranya dan akhirnya sang anak merasa salah jalan dan menyesali langkah hidupnya he he he” dan beliau pun mengatakan “bisa jadi… orang tua kan manusia, bisa juga salah langkah”.

Ibu saya galak? Tidak. Beliau hanya over-protective pada putra-putranya. Ibarat macan dia sangat marah jika ada pihak yang mengganggu gogor-nya (gogor: anak macan, Bahasa Jawa). Macan makan daging, memang itu sudah dari sononya. Macan bertaring, itu memang sudah takdirnya. Tapi siapa yang mau memperhatikan bahwa macan sangat bersih, seperti kucing. Macan juga pemberani, ingin tahu, cepat beradaptasi dengan lingkungan, menghormati teritori sesama dan yang paling membuatku terkesan adalah rasa sayang yang luar biasa pada gogor-gogornya.

Dan, secara fisik mereka juga kuat, seimbang dan cantik… Kuat? Tentu saja, harimau adalah yang terkuat diantara jenis kucing yang ada. Seimbang? Menurut literature yang kubaca macan memakai ekor sebagai penyeimbang tubuh terutama ketika melompat. Cantik? Ya iya laaah… Lihatlah warna lorengnya. Perfecto!

Itulah ibuku. Membandngkannya dengan macan tidak sama halnya menganggapnya garang. Ibuku adalah macan dengan segala kelebihan dan kelemahanannya. Rasa sayangnya tetap memancar dalam keadaan marah sekalipun. Dan, itu akan kuhargai selalu. Biarpun kadang aku melarikan diri darinya, itu hanya untuk sementara karena aku juga perlu mandiri sebagai gogor yang nantinya jadi macan juga… J

Ibuku, tak bosan rasanya menelponmu tiap hari. Love, love

Jogja – September 19, 2010 – 4:57 sore

SEDANG TIDAK PUNYA IDE JITU UNTUK BERBAGI

SEDANG TIDAK PUNYA IDE JITU UNTUK BERBAGI

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menulis ide yang brilian dengan lancar buat seseorang yang suka menulis. Mampetnya saluran ide membuat orang tersebut tersiksa seakan merasakan nyerinya bisul yang tak kunjung meletus.

Sudah dipaksa ditulis tetap saja tak tertuliskan dengan manis. Alih-alih yang dating hanya rasa bete dan kemudian mengkambinghitamkan kesibukan yang menumpuk sebagai penyebab ketidakproduktifannya. Kasihan.

Saya juga begitu. Yang diatas itu memang tentang saya.

Bagaimana kalau menulis sesuatu yang enteng dan bikin orang terinspirasi? Ya memang itu yang kumau. Ok, mari kita coba!

Puisiku ini tentang tersumbatnya idea-pipeline di sistem mentalku.

KOSONG

Kucoret

Kuhapus

Kucoret lagi

Kuhapus lagi

Lagi-lagi nulis

Lagi-lagi kuhapus

Mau apa otakku

Ada ide tak bisa mengungkapkan

Mau apa tanganku

Mau bersaksi

Tapi tak juga menuliskan yang disaksikan

Jika waktu tetap berputar

Tanganku tetap menuliskan kejujuran

Bahkan ketika tak ada apapun yang bisa diungkapkan.

Keramat

8 Agustus 2010 – 9:27 malam

LEBARANKU YANG SESEDERHANA IBADAHKU

LEBARANKU YANG SESEDERHANA IBADAHKU

Mau tak mau…

Lebaran datang juga, walau tak diinginkan akhirnya Ramadhan berlalu juga hingga saat ini tak pernah saya sedatar ini memaknai Idul Fitri. Setelah sekian tahun terasa baru-baru ini bahwa getaran ini juga dirasakan oleh manusia lain saat memperingati hari besar mereka.

Bermaaf-maafan bukan sebuah kemutlakan di hari Lebaran karena memaafkan adalah aktvitas yang bisa dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja kepada siapa saja termasuk memaafkan diri sendiri. Dan, memaafkan diri adalah sebuah perjuangan terbesar.

Maka marilah kita maknai Hari Raya Suci ini dengan positive thinking dan tentunya positive action; bukan hanya dengan semangat eksklusif agama. Bagaimanapun slogan Rasul “rahmatan lil alamin” perlu pembuktian karena hingga sekarang dia masih sekedar RUH TANPA TUBUH.

Mohon lahir dan bathin

Rike – Tulungagung – 9 September 2010 – 12:52 siang

duhai Tuhan… aku lelah main petak umpet dengan-Mu. jikalau ada, sajikan saja Al-Maidah padaku jikalau tidak, timbun saja aku dengan Al-Ahqaf sudah berkali kubuka Al-Fatihah tapi tak juga kutemui para Al-Ikhlas yang ada hanya Al-An’am… lama-lama kuabaikan saja An-Naba ini kuberpaling saja menuju Al-Hujurat di bukit Al-A’raf biar kupuas tidur dalam pelukan Al-Lail ditemani sekelompok An-Nahl yang berdengung hingga Al Fajr tiba. *gundah dan nyeri punggung selama sebulan*

HOW MUCH WE ARE ENGAGED

HOW MUCH WE ARE ENGAGED

How much are we engaged?

It is as locked as my breath and air.

How much are we engaged?

It is as closed as fish’ breath and water.

How much are we engaged?

It is as probable as root and nitrogen.

How much are we engaged?

It is as famous as freezing and ice.

How much are we engaged?

It is as united as heat and fire.

How much are we engaged?

It is as dangerous as chemical with elements.

Bintang Mulya, Jember – 4:21 adzan Subuh berkumandang

MAKIN KEATAS MAKIN HANGAT

MAKIN KEATAS MAKIN HANGAT

Perjalanan saya dua hari ini bisa saya simpulkan dengan judul diatas. Makin ke atas, makin hangat.

Keramahan adalah bagian dari budaya yang (entah dulu saja atau sekarang juga) menjadi bagian dari kepribadian masyarakat Jawa. Dulu waktu masih tingla di desa saya hobi banget mengatakan kata “Monggo…” lepada orang-orang yang saya lewati dalam perjalanan jkra kecepatan saya tidak melebihi 60km/jam. Bahkan ketika kecepatan 60km/jam pun saya masih berteriak “Monggo…” kepada sesama pengguna jalan atau kepada mereka yang sedang menikmati duduk manisnya. Dasar bengal!

Namur sekarang saya pribadi telah lupa bahwa keramahan adalah hadiah bagi pribadi yang hangat baik pelaku maupun objek pelakunya. Sedangkan sekarang saya sudah tak punya lagi namanya kehangatan pribadi digerus oleh keangkuhan yang saya bangun semenjak saya mengenal “Time is Money”. Uang telah membuat saya berkejaran dengan waktu dan mengabaikan sisi kiri kanan yang saya lalui sepanjang perjalanan. Saya seperti kelinci yang sedang ngibrit takut diburu kura-kura yang dengan segenap energi kesabaran dan keikhlasannya berjalan lambat. Kelinci mengejar garis finish dengan keyakinan penuh bahwa dia akan mengalahkan si kura-kura. Sedangkan kura-kura bersungguh-sungguh berjalan dengan keyakinan dia akan mencapai garis finish tanpa pretensi hanya mau membuktikan bahwa yang menjadi bahan tertawaan bukan saja sesuatu yang lucu melainkan sesuatu yang serius.

Kembali kepada keramahan: kemarin saya traveling dari Djogja perbukitan Menoreh tempat kelahiran embah-buyut-canggah-wareng-udhegudheg-gantungsiwur-gedebogbosok saya yang telah lama tak saya sambangi. Dari hotel saya pakai taxi karena ternyata Terminal Umbulharjo sudah deactivated (kayak fesbuk aja…) dan sekarang siganti Terminal ngGiwangan. Sari ngGiwangan saya naik yang jurusan Kenteng. Disana saya dijemput sepupu saya.

Dalam bus jurusan Kenteng itulah saya merasa kok semakin bus saya merayap memanjati dataran tinggi kok penumpangnya semakin ramah ya? Ada seorang ibu yang serta-merta menebak bahwa saya bukan orang Jogja melainkan “wong dolan” (traveller) padahal sebisa mungkin saya menerapkan kosakata-tatabahasa-dialek Djogdja yang diwarisi oleh bapak saya.

Ada lagi seorang anak kecil yang dengang percaya diri duduk dan sendhen (bersandar) di pundak saya yang pasti tidak akan terjadi di Jakarta tanpa ibunya turut cambur melindungi anaknya dari kejahatan orang asing.

Ada lagi seorang ibu yang menjelaskan dengan gamblang tanpa saya tanya bahwa kalau saya disuruh mbayar Rp. 6000 berarti memang benar nanti saya akan diturunkan ke Kenteng nDekso bukan Kenteng yang masih lingkup Djogdja dalam.

Dan terbukti naik sedikit si daerah Samigaluh sepupu saya benar-benar jadi amat sangat ramah (usuran saya). Me-monggo-i hampir setiap orang yang berpapasan dengan kami, menyenyumi ibu-ibu dan bapak-bapak tua yang melambaikan caping atau tangan. Waktu saya tanya “Emang kenal?”, dia bilang “Ya ora ning kan apik yen gelem cluluk”.

Saya terkesima.

Tapi pagi (1 Agustus 2010) saya ke pasar. Dan makin tambah merasa jadi selebriti karena ada satu blok yang pedagangnya langsung mengenali siapa saya. “Panjenengan punapa putranipun Lik Jokanan ta, Mas”, spontan saya bilang “Lho kok panjenengan pirsa?”, dan sebagian besar jawabannya adalah “Lha wong persis jebles bapakne…”

Olala… Kalau di Yakarta mungkin nggak berlaku. Mungkin para pedagang itu hanya akan membatin “Kayak si Jokanan sih? Anaknya kali ya?”

Itulah. Keramahan. Prasangka baik. Persaudaraan yang tanpa pamrih apapun itu pamrihnya. Saya berharap saya masih punya itu. Amin…

Djogdja, August 1, 2010 – 10:30pm

MY MURMURING ABOUT A FEAR

I will die and it is a must. I have been thinking about being dead since I realized that my physical is deteriorating through years of life span. Hair loss, wrinkle skin, muscle weakening, hollow bones, weary face, tired organs, etc have reminded me to get set and go… to where I belong. I’ll rest in peace as well as rest in piece.

This soul should be ready to stay in equilibrium state after so many years being imprisoned in a body, rendering every single deed challenged by nature, craving for compatible format of relation and relationship – and all of those have made soul go mad, restless and stirred.

To my understanding being dead is loosening mundane knots to the 5 senses and releasing soul to its nature. It is believed that the nature of soul is peaceful and divine. Some say when someone dies, one returns to God or goes to heaven – a place they don’t really identify where and which but they always say “later” for the when. I believe that heaven is gained only by the ones having experienced it through their physical cycles. If ones can’t feel heaven here, there they will be in un-peaceful realm: hell that people may call. So, where soul belongs is to what condition soul has built towards the body and mind. Is my soul conscious enough to stay peaceful and heavenly looking forward to a heaven with the divine? Btw, when does someone go to Heaven? Later? No! people can go to Heaven now! That’s why some people die because there’s a call from Heaven… My faith J

In the other hand, being in piece is somehow realizing that the body is buried, gets rotten, is decomposed into dust… into pieces. Fear of not able to breathe, eaten by worm, lay in bed of earth all alone with creepy crawly things and surrounded by the dead’s has haunted me. Or, should I find unconventional ways like drowning in the waters, lost in sky to die safe? Perhaps.

In fact, the reality that death is frightening is growing wild in me. It does me immensely: manipulating my belief on that physical is left to soil when I die. My fear cajoles me that death is a gate to a new authority with different rules of game separated from earth. This needs clarification from nowhere but from inside because someone has to go back to where she starts questioning to find the answer.

I am a living being that is occupying a small space until another line limit the space. What is behind the line? I am waiting what the curtain will reveal.

Death, live it up. Life, die in peace…

Salaam,

Rike

11:34am – gapura istana nelayan – n77 transferred to dell in grand Quality, Djogdja in July 2010

OCEHANKU TENTANG KLAKSON

OCEHANKU TENTANG KLAKSON

Ini hari kedua di Jogja. Bukan untuk klenceran karena banyak uang melainkan untuk tugas justru nyari uang supaya bisa mbayar segala keperluan hidup. Ingat: keperluan bukan keinginan. Jadi ya seneng-senengnya ya dalam rangka menambah pengalaman bukan menambah pengeluaran. Pengeluaran kator tetep ada tetapi itu hitungannya berbeda.

Tetapi bukan itu yang ingin saya utarakan sekarang. Saya punya cerita sederhana yang mengingatkan saya betapa dulu saya pernah menjadi seseorang yang “bersih hati” tanpa pikiran buruk seburuk apapun perlakuan orang lain kepada saya. Itu artinya saya telah berubah menjadi manusia yang bersegera menangkap intensi buruk orang bahkan ketika orang tersebut tidak bermaksud buruk.

Hari pertama perjalanan ke kebun jagung kami disupiri oleh seorang management staff perusahaan client kami. Beliau bukan petinggi tetapi juga bukan perendah (ini kata yang saya pilih sendiri supaya agak nyambung secara gramatikal (eror) dengan kata petinggi he he he…). Beliau pernah tinggal di sebuah pulau kecil dan baru tiga tahun di Jogja. Kata beliau tinggal di Jawa (Jogja, menurut saya) membuat dia punya sedikit lebih banyak sopan santun daripada ketika beliau di pulau tertentu yang dia tinggali tersebut. Kata beliau dulu kalau disuguh ya langsung dia embat, sekarang dia menjadi orang yang penyabar walaupun perutnya sudah keroncongan; menanti dipersilakan oleh sang penyuguh makanan. Juga ketika di jalan, dia akan selalu mengklakson sambil tersenyum sebagai tanda permisi mau lewat.

Menglakson inilah yang menarik.

Selama perjalanan disupiri Pak supir, kami hanya mendengar satu kali bunyi klakson dari kendaraan lain yaitu sebuah motor. Tak ada bunyi klakson seperti yang saya dengan di Jabodetabek yang bersahutan menandakan ramainya keinginan penendara untuk sampai tujuan dengan cepat tanpa hambatan padahal kenyataannya memang mesti macet. Dan, Pak supir ini juga tak tertarik untuk membunyikan klakson kecuali satu kali.

Dari jauh saya sudah melihat seorang nenek tua sedang sibuk “ngorak-arik gabah” (membolak-balik padi) yang sedang dijemur di setengah ruas jalan desa. Begitu (mungkin) mendengaran deruman mobil, simbah segera berhenti ngorak-arik gabah, minggir sedikit memberikan jalan yang lebih lebar pada mobil kami.

Saya mengira Pak supir akan melenggang. Eh, ternyata beliau membunyikan klakson sambil mengangguk dan tersenyum pada simbah. Dan simbah itu dengan takzim tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Bagi seseorang yang punya sejarah jahat, itu biasa. Tetapi saya yang punya sejarah baik maka itu kelebihan simbah dan supir. Seandainya saya simbah, maka saya akan memandang masam kepada mobil yang tidak semestinya menggilas gabahnya. Tetapi dia tetap tersenyum – inilah reaksi yang akan saya rupakan jika ini terjadi tiga atau empat setengah tahun lalu – : mungkin dia prihatin kenapa tiba-tiba ada mobil lewat jalan yang biasanya hanya dilewati motor atau sepeda pancal. Dia menganggap klakson itu lebih sebagai ganti kata “Numpang lewat, Mbah…” daripada kalimat “Minggir lo!” Dan si supir menglakson juga ternyata sebagai ekspresi numpang lewat ketimbang sebagai pengingat bahwa simbah kudu minggir; padahal bukan salah pengendra karena memang itu jalan umum bukan halaman rumah (si supir mengatakannya kemudian bahwa itu sebagian dari unggah-ungguh berkendara.. Jogja gitu loooh).

Lihatlah, kelakuannya sama (membunyikan klakson) tetapi dengan takzim yang berbeda dan hati yang lembut maka hasilnya bebeda pula.

Itulah sekedar berbagi saya yang mulai hobi dan-din-dan-din dengan klakson saya sebagai dampak ikutan dari mendengar ekspresi emosi sesama pengendara berupa teriakan lewat klakson.

Ah, seharusnya aku diam saja… tersenyum saja, menunggu dalam diam saja daripada kudu ngedumel di dalam helm sambil mengurangi emosi dengan menekan tanda trompet di motor saya. Emosi memang perlu disalurkan tetapi dengan sedikit kelembutan emosi panas menjadi hangat dan bersahabat… dengan kelembutan.

Quality Hotel Jogja Lt 7 – 21 Juli 2010 – 9:53 malam